
Ketika Rainy membuka mata kembali keesokan harinya, matahari sudah di atas kepala. Kelelahan membuatnya bangun kesiangan. Namun walaupun telah tidur sepanjang malam, Rainy masih merasa sangat lelah sehingga membuatnya sulit untuk membuka mata. Rainy langsung pergi mandi untuk menyegarkan diri. Ketika ia mencari-cari pakaian untuk dikenakan, ia menemukan kejutan baru. Tergantung dengan rapi dalam lemari pakaiannya, adalah gaun rancangan Zimmermann yang dikenakan Lilith semalam, lengkap dengan bejeweled sandalnya yang teronggok rapi di dasar lemari. Rainy menggemeretakkan giginya dan menutup matanya, menahan kekesalan. Tangannya terkepal kuat dan segala macam caci dan maki pada Lilith menggema dalam pikirannya. Dengan kasar ia membuka laci dan mengambil sebuah tas kain, kemudian memasukkan dress dan sandal tersebut, lalu berjalan menuju meja rias, dimana dress yang dikenakannya semalam terlipat dengan rapi di atasnya, dan memasukkannya juga. Dengan asal, Rainy mengambil sehelai kaus tangan pendek berwarna putih dengan kerah V dan sehelai boyfriend jeans berwarna denim dan memakainya dengan gerakan penuh emosi. Setelah itu, Rainy meraup tas kain berisi dress pemberian Lilith dan berjalan keluar kamar. Ketika membuka pintu, ia melihat Ace yang sedang mencuci tangan di depan bak cuci piring.
"Ace!" panggil Rainy nyaring, membuat Ace hampir terlonjak karena terkejut. Bukan hanya Ace, tapi Arka dan Natasha yang sedang duduk di sofa juga sama terkejutnya. Mereka memandang Rainy dengan heran. Mengapa ia terbangun dalam mood yang buruk? Apakah ada yang menggigitnya dalam mimpi?
"Iya, Boss?" tanya Ace. Rainy melemparkan tas kain di tangannya pada Ace, yang ditangkap dengan gesit oleh pria itu.
"Bakar itu!" perintah Rainy dingin. Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut bisa merasakan kemarahan tertahan dalam suaranya. Siapa yang telah membuat Boss murka? Sungguh berani sekali!
"Ck! Sungguh tidak berperasaan!" suara Lilith menggema di dalam kepala Rainy. Tapi bukannya bernada marah, suara itu malah terdengar bernada tawa. Membuat Rainy semakin kesal.
Ace mengintip isi tas kain tersebut dan tampak tercengang. Bukankah ini pakaian-pakaian baru? Dan sandal yang mewah! Apa salah mereka hingga boss begitu bernafsu untuk menghancurkan mereka? Pikir Ace heran.
"Boss, ini..."
"Bakar!" geram Rainy, tak mau dibantah. Ace menegakkan punggungnya dan memperbaiki sikapnya. Disuruh bakar, ya dibakar! Semua perintah Boss adalah benar! Ayo kita bakar!
Tiba-tiba Natasha telah berada begitu dekat dengan Ace. Ia menunduk dan mengintip ke dalam tas di tangan Ace. Ujung kepalanya berada begitu dekat dengan dagu Ace, sehingga bila Ace menunduk, ia dapat mencium kepala gadis itu. Wangi shampoonya yang memiliki sedikit aroma melon, membelai pernafasan Ace dan membuat wajah pria itu memerah. Tak menyadari efek yang dimilikinya pada Ace, Natasha memandang isi tas tersebut dan memekik terkejut.
"Ah! Ini bagus sekali! Dari pada di bakar, bolehkah ini buatku saja, boss?" pinta Natasha.
"No!" tolak Rainy dengan tegas.
"Eh?"
"Itu hadiah dari iblis. Bila engkau memakainya, entah apa yang akan terjadi padamu. Sandal itu mungkin akan membuatmu berjalan tanpa henti sampai kakimu berdarah-darah. Lalu gaun-gaun itu mungkin akan membuatmu dirasuki jin sampai tidak ingat lagi siapa dirimu. Apa kau masih berani menginginkannya?" beritahu Rainy.
"Cih, kau memfitnahku!" tuduh Lilith. Rainy mengabaikannya.
Mendengar kata-kata Rainy, Natasha bergidik ngeri. Reflek kedua tangannya segera melepaskan tas tersebut. Siapa yang berani! Hiiii! Natasha menggeleng kuat-kuat.
"Nggak mau, Boss!" jawab Natasha cepat. Mengangguk puas pada keputusan Natasha, Rainy kembali menatap Ace dan berkata.
"Bakar!"
