
Rainy memandang ke seluruh penjuru tanah makam. Siapa yang bisa menduga bahwa setelah penguburan nenek Rainy, 2 hari kemudian, mereka semua akan kembali berada disini untuk menguburkan Adnan. Hidup manusia sungguh bagaikan layangan kertas yang rapuh; dapat terhempas ke bumi kapan saja tanpa pertanda. Hari ini Adnan, besok entah siapa lagi. Rainy sungguh takut untuk membayangkannya.
Walau tidak sebanyak waktu pemakaman neneknya, pemakaman Adnan juga ramai dengan para pelayat. Tanah pemakaman yang becek karena hujan tidak menyurutkan langkah para pelayat untuk mengantarkan Adnan ke peristirahatan terakhirnya. Lagi-lagi Rainy memilih berjalan di belakang orang tuanya, kali ini bukan hanya dengan Raka, tapi juga Ivan. Keduanya berjalan di setiap sisinya. Mereka bertiga berjalan dalam diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tak ada seorangpun dari mereka yang betul-betul mengikuti jalannya upacara pemakaman. Biar bagaimanapun, Baik Rainy, Ivan maupun Raka tidak pernah memiliki penilaian yang baik mengenai Adnan sehingga walaupun merasa kasihan pada cara kematian yang merenggutnya dengan begitu brutal, namun tak sedikitpun tertinggal rasa sayang dalam hati mereka bagi pria pemarah tersebut.
Tak sengaja Rainy beradu pandang dengan seseorang yang sedang berdiri di sisi lain makam Adnan, tepat berseberangan dengannya. Ia adalah seorang pemuda yang mungkin berusia sebaya Rainy, bertubuh tinggi yang sedikit kekar, namun berwajah baby face yang menggemaskan. Sayangnya tidak ada kehangatan terlihat di wajah tersebut yang sedikit merusak kesan baby facenya. Dengan heran Rainy menyadari bahwa si pemuda tampak tidak merasa jengah karena telah beradu pandang dengannya. Ia tidak mengalihkan pandangan, bahkan tampak memandang dengan semakin intens. Dengan bingung, Rainy memutuskan untuk mengabaikannya dan mengalihkan pandangannya
Beberapa saat kemudian, Ivan menyikutnya pelan.
"Rainy, seseorang sedang memandangimu terus dari tadi. Apakah kau mengenalnya?" bisik Ivan. Rainy mengangkat kepalanya dan mengikuti arah pandangan Ivan. Siapa lagi yang perilakunya ditangkap oleh radar Ivan kalau bukan si pemuda yang tadi. Kali ini Rainy langsung mengabaikannya.
"Tidak. Aku tidak mengenalnya." Jawab Rainy.
"Hmmm... aku juga tidak. Apa mungkin ia teman Hendrik? Anehnya mengapa ia menatapmu dengan begitu intensif dan terbuka?" Tanya Ivan lagi. Rainy hanya mengedikkan bahunya.
"Andai tatapan bisa menyentuh, kau pasti sudah telanjang saat ini." Seloroh Ivan yang membuat Rainy refleks menginjak kakinya dengan keras.
"Behave!" Tegur Rainy yang disambut Ivan dengan cengiran, sementara Raka yang menyaksikan perilaku mereka, tersenyum tipis. Ia turut memperhatikan pemuda tersebut, mencoba mengenalinya. Namun kemudian memutuskan bahwa ia tidak pernah melihatnya.
"Kalau melihat dari posisi dia berdiri di samping Hendrik, kemungkinan ia adalah salah satu teman dekat Hendrik." Analisanya. Rainy mengangguk.
"Itu tidak menjawab apa alasannya terus memandangimu, which… still happening at the moment by the way." sahut Ivan. "Apa mungkin dia terpesona dengan kecantikanmu, sepupu?"
Rainy menarik nafas panjang dengan gemas. Adakah isolasi yang cukup kuat untuk menutup mulut Ivan? Dengan luwes Rainy menarik Raka dan memindahkannya hingga posisi pemuda itu sekarang berada di antara dirinya dan Ivan. Melihat ini, Ivan menyipitkan matanya dengan kesal. Lalu saat matanya bertatapan dengan Raka, Ivan berbisik pelan,
"Mau jajan sepulang dari sini?"
"Mau kemana?"
"Eclair tentu saja." Eclair adalah sebuah Kafe mungil yang merupakan salah satu anak dari perusahaan keluarga yang saat ini hak pengelolaannya dimiliki oleh Ivan.
