
Melihat wajah panik putrinya, Ardi tersenyum. Ia dapat membaca dengan mudah apa yang sedang dipikirkan Rainy.
"Rainy, kau tidak perlu khawatir. Sesungguhnya papa tidak pernah menutupi apapun dari mamamu, termasuk soal pendapat Lilith mengenai dirimu." ucap Ardi. "Namun bila kau khawatir, lebih baik papa yang bercerita."
"Papa sedang sakit jadi sebaiknya tidak usah banyak bicara. Biar mama yang menceritakannya pada anak-anak kita." tolak Ratna sambil tersenyum. Ardi mengangguk mengiyakan. Ratna kemudian memandang ke arah Rainy dan bertanya,
"Rainy, apakah kau tahu bagaimana papa dan mama bisa sampai menikah?"
"Niwe pernah cerita bahwa papa dan mama sudah dijodohkan sejak masih sangat muda dan sudah jadi sahabat akrab sejak masih di bangku TK." sahut Rainy datar. Ratna dan Ardi mengangguk.
"Benar, kami memang telah dijodohkan sejak masih belia. Kakek kalian, atau ayahnya mama, adalah salah seorang sahabat Niwe dan banyak berhutang jasa pada beliau. Itulah sebabnya ketika Niwemu mengusulkan perjodohan tersebut, kakek langsung menyambutnya tanpa pikir panjang." cerita Ratna. "Namun tidak satupun dari kami diberitahu mengenai perjanjian ini."
"Papa dan mama bertemu pertama kali seminggu sebelum kami masuk TK. Sebagai anak tunggal, mama selalu berharap punya teman bermain. Itu sebabnya ketika Niwe membawa Papa ke rumah mama, mama langsung menyukainya. Kami menghabiskan seharian bersama, bermain ini dan itu."
"Kau bahkan menangis ketika aku pulang di sore harinya." Goda Ardi, membuat Ratna tertawa.
"Benar. Bukankah saat itu aku sangat menggemaskan?" Balas Ratna pada Ardi tanpa malu-malu. Membuat Ardi mencibir geli.
"seminggu setelah itu mama masuk Taman Kanak-kanak dan untuk pertama kalinya harus berada sendirian di tempat yang asing dan bersama orang yang tidak pernah mama lihat sebelumnya. Ruangan itu dipenuhi anak kecil, namun tidak ada satupun yang mama kenal. Bahkan guru yang berdiri di depan kelas terlihat sangat asing dan menyeramkan, membuat mama ketakutan. Tapi mama tidak mau menangis karena menurut mama waktu itu, menangis adalah perbuatan yang memalukan. Jadi waktu itu mama hanya duduk diam di kursi dan berusaha menyembunyikan tangan mama yang gemetar." Ucap Ratna sambil mengenang. Senyumnya mengembang lembut dan matanya terlihat berbinar-binar. "Lalu seseorang menepuk bahu mama dan memanggil nama mama. Mama langsung menoleh dan menemukan bahwa papa sedang duduk di bangku, tepat di belakang mama. Saat melihatnya, seseorang yang mama kenal, tiba-tiba mama merasa sangat lega. Mama langsung bangkit dan berjalan ke arah papa untuk memeluknya dan menangis sekeras-kerasnya."
Ardi tersenyum geli saat mendengar cerita Ratna.
"Mamamu saat masih kecil suka sok jagoan, tapi sebenarnya sangat cengeng." kenang Ardi setengah mengejek. Membuat Ratna mencibir kesal sekaligus geli.
"Yang jelas semenjak itu kami menjadi akrab. Apalagi kemudian bukan hanya TK, kami terus masuk ke sekolah yang sama sampai SMA. Entah kapan terjadinya, pelan-pelan mama menyadari bahwa mama menyukai papamu. Mama juga yakin bahwa papa juga menyukai mama, sehingga mama dengan percaya diri menyerahkan semua perhatian mama hanya pada papa. Tapi tiba-tiba, saat duduk di kelas 3, papamu berubah sikap. Ia menjadi dingin dan memperlakukan mama seolah-olah ia sangat membenci mama. Tentu saja mama sangat terluka dan tidak terima diperlakukan seperti itu. Pada suatu hari mama mendatangi papamu dan bertanya mengapa ia bersikap seperti itu pada mama. Tapi papamu dengan jahatnya berkata bahwa ia baru menyadari bahwa ia tidak menyukai mama dan sudah bosan diekori oleh mama kemana-mana, jadi ia meminta mama untuk tidak lagi mengganggunya."
