
Malam itu juga Raka memanggil seluruh pegawai Divisi VII, minus Arka, untuk berkumpul di kantor. Ia kemudian membagi mereka dalam tiga grup yang masing-masing terdiri dari 3 orang, dan menugaskan mereka untuk memulai pencarian sosok manusia dari si Kuyang di Desa Ampari dan sekitarnya. Tujuan utama mereka adalah untuk menemukan manusia jelmaan Kuyang tersebut hidup-hidup sebelum warga desa Ampari menemukan mereka. Setelah membagikan tugas dan berbagi pendapat mengenai cara menemukan target, Raka membubarkan mereka, lalu Rainy dan Raka kembali ke suite baru mereka untuk beristirahat.
Rainy langsung masuk ke kamar mandi, melepaskan semua pakaiannnya dan menuju ke bawah shower. Seluruh tubuhnya terasa lelah dan pegal-pegal, jadi setelah menyabuni tubuh dan mencuci rambutnya dengan shampoo, Rainy berdiri di bawah shower yang dibuka besar-besar dan membiarkan tubuhnya yang pegal dan dipenuhi busa, dihujani oleh curahan air panas yang deras. Rainy mendesah dan mengangkat dagunya sehingga air turun langsung ke wajahnya. Tak lama kemudian wajah dan tubuh Rainy yang memiliki kulit berwarna terang, berubah menjadi merah. Rainy berdiri di bawah shower dan mandi sampai ujung-ujung jari tangannya menjadi terlihat keriput. Setelah itu barulah ia mematikan shower dan mengeringkan dirinya dengan handuk Resort yang besar dan berwarna putih. Setelah melakukan set perawatan tubuh rutinnya dengan body lotion dan deodorant, Rainy mengenakan pakaian dalam dan kimono handuknya, lalu mulai mengeringkan rambut dengan hair dryer. Segera setelah rambutnya kering, Rainy lalu membuka pintu kamar mandi.
Lagi-lagi langkah Rainy terhenti di depan pintu. Ia memandang Raka yang sudah berganti pakaian dengan 1 set piyama berwarna hitam; sedang bersandar di atas ranjang Rainy sambil menatap tab di tangannya. Rambut pria itu terlihat sedikit lembab dan wajahnya yang tampan terlihat sangat serius. Kacamatanya terpasang dengan ketat di atas tulang hidungnya yang tinggi sementara tangan kirinya sesekali memijat-mijat tengkuknya dengan perlahan. Ketika Rainy keluar dari kamar mandi, Raka mengangkat kepalanya. Senyum langsung merekah di wajahnya ketika melihat ke arah Rainy. Penggoda! Tuding Rainy dalam hati. Beberapa hari ini, setiap malam mereka selalu melakukan hal yang sama berulang-ulang, Raka yang memaksa tidur di atas ranjang yang sama dengannya, dan Rainy yang mencoba mengusirnya pria itu dari ranjangnya. Memang sih tidak ada yang terjadi. Selain ciuman-ciuman panjang itu, Raka bersikap layaknya seorang gentleman. Setiap malam Rainy berbaring di atas bantalnya sendiri lalu Raka menyelimutinya rapat-rapat, kemudian sambil duduk dengan bersandar di kepala ranjang sambil menekuni tab di tangannya, Raka mengusap-usap kepala Rainy hingga ia tertidur. Tidak ada yang terjadi! Mereka berdua hanya berbagi ruang di atas ranjang itu agar bisa saling menjaga! Sayangnya setiap pagi, Rainy selalu menemukan dirinya berbaring di atas bahu Raka, dan bagaikan seekor Koala, tangan dan kakinya memeluk tubuh Raka dengan erat. Memang benar tidur di atas ranjang yang sama setiap malam adalah ide Raka, namun yang dalam tidur tanpa sadar selalu bergerak mendekat dan menggoda Raka adalah dirinya! Itu sungguh memalukan bagi Rainy.
Untung saja Jasmine membawakan beberapa set piyama sutera yang longgar dan sangat nyaman untuk dikenakan. Kalau tidak, Rainy mungkin akan tidur dengan mengenakan celana olahraganya. Rainy berjalan menuju Lemari Pakaian dan menggambil set piyama longgar berwarna putih dari dalam lemari lalu membawanya kembali ke dalam kamar mandi. Piyama tersebut longgar dan jatuh dengan indah di tubuh Rainy, sehingga walaupun kulitnya tertutup oleh piyama berlengan panjang dan celana panjang, namun membuatnya terlihat sangat ramping dan menonjolkan lekuk liku tubuhnya dengan sangat baik. Ketika melihat dirinya sendiri mengenakan piyama tersebut di cermin untuk pertama kalinya, Rainy mendengus tertawa yang sama sekali bukan disebabkan oleh perasaan geli. Itu adalah piyama yang paling sopan sekaligus paling menggoda yang pernah Rainy kenakan. Pantas saja mereka memberikan sehelai kimono sebagai penutupnya. Rainy memasang kimono dan mengikat tali pinggangnya dengan kuat, memastikan bahwa benda cantik tersebut tidak akan lepas saat dikenakan. Setelah pakaian tersebut terpasang dengan baik, baru Rainy keluar dari kamar mandi.
