
“Riri! Jangan bicara sembarangan!” hardik Bestari dengan marah ketika mendengar kata-kata Batari, membuat semua orang menoleh kearah wanita tua itu. “Bukankah tadi kita sudah setuju untuk melakukannya saat ini juga? Mengapa kau berubah pikiran lagi?!” Protesnya.
“Tadinya Rainy hanya memberikan jaminan 50% keberhasilan. Tapi saat ini Guru Gilang memastikan bahwa walaupun pengobatan ini berhasil, kondisi kesehatanmu akan menurun hingga tinggal sekitar 30% saja. 30%, Ibu! Itu sama saja sebelah kakimu telah berada di dalam kubur. Kau akan hidup dalam berbagai keterbatasan, ibu!”
“Memangnya apabila aku tetap menjadi Kuyang, hidupku menjadi tanpa keterbatasan?” Jawab Bestari dengan murka. “Coba kau pikir baik-baik: aku tidak bisa menjadi anggota masyarakat, tidak bisa bergaul rapat dengan orang lain, tidak bisa menikmati udara malam, tidak bisa beribadah…” Suara Bestari melemah dan bahu wanita itu menjadi turun, sementara kepalanya menunduk memandangi lantai. Air matanya mengalir deras membasahi pipi tuanya. Keluhannya membuat Batari tak mampu berkata-kata. Ia hanya mampu memandang Bestari dengan tatapan nanar. Wanita tua itu merosot pelan dan terduduk di lantai yang dingin dengan sebelah tangan yang masih mencengkeram jeruji besi kerangkengnya. Sebelah tangannya yang lain menyangga tubuhnya di lantai dan tubuhnya rapuhnya bergetar oleh tangis.
“Aku ingin beribadah. Aku ingin sholat dan menghadap Allah! Tapi setiap kali melakukannya, tubuhku akan didera rasa sakit yang sangat hebat.” Tangisnya.
“Ibu…” Panggil Batarinpelan. Air mata Batari turut menetes kembali di atas wajahnya yang masih sembab itu. Ia berjalan mendekati Bestari dan memegang tangan ibunya yang mencengkeram jeruji besi dengan erat. Bestari mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke matanya putrinya yang juga sama basahnya.
“Aku ingin mati sebagai manusia. Aku ingin mati sebagai hamba Allah! Bukan sebagai mahluk terkutuk yang telah mencelakakan begitu banyak orang! Mengapa kau menghentikanku untuk memperoleh semua yang kuinginkan?” Gugat Bestari lagi dengan suara yang terdengar begitu memilukan. Bukan hanya Batari yang hatinya terasa disayat-sayat ketika mendengar tangisan Bestari. Mereka semua yang ada disitu turut merasakan kepedihan yang sama. Bahkan Natasha dan Lara menyaksikan semua itu dengan mata berkaca-kaca.
Bestari mengangkat kepalanya dan menatap ke arah mata anaknya dengan wajah yang berkerut karena rasa sakit yang menguasai dadanya.
“Aku tidak mau selamanya hidup seperti binatang. Mengapa kamu tidak mengerti juga?” Tanya Bestari kemudian dengan suara yang lebih pelan. Nada suaranya yang menyayat hati membuat tangis Batari menjadi semakin keras dan berubah menjadi sedu sedan yang tidak tertahankan. Hatinya terasa remuk redam. Batari akhirnya menyadari bahwa karena kebutuhannya, ia kehilangan kemampuan untuk melihat kebutuhan ibunya. Karena egonya, ia melupakan logikanya, dan siap mengutuk ibunya untuk hidup sebagai alatnya iblis sampai akhir hayatnya. Sekarang, mendengar tangisan Bestari, Batari tersadar bahwa ia hampir saja mencelakakan ibu kandungnya sendiri.
Batari menoleh pada Rainy dan berkata,
“Mari kita lakukan apa yang ibuku inginkan.” Ucapnya pelan. Rainy mengangguk.
***
“Guru, apakah kita bisa melakukannya sekarang juga atau harus menunggu saat bu Bestari berubah menjadi Kuyang terlebih dahulu?” Tanya Rainy pada Guru Gilang. Saat itu mereka sedang duduk membentuk lingkaran di atas sebuah tikar besar yang entah dibawa Ace dari mana, persis seperti yang biasa mereka lakukan bila sedang berkumpul di ruang kelas spiritual.
“Tidak. Kau tidak bisa menyerangnya saat ia sedang dalam wujud Kuyang. Walaupun gesit dan berbahaya, Kuyang sebenarnya sangat lemah. Bila kau berhasil menangkap kepalanya dan membungkus kepala tersebut dengan karung misalnya, sehingga ia tidak bisa bergerak lagi, maka tubuh yang ditinggalkannya akan langsung menunjukan reaksi yang buruk dan tak lama kemudian meninggal begitu saja. Jadi sebaiknya tidak menyerangnya saat Kuyang sedang terpisah dari tubuhnya.”
“Lalu kapan waktu yang tepat untuk melakukannya?” Tanya Rainy lagi.
