
"Waaah, my baby indeed a very decisive person." komentar Raka sambil tersenyum tersenyum geli. "Tapi bagaimana kalau aku yang dipelet orang?" tanyanya kemudian.
"Aku akan membakarmu dengan hell fire! Atau lebih baik kulakukan dari sekarang saja ya? Siapa tahu sudah ada banyak mahluk gaib di dalam tubuhmu. Aku bisa membuat jadwal untuk membakarmu tiap seminggu sekali sebagai pencegahan." saran Rainy dengan mata berkilat jahil. Mendengar ini, Raka langsung memasang wajah tidak terima.
"Mengapa kau begitu kejam padaku?" tanya Raka dengan nada sedih.
"Kok dibilang kejam sih? Aku kan jelas-jelas sedang berusaha melindungimu dari komplikasi yang lebih buruk!" bantah Rainy. "Coba pikir, kau itu sangat tampan. Hanya dengan ketampananmu saja banyak wanita yang tergiur padamu. Belum lagi kalau mereka tahu bahwa kau menguasai banyak perusahaan di tanganmu. Kalau disuruh berbaris, barisan penggemarmu pasti sudah mencapai berkilo-kilo meter jauhnya. Bisa saja kan 1, atau 2, atau bahkan mungkin 10 orang dari mereka, memilih untuk meminta bantuan kegelapan agar menaklukan hatimu. Kalau tidak dibersihkan setiap minggu, nanti tahu-tahu sudah terlambat!" ucap Rainy dengan berapi-api.
"Sungguh kejam." tolak Raka, memasang wajah terluka.
"Tidak akan sakit, Raka. Tenang saja!" Yakin Rainy.
"Lalu bagaimana kalau kau yang mengalaminya? Dengan hanya berdiri diam di pinggir pantai saja, kau sudah bisa mengundang banyak siulan. Bukan tidak mungkin kan kalau salah satu dari mereka mencoba menaklukanmu dengan menggunakan pelet." balik Raka, membuat Rainy mendengus geli.
"Raka, apa kau lupa bahwa tubuhku dialiri hell fire? Iblis mana yang berani merasukiku?" tanya Rainy jumawa. Kali ini Raka yang dibuat mendengus geli.
"Sombong!" Cela Raka yang disambut senyum jumawa Rainy. Tak lama kemudian Raka menarik nafas panjang.
"Kasus ini harusnya menjadi kasus tim Baladewa karena dari riset awal, aku dan natasha berpikir bahwa kasus ini cukup sederhana. Siapa sangka dibandingkan kasus-kasus yang lain, kasus ini ternyata memiliki akibat yang paling serius untukmu." renung Raka.
"Iya. Memang sulit untuk menilai sebuah kasus sebelum bertemu langsung dengan klien." komentar Rainy. "Eh, tapi bukannya hari itu kita punya 2 kasus? Bagaimana dengan kasus yang satunya lagi?" tanya Rainy.
"Aku membatalkan janji temu pada hari itu dan mengundangnya lagi 2 hari kemudian. Kali ini kasusnya tidak sulit dan Guru Gilang membimbing penyelesaiannya dari ruang kontrol. Tadinya aku mau menunggu kau bangun sebelum menerima kasus baru. Namun klien mendesak. Maaf kalau aku mengambil keputusanku sendiri."
"Kenapa minta maaf? Kau melakukan hal yang benar. Bukankah kita sudah sepakat bahwa untuk kasus-kasus sederhana dan mudah, Baladewa yang akan mengerjakannya. Aku malah sangat bersyukur dibebaskan dari beban pekerjaan." seloroh Rainy. "Jangan lupa untuk memberi bonus yang besar untuk Guru Gilang. Beliau pantas menerimanya."
"Aku tahu." Raka mengangguk.
"Jadi, siapa yang memimpin pada waktu itu?" tanya Rainy ingin tahu.
"Lara yang melakukannya. Lara memang hanya duduk di ruang kontrol saat pengerjaan kasus. Namun ia mengawasi jalannya pertemuan dengan klien melaui earpiece dan mikofon, dan Musa yang menjadi penyambung lidahnya." Cerita Raka.
"Bagaimana dengan performance mereka?" tanya Rainy lagi.
"Mereka masih butuh perbaikan di sana-sini, namun sudah lumayan. Tentu saja itu karena Guru Gilang banyak memberikan petunjuk dari ruang kontrol. Tapi aku tidak yakin mereka sudah siap untuk dilepaskan." nilai Raka.
"Emm. Kalau begitu untuk sementara kita fokus pada melatih Baladewa terlebih dahulu." putus Rainy.
"Oke." Raka mengangguk setuju.
Rainy mengangkat tangan kirinya yang dialiri cairan infus dan berkata,
"Divisi VII memerlukan Dokter. Seperti kecelakaan sangat mungkin terjadi setiap kali kita mengerjakan kasus." ucap Rainy tiba-tiba.
