My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Play



"Hallo, selamat sore. Kami datang untuk memenuhi panggilan anda." sapa Rainy dengan riang. Kartini memandang wanita cantik di hadapannya itu dengan perasaan tidak suka. Sejak awal bertemu ia sudah membenci Rainy. Wanita ini bukan hanya cantik, ia juga kurang ajar dan serakah. Beraninya ia menuntut tarif 750 juta untuk 1 kali kunjungan lanjutan, setelah ia meminta lima juta sebagai biaya konsultasi di kunjungan pertama. Apa dia pikir uang turun dari langit? Kalau saja Kartini tidak dibuat ketakutan oleh serangan yang terjadi pada Ananda pagi tadi, sementara Ananda menolak bila Kartini memanggil paranormal yang lain, Kartini tidak akan sudi memakai jasa Divisi VII kembali.


Dengan wajah masam, Kartini membukakan pintu lebar-lebar agar Rainy dan timnya bisa lewat. Kali ini Kartini tidak sudi bermanis-manis di depan mereka. Toh, mereka juga sudah tahu bahwa dirinya tidak menyukai keberadaan mereka di rumah ini. Tanpa berbasa-basi, Kartini melemparkan tubuhnya ke Sofa dan menyibukkan diri dengan memeriksa kuku-kukunya. Ia berniat untuk membuat orang-orang itu merasakan rasa tidak sukanya lewat perlakuannya terhadap mereka. Tapi belum sempat tujuan Kartini tercapai, Ananda telah muncul di ruangan tersebut dan menyapa tamunya dengan ramah.


"Ah, syukurlah kalian sudah datang!" Ananda mendekat dan mengulurkan tangannya pada Rainy, yang disambut gadis itu dengan terlalu antusias. Dengan mata terbelalak Kartini melihat Ananda dan Rainy tak juga saling melepaskan genggaman tangannya, walaupun beberapa detik sudah berlalu.


"Ananda, bagaimana keadaanmu?" Tanya Rainy dengan penuh perhatian. "Kudengar kau mengalami serangan lagi tadi pagi?"


"Benar. Sebuah kursi melayang dan menimpa bahu kiriku. Sekarangpun masih membengkak dan terasa sakit." ujar Ananda mengadu. Kartini sampai mengangkat sebelah alisnya. Mereka baru bertemu kemarin dan seingat Kartini, sepanjang pertemuan kemarin, Rainy selalu bersikap dingin dan menjaga jarak, sementara Ananda, seperti biasa, bersikap sopan namun sangat hati-hati. Lalu mengapa sekarang keduanya tampak sangat akrab?


"Ya ampun!" pekik Rainy dengan terkejut, membuat bibir Ivan berkedut dan Natasha ingin menutup matanya karena malu. Boss, aktingmu sungguh buruk sekali. Di samping Natasha, Arka memandang interaksi antara Rainy dan Ananda dengan tertarik, sementara itu di sebelah Rainy, Raka berusaha untuk tidak melihat. Setiap orang dalan tim itu tampak berusaha menahan tawa mereka.


"Dimana? Coba tunjukan padaku." tanya Rainy ingin tahu. Ananda membuka beberapa kancing bagian atas kemeja putih yang dikenakannya, lalu menyingkapkan bahu kirinya. Melihat bahu yang berkulit terang itu terlihat membengkak dan membiru, bibir Rainy berkedut. Nayla sangat kejam. Bagaimana bisa ia begitu tega melukai Ananda sampai seperti itu hanya untuk menakut-nakuti Kartini?


"Ya ampun! Aduh, pasti sangat sakit ya?" Rainy mengulurkan tangannya dan menyentuh bagian kulit Ananda yang membiru. "Sakit... Sakit... Sembuhlah." ucap Rainy sambil mendekatkan wajah ke bahu Ananda dan meniup-niup cedera di bahunya. Ivan harus menggigit bagian dalam mulutnya untuk menahan tawa yang mengancam untuk meledak. Sedangkan Natasha tanpa sadar membelalakan matanya karena shock, namun dengan segera memperbaiki ekspresinya. Di kursinya, mata Kartini berkilat tajam dan ekspresi wajahnya menggelap. Raka berdehem pelan, membuat Rainy dan Ananda tampak tersadar dari 'momen' mesra mereka. Dengan 'baik hati' Rainy membantu merapikan baju Ananda dan memasangkan kembali kancingnya.


"Tenang saja! Hal ini tidak akan terulang! Aku akan mengusir hantu-hantu itu untukmu!" Janji Rainy yang disambut oleh senyum Ananda yang tampak sangat bahagia saat menerima janji Rainy.


