My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kecantikan Hati



Tiba-tiba, seseorang sudah berjongkok di hadapannya. Miranda mengangkat kepala dan bertatapan dengan Ivan yang sedang memandangnya dengan prihatin.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Ivan. Miranda tahu bahwa Ivan adalah Empath seperti juga dirinya, sehingga kalau ada orang yang bisa memahami apa yang sedang ia alami, hanya Ivan sajalah orangnya. Karena itulah Miranda mengangguk.


“Sakit?” Tanya Ivan lagi, mengacu pada emosi yang menekan dadanya. Miranda mengangguk. Ivan mengulurkan tangan dan menarik Miranda sampai berdiri.


“Pergilah ke ruang spiritual dan lakukan rileksasi. “ suruh Ivan. Miranda mengangguk kembali. Ivan mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk kepala gadis itu sesaat sambil tersenyum hangat, sebelum ia berbalik, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Rupanya Ivan datang untuk menggantikan Miranda dan bukan datang khusus untuk menghibur Miranda. Menyadari ini membuat Miranda menunduk malu. Ia baru saja membiarkan hatinya berbunga-bunga tanpa alasan. Namun tetap saja, sikap hangat yang ditunjukan Ivan padanya membuat hati Miranda terasa hangat dan mengangkat rasa sakit yang diterimanya dari Herdianti.  Menuruti Ivan, Miranda melangkah gontai menuju ruangan spiritual.


Di dalam kamar 301, Rainy sedang menunggu Herdianti memberikan jawaban atas pertanyaannya. Rainy bukannya tidak merasakan emosi yang bergejolak dalam diri Herdianti. Rainy juga seorang Empath, walapun kemampuannya tidak sekuat kemampuan Ivan yang bukan hanya bisa merasakan, namun juga bisa mentransfer emosi positif ke dalam diri orang lain, untuk meredakan gejolak emosi orang tersebut. Namun Rainy tahu bahwa saat ini tidak ada yang boleh membantu untuk menanggung emosi Herdianti. Herdianti harus merasakannya dan harus mampu mengendalikan diri untuk bisa mengambil keputusan sesuai dengan kemampuannya sendiri. Apabila mereka membantunya mengendalikan emosinya, maka yang terjadi adalah ketenangan palsu yang akan menghasilkan keyakinan yang juga palsu. Keyakinan palsu akan runtuh dengan sangat mudah begitu rasa sakit dalam pengobatan  mulai ia rasakan dan  ini bisa menyebabkan komplikasi yang tidak Rainy harapkan.


“Ibu, coba tutup mata ibu, lalu tarik nafas perlahan dan panjang.” Suruh Rainy. Herdianti menutup mata dan berusaha mengatur nafasnya.


“Tarik nafas dengan perlahan melalui hidung langsung ke perut anda…. Tahan nafas anda sebentar… lalu lepaskan nafas anda dengan perlahan melalui mulut. Ulangi lagi… perlahan-lahan… hitung mundur dari 100 menuju ke 1.” Tuntun Rainy dengan suara lembut yang terdengar menghipnotis di telinga Herdianti.


Herdianti mengikuti instruksi Rainy dengan patuh. Tarik nafas panjang, tahan, buang, begitu berkali-kali sambil menghitung mundur dari angka 100. Pelan-pelan ia merasa tekanan di dada mulai berkurang. Di hadapannya, Rainy memperhatikan pergerakan nafasnya dengan seksama sambil menghitung mundur.


“10…9…8…7…6…5…4…3…2…1… Sekarang buka kembali mata ibu.” Suruh Rainy. Herdianti membuka mata.


“Apa Ibu sudah lebih tenang?” Tanya Rainy. Herdianti mengangguk.


“Setiap kali ibu merasa takut, cemas, khawatir, sedih, atau diliputi emosi negatif lainnya, gunakan trik ini untuk mengendalikan emosi ibu. Dengan cara ini, tekanan emosi yang ibu rasakan akan berkurang sehingga kemampuan berpikir ibu tidak akan dipengaruhi oleh emosi.” Ucap Rainy. Herdianti kembali mengangguk. Ia memang merasakan bahwa rasa sakit di dada dan kepalanya banyak berkurang dan itu membuatnya menjadi lebih tenang.


“Sekarang saya akan mengulangi pertanyaan saya. Ibu, pengobatan yang akan saya lakukan, akan menimbulkan rasa sakit yang mungkin lebih menyakitkan dibanding rasa sakit yang ibu rasakan setiap kali Adzan bergema. Selain itu mungkin akan butuh waktu cukup lama.”


“Berapa lama?” Tanya Herdianti dengan khawatir.


“Saya tidak dapat memastikan. Tapi jelas lebih lama bila dibandingkan dengan panjangnya suara adzan. Mungkin 15 menit, tapi bisa juga 1 jam. Saya sungguh tidak bisa memastikannya.”


