My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kisah Herdianti



Herdianti sedang duduk di sofa dengan harap-harap cemas. Waktu sudah menunjukan pukul 12 kurang. Sekitar setengah jam lagi Adzan akan berkumandang. Belum pernah selama sakit, ia menunggu-nunggu suara Adzan seperti ini. Tapi hanya dengan menunjukan kondisinya secara langsung setiap waktu Adzan tiba, barulah ia akan memperoleh kejelasan apakah Divisi VII dapat menyembuhkannya atau tidak. Herdianti sangat berharap Divisi VII mampu melakukannya.


Herdianti mendengar mengenai Divisi VII dari ayah mertuanya. Ayah mertuanya adalah orang yang pertama kali menyadari bahwa Herdianti memiliki masalah. Saat itu mimpi buruknya belum datang setiap hari dan suara Adzan di Mesjid atau Musholla belum menjadi pencetus siksaan baginya. Herdianti juga masih beribadah dengan rajin tanpa gangguan. Ayah mertuanya juga yang menyuruhnya untuk memeriksakan diri ke Dokter, lalu ke Psikolog dan kemudian ke Psikiater. Mertuanya adalah orangtua yang baik dan sangat memperhatikan menantu mereka. Sayangnya suaminya justru semakin mengabaikannya.


Ketika untuk pertama kalinya Herdianti mengalami serangan, Herdianti menceritakannya pada mertua dan suaminya. Ketika mereka melihat sendiri saat serangan berikutnya terjadi, suaminya tampak pucat pasi sementara kedua mertuanya menangis karena kasihan. Namun setelah seminggu berlalu, suaminya pergi dari rumah dengan alasan bahwa keadaan istrinya yang sakit hanya membuatnya tidak bisa beristirahat dengan tenang, sehingga pekerjaannya menjadi terganggu. Saat itulah Herdianti menyadari bahwa selingkuhan suaminya mungkin adalah orang yang menyebabkan sakitnya. Herdianti kemudian mengadukan suaminya pada mertuanya. Untuk pertama kalinya selama pernikahan yang sudah berlangsung selama 5 tahun, Herdianti menceritakan semua keluh kesahnya pada suaminya yang memang kerap kali berselingkuh. Mendengar ini, ibu mertuanya menangis sedangkan ayah mertuanya duduk terdiam dengan mata tertutup. Herdianti tidak bisa membaca apa yang sedang berkecamuk di kepala ayah mertuanya namun sejak itu ayah mertuanya memerintahkan untuk membawa Herdianti pulang ke rumah mereka agar ia tidak harus sendirian menghadapi penderitaannya dan hanya ditemani oleh para asisten rumah tangga. Kemarin tiba-tiba ayah mertuanya memberikan sebuah kartu nama berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas dan menyuruhnya untuk pergi memeriksakan diri ke pemilik kartu nama tersebut, yaitu Divisi VII. Ayah mertuanya memberitahukan bahwa dahulu, ayah mertuanya pernah mengalami sakit yang tidak masuk akal akibat disantet oleh saingan bisnisnya dan Direktur dari Divisi VII yang telah menyembuhkannya. Sehingga ia berharap Divisi VII akan dapat melakukan hal yang sama untuknya.


Sekarang Herdianti telah berada di Divisi VII. Tadinya ia berpikir bahwa ia akan memasuki sebuah tempat perdukunan yang penuh dengan barang-barang aneh dan suram. Tapi sepertinya ia terlalu disesatkan oleh film-film sehingga memiliki pandangan seperti itu, karena Divisi VII terlihat seperti sebuah perkantoran biasa yang bahkan tergolong mewah. Memasuki kamar ini, Herdianti merasa sedang menginap di sebuah kamar hotel bintang 5. Kamarnya besar dan mewah, dengan perabotan yang bahkan jauh lebih berkelas daripada perabotan di rumahnya sendiri. Pemandangannya sangat indah karena berandanya langsung mengarah ke pantai yang biru. Apabila ada yang berbeda, itu adalah kamera yang terpasang di empat penjuru ruangan, termasuk juga di langit-langit. Herdianti menyadari bahwa semua tingkah lakunya dalam ruangan itu di monitor oleh CCTV.


Tepat jam 12 siang, seseorang mengetuk pintu kamar.


“Silahkan masuk.” Ucap Herdianti.


Lalu pintupun terbuka dan seorang wanita muda, diikuti dengan 2 orang pria dan 2 orang wanita memasuki ruangan. Herdianti sudah bertemu dengan 3 orang yang mengikuti wanita itu, tapi wanita yang berdiri paling depan dan pria bertubuh tinggi besar di belakangnya itu baru kali ini bertemu dengannya. Wanita itu luar biasa cantik. Wajahnya bersih dan bercahaya. Matanya yang bulat memiliki ujung yang agak runcing dan sedikit naik mirip mata gadis-gadis Tionghoa. Hidungnya lurus dan tinggi. Bibir bawahnya cukup tebal, namun bibir atasnya terlihat tipis, diwarnai dengan lipstick berwarna merah muda. Tulang pipinya tinggi dan wajahnya mungil. Selain lipstick yang mewarnai bibirnya, wajah tersebut tanpa polesan. Rambutnya yang hitam kebiruan, disatukan dalam sebuah kepang yang kemudian disanggul diatas bahu kirinya. Herdianti menduga bahwa usianya mungkin belum mencapai 20 tahun, namun pembawaannya yang tampak anggun dan berwibawa memberitahunya bahwa dugaan tersebut sepertinya tidak benar. Ekspresi wajah wanita tersebut tampak dingin namun tidak memberikan perasaan mengancam. Malah membuatnya terlihat semakin anggun. Keempat orang yang mengikutinya juga cantik dan tampan. Sepertinya Divisi VII dipenuhi oleh eye candy. Apakah itu adalah salah satu spesifikasi yang dituntut saat memilih pegawai? Herdianti bertanya-tanya dalam hati.


