My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Malam Pertama Di Menara Kultivasi



"Datuk sedang apa?" tanya Rainy. Saat itu Datuk Sanja sedang duduk di sebuah kursi lebar yang diletakan di depan api unggun dengan tangan kanan memegang Sape dan tangan kirinya memegang sebuah kain lap. Sape adalah sebuah alta musik petik khas suku Dayak yang memiliki suara mirip gitar.


"Aku sedang membersihkan dan menyetemnya." sahut Datuk, menunjukan Sape di tangannya.


"Sape? Apakah Datuk bisa memainkannya?" tanya Rainy sambil berjalan mendekat dan kemudian duduk di atas kursi lebar, tepat di sebelah Datuk Sanja.


"Tentu saja! Apa kau tahu? Waktu Hanyi meninggalkan dimensi ini, ia hanya membawa sedikit pakaian dan sape kesayangannya. Menguasai cara memainkan Sape kemudian menjadi salah satu warisan dalam keluarga." cerita Datuk Sanja. Rainy menganggukkan kepalanya dengan maklum. Sape di tangan Datuk berwarna coklat kayu yang dihiasi dengan ukiran dayak yang rumit pada tubuhnya.


"Sapenya terlihat masih baru." komentar Rainy. Datuk Sanja mengangguk.


"Sape ini baru kuterima beberapa tahun yang lalu Triplet membuatkannya untukku karena Sape lamaku sudah tidak mampu lagi bertahan karena di makan usia." cerita Datuk.


"Benarkah? Ini Sape bagus sekali. Saya malah mengira ini karya seorang maestro." puji Rainy.


"Well, kalau kau tinggal lama di sebuah dunia kecil tanpa banyak hal yang bisa kau lakukan selama bertahun-tahun, sangat mudah bagimu untuk menjadi seorang maestro." Ucap Datuk Sanja.


"Karena banyak waktu luang dan kurang hiburan?" tebak Rainy.


"Tepat sekali!" sahut Datuk Sanja membenarkan.


"Boleh saya mencoba memainkannya, Datuk?" tanya Rainy kemudian.


"Apa kau bisa?" tanya Datuk Sanja sambil mengulurkan Sape pada Rainy.


"Kakek mengajari saya memainkannya." Rainy mengamati Sape tersebut. "6 senar? Cool!" Rainy memposisikan Sape ditubuhnya lalu dengan gerakan lincah, jari-jemari Rainy mulai memetiknya. Lagu 'Let Me Down Slowly' dari penyanyi barat, Alec Benjamin, yang ketukannya sengaja diperlambat 1,5 kali dari aslinya, mengalun unik karena dipetik dengan menggunakan idat, yaitu teknik khusus alat musik Sape yang menghasilkan suara petikan yang khas musik masyarakat Dayak. Suara indah Rainy yang lembut, halus dan jernih terdengar bagai belaian di telinga Datuk. Membuat pria tua itu memejamkan matanya untuk bisa lebih menikmatinya.


"This night is cold in the kingdom


I can feel you fade away


From the kitchen to the bathroom sink and


Your steps keep me awake


Don't cut me down, throw me out, leave me here to waste


I once was a girl with dignity and grace


Now I'm slipping through the cracks of your cold embrace


So please, please...


"Bukankah Sape hebat? Alat musik ini membuat lagu barat berubah jadi musik etnik." komentar Datuk Sanja.


"Ah? Yang hebat bukan Sapenya, Datuk! Tapi saya! Tanpa idat, bunyi Sape hanya akan terdengar seperti suara gitar." protes Rainy jumawa sehingga mengundang senyum di bibir Datuk Sanja.


"Lagakmu!" ejek Datuk Sanja geli.


Rainy menyerahkan kembali Sape kepada Datuk Sanja sementara ia mulai menggali makanan di dalam tas Kosmosnya. Tak lama kemudian ia mengeluarkan sekotak Pastry yang berasal dari Eclair dan segelas teh lemon madu panas. Saat ia mengambil sebuah pastry dari dalam kotak dan hendak menyuapkannya ke mulutnya, suara Datuk Sanja terdengar dengan nada kesal.


"Gadis tengik, di mana adabmu? Saat mengeluarkan makanan, bukan saja kau tidak menawari Datukmu, kau bahkan tidak permisi terlebih dahulu ketika hendak makan di depan seniormu!"


Rainy mengangkat kedua alisnya dan memandang Datuk Sanja dengan heran.


