
"Boss, ibu Sinta mengirimkan payment sebesar 100k!" pekik Natasha dalam suara kecil yang tertahan.
"Heh? Hanya seratus?" tanya Ace heran. Bukankan tadi Laura mengisyaratkan bahwa Sinta sangat royal? Bagi Ace uang 100k cuma bisa digunakan untuk sekali makan. Yang benar saja!
"In Dollar. It's one hundred thousand dollar!" jawab Natasha dengan suara bergetar.
WTF! Yang benar saja? Berapa banyak itu kalau dikonversi kedalam rupiah? Nilai Dollar hari ini adalah Rp. 14.500 per dollarnya. Itu berarti....
"1 milyar, 450 juta? HAAHHH!" Ace sampai bangkit dari duduknya karena terkejut. "Boss, kau sungguh luar biasa!" puji Ace sambil mengangkat kedua jempolnya, masih dengan wajah tercengang.
"I know." sahut Rainy dengan nada datar, membuat Raka dan Ivan mendengus geli mendengarnya.
"Hanya 1 kasus saja sudah menghasilkan sebanyak itu?" tanya Ace lagi.
"Itu adalah uang ucapan terimakasih dari bu Sinta. Payment untuk kasus ini telah dilunasi oleh pak Sutrisno tadi malam. Bu Sinta pasti merasa sangat bersalah pada Laura sehingga ia menjadi sangat bersyukur pada Rainy karena telah mengembalikan kehidupan Laura dan menyelamatkan Sinta dari melakukan kesalahan yang lebih besar lagi karena ia kembali menikahi Brata." jelas Raka.
"Uang ucapan terimakasih sebanyak itu?" tanya Ace.
"Klien kita adalah VVIP. Uang bukan masalah bagi mereka. Apalagi Sinta bekerja dan hidup di luar negeri. Tentu saja ia terbiasa memberikan nilai sebuah jasa dengan Dollar. Aku yakin, kalau cuma uang segitu tidak akan membuat isi rekening Bu Sinta berkurang sama sekali." komentar Ivan.
"Boss, memangnya berapa sih honor yang diminta oleh Divisi VII untuk setiap kasusnya?" Tanya Ace ingin tahu.
"Lebih dari cukup untuk membayar gaji dan bonusmu selama setahun penuh." sahut Rainy.
"Haaaah? Tidak bisa begitu! Saya mau kenaikan gaji!" protes Ace keras. Gaji dan bonusnya selama setahun tidaklah sedikit, terutama karena ia bekerja di Divisi VII yang merupakan tim elit yang langsung berada di bawah Direktur Utama. Tapi kalau jumlah itu bisa ditutup hanya dengan mengerjakan 1 kasus saja, bukankah itu berarti penghasilan yang diperoleh Divisi VII setiap tahunnya luar biasa jumlahnya?
"Aku akan memberimu kenaikan gaji bila kau bisa melihat yang tidak kasat mata." ucap Rainy, yang kontan membuat Ace cemberut. Walaupun ia terlahir kembali, belum tentu ia akan dikaruniai kemampuan untuk melihat yang tak kasat mata. Dasar Boss pelit!
"Kamu baru bekerja dengan Rainy selama 2 hari dan sudah minta kenaikan gaji? Bravo, Ace!" seloroh Ivan. "Lagipula untuk apa kau meminta kenaikan gaji? Apa untuk kencan bersama gadis cantik di night club?" lanjut Ivan, tersenyum jahil. Kata-katanya membuat Ace langsung gelisah. Ia memandang Ivan dengan ekspresi wajah memohon agar Ivan berhenti menggodanya.
"Ace, kau suka ke night club?" Tanya Natasha sambil mengerutkan keningnya.
"Gak pernah, Nat! Sungguh! Aku gak suka pergi ke tempat-tempat seperti itu." bantah Ace cepat.
"Eh," Ivan menyahut cepat. Dengan sengaja mengucapkan setiap kata dalam nada yang panjang dan setengah mengejek. "Tapi sepertinya tadi aku dengar ada yang bilang bahwa dia melihatmu pergi ke night club..."
"Itu pasti salah liat, Boss kecil! Bukan saya! Mungkin cuma mirip aja. Benar kan, Boss kecil?" potong Ace panik.
"Entahlah, Ace." Ivan mengangkat bahu. Senyum jahil menghiasi bibirnya yang indah. "Aku kan tidak melihatnya langsung. Nanti coba aku tanya lagi apakah ia benar-benar melihatmu atau tidak."
"Lah, kan yang punya diri saya. Saya yang paling tahu apakah saya pergi ke night club atau tidak. Ngapain Boss kecil pake nanya lagi sih?" protes Ace keras.