“Itu hanyalah estimasi yang saya buat. Bisa lebih singkat, bisa lebih panjang.”


“Le… lebih panjang?” Karena nafasnya mulai kembali memburu, Rainy terpaksa mengingatkannya untuk kembali melakukan rileksasi. Setelah akhirnya Herdianti tenang kembali, Rainy melanjutkan.


“Ibu, saya tahu saat ini ibu merasa takut untuk menghadapi rasa sakit yang lebih dari yang sudah pernah ibu rasakan. Namun bila ibu mampu menahannya, akan ada harapan bahwa ibu tidak akan mengalami rasa sakit itu lagi setiap Adzan berkumandang. Bukankah itu hal yang bagus?” Tanya Rainy. Herdianti mengangguk. Tidak mengalami  rasa sakit setiap kali Adzan bergema adalah sebuah berkah yang ia impikan!


“Jadi bagaimana? Apakah ibu bersedia melakukannya?” Tanya Rainy lagi.


“Apakah saya bisa benar-benar sembuh?” Tanya Herdianti penuh harap.


“Mahluk dalam perut ibu akan mati dan tidak akan mengganggu ibu kembali. Mimpi buruk yang ibu alami juga akan berhenti. Namun fisik ibu yang sudah terlanjur lemah karena semua gangguan ini membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh. Ibu hanya memerlukan banyak vitamin, banyak istirahat dan berolahraga untuk mengembalikan fisik ibu seperti semula. Mungkin butuh beberapa bulan, mungkin butuh setahun, itu semua sangat tergantung dari usaha ibu.” Ucap Rainy menjelaskan. Mendengar ini wajah pucat Herdianti langsung terlihat cerah. Harapan berbinar di matanya.


“Kalau rasa sakit itu adalah harga yang saya harus bayar untuk bisa sembuh, saya rela!” Ucapnya tegas. Mendengar ini Rainy mengangguk.


“Kalau begitu, karena sudah mendekati waktu Adzan, silahkan ibu berbaring di ranjang. Saya perlu melihat serangan terjadi secara langsung terlebih dahulu. Apabila memungkinkan, saya akan langsung mencoba mengobati saat itu juga. Namun bila tidak, saya akan menunggu sampai rasa sakit ibu berakhir, lalu kita akan memulai pengobatannya.” Suruh Rainy. Herdianti mengangguk. Ia lalu bangkit dari sofa. Namun ketika ia hendak melangkah, Herdianti terpana melihat Miranda sudah menghilang dan digantikan oleh seorang pria yang sangat tampan, yang tersenyum padanya saat melihat keterkejutannya.


“Ini Ivan. Ia bertugas menggantikan Miranda karena Miranda harus pergi untuk melakukan hal lain.” Ucap Rainy memperkenalkan Ivan. “Kalau Ibu merasa tidak nyaman karena mayoritas asisten saya adalah pria, saya bisa mengirimkan Musa untuk keluar dan Ace hanya akan berjaga di dekat pintu. Namun saya membutuhkan Ivan untuk membantu saya secara langsung.”


Hardianti menggelengkan kepalanya. Ia tidak merasa keberatan. Ia hanya merasa malu karena seorang pria tampan yang baru ditemuinya harus melihatnya dalam keadaan terburuk. Melihat keraguannya, Ivan berjalan mendekat. Ia mengambil sebelah tangan Herdianti dan memberinya senyum menenangkan.


“Ibu, janganlah merasa malu pada saya. Saya tahu bahwa saat ini ibu sedang berada dalam kondisi kesehatan yang kurang baik makanya ibu terlihat seperti ini. Tapi percayalah, Bu. Walaupun secara fisik, saat ini Ibu sedang  tidak dalam penampilan terbaik Ibu, saya bisa melihat bahwa hati ibu sangatlah cantik. Jadi ibu tidak memiliki alasan untuk merasa malu. Seburuk apapun yang akan terlihat nanti, menurut saya, itu tidak mengurangi kecantikan ibu.” Bujuk Ivan dengan manis.  Mendengar kata-kata Ivan, Hardianti menunduk malu. Sementara itu Rainy hanya memandang dengan ekspresi datar, namun ada Rainy kecil dalam hatinya yang saat ini sedang muntah-muntah karena geli. Di ruang kontrol, para wanita tampak terpesona mendengar rayuan Ivan. Hanya Lara yang tidak tampak terpengaruh. Wanita itu hanya tersenyum lembut dan memandang tenang pada layar monitor. Tak jauh dari mereka, Ace mengacungkan jempolnya pada Ivan. Boss kecil, kau adalah panutanku! Puji ace dalam hati.


Copyright @FreyaCesare