”Bukankah Datuk Bilang, Datuk tidak membutuhkan makanan?" tanya Rainy.


"Walau aku tidak membutuhkan makanan, tapi sebagai manusia, aku suka makan!" sahut Datuk Sanja.


"Kalau begitu mengapa tadi siang menolak saat saya tawari makanan?" tanya Rainy lagi dengan heran.


"Tentu saja karena saat itu aku sedang tidak ingin makan!" sahut Datuk Sanja.


"Ah!" ucap Rainy tersadar. "Maafkan saya, Datuk." dengan penuh hormat, Rainy mengulurkan tas kosmosnya kepada Datuk Sanja. Untuk sesaat, Datuk Sanja sibuk mencari-cari di dalam tas kosmos tersebut. Melihat cara Datuk yang mengobok-obok tas kosmos membuat Rainy mengkhawatirkan bahwa Datuk akan menyebabkan semua makanan dan minuman berharga dalam tas kosmos itu akan berhamburan. Sesungguhnya, ide bahwa tas kosmos mungil yang terlempar kesana-kemari itu sebenarnya merupakan sebuah gudang makanan yang diperkecil, dimana apapun yang ada di dalamnya tidak akan terganggu oleh dunia luar, masih sulit untuk diterima oleh logika berpikir Rainy, sehingga mau tidak mau ia menjadi khawatir.


"Apakah kau hanya akan makan snack-snack itu?" tanya Datuk Sanja ketika melihat Rainy memegang sepotong cake dengan tangannya dan mengigitinya perlahan sambil mengawasi Datuk Sanja. Rainy mengangguk.


"Baiklah. Kalau begitu aku juga." tangan Datuk Sanja kemudian menarik keluar sebuah kotak Eclair lagi dari dalam tas kosmos, membuat bola mata Rainy membesar.


"Datuk, ada begitu banyak makanan di dalam sana. Mengapa Datuk harus mengambil koleksi pastry saya?" protesnya dengan panik. Melihat reaksi Rainy, Datuk Sanja tersenyum jahil.


"Kenapa? Apa kau tidak rela?" tanyanya.


Tidak rela! Sungguh Rainy tidak rela! Mereka akan berada di dalam menara ini selama 100 tahun, sementara stok pastrynya, walaupun saat ini terlihat sangat banyak, namun tidak akan bisa memenuhi kebutuhan Rainy selama 100 tahun. Buat dirinya saja tidak cukup, bagaimana Rainy rela untuk membaginya dengan Datuk Sanja? Namun Rainy masih cukup dewasa untuk menyadari bahwa pemikirannya sangat tidak pada tempatnya.


"Er, bukan begitu. Saya cuma takut kalau Datuk tertular pola makan saya. Bagi orangtua seperti Datuk, memakan terlalu banyak gula itu tidak baik untuk kesehatan." kilah Rainy pelan. Namun melihat senyum di bibir Datuk Sanja, Rainy tahu bahwa Datuknya itu sama sekali tidak percaya pada kata-katanya.


"Tenang saja! Penyakit seperti itu tidak akan bisa menyentuh kultivator seperti aku!" sahut Datuk Sanja dengan tenang. Datuk Sanja lalu membuka kotak kuenya dan mengambil sebuah soes buah di dalamnya, lalu mengunyahnya pelan-pelan dengan gaya yang provokatif. Rainy hanya bisa menarik nafas panjang dan memalingkan wajahnya agar ia tidak melihat aksi Datuk. Bila ia tidak melakukan itu, Rainy khawatir ia akan meradang dengan kekanakannya dan bertengkar mulut tanpa henti dengan Datuk Sanja. Sikapnya ini lagi-lagi mengundang senyum di bibir Datuk Sanja.


Begitulah, mereka melewati malam itu dengan damai. Setelah makan, keduanya lalu menyiapkan sebuah ayunan gantung lagi untuk Rainy, di tempat yang tak jauh dari ayunan milik Datuk Sanja. Namun karena baru saja bangun dari tidur, Rainy tidak bisa kembali jatuh tertidur. Dalam hati ia merasa sangat merindukan Raka dan hal itu membuat Rainy merasa sangat tidak nyaman. Untuk mengalihkan perhatiannya, Rainy lalu mengambil handphonenya dan menghabiskan waktu dengan bermain sudoku sampai akhirnya jatuh tertidur tanpa ia sadari.