
Rainy meraih kunci berbentuk kartu dari dalam sakunya. Tangannya kemudian terulur untuk menggesek kartu tersebut pada tempatnya di pintu ketika tiba-tiba, sebuah kepala muncul menembus pintu yang tertutup rapat, tepat di hadapan Rainy. Kepala itu adalah kepala seorang wanita berambut ikal berwarna coklat yang dipotong pendek hanya sampai di bawah telinga. Usia wanita itu sekitar 40 tahun dengan Kulit yang tampak terawat, berwarna terang dan mulus tanpa bekas luka. Ia berwajah menarik, yang walaupun tidak bisa digolongkan cantik, namun cukup menyenangkan untuk dipandang. Sayangnya, apabila saat ini orang lain bisa melihatnya, mereka hanya bisa melihat teror karena sebuah kepala muncul dari dalam pintu yang tertutup, sementara apabila ditinjau dari posisi lehernya, tubuhnya masih ada di dalam kamar. Untungnya Rainy bukan gadis biasa yang gampang takut sehingga walaupun sempat tertegun karena terkejut, Rainy dengan segera bersikap seperti biasa kembali. Dengan tenang Rainy melangkah mundur untuk menjaga jarak dari kepala wanita tersebut.
Si wanita memiringkan kepalanya dan memandang Rainy dengan rasa ingin tahu. Matanya berkedip-kedip dan keheranan tampak mewarnai ekspresinya.
"Kamu siapa?" tanyanya dalam suara pelan yang terdengar normal, bahkan cukup menyenangkan.
"Saya adalah pemilik kamar ini." sahut Rainy. Mendengarnya, kepala tersebut kembali mengedipkan matanya.
"Ah, jadi ini kamarmu." ucapnya. Rainy mengangguk.
"Apakah kau tahu kamarku ada dimana?" tanya kepala wanita tersebut. Rainy menggelengkan kepalanya. Melihat itu ekspresi si wanita tampak kecewa.
"Bisakah engkau keluar dari situ terlebih dahulu?" tanya Rainy, merasa agak terganggu karena hanya bisa melihat kepala si wanita. Sesaat si wanita tampak bingung mendengar kata-kata Rainy. Namun kemudian ia menunduk dan memandang dirinya sendiri. Tampak menyadari makna dari kata-kata Rainy, ia kemudian menarik kepalanya kembali dari pintu. Untuk sesaat kepala tersebut menghilang, namun tak lama kemudian wanita tersebut berjalan keluar dari kamar dengan menembus pintu. Untuk menghindari bertabrakan dengannya, Rainy mengambil 3 langkah mundur.
Setelah ia keluar dari kamar Rainy akhirnya bisa melihat sosoknya dengan lengkap. Wanita itu bertubuh mungil, mengenakan gaun tidur berwarna pink dan sepasang sandal kamar dalam warna senada. Ekspresinya tampak bingung yang membuat wajahnya yang tadinya hanya sekedar menarik, menjadi terlihat cute.
"Apakah aku menembus pintu...?" tanyanya dengan linglung. Rainy hanya mengangguk. "Bagaimana caranya...." bagaimana cara ia bisa menembus pintu yang tertutup, ini yang ingin ia tanyakan. Namun menyadari bahwa bukan Rainy yang telah membuatnya menembus pintu, ia memutus kata-katanya sendiri.
"Apakah ini mimpi?" tanya lagi. Rainy menggeleng. Wanita itu mengerutkan keningnya dengan bingung. "Aku ingat bahwa aku naik ke atas ranjang untuk pergi tidur. Tapi kalau ini bukan mimpi, bagaimana bisa...." pemahaman tampaknya datang secara tiba-tiba karena ekspresi wanita tersebut tiba-tiba membeku dan wajahnya berubah pucat pasi. "Apakah aku... sudah mati...?" tanyanya dengan suara pelan yang gemetar.
"Sepertinya begitu." Rainy mengangguk.
Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan memandanginya seolah tangan-tangan tersebut tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Ia kemudian melangkah mendekati Rainy dan dengan hati-hati mencoba menyentuh tubuh Rainy. Menyadari niat wanita tersebut, Rainy tidak bergerak dan membiarkan wanita tersebut melakukan apa yang diinginkannya. Si wanita menatap dengan shock ketika tangannya bergerak menembus tubuh Rainy. Tak lama kemudian ia menarik tangannya dan menunduk sedih.
"Aku sudah mati." gumannya dengan nada putus asa. Rainy memandangnya iba.
"Bagaimana kalau kita masuk ke kamar saya dulu? Mungkin saya bisa membantu Ibu untuk menemukan dimana tubuh Ibu berada." ucap Rainy. Wanita itu mengangguk.
"Terimakasih." jawabnya pelan.
Rainy berjalan menuju pintu dan membukanya. Rainy lalu mempersilahkan wanita tersebut untuk masuk, kemudian mengikuti di belakangnya. Begitu memasuki suite tersebut, si wanita memandang berkeliling dengan penuh rasa ingin tahu.
"Eh, ini tidak terlihat seperti room suite." komentarnya.
