My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Si Bucin, Raka



“Selera Papa sangat bagus, tapi tidak cocok dengan jaman ini.” Ucap Lara sambil tersenyum manis. “Coba Papa lihat para artis-artis di televisi, mana ada yang mengenakan perhiasan dengan model seperti ini.” Guru Gilang memandang liontin tersebut dengan lebih seksama dan mencoba mengingat-ingat bagaimana penampilan gadis-gadis yang muncul di TV dan di Video. Sepertinya ia memang tidak pernah melihat ada gadis yang mengenakan perhiasan serupa liontin di hadapannya itu, kecuali dalam film-film dengan setting sejarah.


“Lalu bagaimana? Kita tidak mungkin memoles permata ini. Kita hanya bisa membuat perhiasan yang bentuknya mengikuti permata ini.” Tanya Guru Gilang.


Lara mengulurkan tangan dan mengambil liontin kalung berhias batu permata ungu tersebut.


“Biar Lara pikirkan dulu model yang sesuai untuknya ya, Pa.” ucap Lara.


“Baiklah. Tapi cepatlah. Usahakan Rainy bisa menerimanya tepat di hari ulang tahunnya yang ke 24 tahun.” Ucap Guru Gilang.


“Baik, Pa.” Lara mengangguk. Ia meletakkan kembali kalung tersebut ke dalam kotak kayu, lalu menutup kotaknya. Tak lama kemudian kotak tersebut menghilang dari tangannya tanpa jejak. Lara mengulurkan tangan dan mengambil buku bersampul kulit yang di buka-buka oleh ayahnya tadi dan tak lama kemudian buku itu ikut menghilang dari tangan Lara.


“Pa, ayo kita sarapan.” Ajak Lara.


“Apakah menurutmu Nora sudah berhasil menemukan beras gunung yang kuinginkan?” Tanya Guru Gilang.


“Entahlah, Pa. Kalau ia belum berhasil menemukannya, aku akan meminta Tara menyiapkannya untuk kita.” Sahut Lara.


“Begitu boleh juga.” Ucap Guru Gilang sambil mengangguk dengan puas.


***


Pagi Rainy dimulai dengan kericuhan. Ratna dan Rini sibuk mengomel dari ujung yang satu ke ujung yang lain, bersahut-sahutan, sementara para Ayah plus Raka hanya duduk diam dan mendengarkan. Ratna dan Rini menganggap bahwa profesi yang Rainy dan Raka pilih terlalu berbahaya sehingga mereka meminta keduanya untuk lebih selektif lagi memilih pekerjaan. Ratna dan Rini menuntut Rainy dan Raka untuk hanya menerima pekerjaan-pekerjaan yang mudah dan menolak pekerjaan-pekerjaan yang bisa mengancam keselamatannya. Mereka berdua bahkan menyarankan untuk menutup Divisi VII dan hidup tenang sebagai pewaris yang tidak perlu melakukan apa-apa kecuali mengumpulkan penghasilan dari properti-properti yang mereka miliki.


Mengikuti teladan ayahnya, Rainy turut duduk diam namun sayangnya, tidak mendengarkan. Ia sibuk berpikir. Awalnya suara kedua ibu tersebut hanya terdengar samar-samar di telinganya, namun entah mengapa semakin lama semakin meninggi, membuat Rainy kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi. Rainy mengerutkan keningnya dan hampir merengek, namun tiba-tiba ia bertatap-tatapan dengan Ratna yang telah pindah duduk ke hadapannya dan sedang menatapnya dengan galak. Rainy sampai tersentak kaget. Rainy menepuk-nepuk dadanya yang berdetak kencang.


“Kenapa, Ma?” Tanyanya takut-takut.


“Apakah kau mendengarkan mama?” Tanya Ratna dengan mata menyipit.


“Rain dengar kok…”


“Apa yang mama katakan tadi?” Potong Ratna tanpa ampun.


“Eeer…” Rainy melirik Raka, berusaha mencari pertolongan. Namun pria itu hanya menyipitkan matanya sebentar lalu menggeleng pelan. Raka siap melindungi Rainy dari apapun. Namun ia tidak berdaya bila harus melindungi Rainy dari Ratna. Daripada dirinya dipecat jadi calon menantu, lebih baik Raka tidak menyinggung calon ibu mertuanya tersebut. Melihat ekspresi Raka, Rainy menyipitkan mata pada Raka dan menggerak-gerakkan mulutnya, berkata tanpa suara.


‘Penakut!’ Cela Rainy. Rainy sudah tahu bahwa Raka sama sekali bukan tandingan Ratna, namun sebagai kekasih ia berharap Raka selalu melindunginya, bahkan dari Ibunya Rainy sendiri. Rainy kemudian memindahkan pandangannya pada ayahnya. Ardi yang mengetahui bahwa putrinya sedang mencari pertolongan, demi untuk tidak terjepit di antara istrinya dan putrinya, memutuskan untuk memalingkan wajah.