“Saat pemisahan itu hendak dimulai, namun belum ada pembelahan pada lehernya. Pada saat itu, jin telah mengambil kesadarannya namun belum menguasainya sepenuhnya. Itu adalah saat terlemahnya.” Jawab Guru Gilang.
“Apakah kita bisa melihat ketika saat itu tiba, Guru?” Tanya Rainy lagi.
“Bisa. Aku akan memberitahukanmu bila saatnya tiba.”
“Bagaimana dengan Jantung dan Otaknya?” Tanya Ivan. Melindungi Jantung dan Otak pada saat pembakaran biasanya adalah hal utama yang harus Ivan lakukan.
“Jantung dan Otak bu Bestari sudah dipenuhi oleh energi gelap. Melindungi kedua organ tersebut berarti juga melindungi energi gelap yang ada di dalamnya. Kali ini kita tidak bisa melakukan itu.” Rainy menarik nafas panjang dan menatap bu Bestari dengan iba. Rainy berharap Hellfire tidak akan menyebabkan kerusakan yang fatal bagi organ-organ dalam tubuh Bestari.
“Jangan khawatir. Begitu kau berhasil memusnahkan semua energi gelap yang ada dalam tubuh bu Bestari, aku akan langsung mentransfer energi alam dan energi bumi untuk mengisi kembali tubuhnya.” Kata Guru Gilang menenangkan. "Dan Lara akan mentransfer energinya kepadamu untuk membantumu mempertahankan hellfire sampai selesai."
“Terimakasih, Guru.” Rainy mengangguk. Ia lalu menoleh pada Batari. “Kak Riri, segera setelah aku menyelesaikan tugasku dan Guru Gilang mengambil alih, berarti itu adalah saatnya bagi Kak Riri untuk merawat Bu Bestari secara medis.” Mendengar ini Batari mengangguk. Ia telah menyiapkan semua peralatan medis yang ia duga akan diperlukan selengkap mungkin.
Rainy kemudian menoleh pada Bestari.
“Ibu, apakah ibu sudah siap?”Tanya Rainy dengan lembut dan tenang. Matanya menyorot ramah dan rasa percaya diri memancar dari tubuhnya sehingga memberi Bestari rasa yakin pada kemampuan Rainy. Ia akan selamat! Ia akan memiliki kesempatan untuk hidup normal bersama putrinya! Gadis kecil dihadapannya ini akan memastikannya! Pikir Bestari. Ia lalu mengangguk dengan tegas.
“Aku siap.”
Rainy mengangguk pada Bestari lalu kemudian menoleh pada Guru Gilang dengan pandangan bertanya. Walaupun wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya menyorotkan rasa percaya yang besar pada Guru Gilang. Ini membuat Guru Gilang merasa bahwa Rainy sangatlah menggemaskan. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala gadis itu dan berkata,
“Karena semuanya sudah siap, sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu.” Ucap Guru Gilang. “Bisakah
kau meminta seseorang menyiapkan air jahe untuk kita?” Pinta Guru Gilang kemudian. Rainy menoleh pada Natasha yang langsung mengangguk mengerti dan segera mengambil handphone dari kantongnya untuk memesan seteko besar air Jahe. Kemudian mereka semua duduk menunggu dalam diam.
***
Beberapa jam telah berlalu. Mereka menghabiskan waktu dengan mendengarkan cerita Guru Gilang tentang kasus-kasus Kuyang yang pernah dialaminya dahulu, sambil minum air jahe dan makan kuaci bunga matahari. Begitu banyaknya kuaci yang telah mereka makan hingga ketika di kumpulkan, kulitnya mencapai 1 kantung plastik ukuran sedang. Rainy sampai merasa lidahnya terluka akibat terus-terusan membuka kuaci dengan giginya.
Ketika jam menunjukan pukul 12 malam, Bestari sudah kembali berada di kasur dan tertidur dengan nyenyak, sementara Batari terus duduk di depan kerangkeng tersebut, ditemani oleh Mr. Jack. Tepat pada jam 1 malam, Batari tersentak kaget. Suaranya menarik perhatian semua orang untuk menoleh ke arahnya. Di dalam kandang, Bestari telah bangun dari tidurnya. Ia duduk di ranjang dan rambutnya yang habis dibawa tidur, terlihat acak-acakan. Namun matanya masih tertutup rapat. Guru Gilang memberi isyarat pada Rainy. Mereka lalu bangkit dan langsung mendekati kandang. Mr. Jack menarik Batari menjauh, sementara itu, Rainy, Guru Gilang dan Ivan mengambil posisi mereka di depan kandang.
Tiba-tiba, cahaya berwarna oranye kemerahan muncul di sekitar leher Bestari.
“Rainy, sekarang!” Perintah Guru Gilang. Mendengar ini, Rainy segera memanggil keluar Hellfire dari urat nadinya dan setelah terkumpul di kedua telapak tangan, Rainy langsung melemparkan Hellfire ke arah Bestari dengan sekuat tenaga.