
Rainy memandang pria yang berdiri di sebelah Kartini tersebut dengan kening berkerut. Ia pernah mempertimbangkan kemungkinan ini, namun sangat berharap bahwa hal ini tidak benar. Namun kenyataan berkata lain. Pria itu, suami Kartini dan ayah kandung Ananda: Jenderal Brahmana Putranto, ternyata terlibat dalam kejahatan istrinya.
Walaupun terkejut, Rainy dan Arka segera mengendalikan diri dan tetap duduk diam di tempat mereka duduk. Perilaku keduanya ini di salah fahami oleh Kartini sebagai efek dari rasa takut. Rainy yang biasanya begitu angkuh di hadapannya, saat ini terlihat tidak berdaya dan ketakutan, membuat Kartini tersenyum girang. Ia berjalan mendekati kursi tempat Rainy dan Arka duduk.
"Coba lihat siapa ini. Bukankah ini pelacur kecil angkuh yang berpikir bahwa dunia berputar di sekitarnya dan bahwa semua orang harus mematuhi kata-katanya? Berani-beraninya kau mencoba merayu putraku dan mencoba memisahkan putraku dariku. Coba lihat sekarang! Kau meringkuk seperti tikus kecil yang terjebak dalam kerangkeng, sungguh menggelikan!" ejek Kartini. Rainy mengangkat kepala dan memandang Kartini dengan dingin.
"Kau menculikku dan membawaku kemari dengan paksa, sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Rainy.
"Kenapa? Apa menurutmu kalau kau tahu apa yang kuinginkan, kau bisa membayarnya dengan uangmu?" tanya Kartini. "Oh, tapi uang yang kau miliki itu, sebagian adalah milikku!" ejek kartini lagi.
"Apa kau sudah pikun? Aku datang ke rumahmu untuk menolongmu menyelesaikan masalah hantu di rumahmu. Uang yang kuterima darimu adalah honor yang menjadi hakku." sahut Rainy dingin.
"Kau hanya paranormal kecil! Berani benar kau menuntut 750 juta untuk ritual bodohmu itu!" bentak Kartini murka.
"Lucu! Itu adalah tarif yang telah disepakati olehmu. Aku tidak mendengar kau komplain ketika memintaku untuk membantumu. Mengapa sekarang itu menjadi masalah? Ingin menerima jasa tapi enggan membayar? Nyonya, aku tidak pernah bertemu orang kaya yang memalukan seperti anda." ejek Rainy. Tangan Kartini langsung melayang, mencoba menampar mulut Rainy, namun tangan kiri Arka menangkap tangan tersebut dan membuat gerakannya terhenti. Kartini mencoba untuk menarik lepas tangannya dari cengkeraman Arka, namun gerakannya sia-sia. Bukannya terlepas, jari-jari Arka yang mencengkeram tangannya terasa semakin kuat hingga menimbulkan rasa sakit.
"Lepaskan!" jerit Kartini. Cengkeraman Arka bertambah kencang, membuat Kartini menjerit kesakitan.
"Tidak pandai menggunakan mulut, lalu kau ingin menggunakan fisik? Ananda yang malang harus memiliki ibu yang otaknya cuma sebesar biji kacang hijau. Dia pasti malu sekali melihat tingkahmu yang rendah." hina Rainy.
"Jangan sebut-sebut nama anakku, kau pelacur liar! Suruh gigolomu untuk melepaskan aku!" jerit Kartini semakin murka. Mendengar makiannya, cengkeraman Arka semakin mengencang.
"Bram! Kenapa kau diam saja? Hajar pelacur dan gigolonya ini!" jerit Kartini pada suaminya yang sejak tadi hanya berdiri diam dengan kedua tangan di punggung, tampak tidak berminat untuk terlibat. Mendengar istrinya memanggilnya, Sang Jenderal menarik nafas panjang, lalu berjalan mendekat. Ia melirik ke arah para bawahannya dan mengisyaratkan kepada mereka untuk tidak ikut campur.
"Mas, bisakah saya minta tolong untuk melepaskan tangan istri saya?" tanyanya pada Arka dengan sopan. Kata-katanya kontan membuat Kartini yang sedang kesakitan bertambah emosi.
