My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Lamaran



"Karena aku mencintaimu jadi satu-satunya cara bagimu untuk jadi putri mamaku adalah dengan menikahiku." Jawab Raka. Kata-katanya membuat Rainy tertegun, sementara di sekitar mereka, orangtua mereka tersenyum puas. Akhirnya setelah menunggu sekian lama, impian mereka terwujud juga. Menyadari bahwa ia sedang menjadi pusat perhatian semua orang yang duduk di meja itu karena kata-kata Raka, wajah Rainy langsung memerah karena malu.


”Siapa yang bilang aku mau menikah denganmu!” Sanggahnya keras. Semakin malu hatinya, semakin galaklah suaranya. Namun wajahnya yang malu-malu membuat kata-kata menjadi tak bermakna. Memangnya siapa yang mau kau bohongi? Begitu yang melintas di pikiran  kedua pasang suami istri tersebut ketika melihat tingkah laku Rainy. Namun Raka yang malang tampak terpukul mendengarnya sehingga membuat orangtua mereka merasa iba.


Ckckck… cinta di usia muda memang sangat mudah menumbuhkan salah paham dan ketidak jujuran. Aku harus mengajari Rainy untuk lebih jujur pada orang yang dicintainya, begitu yang dipikirkan Ratna. Sedangkan Aditya berpikir bahwa ia akan mengajari anaknya untuk mengejar wanita yang disukainya tanpa mudah merasa gentar oleh sedikit saja respon buruk yang diterimanya.


“Rainy, sebenarnya selain untuk berlibur bersama mama dan papamu, Oom dan tante datang kemari dengan maksud lain.” Ucap Rini. “Kau tumbuh besar bersama Raka dan kami sudah terbiasa melihat kalian bersama. Tante juga tahu bahwa Raka sangat mencintaimu. Dan tante yakin, kamu juga mencintai Raka dengan sama besarnya, kalau tidak bagaimana mungkin kamu bisa tahan selalu berada di sekitar Raka yang kutu buku, dingin dan membosankan ini.” Raka memandang ibunya dengan wajah tercengang. Ma, apakah aku masih anakmu? Siapa yang mau melamar anak orang dengan cara merendahkan anak sendiri seperti ini?


Dalam hati Rainy tersenyum geli. Dingin dan membosankan? Apakah itu pandangan orang tentang Raka? Ataukah itu hanya anggapan Rini saja? Rainy tahu bahwa Raka selalu menampilkan citra pengusaha yang tenang, ramah, memiliki kemampuan dan bisa diandalkan. Namun dalam melakukan pekerjaannya, walaupun adil, Raka tak segan bersikap kejam dan berdarah dingin ketika ia merasa hal itu di perlukan. Namun itu hanya wajah yang ditampilkannya pada orang lain yang tidak dianggapnya penting. Pada pegawainya, terutama pada tim Divisi VII, Raka mempertahankan sikap bersahabat yang menjaga jarak. Apabila bukan urusan pekerjaan, ia tidak pernah melibatkan diri dan hanya bersikap sebagai observer. Namun di hadapan Rainy, Raka tidak pernah sekalipun menunjukan sikap dingin. Ia juga bukan pria yang membosankan. Mereka selalu memiliki hal untuk dibicarakan atau dilakukan. Bahkan walaupun hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa kecuali saling menyandarkan diri pada satu sama lain, itu adalah saat yang menyenangkan sehingga membuat Rainy semakin sering dilanda keinginan untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan Raka. Berpikir begini, Rainy jadi sadar bahwa menikahi Raka mungkin adalah pilihan terbaik baginya. Karena bila mengingat apa yang kadang-kadang mereka berdua tak mampu menahan diri untuk tidak melakukan… emm! Sebelum mereka melampaui batas, sepertinya menikah adalah keputusan yang paling tepat.


“Karena itu kami ingin tahu,” Lanjut Rini. “Apakah kau tertarik untuk menikahi Raka?”


Mendengar kata-kata ibunya, Raka mengedipkan mata dan mengerutkan bibirnya. Tertarik? Apakah itu kata yang tepat untuk digunakan ketika melamar seorang gadis, Ma? Gugat Raka dalam hati. Mengapa terdengar seperti sebuah interogasi? Rini adalah wanita yang hebat dan seorang ibu yang luar biasa, namun ia tidak memiliki bakat berbahasa seperti yang dimiliki suami dan putranya. Raka berpikir bahwa Rainy akan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ini sehingga ia segera merangkai kalimat dalam kepalanya untuk menyelamatkan ibunya dari kemungkinan membuat Rainy terganggu, namun siapa sangka, si boneka bermuka besi itu malah mengangguk.