"Iya. Aku juga berpikir begitu. Kejadian minggu lalu menyadarkan aku bahwa pekerjaan kita memiliki risiko menghilangkan nyawa. Kemarin kita masih beruntung, karena kerusakan yang dialami bu Herdianti belum banyak. Tapi kelak kita mungkin akan bertemu dengan kasus-kasus dimana kondisi klien sudah sangat buruk. Mereka mungkin tidak akan tahan bila harus menghadapi apa yang terjadi pada bu Herdianti." sambut Raka.
"Bukan itu saja. Akan lebih baik bila proses exorcist terjadi ketika klien tidak sadarkan diri. Aku takut hell fire justru akan menghasilkan trauma baru dalam kejiwaan klien." Sambung Rainy.
"Kau bisa memakaian penutup mata pada mereka sebelum terapi di mulai." Saran Raka.
"Emm. Itu bisa dicoba." Rainy mengangguk.
"Soal Dokter, Dokter yang memeriksamu tinggal di desa Ampari. Namanya Dokter Batari. Mungkin beliau bisa dijadikan kandidat. Daaaan," Raka memandang Rainy dengan tatapan penuh arti. Senyum penuh rahasia mengembang di wajahnya.
"Dr. Batari adalah adik kelas Mr. Jack di SMA. Hanya saja kalau dilihat dari cara keduanya berinteraksi, aku rasa hubungan keduanya bukan hanya sebatas teman belaka." mendengar ini Rainy langsung duduk kembali.
"Maksudmu, Dr. Batari adalah wanita yang dicintai paman Jack saat masih SMA?" tebak Rainy. Raka mengangguk.
"Dan sepertinya masih dicintainya hingga saat ini." Raka mengungkapkan kecurigaannya.
"Waaah, jangan-jangan paman Jack sampai sekarang belum menikah itu karena patah hati harus berpisah dengan Dr. Batari ya." ucap Rainy, menduga-duga.
"Dr. Batari juga belum menikah." ucap Raka.
"Benarkah? Berapa usia mereka sekarang? 35? 40?"
"Usia Mr. Jack tahun ini adalah 45 tahun jadi Dr. Batari sekarang kira-kira sudah berusia 43 tahun. Tapi kalau kau melihat wajahnya, kau tidak akan percaya kalau usianya sudah 43 tahun."
"Eh? Kenapa?"
"Dia terlihat masih diusia akhir duapuluhan. Cantik dan awet muda."
"Raka, menurutmu, apa kita perlu mencomblangi mereka?" mendengar ini, Raka mengulurkan tangan dan menjitak kepala Rainy. Membuat Rainy mengaduh dan memegangi kepalanya dengan kesal.
"Tukang ikut campur!"
"I am not!"
"Yes, you are!"
"And why not?"
"Mereka berdua sudah senior. Mengapa kau mencoba ikut campur dalam kehidupan cinta seniormu? Anak nakal!"
"Because it's fun!" sahut Rainy dengan ceria. Raka menggelengkan kepalanya dengan geli. Raka mengulurkan tangannya dan mencubit pipi Rainy dengan gemas. Membuat Rainy mengaduh.
"Gadis nakal." ejek Raka. Mendengar ini Rainy Hanya menjulurkan lidahnya sambil tersenyum geli.
"Coba bicarakan pada tante Meyliana untuk menyiapkan sebuah ruangan sebagai poliklinik yang akan melayani baik tamu maupun pegawai. Akan lebih bagus lagi kalau Dokter yang bekerja di poliklinik nanti bersedia untuk tinggal di sini." Perintah Rainy.
"Baiklah. Akan kusampaikan." Sahut Raka.
Rainy memandang wajah Raka yang tampak berantakan. Janggut dan kumis pria itu yang mulai tumbuh, mengotori wajahnya yang tampan.
"Kau perlu bercukur." komentarnya. Mendengarnya, Raka terkekeh. Ia lalu mengelus dagunya dan memandang Rainy dengan tatapan penuh arti.
"Saat wajahku berambut begini justru adalah saat yang tepat untuk menciummu." seloroh Raka sambil mendekatkan wajahnya.
"Kaktus! Jauh-jauh sana!" tolak Rainy sebal. Namun tanpa perduli, Raka menangkap kepala gadis itu dengan kedua tangannya dan mencium pipi Rainy sambil dengan sengaja menggesekkan wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar ke wajah Rainy. Membuat Rainy menjerit-jerit panik karena rasa gatal di wajahnya.
Di ruang kontrol yang temaram karena lampu utama dimatikan, Arka sedang duduk bersandar pada salah satu reclyner. Ia menatap layar monitor yang menyiarkan rekaman CCTV di kamar 304, dengan mata redup. Saat layar monitor menunjukan adegan mesra yang terjadi dalam kamar 304, Arka mengambil remote kontrol dan mematikan layar monitor, sehingga mengakibatkan seluruh ruangan berubah menjadi gelap gulita. Setelah itu Arka menarik selimut dan memejamkan mata.
"Syukurlah kau sudah bangun, Rain." bisik Arka pelan.
Copyright @FreyaCesare