"Bram, ngapain kau bermanis-manis pada mereka? Gigolo, lepaskan aku!" Kartinikembali mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Arka, namun tidak berhasil.
"Mas, saya tahu lidah istri saya memang kelewatan. Tapi mari kita bicarakan baik-baik ya. Tolong lepaskan dulu tangan istri saya." pinta Bram lagi.
"Arka, lepaskan dia." perintah Rainy tenang. Tanpa protes, Arka langsung melepaskannya dan kembali duduk dengan tenang di kursinya semula. Namun tatapannya yang tajam mengancam untuk menyakiti Kartini bila ia berani mengulangi perbuatannya.
Kartini mengusap-usap pergelangannya tangannya yang membiru sambil meringis kesakitan. Melihat bagaimana istrinya dikalahkan oleh keduanya hanya dalam beberapa kalimat saja, Bram menggelengkan kepalanya dengan maklum. Ia memandang Rainy dan Arka dengan lebih seksama. Gadis itu adalah pewaris perusahaan besar yang berita tentangnya sempat menjadi bulan-bulanan media beberapa waktu yang lalu. Cantik, muda, misterius dan kata orang; luar biasa cerdas. Berhadapan dengan Rainy saat ini, Bram menyadari bahwa semua pujian tentangnya sama sekali tidak berlebihan. Dan Bram dengan baik hati akan menambahkan kata pemberani dalam karakter Rainy. Ia mengagumi bagaimana gadis itu tidak sedikitpun menampilkan rasa gentar, apalagi takut, setelah mengalami penculikan dan sekarang sedang berada di tengah krisis yang bisa menghilangkan nyawa mereka, sorot mata Rainy masih terlihat dingin dan tidak terpengaruh.
terlihat sedikitpun riak pada ekspresinya. Ia duduk di kursi tersebut sambil memandang mereka seolah ia hanya seorang penonton dan apa yang sedang terjadi tidak akan membawa pengaruh apapun padanya.
Dibandingkan mereka berdua, istri tercintanya, Kartini, lebih mirip wanita berotak dangkal yang tidak mampu melakukan apapun kecuali bersikap kekanak-kanakan. Bram mengisyaratkan kepada anak buahnya untuk membawakannya kursi. Mereka mengangkat 2 Buah kursi dan meletakkannya di hadapan Rainy dan Arka. Bram menduduki kursi yang berada tepat di hadapan Rainy.
"Saya dengar kau sedang berkencan dengan Ananda." Ucap sang Jenderal.
"Apakah anda mau melarang saya mendekati putra anda, Jenderal?" tanya Rainy.
"Istri saya tidak menyukainya, dan bila ia tidak suka, saya tak berniat membujuknya." sahut Bram.
"Bukankah memilih pasangan adalah hak Ananda?" tanya Rainy lagi.
"Tapi Ananda sudah bertunangan." ucap Bram memperingatkan. Mendengar ini Rainy hanya memgangkat bahu.
"Saya sudah dengar mengenai hal itu. Lalu memangnya kenapa? Bukankah wanita itu sudah menghilang entah dimana?"
"Tunangannya adalah putri sahabat istri saya. Tidak layak rasanya bila Ananda berpacaran dengan wanita lain selagi tunangannya masih menghilang." Jelas Bram.
"Oh? Ananda saja tidak perduli, mengapa anda yang khawatir?" Sahut Rainy. Mendengar ini, Kartini mengamuk.
"Perempuan ****** tidak tahu diri! Kau pikir kau siapa berani menginginkan putra kesayanganku?!" jeritnya tak tahan lagi.
"Aku? Aku adalah wanita yang saat ini sedang sangat dicintai oleh putramu! Ada masalah dengan itu?" tantang Rainy dengan seulas senyum.
"Itu tidak benar! Aku tidak percaya! Ananda tidak mungkin jatuh cinta pada perempuan licik dan mata duitan sepertimu!"
"Oh? Lalu kepada siapa seharusnya Ananda jatuh cinta? Padamu?" tanya Rainy dengan senyum dingin menghiasi bibirnya.
Copyright @FreyaCesare