"Hah? Yang benar, ma? Papa bilang begitu?" tanya Rainy dengan mata terbuka lebar. Ratna mengangguk.
"Dia sangat jahat kan?" tanya Ratna sambil mencibir ke arah Ardi dengan ekspresi penuh dendam.
"Jahat banget!!!" Rainy mengangguk kuat-kuat. Rainy selalu berpikir bahwa ayahnya adalah pria yang lembut, penyayang dan sangat sabar. Ia tidak menduga bahwa ada saat dimana Ardi pernah bersikap kasar dan semena-mena.
Mendengar kata-kata putri dan istrinya, Ardi tersenyum kecut.
"Papa sadar bahwa sikap papa saat itu adalah sangat salah, namun papa melakukan itu semua justru karena papa sangat mencintai mamamu." Beritahu Ardi. Matanya menerawang jauh ke masa itu, ketika untuk pertama kalinya dalam hidup ia merasakan yang namanya kesedihan, luka, kekecewaan dan rasa putus asa..
"Sebenarnya papa sudah menyadari bahwa papa sangat menyukai mama ketika kami masih di smp. Walaupun Papa tidak pernah menyatakan apa yang papa rasakan, tapi papa tahu bahwa mamaku juga menyadari perasaan papa ini dan ia memiliki perasaan yang sama dengan papa. Papa malah sudah berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti Papa akan menikahi mama dalam sebuah pernikahan besar yang layak untuk gadis seindah dan sesempurna dia." senyum Ardi terukir saat mengingat janjinya saat itu, samentara itu istri dan kedua anaknya tersenyum mendengar caranya menggambarkan Ratna. "Namun, saat kami duduk di kelas 3 sma, papa untuk pertama kalinya mengetahui mengenai keberadaan Lilith dan Lilian dalam keluarga Bataguh. Saat itu papa juga mengetahui bahwa Lilith telah merencanakan untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan keluarga Bataguh kepada anak papa, saat niwemu meninggal. Lebih jauh lagi, papa juga mengetahui bahwa sebenarnya papa sudah bwrtunangan sejak kecil dengan mamamu atas perintah Lilith. Alasan mengapa papa dan mama selalu berada di sekolah yang sama adalah agar papa dan mama menjadi dekat dan jatuh hati pada satu sama lain, sehingga kami tidak akan menolak pertunangan kami."
"Awalnya papa tidak terlalu memahami makna dari menyerahkan posisi kepala keluarga Bataguh pada anak papa, dan mengapa Lilith menginginkan mama sebagai calon istri papa, atau mengapa niwe mematuhi keinginannya, sehingga papa mulai melakukan riset tentang semua hal yang bisa papa temukan mengenai keluarga Bataguh. Saat itulah papa menyadari bahwa bila papa menikahi mama dan memiliki seorang anak seperti yang Lilith inginkan, maka anak papa akan dikutuk sebagai pengabdi setan untuk seumur hidupnya."
"Saat mengetahui itu, papa sangat ketakutan. Papa tidak berdaya karena terlahir dalam keluarga pemuja setan selama turun temurun, namun papa tidak mau menyeret mama dan juga memberikan anak-anak papa nasib yang terkutuk. Jadi itu sebabnya papa mengeraskan hati dan mendorong mamamu menjauh. Papa tahu bahwa papa melukainya, tapi papa lebih rela bila dia terluka sedikit, namum kemudian bisa bangkit dan menjalani hidup yang bahagia dengan orang lain, dari pada ia menjadi bagian dari keluarga terkutuk ini! Namun siapa yang menyangka bahwa mamamu sangat keras kepala. Dia berani terluka dan berani menahan semua rasa sakitnya, untuk mengejar cinta yang ia tahu papa sembunyikan untuknya. Dalam hal ini, papa sungguh tidak berdaya menghadapinya."
"Ehem." Rainy berdehem. "Apakah kita akan memasuki adegan panas?" seloroh Rainy asal. Sebagai akibatnya, Ratna memukul kepalanya dengan cukup keras.
"Gadis tidak tahu malu! Kenapa kepalamu berisi comberan?" omel Ratna, membuat Rainy mengulurkan ujung lidahnya di sela-sela bibirnya sambil mengusap kepalanya yang sakit. Rainy menoleh pada Arka dan menunjukan ekspresi kesakitan dan sedih sehingga Arka dengan patuh mengulurkan tangannya dan mengusap-usap bagian kepala Rainy yang tadi di pukul Ratna. melihat tingkah keduanya membuat Ratna dan Ardi tersenyum.