
"Nayla belum mati. Yang kita lihat hari ini adalah roh Nayla yang terpisah dari tubuhnya." Kata Rainy.
"Bagaimana roh bisa terpisah dari tubuh?" tanya Ivan.
"Sebabnya bisa macam-macam. Tapi kemungkinan yang paling besar adalah bahwa saat ini Nayla sedang berada dalam kondisi koma." duga Rainy.
"Kalau begitu, tubuhnya ada dimana?" Tanya Ivan lagi. Rainy menggelengkan kepalanya.
"Apa yang Nayla tunjukan padamu saat kau menyentuhnya kemarin?"
"Yang aku lihat dari ingatan Nayla..."
***
Nayla meletakkan telapak tangannya di atas kening Ananda untuk merasakan suhu tubuhnya. Ia lalu menarik nafas lega. Demam Ananda sudah turun dan wajah pemuda itu tak lagi memerah. Walaupun hasil tes PCR Ananda negatif, karena sejak semalam demamnya tidak juga turun, Nayla tak bisa berhenti khawatir. Untungnya setelah istirahat di atas tempat tidur selama 2 hari, kondisi Ananda terlihat lebih baik.
"Kau seharusnya tidak boleh kemari." Kata Ananda. "Bagaimana kalau aku positif covid?"
"Tapi kau kan tidak positif covid. Lagipula mana bisa aku duduk tenang di rumah, apabila kau disini sedang sakit." sanggah Nayla.
"Aku kan tidak sendirian. Disini ada Mama yang bisa mengurusku."
"Ya ampun, Nan! Umurmu sudah berapa kok masih minta diurusi mama?" goda Nayla dengan geli.
"Tujuh tahun?" seloroh Ananda, membuat Nayla tertawa.
"Dimana mamamu?" Ananda tampak berpikir sesaat sebelum ia menatap Nayla kembali.
"Entahlah. Mungkin beliau sedang ada di kamarnya. Saat datang tadi, apakah kau tidak bertemu dengan Mama?" tanya Ananda. Nayla menggeleng.
"Aku tidak bertemu dengan mamamu. Aku cuma bertemu bi Noni dan pak Ahmad aja." jawab Nayla. Ananda meraih tangan Nayla ke dalam tangannya dan berkata,
"Nayla, aku sudah sehat. Aku cuma perlu istirahat saja, setelah itu aku pasti pulih seperti sedia kala. Jadi kau pulanglah." suruh Ananda.
"Kau tidak suka ya, kalau aku datang kesini untuk menemuimu?" Tanya Nayla, agak kesal karena disuruh pergi padahal ia masih ingin berada di dekat Ananda.
"Tentu saja aku suka kau menemuiku! Kalau terserah padaku, aku inginnya kau bisa berada di sisiku setiap saat!" Sahut Ananda cepat.
"Lalu mengapa kau menyuruhku pulang?" selidik Nayla sambil mengerutkan bibirnya kesal.
"Kau baru saja pulang kerja. Pasti sudah lelah. Daripada menemaniku yang baik-baik saja, lebih baik kau menggunakan waktu ini untuk beristirahat. Aku tidak mau kalau nanti, gara-gara merawatku, malah kau ikutan sakit." ucap Ananda beralasan.
"Sekarang tidurlah. Aku masih mau disini sebentar lagi. Setelah kau tidur, baru aku pulang." lanjutnya. Ananda mengangguk. Ia membiarkan dirinya diselimuti layaknya anak kecil. Nayla duduk di sisi ranjang dan menunduk, memandang wajah pria tampan yang sangat dicintainya tersebut. Tatapannya membuat Ananda tersenyum.
"Apakah kau suka apa yang kau lihat?" goda Ananda. Nayla tersenyum dan mengangguk.
"Tunanganku sungguh sangat tampan!" puji Nayla sungguh-sungguh, membuat senyum Ananda mengembang indah. Ananda mengulurkan tangan kanannya dan menarik kepala Nayla untuk menunduk, mendekat ke wajahnya, sampai hidung mereka saling bersentuhan. Membuat mata Nayla membesar dan wajahnya memerah karena malu.
"Kau akan menulariku." ucap Nayla memperingatkan.
"Katanya kau sehat dan kuat, jadi pasti tidak akan tertular." sahut Ananda.
"Kalau aku tertular, maka kau harus bertanggung jawab." ucap Nayla lagi. Senyum Ananda bertambah lebar. Ia menarik kepala Nayla semakin dekat dan memagut bibir gadis itu lembut, membuat Nayla sesaat kehilangan kemampuan berpikir kecuali untuk merasakan lembut bibir pria itu pada bibirnya.