"Em. Ini suite yang telah direnovasi menjadi kantor." jawab Rainy. Rainy mempersilahkan si wanita duduk di sofa, sementara ia berjalan menuju meja rapat, tempat dimana telepon genggamnya tergeletak tanpa suara. Setelah itu Rainy berjalan ke meja Natasha dan mengambil sehelai kertas dan sebuah pensil. Rainy kemudian duduk di sofa tunggal di hadapan si wanita dan mulai menggerakkan pensil di atas kertas putih tersebut.
Si wanita duduk di sofa panjang, masih dengan kepala yang memandang ke kiri dan ke kanan dengan penuh minat.
"Ini kantormu?" tanyanya lagi.
"Emm." Rainy mengangguk.
"Kau salah satu pegawai di resort ini?" tanya wanita itu lagi.
"Namaku?" Wanita itu terdiam sambil menatap Rainy dengan pandangan yang nanar. "Siapa namaku?" mendengarnya Rainy hanya bisa menarik nafas panjang.
"Tidak apa-apa apabila Ibu tidak ingat. Saya akan menghubungi orang yang bisa membantu menemukan tubuh Ibu dulu ya." Ucap Rainy. Ia mengangkat telepon genggamnya untuk menghubungi Meyliana dan meminta agar wanita itu segera menemuinya. Baru saja ia menutup telepon genggamnya, terdengar suara pintu terbuka dan Arka terlihat memasuki ruangan.
"Rain, mengapa kau masih disini?" tanya Arka.
"Apakah kau mencariku?"
"Emm. Aku membawakan kue titipan Mr. Jack untukmu. Tapi karena kau tidak ada di kamar, aku mencarimu sampai kemari." jawab Arka. "Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
Rainy mengangguk. Ia lalu menunjuk dengan dagunya pada sofa besar yang kosong.
"Kita kedatangan tamu." ucapnya tenang. Melihat sofa yang ditunjuk Rainy kosong tanpa penghuni, Arka menyadari dengan masam bahwa tamu yang dimaksud Rainy adalah mahluk tidak kasat mata.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Arka.
"It's okay, cousin. Tamu kita seorang wanita yang manis. Ia hanya sedikit tersesat dan butuh bantuan. Aku sudah menghubungi direktur utama dan dia akan datang sebentar lagi." Suara bel pintu yang tiba-tiba terdengar membuat bibir Rainy berkerut. Speak of the devil, and here she's come, pikir Rainy geli. Belakangan ini, kalimat ini jadi sering muncul dalam pemikiran Rainy. Arka berjalan menuju pintu dan membukakannya. Ia menyapa hormat pada Meyliana sebelum mempersilahkannya untuk masuk. Tak lama kemudian seorang wanita bertubuh tinggi dan ramping yang mengenakan jas kerja dan memasang ekspresi penuh senyum di wajahnya yang cantik, memasuki ruangan. Meyliana menunduk hormat pada Rainy.
"Ibu Rainy, apa yang bisa saya bantu?" tanyanya tenang. Rainy mempersilahkahkan Meyliana untuk duduk. Sebagai sahabat Ratna, Meyliana sudah mengenal Rainy sejak kecil dan selalu menyapa Rainy dengan menyebut namanya saja. Namun sejak bekerja di bawah Rainy, di depan orang lain Meyliana akan menambahkan imbuhan 'Ibu' untuk menyapa Rainy.
"Apakah Tante mengenal wanita ini?" tanpa basa-basi Rainy mengulurkan sehelai kertas yang tadi dicoret-coretnya dengan santai. Meyliana menerima kertas tersebut. Di atas kertas putih tersebut terdapat sketsa seorang wanita yang sedang duduk si sofa dengan mengenakan baju tidur. Walau hanya berbentuk sebuah sketsa, namun gambarnya tampak hidup sehingga Meyliana segera dapat mengenalinya.
"Ini... Sepertinya.... ini adalah salah satu tamu kita. Saya ingat berpapasan dengannya beberapa hari yang lalu." jawab Meyliana.
"Bisakah tante membantuku untuk menemukan apakah beliau masih berada disini? Dan kalau masih disini, dimana beliau menginap?" tanya Rainy lagi.
"Tentu saja. Sebentar ya, Bu." ucap Meyliana. Meyliana mengambil foto sketsa yang Rainy buat dan mengirimkannya kepada salah seorang pegawainya. Tak lama kemudian ia memperoleh jawabannya.
"Namanya Ibu Nurmala. Beliau masih ada disini dan menginap di paviliun no. 5." ucap Meyliana memberitahu.
"Apakah beliau hanya datang sendiri?" tanya Rainy.
"Benar." Meyliana mengangguk.
"Tante, bawalah beberapa orang untuk menjenguk tamu ini. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi." perintah Rainy.
Walaupun tidak sering berinteraksi dengan Rainy sebelumnya, Meyliana sudah sering mendengar mengenai kemisteriusan atasannya ini. Oleh sebab itu mendengar perintahnya, Meyliana hanya mengangguk dan bergegas pergi untuk melaksanakannya dengan patuh.
Copyright @FreyaCesare