Wanita yang berdiri paling depan ini sepertinya adalah atasan dari ke empat orang di belakang. Wanita itu berjalan dengan anggun tanpa suara, menuju ke tempat Herdianti berada. Demi sopan santun, Herdianti berdiri untuk menyambutnya.


“Ibu Herdianti, selamat siang.”


“Siang.”


“Nama saya Rainy, dan saya adalah Direktur Divisi VII.” Ucap Rainy, memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangannya yang putih dan ramping pada Herdianti, yang disambut Herdianti dengan terpesona. Wanita semuda ini seorang Direktur? Apa tidak salah?


Rainy mempersilahkan Herdianti untuk duduk kembali sementara ia turut duduk di sofa tunggal yang terletak di sebelah sofa yang Herdianti duduki. Keempat orang yang datang bersamanya, berdiri di depan mereka.


“Hallo. Saya Ace, ibu.” Ucap Ace.


“Hallo, Kak Ace.” Jawab Herdianti sambil tersenyum. Rainy mengamati Herdianti dengan lebih seksama. Herdianti sebenarnya adalah wanita yang cantik dan ditilik dari wajahnya, mungkin hanya berusia awal tigapuluhan. Namun ia tampak terlalu kurus, kuyu dan tidak sehat, membuatnya terlihat tidak menarik.


“Ibu, setelah kami melihat langsung apa yang ibu alami setiap kali waktu adzan tiba, saya akan mencoba untuk mengobati ibu, dibantu oleh ke empat pegawai saya ini. Namun sebelumnya saya harus memberitahu ibu terlebih dahulu. Ibu, saat ini ada sesuatu yang hidup di dalam perut Ibu.”


“Se… sesuatu yang hidup? Maksud Kak Rainy, ada mahluk hidup yang tinggal dalam perut saya?” Tanya Herdianti tergagap karena terkejut. Wajahnya yang sudah pucat menjadi bertambah putih. Rainy mengangguk.


“Benar, Ibu. Mahluk itulah yang menyiksa Ibu setiap kali suara Adzan terdengar. Dugaan saya, mungkin mahluk tersebut tersiksa oleh suara Adzan sehingga mengamuk.”


“Bagaimana bisa? Apakah… apakah ini santet?” Tanya Herdianti.


“Benar. “ Jawab Rainy. Herdianti mengatupkan bibirnya hingga tampak seperti sebuah garis lurus. Sebenarnya ia sudah menduganya, namun penjelasan Rainy memastikan dugaan tersebut.


 “Ibu, Pengobatan yang akan saya lakukan ditujukan untuk membunuh mahluk dalam perut ibu ini. Hanya saja pengobatan itu akan terlihat sangat menakutkan dan akan membuat ibu merasa sangat kesakitan. Rasa sakit ini disebabkan oleh perlawanan yang dilakukan oleh mahluk yang ada di dalam perut ibu. Setelah mendengar penjelasan ini, apakah ibu bersedia melakukannya?” Tanya Rainy.


Herdianti memandang Rainy dengan kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya. Sebagai seorang Empath, Miranda yang berdiri di depan keduanya bisa merasakan teror yang merayap dalam hati Herdianti, membuat Miranda gelisah dan ingin mengulurkan tangan untuk menghibur Herdianti. Namun lirikan tajam dari Rainy menghentikan gerakan tangannya. Miranda menunduk dan menarik nafas perlahan untuk mengatur emosinya. Ia tahu bahwa ia baru melakukan kesalahan. Ia telah membiarkan emosi mengendalikannya. Namun sebagai Empath, ia mampu merasakan emosi klien layaknya emosinya sendiri. Dan gejolak emosi dalam diri Herdianti begitu kuat mengguncang dirinya, membuat Miranda menjadi pucat pasi. Rainy memandang ke arah Miranda dan menggerakkan dagunya kepada wanita itu. Miranda mengangguk. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan. Ketika sampai diluar dan pintu tertutup dibelakang, Miranda ambruk. Ia terduduk di lantai dengan bersandar pada dinding, tepat di sebelah pintu kamar 301. Kedua tangannya memegangi dada dan airmata mengalir deras menganak sungai di wajahnya. Emosi sesakit ini adalah emosi yang tersimpan dalam dada Herdianti. Begitu menyakitkan, begitu menyayat-nyayat. Membuat Miranda sangat terpukul.


Copyright @FreyaCesare