"Aku akan bertanggung jawab." ucap Ananda di sela-sela ciumannya.
"Ah?" Nayla mengerjapkan matanya. Ananda menghentikan kecupan bibirnya dan memandang Nayla yang tampak sedikit linglung karena ciumannya. Pipi Nayla yang memerahnya terlihat mirip sepasang apel ranum yang mengundang untuk digigit. Dengan gemas Ananda menggigit sebelah pipi Nayla pelan, membuat gadis itu tertawa geli.
"Ayo kita menikah." ajak Ananda tiba-tiba. Kata-katanya sukses membangunkan Nayla sepenuhnya. Nayla memandang Ananda dengan senyum geli bermain di bibirnya.
"Kau sudah mengatakan hal yang sama saat kau memintaku bertunangan denganmu dulu." ucap Nayla mengingatkan.
"Kali ini sungguhan." Nayla mengangkat kedua alisnya dan berpikir, memangnya kemarin pura-pura ya? Namun belum sempat ia menyuarakan pertanyaannya, Ananda kembali menciumnya, kali ini dengan kuat dan penuh tuntutan. Kedua tangannya memeluk tubuh Nayla erat-erat, sehingga bagian atas tubuh Nayla menindih tubuhnya.
"Mari menikah setelah aku sembuh dari sakit ini." ucap Ananda, lagi-lagi di sela-sela pagutannya pada bibir gadis itu. Membuat Nayla kembali kehilangan kemampuannya untuk berpikir. Ia hanya bisa pasrah mengikuti tuntunan bibir Ananda yang menciumi setiap sudut bibirnya dengan penuh perasaan, sampai Nayla nyaris kehabisan nafas.
"Jawab Aku!" desak Ananda. Dalam hati Nayla merasa kesal. Bagaimana cara aku menjawabmu bila mulut yang seharusnya kugunakan untuk berbicara, kau kunci dengan kehangatan bibirmu?
"Baiklah." Jawab Nayla, setelah ia memperoleh kesempatan untuk bernafas. Jawabannya membuat senyum Ananda menjadi semakin lebar. Dengan ekspresi puas ia kembali mengecup lembut bibir Nayla, lalu bibirnya pindah mengecup hidung gadis itu. Lama setelah itu ia baru melepaskan gadis itu dari penjara tangan-tangannya.
"Sekarang pulanglah." Suruhnya dengan suara bernada tawa. Nayla bangkit dari atas tubuh Ananda masih dengan wajah memerah. Nayla tersenyum malu dan bangkit berdiri. Ia berjalan menuju tasnya yang tergantung di gantungan baju, di dekat pintu. Nayla kemudian berjalan menuju pintu keluar. Ketika tangannya sudah memegang gagang pintu kamar, suara Ananda terdengar memanggilnya. Nayla menoleh dan menemukan pria itu sedang menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"I love you." Ucap Ananda. Membuat hati Nayla berbunga-bunga. Nayla tersipu malu, kemudian dengan suara bergetar ia menjawab,
"I love you too." setelah itu Nayla memutar gagang pintu, membuka pintu kamar dan langsung keluar secepat kilat, tak lupa memastikan untuk menutup pintu di belakangnya.
Nayla berdiri bersandar di bagian luar pintu kamar Ananda sambil memegang dadanya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ia ingin melompat dan menari karena bahagia, namun takut Ananda akan mendengar keributan yang ditimbulkannya. Karena itu, sambil berusaha keras untuk mengontrol emosinya, Nayla berjalan menyusuri lorong antara kamar-kamar dengan tenang.
Rumah itu sepi. Well, rumah itu memang selalu sepi saat sudah malam begini karena mayoritas asisten rumah tangga sudah pulang ke rumah. Dengan langkah riang, Nayla berjalan menuruni tangga. Namun baru saja ia melewati 3 buah anak tangga, sesuatu yang keras memukul kepalanya dengan sangat keras dan membuat Nayla kehilangan keseimbangannya. Tubuh Nayla berguling menuruni tangga, lalu terlempar dengan keras ke atas lantai marmer yang dingin di kaki tangga. Hal terakhir yang dilihatnya adalah Kartini yang berdiri di atas tangga dengan memegang tongkat baseball di sebelah tangannya, dan Ananda yang tiba-tiba muncul di belakang kartini, menatapnya dengan wajah panik. Lalu semuanya menjadi gelap.
Copyright @FreyaCesare