My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kisah Hanyi



Rainy memandang ke arah sungai yang telah menenggelamkan Lauri dengan mata basah. Ia kesulitan untuk memahami perasaan apa yang memenuhi hatinya saat ini. Bila dibandingkan dengan dulu hanya mengenal nama Lauri sebagai leluhurnya, di saat ini, mengenalnya sebagai sebuah pribadi dengan semua masalahnya mengarahkan Rainy hanya pada satu kesimpulan; bahwa hanya Allah, SWT lah yang bisa memberikan kepastian mengenai mana yang salah dan mana yang benar dalam kehidupan ini.


Lauri telah mencoba semua yang terbaik yang bisa ia lakukan, walaupun untuk itu, pada akhirnya ia melangkah dengan sadar menuju ke arah panggilan kegelapan. Hanya untuk 1 kali itu saja, ia membiarkan semua kemarahan dan kemurkaan yang mengurungnya terlepas. Namun ia harus membayar kesalahan yang satu kali itu sampai ke 13 generasi berikutnya. Bagi Lauri, itu pasti merupakan sebuah siksaan yang sangat besar.


Awalnya Rainy sangat membenci Lauri. Namun setelah memahami semua yang terjadi, mau tidak mau Rainy berpikir bahwa: bila ia yang berada di posisi Lauri, apa yang akan ia lakukan? Dan jawaban yang muncul terlihat seterang kehadiran matahari di siang hari bolong: bahwa Rainy mungkin akan mengambil keputusan yang sama dengan Lauri, atau mungkin lebih buruk dari itu, karena Rainy merasa bahwa ia memiliki hati yang jauh lebih gelap bila dibandingkan dengan hati Lauri. Kesimpulan ini membuat Rainy diam-diam menyampaikan permohonan maafnya pada Lauri atas semua prasangka yang telah membuatnya tidak memberikan penghormatan yang pantas bagi leluhurnya tersebut. Lalu untuk pertama kalinya Rainy berpikir bahwa bila Rainy mulai mencari jalan pulang menuju Allah, apakah itu akan bisa membantu Lauri setidaknya walau setitik? Untuk mulai bisa berpikir seperti ini, Rainy bertanya-tanya apakah itu berarti kegelapan dalam hatinya pelan-pelan telah pula menipis?


"Lalu bagaimana dengan Maharati dan Hanyi?" tanya Rainy kemudian.


Dunia di sekitar mereka kembali berputar. Kali ini Rainy dibawa mengikuti perjalanan Maharati dan Hanyi, yang ditemani oleh 2 orang prajurit kepercayaan Lauri, menyusuri sungai menuju ke utara. Maharati membawa Hanyi ke tempat Suku Bakumpai berasal untuk memberi Hanyi rumah yang memiliki kesan sebagai akar dari keberadaannya. Di tempat baru ini, Hanyi tidak kekurangan nenek, kakek, paman, bibi dan sepupu. Semuanya adalah satu keluarga besar dengan leluhur yang sama. Aura keislaman yang kental juga menjadi pelipur lara dalam hati Maharati. Dalam asuhannya, Hanyi tumbuh menjadi pemuda yang sama cemerlangnya dengan ayahnya. Melihatnya selalu mengingatkan Maharati pada Lauri muda sebelum semua kehancuran melanda keluarga mereka, dan itu cukup untuk mengobati kerinduan Maharati. Ia telah mendengar tentang kematian Lauri dan memaklumi keputusannya. Namun bukan berarti hal itu tidak terasa menyakitkan. Maharati hanya bisa berharap bahwa Allah memberi adik-adiknya kesempatan untuk memperoleh kedamaian dalam kematian mereka setelah melalui hidup yang begitu penuh dengan kehancuran.


Lalu Hanyi kecil tumbuh dewasa dibawah ajaran Islam dan tauhid yang kuat. Ia diajarkan untuk mengkritisi segala sesuatu yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan, sebelum menjadikannya sebuah informasi yang layak dipandang tepat. Ia diajari untuk menfilter pikirannya sebelum mencapai mulutnya. Ia diajari untuk selalu menahan nafsunya sebelum ia yakin bahwa nafsu tersebut tidak akan membawa bahaya baginya. Maharati membawanya berguru pada banyak ustadz dan mendampinginya membahas dan memfilter semua ajaran yang mereka terima dengan hati-hati.