"Deal." Sahut Raka sambil tersenyum tipis. Disampingnya, kuping Rainy langsung tegak mendengar kata Eclair. Tanpa sadar matanya berkilat cerah dan senyum mengembang di bibirnya.
***
"Berhenti melihat! Kalau kau terus melakukan itu, kau akan membuat mereka waspada." Sultan merasakan sesuatu menghantam pelan rusuknya. Dengan segera ia mengalihkan pandangannya.
"Pria-pria itu, siapa mereka?" Tanyanya pada orang yang tadi menyikutnya.
"Yang disebelah kanan bernama Raka. Ia adalah salah seorang asisten direktur utama yang sebelumnya. Ia adalah sahabat Rainy sejak kecil dan dengar-dengar ia dan Rainy pernah memiliki hubungan asmara selama Rainy masih di SMA. Sedangkan yang di sebelah kiri bernama Ivan. Dia adalah anak adopsi Rudi. Namun walaupun diadopsi anak oleh Rudi, sesungguhnya yang memutuskan untuk mengadopsinya adalah Jaya Bataguh. Untungnya Rudi dan Istrinya menyukai Ivan dan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri. Jangan lihat tampangnya yang seperti playboy. Ia seorang bussinesman yang piawai sekaligus petarung tarung derajat yang cukup punya nama di kota ini."
"Berandalan?" Tanya Sultan lagi, membuat pria itu tertawa kecil.
"Itu adalah nama panggilan dari Rudi untuknya. Ivan sangat sering membuat masalah saat masih sekolah. Rainy bahkan memusuhinya selama masa anak-anak dan remaja karena ia menyebabkan Rainy menderita fobia pada ular. Entah sejak kapan mereka menjadi akrab kembali."
Sultan kembali menyapukan pandangannya ke depan dan berhenti di wajah Rainy. Gadis itu sungguh luar biasa cantik. Kulitnya berwarna terang dan cerah, membuat wajahnya yang tanpa make-up terlihat segar dan merona kemerahan. Wajahnya berbentuk oval. Matanya yang besar dinaungi bulu mata yang lebat dan panjang, serta alis yang gelap. Hidungnya tinggi selaras dengan tulang pipinya yang tajam. Bibirnya penuh namun mungil, berwarna peach yang menggoda. Dagunya yang lancip tampak sedikit lemah namun tidak mengurangi keindahan wajahnya. Keseluruhan wajahnya berpadu dengan indah. Ia akan tampak sangat menggemaskan bila tersenyum, namun ekspresinya yang dingin membuat orang lain enggan mendekat.
"Apa ia selalu seperti itu? Seolah seluruh dunia berhutang padanya." Tanya Sultan lagi.
"Hmmm. Dulu dia tidak begitu. Namun semakin ia tumbuh dewasa semakin kepribadiannya menjadi dingin, penyendiri dan sulit dipahami. Tidak normal! Kalau kupikir-pikir tidak salah juga. Siapa yang bisa tetap normal apabila disuguhi oleh horror setiap hari."
"Apa kau takut?" Tanya Sultan setengah mengejek.
"Apa kau takut?" Balas pria itu tanpa menjawab pertanyaannya.
Sultan menatap Rainy dan menyipitkan matanya dengan geram.
"Dia sudah memberiku satu-satunya hal yang kutakuti, sehingga tidak ada lagi yang tersisa yang dapat membuatku takut!"
"Jangan khawatir, kak. Aku akan baik-baik saja."
***
Ivan terpana dengan mulut terbuka memandang piring lebar yang dipenuhi dengan pastry dan potongan cake di hadapan Rainy. Sementara di seberangnya, Rainy tersenyum lebar. Wajahnya berseri-seri dan matanya nyaris menghilang bersama senyumnya yang semakin lebar. Mata yang melengkung seolah turut tersenyum.
Nampan pastry bertingkat 3 di hadapannya itu benar-benar penuh, padahal itu adalah nampan terbesar yang dimiliki kafe tersebut. Black forrest, blueberry cheese cake, Tiramisu, Triple Chocolate cake, Lava cake, Almond Crispy, Macaron, Eclairs, sebut saja, sepertinya hampir semuanya ada. Semua jenis cake iris dan pastry manis yang tersedia di kafe tersebut ada di piring Rainy!