‘Penakut no.2.’ Cela Rainy dalam hati.


“Cepat jawab, tadi Mama bilang apa?” Kejar Ratna lagi. Sambil menarik nafas panjang, Rainy menundukkan kepalanya. Ia memasang ekspresi paling menyedihkan yang bisa ia ciptakan dan berkata,


“Rainy tidak dengar dengan jelas, Ma. Tolong maafkan, Rainy.” Pintanya dengan suara manja.


“Bukan begitu, Ma! Rainy… Rainy sedang banyak pikiran. Itu sebabnya tanpa sadar Rainy jadi suka terbawa pikiran Rainy dan tidak bisa mendengarkan apa-apa.” Jawab Rainy, mencoba menjelaskan.


“Memangnya lagi memikirkan apa sih? Coba mana, mama mau dengar; apa sih yang Rainy pikirkan sampai tega mengabaikan Mama dan Tante Rini ketika kami sedang mengkhawatirkanmu?” Tanya Ratna dengan nada mengancam. Kalinat yang tidak terucapkan namun tersampaikan pada Rainy adalah, ‘awas saja kalau kau cuma mengada-ada!’


Rainy mengerutkan bibirnya dan memasang ekspresi sedih, sama sekali tidak menyadari bahwa ekspresinya itu membuatnya terlihat begitu menggemaskan sehingga Ratna harus menggigit bibirnya sendiri agar tidak tersenyum. Ya Tuhan, putriku imut sekali siiiiih! Jeritnya dalam hati.


“Eeee… tapi ini masalah pekerjaan, Ma. Mama mungkin tidak akan suka mendengarnya.” Ucap Rainy, ragu-ragu.


“Oooh? Pekerjaan lagi? Kau rupanya benar-benar mengabaikan kata-kata mama ya!” Suara Ratna langsung meninggi.


“Maaa, sudah dong! Apa tidak malu pada Aditya karena harus mendengarkan kau mengomel?” Tegur Ardi mencoba menghentikan Ratna.


“Aditya bukan orang lain, tapi calon mertua Rainy. Ia perlu membiasakan diri dengan semua ini. Lagipula Rini kan juga turut mengomel bersamaku!” Bantah Ratna. Rini mengangguk.


“Tenang saja, Rat. Aku dan papanya Raka sudah menganggap Rainy seperti putri kami sendiri. Dia memang perlu diingatkan bahwa pekerjaannya terlalu menyeramkan.” Bela Rini. “Kau juga, Raka! Sebagai calon suaminya, mengapa kau tidak menghalangi Rainy saat ia ingin melakukan sesuatu yang berbahaya?” Tegur Rini pada Raka.


“Pekerjaan ini tidak berbahaya, Tante.” Tegas Rainy pada Rini. Ia lalu menoleh pada Ratna, dan berkata, “Ma, ini adalah pekerjaan yang dilakukan oleh Niwe dan Nini saat beliau berdua masih hidup. Niwe bahkan sudah melakukannya sebelum menikahi Nini. Bukankah Niwe baik-baik saja? Niwe dan Nini berumur panjang dan hidup dengan bahagia.”


“Niwemu tidak pernah koma selama seminggu gara-gara bekerja!” Bantah Ratna.


“Bukan koma, tapi tidur!” Rainy balik membantah. “Kalau mama tidak percaya, coba Mama pergi ke ruang kontrol dan putar rekaman video CCTV saat Rainy sedang tidur. Kadang-kadang mama akan bisa mendengar suara dengkuran Rainy.” Ucap Rainy.


Mendengar ini, kuping Rini langsung tegak.


“Mendengkur? Kau tidurnya mendengkur?” Tanya Rini.


“Kalau sedang kelelahan, Rainy terkadang mendengkur, tante.”


“Hahaha! Kau memang calon menantu kesayangan Tante. Bahkan cara tidurmu sama seperti tante! Tante juga sering mendengkur saat tidur.” Mendengar ini, bibir Rainy berkedut. Yang betul saja, Tante. Mendengkur saat tidur itu sangat memalukan dan sangat mengganggu teman tidur di sebelah kita. Mengapa Tante malah membangga-banggakannya? Pikir Rainy bingung.


“Raka, apakah kau tahu bahwa Rainy tidurnya mendengkur?” Tanya Aditya.


“Tentu saja, Pa. Anak ini mirip seekor sapi, apabila ia merasa aman, ia bisa tidur di sembarang tempat. Jadi kadang-kadang Raka mendengarnya mendengkur.” Jawab Raka.


“Apakah kau tidak keberatan?” Tanya Aditya lagi.


“Mengapa keberatan? Suara dengkurnya adalah suara dengkuran paling imut yang pernah Raka dengar.” Seloroh Raka, membuat kedua pasang orang tua itu membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.


“Pa, putramu bucin yang sudah tidak tertolong lagi.” Beritahu Rini pada Aditya sambil menggelengkan kepalanya.


Copyright @FreyaCesare