Tahun berganti dan Hanyi tumbuh dewasa. Ia digadang-gadang akan menjadi ulama muda kebanggaan sukunya dan menjadi menantu idaman para orangtua yang memiliki anak gadis. Tapi Hanyi, walaupun mudah tersenyum dan berwajah ramah, memiliki sikap yang sangat sopan dan cenderung dingin bila berhadapan dengan wanita sehingga membuat para wanita muda sedikit merasa takut padanya. Saat itu di mata Maharati, semua tampak sempurna. Namun tak perduli seberapapun manusia bisa berlari, sangat sulit untuk melarikan diri dari cengkeraman tangan iblis yang tak pernah merasa puas karena jarak bukanlah sebuah hambatan bagi mereka. Lalu pada suatu hari, Lilian muncul di hadapan Hanyi.


Lilian memperkenalkan diri sebagai sepupu Hanyi yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Lilian kemudian menceritakan versinya sendiri tentang Lauri dan saudara-saudara Hanyi yang lain. Menekankan kepada Hanyi betapa saudara-saudaranya sangat merindukan dirinya dan bahwa Lauri membunuh dirinya karena terlalu sedih setelah Maharati mengambil Hanyi darinya. Intinya Lilian menginginkan Hanyi kembali ke rumahnya dan menjadi anggota baru dari tim penyembah iblisnya.


Namun ada alasan mengapa Hanyi bersikap koperatif dan mendengarkan dongeng Lilian. Terlepas dari semua pendidikan dan perlindungan yang diberikan Maharati dan Lauri padanya, saat itu Hanyi masihlah seorang anak muda yang berapi-api. Melihat iblis yang menjadi alasan kehancuran keluarganya sedang berdiri di hadapannya dengan jumawa, Hanyi berniat untuk menangkap dan menghukumnya dengan tangannya sendiri, sehingga ia memutuskan untuk mencari celah guna mewujudkan keinginannya.


Tapi siapa Lilian hingga Hanyi yang anak kemarin sore bisa meangkapnya? Sungguh terlalu percaya diri! Lilian mungkin masih muda, namun saat tubuhnya bertransformasi menjadi iblis, Lilian memperoleh warisan pengetahuan dari Lilith yang meningkatkan kemampuannya melebihi usianya. Sehingga tentu saja pertempuran antara keduanya menjadi tidak seimbang. Sebentar saja Hanyi terdesak. Ia terkapar di tanah, babak belur dan tak mampu lagi melawan, sementara Lilian mendekat ke arahnya, selangkah demi selangkah... mengancam untuk mencabut nyawanya.


Tiba-tiba sesuatu datang dari belakang dan menerjang Lilian. Iblis itu bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menghindar sama sekali. Ia tergeletak di tanah, menerima pukulan demi pukulan di wajah tanpa bisa melakukan apapun. Dan yang melakukannya adalah seorang gadis yang terlihat tidak lebih tua daripada Lilian.


"Dasar iblis tidak tahu diri! Mengapa setiap kali aku melihat kalian, kalian sedang menganiaya manusia? Tidak perduli disini, tidak perduli disana, mengapa tidak ada sama sekali usaha untuk menjadi lebih pintar dan lebih licin dalam melakukan tipu dayamu? Sungguh tidak elegan dan rendah!" omel gadis itu sambil mematahkan hidung Lilian. Lilian menjerit murka dan berusaha melepaskan diri, namun jepitan yang menahan tubuhnya sangat kuat.


"Siapa kau?" tanya Lilian dengan panik.


"Aku?" tanya wanita tersebut dengan suara yang penuh percaya diri dan bernada ejekan. "Aku adalah manusia yang makan iblis kecil sepertimu untuk sarapan setiap hari! Tau kamu?"