Lalu mereka memulai kegiatan pengusiran hantu tersebut. Rainy berjalan mengelilingi seluruh ruangan sambil menggerakan sebuah lonceng mungil yang mengeluarkan bunyi ting... Ting... Ting... Yang menyeramkan. Di belakangnya, seluruh anggota tim, Ananda dan Kartini berjalan mengikuti. Ketika mereka sampai di sebuah lemari, yang terletak dalam sebuah gudang di lantai dasar, Nayla mulai menggerakkan benda-benda yang berada di ruangan tersebut, yang nyaris semuanya ditujukan untuk menyerang Kartini, hingga membuat Kartini menjerit-jerit ketakutan. Kartini bahkan hampir tertindih sebuah lemari yang ambruk tanpa sebab, begitu Kartini melewatinya. Untungnya Ivan dengan sigap menyelamatkannya. Lalu Rainy menggumankan beberapa kata sambil menggerakkan loncengnya dengan lebih kencang dan tiba-tiba semua gerakan tersebut berhenti. Rainy lalu tersenyum lebar pada Kartini dan mengumumkan bahwa hantunya telah pergi. Setelah itu, Dengan alasan ingin memberi waktu bagi Kartini untuk beristirahat, Rainy dan timnya berpamitan. Tepat saat Rainy hendak melintasi pintu depan menuju ke teras, Ananda menangkap tangan Rainy. Rainy menoleh dan memandang Ananda dengan tatapan bertanya-tanya.


"Rainy, apakah aku boleh bertemu denganmu lagi?" tanya Ananda. Rainy tersenyum manis dan berkata,


"Datanglah kapan saja. Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu." lalu Rainy berbalik dan pergi.


Ketika Ananda berbalik setelah menutup pintu di belakang Rainy, ia berhadap-hadapan dengan Kartini yang memandangnya dengan murka.


"Katakan padaku, apakah kau menyukai pelacur yang mata duitan itu?" tanya Kartini dengan suara keras.


"Dia cantik, baik hati dan sangat hebat. Aku sangat suka padanya, Ma." Sahut Ananda dengan nada datar.


"Lalu bagaimana dengan Nayla? Kau sudah bertunangan dengan Nayla, mengapa sekarang kau menyukai perempuan lain?"


"Aku bertunangan dengan Nayla karena mama yang menginginkannya. Tapi karena sekarang Mama sudah membawa Nayla pergi, aku memutuskan untuk merelakannya. Rainy sangat cantik dan dia menyukaiku, seperti juga aku menyukainya. Tolong mama jangan menghalangi hubungan kami." Tegas Ananda.


"Aku adalah putramu, ma, dan bukan kekasihmu! Kau tidak berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh mencintaiku. Aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu!" Balas Ananda dengan geram. Ananda lalu berbalik dan meninggalkan Kartini yang masih menjerit-jerit histeris.


"Ananda! Beraninya kamu melawan mama! Apa kau sudah lupa kalau aku ini ibu yang melahirkanmu?! Ananda! Kembali kesini!" jeritnya. Namun Ananda telah berlari ke lantai atas, memasuki kamarnya dan membanting pintu kamarnya keras-keras sebelum menguncinya.


"Rainy, dasar perempuan gatal! Beraninya kamu mencoba merampas Ananda dariku! Awas kamu! Tidak akan kubiarkan kamu hidup!" geram Kartini dengan mata yang memerah karena marah.


***


Rainy duduk bersandar pada kursi penumpang dengan lemas. Ia merasa sangat lelah. Bagaimana para aktor sanggup berakting setiap hari ya? Baru berakting selama 2 jam saja, tubuh Rainy rasanya terkuras habis. Rainy meraih tangan Raka dan mengaitkan jari-jari tangan mereka berdua hingga saling menggenggam, membuat Raka mengangkat alisnya melihat tingkah Rainy itu.


"Charging." ucap Rainy pelan, membuat Raka tersenyum. Saat mereka masih belia dulu, setiap kali Rainy merasa moodnya sedang buruk, ia akan mengaitkan jari-jarinya di antara jari-jari tangan Raka untuk charging. Katanya hanya dengan bergandengan tangan dengan Raka, moodnya bisa pulih dengan cepat. Ah, dan akan lebih cepat lagi bila ditambah sambil makan cake kesukaannya.


Dengan sebelah tangannya yang bebas, Raka mengaktifkan telepon genggamnya untuk menghubungi Mr. Jack dan memesan Black Forest Cake dalam ukuran besar untuk Rainy. Mendengar ini, mata Rainy yang meredup karena kelelahan, kembali berkilau.


Di kursi belakang Ivan sibuk mengenang kembali kejadian sore itu. Mulai dari senyum lebar Rainy yang menyeramkan, sikap genitnya dan penuh perhatiannya pada Ananda yang terasa sangat menggelikan, sampai cara Rainy membunyikan bel dan merapal mantera dalam suara berbisik yang berisik.


"Sebenarnya mantera apa yang kau lafalkan tadi? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi terkadang saat mendengar nadanya, kok aku merasa pernah mendengarnya.* tanya Ivan penasaran.


Rainy yang masih bersandar di kursi penumpang dengan memejamkan mata dan masih menggenggam tangan Raka, berkata dengan nada datar,


"Seluruh kota merupakan tempat bermain yang asyik. Sang gajah terkena flu pilek tiada henti-hentinya. Sang beruang tidur dan tidak ada yang berani ganggu dia. Oh sibuknya. Aku sibuk sekali."


Sontak tawa berderai-derai memenuhi penjuru mobil yang melaju melintasi jalan tol di malam hari yang sepi.


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Adakah yang mengenali mantera yang Rainy lantunkan? 😁