Melihat Raka yang masih memijati tengkuknya yang kaku, Rainy berjalan ke sisi pria itu. Rainy memberi isyarat pada Raka untuk sedikit memajukan tubuhnya. Raka maju dari tempatnya duduk semula sehingga ia tidak bisa lagi bersandar ke kepala tempat tidur. Tak lama kemudian Rainy menyusup di belakang Raka dan mengulurkan tangannya untuk memijati leher dan bahu Raka. Rainy bisa merasakan otot-otot leher dan bahu Raka yang kaku di bawah tangannya. Rainy bukan seorang ahli, namun ia memiliki sedikit kemampuan dalam memijat sebab dahulu kala, ia selalu menggunakan pijat sebagai cara untuk memenangkan hati Kakek, Nenek dan kedua orangtuanya. Latihan yang rajin tentu akan membuat kemampuan berkembang, dan inilah yang terjadi pada dirinya. Rainy menjadi pandai dalam hal merasakan bagian mana dari tubuh yang memerlukan pijatan dan sekarang kemampuan itu ia curahkan untu menolong merileksasi tubuh Raka.
Raka memejamkan mata dan sesekali mendesah dengan puas ketika tangan Rainy memijat tengkuk dan bahunya. Tangan gadis itu sedikit dingin, namun sentuhan jari-jemarinya terasa bagaikan belaian sang penyembuh. Membuat pegal yang dirasakan Raka, pelan-pelan berkurang. Setelah 15 menit, Raka merasakan otot-otot di tengkuknya menjadi longgar dan nyaman. Tak tega membuat Rainy bekerja tanpa henti, dengan sengaja, Raka menyandarkan punggungnya pada tubuh Rainy yang berada di belakangnya, membuat tubuh ramping Rainy terperangkap di antara dinding dan tubuh Raka.
“Berat, Raka!” Keluh Rainy. Namun Raka hanya tersenyum geli, sama sekali enggan bergerak bahkan walau hanya seinchi. Rainy mendorong kedua bahu Raka agar menjauh dari tubuhnya dengan wajah berkerut, namun tubuh pria itu tidak bergerak sedikitpun.
“Ah!” Protes Rainy saat jepitan jari-jari tangan Raka di pipinya tidak juga dilepaskan. Rain menyipitkan matanya dan menatap Raka dengan kesal.
“Kenapa kamu menggemaskan sekali sih?” Tanya Raka sambil tersenyum. Raka melepaskan jepitan jarinya di pipi Rainy, namun tangannya pindah ke belakang kepala Rainy, sementara tangannya yang lain pindah ke punggung gadis itu. Raka menarik Rainy mendekat ke arahnya, lalu tanpa basa-basi, memagut bibir gadis itu dengan penuh gairah. Rainy tak sempat melakukan apapun. Ia hanya bisa membuka matanya besar-besar dan membiarkan dirinya dicium oleh Raka. Untuk sesaat tubuhnya menegang. Namun kemudian Raka memperdalam ciumannya dan membuat Rainy kehilangan kendali atas dirinya. Rasa bibir pria itu di bibir Rainy begitu memabukkan dan membuat tubuh Rainy menjadi semakin santai dan dialiri oleh rasa hangat yang menyenangkan. Raka layaknya selimut yang menghangatkan tubuh dan hati Rainy dengan kasih sayangnya. Membuat Rainy tidak bisa melakukan apapun kecuali menerima dan membalas dengan hasrat yang sama besarnya. Rainy menutup mata dan mengulurkan sebelah lengannya untuk memeluk pinggang Raka, lalu balas mencium Raka dengan sama bersemangatnya.
Lama mereka larut dalam kehangatan nafas satu sama lain, ketika suara bel tiba-tiba berdentang di seluruh penjuru suite. Raka sepenuhnya mengabaikannya. Ia malah makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Rainy dan mencium gadis itu lebih dalam lagi. Tak lama kemudian suara dentang bel terdengar kembali. Kali in terdengar lebih mendesak dari sebelumnya. Dalam ciumannya, Raka mengerutkan keningnya. Ketika bel berdentang untuk ketiga kalinya, dengan enggan Raka melepaskan bibir Rainy. Ia menyandarkan dahinya pada dahi Rainy dan sambil mencoba mengatur nafasnya, berguman bahwa ia ingin membunuh siapapun yang telah menekan bel tersebut. Membuat Rainy yang masih berada di atas awan, tersadar.
“Apakah ada yang datang?” Tanya Rainy lirih. Raka mengangguk. Ia melepaskan tubuh Rainy dan berdiri, lalu sambil merapikan piyamanya, berjalan keluar dari kamar Rainy menuju pintu masuk. Memasang wajah dingin, Raka kemudian membuka pintu. Ia lalu bertatapan dengan Guru Gilang dan Lara yang sedang tersenyum lebar.
“Assalammu alaikum, Raka. Kami datang untuk menginap!”