My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Lunch



Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Rainy dari Lilith.


"Masuk." Ucap Rainy sambil menegakkan tubuh dan merapikan pakaiannya. Pintu terbuka dan Raka memasuki ruangan dengan sebuah tab terpegang di tangan kanannya. Saat Raka berjalan mendekatinya, Rainy menoleh ke arah Lilith berada, namun Iblis itu, dan juga cangkir tehnya, telah menghilang begitu saja. Rainy menarik nafas panjang dan mengalihkan perhatiannya pada Raka.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Kita baru mendapatkan klien pertama." sahut Raka, mengulurkan tab di tangannya kepada Rainy. Rainy menerimanya. Di layar tampak wajah seorang gadis belia, lengkap dengan data-data pribadinya. Nama yang tertera adalah Laura Hanna, berusia 18 tahun dan masih duduk di bangku SMA. Memiliki riwayat Skizoafektif sejak 2 tahun yang lalu dan pernah dirawat di RSJ sebanyak 2x, masing-masing selama 3 bulan.


Rainy memandang wajah gadis belia itu dengan seksama. Wajah di foto itu menampilkan sosok seorang gadis manis yang ceria dan penuh semangat hidup. Senyumnya lebar dan wajahnya tampak berseri. Tubuhnya yang ramping dibalut crop top berwarna putih, memamerkan perutnya yang ramping dan indah. Rambut sebahunya di cat warna burgundi yang sangat cocok di kulitnya yang terang. Kupingnya dihiasi dengan sepasang anting asimetris yang trendy dan wajahnya dihiasi oleh make up tipis.


"Foto itu diambil seminggu sebelum ia mulai menunjukan masalah kejiwaan." Ucap Raka ketika melihat Rainy memandangi foto gadis itu dengan seksama.


"Ini penderita gangguan jiwa. Mengapa ia dikonsulkan kepadaku?" tanya Rainy.


"Yang bersangkutan tidak mau menjelaskan melalui telepon. Ia berharap bisa bertemu dan berbicara langsung denganmu." jawab Raka.


"Rekomendasinya dari mana?"


"Kakeknya adalah Klien kakekmu."


"Ah."


"Kapan kau bersedia menemuinya?"


"Nanti sore saja, di ruang kerja Niwe, di rumah. Aku mau pulang dan malas balik ke mari. Mulai sekarang, sampai Divisi VII siap, kita bekerja dari rumahku saja."


"Baiklah." Raka mengangguk.


"Ayo pulang." Ajak Rainy.


Raka kembali mengangguk dan menelpon untuk memerintahkan Ace mempersiapkan mobil yang akan mengantarkan Rainy pulang. Rainy memboyong pasukannya keluar dari kantor.


Di tengah jalan, karena lapar, ia mengajak mereka untuk mampir ke Eclair. Ace dan Natasha mengerutkan kening mereka dengan heran ketika boss mereka menunjuk Eclair sebagai tempat untuk makan siang. Yang benar, Boss? Eclair kan Cafe yang hanya menyediakan snacks and beverages. Memangnya boss cuma mau makan pastry untuk mengisi perut? Mungkin boss bisa melakukannya, tapi aku butuh nasi untuk bisa kenyang, boss! Protes Ace dan Natasha dalam hati. Namun memandang wajah dingin Rainy, mereka hanya bisa menelan protes mereka dalam diam.


Ivan yang melihat ekspresi wajah mereka, hanya tersenyum geli, sementara Arka tak menunjukan tanda-tanda bahwa ia sedang berpikir sama sekali. As expected! Ivan menggelengkan kepalanya pelan. Satu sepupu yang selalu memasang tampang dingin hampir setiap saat saja sudah cukup melelahkan bagi Ivan yang bertemperamen ceria. Sekarang malah ditambah dengan satu blok es lagi. Sungguh membosankan.


Ketika mereka sampai di Eclair, Ivan tidak membawa mereka masuk melalui toko, namun melalui pintu khusus untuk pegawai. Mereka melewati dapur yang ramai dan hampir bertabrakan dengan Mr. Jack yang baru saja keluar dari gudang penyimpanan.


"Rainy!" Sapa Mr. Jack dengan riang. Melihat pria itu, senyum Rainy langsung mengembang.


"Paman." Sapanya.


"Emm. Aku sudah memasakan beberapa masakan untukmu. Makanlah." ucap Mr. Jack.


"Chef, aku memintamu untuk memesan makanan, bukan membuatnya sendiri. Apa kau mengosongkan isi kulkasku lagi?" Protes Ivan.


"Cih, sejak kapan kulkasmu pernah ada isinya!" sahut Mr. Jack sambil mencibir.


"Isi kulkasku cukup layak untuk persediaan selama beberapa hari. Kau saja yang tidak pernah mengenal makna 'sederhana' dalam memasak sehingga di matamu isi kulkasku hanya cukup untuk sekali santap saja." tuding Ivan kesal.


"Hmmph!" Mr. Jack membuang muka kesal dan berkata pada Rainy. "Abaikan dia! Makanlah." ia menepuk lengan Rainy, kemudian berjalan menjauh.


"Apa Paman tidak ikut makan bersama kami?" panggil Rainy. Mr. Jack menggelengkan kepalanya.


"Boss kecil, kau tinggal disini?" tanya Natasha. Ia tahu bahwa Ivan adalah manager di Eclair, tapi tak pernah menyangka bahwa Ivan juga tinggal di Cafe ini. Ivan mengangguk mengiyakan.