“Emm. Rainy tertarik.” Sahut Rainy dengan serius. Wajah kedua pasang orangtua itu langsung sumringah.


“Betulkah? Kalau begitu kau bersedia menikahi putraku?” Tanya Rini kembali. Rainy kembali mengangguk. Rini memukul-mukul bahu suaminya dengan girang, sementara Ratna, karena ia tidak bisa memeluk Rainy yang duduknya berjarak 2 kursi darinya karena Ardi berada di antara mereka, memutuskan untuk hanya mengulurkan tangan dan menggenggam tangan putrinya erat-erat. Ardi yang terjepit di antara mereka, memeluk keduanya dengan mata berkaca-kaca. Putriku sudah dewasa. Ia akan segera menikah dengan orang lain! Apakah setelah menikah ia masih akan ingat untuk menemani ayahnya ini?


“Emm. Rainy dan Raka sudah pernah membicarakan ini dan Rainy sudah setuju untuk menikah dengan Raka setelah Rainy wisuda.” Jawab Rainy tenang.


“Wisuda? Apakah kau akan kembali ke kampus, nak?” Tanya Ardi. Rainy mengangguk.


“Rainy akan mendaftar untuk semester depan, Pa. Rainy hanya tinggal menyelesaikan tesis. Satu semester sudah cukup. Setelah itu, Rainy bisa wisuda.” Ucap Rainy menjelaskan.


“Kapan semester depan akan dimulai?”  Tanya Ratna.


“Kalau begitu setidaknya kita punya waktu 9 bulan untuk mempersiapkan pernikahan. Aku akan segera menghubungi Wedding Organizer untuk mengecek jadwal mereka.” Ucap Rini, langsung bangkit dari duduknya dan mencari lokasi yang tenang untuk bisa menelepon.


“Eh?” Melihat ini, Rainy hanya bisa memandangnya dengan heran. Itu saja? Tante, apakah kau tidak punya pertanyaan yang lain? Mengapa langsung buru-buru mencari Wedding Organizer padahal pembahasan ini belum selesai? Tanya Rainy dalam hati. Entah mengapa ia merasa bahwa tante berusia setengah baya ini memiliki temperamen gadis berusia duapuluhan, berani dan impulsif, sangat berbanding terbalik dengan ibunya yang tenang dan penuh pertimbangan.


Melihat wajah terkejut Rainy, Raka tersenyum.


“Mama sudah lama menunggu-nunggu kesediaanmu untuk menjadi menantunya. Itu sebabnya dia begitu bersemangat untuk segera mempersiapkan pernikahan ini.  Mungkin ia takut kau akan berubah pikiran.” Ucap Raka, mencoba membantu ibunya untuk menjelaskan. Rainy mengangguk maklum. Tapi tak lama kemudian ia mengangkat wajah dan protes,


“Eh, tapi kita kan belum selesai membicarakannya! Mama dan Papa belum mengatakan apapun.”


“Kami sudah membicarakan masalah ini sebelum kami menuju kemari. Yang kami tunggu hanyalah keputusanmu saja. Begitu kamu setuju, maka pembicaraan ini sudah selesai. Kita bisa segera mempersiapkan pernikahanmu.” Jelas Ratna.


“Tapi pernikahannya kan masih lama.” Protes Rainy lagi.


“Mempersiapkan sebuah pernikahan itu butuh waktu yang panjang, sayang. Setidaknya butuh waktu 1 tahun. Seringkali Desainer, Gedung, Make Up Artist dan Catering telah di booking bahkan 2 tahun sebelumnya Waktu 9 bulan terlalu pendek untuk mempersiapkan sebuah pernikahan.” Ucap Ratna menjelaskan.


Jawaban Ratna membuat mulut Rainy terbuka lebar. Melakukan booking 2 tahun sebelumnya? Apa orang-orang itu gila? 2 tahun itu adalah waktu yang panjang. Rainy yang baru melewati 2 bulan lebih bekerja di Divisi VII saja sudah mengalami begitu banyak kejadian. Bagaimana kalau dalam 2 tahun, pengantinnya memutuskan untuk berpisah? Bukankah booking yang mereka lakukan akan menjadi sia-sia? Rainy menggelengkan kepalanya pelan, merasa bahwa perilaku orang-orang itu terlalu berlebihan. Tak lama kemudian ekspresinya kembali berubah. Mereka sedang membicarakan persiapan pernikahan tapi satu hal malah belum dilakukan.


“Raka, kau belum melamarku secara resmi!”


Copyright @FreyaCesare