"Boss, ada seorang pria bernama Musa yang mencari anda di depan."
"Musa?" Rainy mengerutkan keningnya.
"Benar, boss. Katanya ia adalah kenalan boss di kota Y." jawab Natasha. Rainy hanya mengenal 1 orang bernama Musa, yaitu pasien RSJ yang menjadi subjek penelitiannya. Tapi mau apa pria itu mencari Rainy? Dan dari mana ia tahu dimana Rainy tinggal?
"Nat, aku akan menemuinya di ruang tamu. Tolong temui dan bawa ia kesana ya." perintah Rainy. Natasha mengangguk dan segera bangkit untuk melakukan tugasnya.
"Siapa?" tanya Raka.
Rainy kemudian menceritakan kepada mereka siapa Musa dan bagaimana ia bisa mengenal Musa.
"Bagaimana cara ia menemukanku?" tanya Rainy heran. "Aku kan bukan selebriti yang data pribadinya mudah ditemukan di media."
"Ah," cetus Ivan. "But you are!"
"Eh?"
"Saat Nini meninggal dunia, beritanya diliput oleh beberapa media. Mereka memasang fotomu dan menyebutmu sebagai pewaris tunggal yang muda dan cantik jelita." cerita Ivan.
"Hah?" pantas saja! Pantas saja Musa bisa menemukannya. Rainy menghela nafas panjang.
"Kira-kira apa yang dia inginkan?" tanya Ivan. Rainy menggelengkan kepalanya.
"Mari kita tanyakan langsung saja." ucap Rainy sambil bangkit dari kursinya. "Arka, temani aku menemuinya."
"Aku juga ikut." ucap Raka, turut bangkit dari kursinya. Rainy hanya mengangguk.
Ketiganya kemudian berjalan memasuki rumah, untuk menuju ruang tamu. Saat memasuki ruang tamu, mereka dikejutkan dengan suhu udara yang tiba-tiba merendah dan aura menyakitkan yang terpancar dari dalam ruangan. Seorang pria kurus tampak sedang duduk di sofa dengan gelisah. Tubuhnya membungkuk dengan kedua siku bersandar di atas lutut dan kedua tangannya memegang kening dengan mata tertutup rapat. Tumit kaki kanannya terangkat turun naik, memukul-mukul lantai dalam ritme yang gelisah, sementara ujung jari kakinya masih menempel di lantai. Memandang ke sekeliling ruangan, Rainy menarik nafas panjang. Surely, mengetahui bahwa yang dilihatnya selama ini bukanlah halusinasi hanya memberikan Musa pencerahan bahwa ia bukan penderita Skizofrenia. Namun itu tidak memberinya kemampuan untuk menghadapi mahluk tak kasat mata dengan berani. Dia bahkan membawa makhluk-makhluk kotor itu ke rumah Rainy.
Rainy memandang kesal pada seorang wanita tua yang berdiri tak jauh dari tempat Musa duduk. Wajah wanita tua itu sangat mengerikan. Kulitnya bagaikan mencair dan terdapat beberapa luka terbuka yang membuat tulang tengkoraknya terlihat dengan jelas. Wanita tersebut menyeringai mengancam pada Rainy, membuat Rainy menyipitkan matanya dengan sebal. Seorang wanita yang memakai pakaian berwarna putih dan memiliki rambut yang panjangnya sampai mencapai lantai, berdiri sangat dekat hingga hampir menempel di punggung Musa. Wajah perempuan itu terlihat pucat pasi dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Lidahnya yang berwarna merah dan sangat panjang, menjulur keluar hingga mencapai lututnya. Ujung lidahnya yang terbelah dua tampak bergerak-gerak layaknya lidah ular. Wanita tersebut melotot pada Rainy dengan wajah tersenyum jahat, menaikkan bulu roma siapapun yang melihatnya. Siapapun selain Rainy tentu saja.
"Musa." panggil Rainy datar. Mendengar suara Rainy, Musa langsung mengangkat kepalanya. Melihat wajah Rainy, mata musa langsung berkaca-kaca. Ia bangkit dan melemparkan diri ke kaki Rainy, namun sebelum ia sempat menyentuh ujung pakaian yang Rainy kenakan, dengan kejam Arka menendangnya menjauh. Tubuh Musa terlempar ke belakang dan terduduk di atas lantai marmer yang dingin dengan keras. Rainy sampai mengernyit membayangkan rasa sakit yang dirasakan Musa saat ini. Rainy menjulurkan lehernya untuk mengintip dari balik punggung Arka. Melihat wajah Rainy yang muncul dari balik lengan Arka, Musa langsung merengek.
"Mbak Rainy, tolong aku!" Tangis Musa tanpa air mata.
Copyright @FreyaCesare