"Apartemenku berada di lantai atas." Ivan memimpin Rainy dan anggota teamnya untuk naik ke lantai 2. Sebagian lantai 2 merupakan kantor administrasi dan ruang istirahat bagi pegawai. Namun sebagiannya lagi telah berubah fungsi menjadi sebuah apartemen dengan 2 kamar yang cukup luas dan lega. Salah satu kamarnya di tempati Ivan, sementara kamar lainnya biasa digunakan oleh Mr. Jack apabila ia sedang malas pulang ke rumah.


Natasha berdecak kagum melihat interior apartemen yang bernuansa industrial dengan dominasi warna monochrome yang trendy. Ketika memasuki apartemen, yang pertama mereka temui adalah sebuah dapur mungil yang lengkap terletak di sebelah kiri  dan sebuah ruang makan yang cukup lega di sebelah kanan. Sebuah meja panjang yang bisa menampung 8 orang terletak di tengah-tengah dapur. Beberapa piring berisikan beberapa jenis masakan telah terhidang, menguarkan wangi sedap yang mengundang selera. Memandang isi meja tersebut, Ivan menggelengkan kepala mengasihani kulkasnya yang saat ini pasti sudah tidak berpenghuni alias kosong melompong.


Ruang tamunya luas, dengan sebuah TV berukuran 80 inch menempel di salah dinding, dikeliling oleh sejumlah sofa besar yang terlihat sangat empuk dan nyaman. Di belakang sofa-sofa tersebut terdapat jendela-jendela besar yang memberikan pemandangan langsung ke jalan raya di depan Eclair. Interior apartemen tersebut mewah dan bergaya. Mirip apartemen yang muncul di majalah-majalah desain. Di salah satu sudut ruangan, sebuah kursi pijat keluaran terbaru membuat mata Ace berbinar-binar.


"Boss kecil, aku suka apartemen ini!" ucap Ace girang, tanpa sungkan memanjat ke kursi pijat dan langsung menghidupkannya.


Ivan mengeluarkan sejumlah botol air mineral dingin dari kulkas sementara Rainy sudah duduk di kepala meja sambil memandang makanan yang tersedia di meja dengan mata berbinar. Caesar salad, mushroom risotto, tenderloin steak, mash potato dan sepinggan buah potong tersedia di atas meja. Sementara itu sebuah tray pastry bertingkat 3 yang dipenuhi berbagai pastry dan 6 gelas strawberry milkshake dalam sebuah nampan tertata indah di atas meja counter.


Semua orang segera mengambil kursinya masing-masing, kecuali Ace yang sedang mendesah nikmat di atas kursi pijat.


"Ace, kalau kau tidak segera kemari, jangan harap kau kebagian makanan ya." ancam Ivan. Mendengarnya, Ace langsung berlari menuju meja makan dan duduk di samping Natasha dengan patuh.


"Mengapa kalian memanggil Ivan sebagai boss kecil?" Tanya Rainy kepada Natasha dan Ace, diantara waktu makan mereka.


"Karena boss kecil adalah anak salah satu pemilik perusahaan." Jawab Natasha. Rainy mengangguk paham.


"Rainy, kau tidak pernah mengunjungi apartemen ini setelah aku merenovasinya kan. Bagaimana menurutmu? Bukankah seleraku tidak buruk?" tanya Ivan. Rainy menyedot Strawberry milkshakenya dan mengangguk membenarkan.


"Apartemen ini bahkan terlihat lebih nyaman dan mewah daripada ruang kerja Niwe di rumah." jawab Rainy.


"Kau tidak bisa membandingkan ruang kerja dengan apartemen dong, Rain! Ruang kerja untuk bekerja, jadi harus terlihat formal dan berwibawa. Apartemen untuk santai dan beristirahat, jadi harus nyaman dan membuat betah." ucap Ivan. Mendengarnya Rainy mengangguk. Ia kemudian memandang ke anggota teamnya yang lain dan bertanya,


"Apakah kalian suka apartemen ini?"


"Suka! Saya bahkan mencintai sudut dimana kursi pijat itu berada!" cetus Ace sambil tersenyum lebar. Mendengarnya membuat Ivan mendengus geli.


"Saya juga suka. Kursi ini sangat nyaman dan sofanya mengundang untuk duduk. Interiornya juga membuat betah." jawab Natasha. Sementara Raka hanya tersenyum dan mengangguk dan Arka tampaknya tidak merasa perlu memberikan pendapat. Wajah Ivan sumringah mendengar pujian mereka.


"Emm. Aku juga sangat menyukainya." Rainy mengangguk. "Karena itu sudah kuputuskan; sementara selama kantor Divisi VII belum siap, kita akan berkantor disini!" ucap Rainy tegas, membuat Ivan yang sedang minum langsung tersedak.


"Hah???"


Copyright @FreyaCesare


Glosarry:


Niwe : Kakek


Author Note:


Hallo semua, terimakasih karena sudah membaca novel ini ya. Tolong selalu menyemangati saya lewat komentar-komentar kamu sehingga saya tambah termotivasi nulisnya. Dan doakan saya berhasil update setiap hari. Semangat!!!


Terimakasih.


Freya


PS: tolong jenguk juga novel saya "Flower of the Dragon" ya. I need view, A.S.A.P! Hehe. Byeeee....