"Siap, Boss!" Ucap Ace sambil memberi hormat, lalu langsung berjalan keluar dari Paviliun. Di depan pintu, Ace hampir bertabrakan dengan Ratna, untung dengan sigap Ace mengelak ke samping. Ia membungkuk hormat pada Ratna, kemudian menghilang ke balik pintu yang terbuka.
"Hmph! Dasar tidak tahu terimakasih! Lalu bagaimana dengan rambutmu? Apakah kau akan membakarnya juga?" tanya Lilith masih dari dalam kepala Rainy.
"Ya?" sahut Arka.
"Antarkan aku ke salon."
Tanpa banyak bertanya, Arka langsung bangkit dari sofa. Sementara itu, Rainy yang melihat sosok ibunya memasuki pintu paviliun, menatapnya dengan tercengang.
"Ma? Mama sedang apa disini?" tanya Rainy heran.
"Oh, mama, papa dan Oom Aditya serta Tante Rini datang untuk berlibur." Oom Aditya dan Tante Rini adalah orangtua Raka. Rainy mengangguk.
"Kalau begitu mama dan papa bersantailah duluan ya. Aku mau pergi sebentar." ucap Rainy sambil berjalan menuju pintu. Ia melambai pada Arka yang langsung mengikutinya keluar paviliun.
"Eh Rainy, kamu mau kemana?" panggil Ratna pada punggung putrinya.
"Salon!"
"Setidaknya sisir dulu rambutmu!" suruh Ratna. Namun Rainy sudah menghilang ke balik pintu.
***
"Kak, rambut mau di potong atau di rapikan saja?" tanya penata rambut melambai yang berdiri di belakang Rainy.
"Tolong warnai ulang rambut saya dengan warna hitam." jawab Rainy datar. Kata-katanya membuat sang penata rambut membelalakan matanya dengan dramatis.
"Ah? Mewarnai ulang dalam warna hitam? Tapi kak, warna rambut kakak sudah bagus banget lho! Kenapa mau di warnai ulang?" tanya sang penata rambut.
'Coba dengar itu. Penata rambut saja tahu kalau rambutmu sudah sangat sempurna. Pilihan yang kubuat tidak pernah salah kan?!' komentar jumawa Lilith kembali bergema dalam kepala Rainy, membuat gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Warnai ulang dalam warna hitam!" perintah Rainy sambil menahan kegeramannya. Mendengar perintahnya membuat sang penata rambut merasa agak tersinggung. Namun bekerja di salon high-end membuatnya sering bertemu dengan klien-klien yang berlidah tajam seperti kliennya kali ini, yang memiliki wajah sangat cantik namun berekspresi masam; mirip setangkai mawar penuh duri. Hal ini membuat sang penata rambut cukup kebal terhadap perilaku ketus kliennya dan dengan mudah berhasil memperbaiki moodnya kembali.
Mungkin klien ini kemarin mewarnai rambutnya dengan warna hitam kebiruan atas saran kekasihnya. Lalu mungkin kekasihnya baru saja mengkhianatinya sehingga membuatnya sangat marah dan ingin menghilangkan jejak sang kekasih dari dirinya. Emm! Itu sebabnya ia menjadi sangat ketus dan dingin. Karena hatinya sedang sangat terluka dan melihat kilau biru di rambutnya hanya membuatnya semakin marah. Begitu skenario yang dibuat sang penata rambut dalam kepalanya. Dengan cepat moodnya membaik, bahkan ia merasa sedikit iba pada Rainy. Kasihan! Padahal wajahnya sangat cantik dan tubuhnya sangat indah, tapi dicampakkan oleh kekasihnya! Pikir sang penata rambut lagi. Andai saja Rainy bisa membaca pikiran sang penata rambut, ia pasti sudah memutar kedua bola matanya.
Cara terbaik agar tidak terkena duri sang mawar yang cantik ini saat ia sedang bad mood seperti ini adalah dengan sebisa mungkin meminimalisasi percakapan dengannya. Menetapkan sikapnya, sang penata rambut mulai bekerja tanpa banyak berbicara. Sang penata rambut segera menyibukkan diri untuk mewarnai rambut Rainy yang panjang dan tebal setelah mencucinya terlebih dahulu. 30 menit kemudian ia mengantarkan Rainy ke hair washing station dan memerintahkan asistennya untuk mencuci rambut Rainy. Setelah selesai mencuci rambut, Rainy kembali ke kursinya. Sang penata rambut menarik lepas handuk di kepalanya, berniat untuk memulai mengeringkan rambutnya. Namun saat handuknya terbuka dan rambut Rainy muncul dari baliknya, sang penata rambut terpekik kaget.
Copyright @FreyaCesare