"Hei, little miss piggy, kau yakin itu cukup?" tanya Ivan, setengah mengejek. "Kalau tidak cukup, pesan lagi saja. Atau apabila tidak ada yang cocok dengan seleramu, aku bisa menyuruh pak koki membuatkannya khusus untukmu. Kamu mau apa tinggal bilang saja."
Rainy hanya menyipitkan matanya pada Ivan sesaat sebelum dengan ekspresi bahagia kembali menikmati snack berlemaknya.
"Apa kau tidak takut gemuk?" Tanya Ivan kesal karena diabaikan.
"Tidak."
"Ya ya, bagus juga kalau kau gemuk. Pasti terlihat lebih menggemaskan! Kalau kau sampai tak kuat berjalan karena kegemukan, aku tidak keberatan kok bila harus mendorong kursi rodamu sampai akhir jaman." ejek Ivan kembali.
"Deal!" Sambut Rainy dengan senyum lebar. Wajahnya seketika berseri yang membuatnya tampak sangat menggemaskan. Ivan semakin terpana; baik karena kecantikannya maupun karena kepribadiannya yang tiba-tiba mengalami perubahan 180 derajat. Ivan merasa sedang berhadapan dengan orang yang berbeda. Rainy yang biasanya tidak akan tersenyum selebar itu. Matanya tidak akan berbinar-binar sebahagia itu. Dan ia tidak akan menyambut dan membalas selorohannya sebersemangat itu. Ivan sudah terbiasa melihat Rainy yang tenang, acuh dan dingin. Rainy yang ini adalah sebuah kejutan baginya.
"Raka, dia..." Ivan menoleh pada Raka sambil menunjuk Rainy dengan jarinya, mencoba meminta penjelasan. Hal itu membuat Raka tersenyum kecil. Ia hanya menyeruput espressonya tanpa berkata-kata.
“Apakah seseorang telah menukarnya dengan orang lain dalam perjalanan tadi?” Tanya Ivan serius sambil menarik tangan baju Raka. Namun belum sempat Raka menjawabnya, suara menggelegar nyaring memenuhi ruangan.
“Rainy!” Seorang pria setengah baya bertubuh tinggi dan besar yang mengenakan baju koki memasuki ruangan dari arah dapur dengan membawa sebuah kotak cake di tangannya. Wajahnya yang lebar dan berkumis tebal tampak penuh dengan tawa. Melihatnya, Rainy langsung meletakkan garpu di tangannya dan berdiri sambil tersenyum lebar. Pria itu meletakkan kotak kue ditangannya ke atas meja begitu saja, sebelum kemudian ia meraup Rainy ke dalam pelukannya.
“Gadis nakal! Akhirnya kau datang juga!” Ucapnya dengan suara keras. Raka memandangi mereka dengan senyum tipis, sementara Ivan terpana dengan mulut menganga. Tunggu sebentar! Pria itu adalah Mr. Jack, sang koki legendaris Eclair yang terkenal galak dan sangat tinggi hati, sehingga semua pegawai Éclair merasa takut padanya. Tapi sekarang, ia tertawa dan memeluk Rainy dengan begitu girang? Apa matahari terbit dari barat pagi ini? Di sebelahnya, mata Raka menyipit dan bibirnya berkedut. Namun karena terlalu tercengang melihat perilaku Rainy, Ivan tidak melihat reaksi Raka yang tidak biasanya itu.
Rainy melepaskan dirinya dari pelukan Mr. Jack, namun ganti memegang kedua tangan pria baya itu dengan wajah gembira. “Maaf, paman. Tapi kemarin aku kan tidak tinggal disini! Jadi aku tidak bisa mengunjungimu sering-sering seperti biasanya.” Ucap Rainy dengan penuh senyum. Nada suaranya yang manis dan riang
hampir membuat dagu Ivan terjatuh sampai ke tanah. Menarik nafas panjang, Raka memperbaiki ekspresi wajahnya. Ia kemudian menepuk-nepuk bahu Ivan dengan iba. Tanpa memperdulikan kedua pria muda itu, Rainy dan Mr. Jack mulai mengobrol dengan ramai.
“Ah, benar juga! Kau pindah ke kota lain untuk melanjutkan pendidikanmu kan. Lalu bagaimana? Apakah kau menemukan toko kue yang Blackforrestnya seenak buatanku?”
“Di dunia ini, mana ada black forrest seenak buatan paman! Aku merindukannya setiap hari!”
“Eeeh, manisnya lidahmu! Sangat pintar membuatku senang.”
“Apa berhasil?”
“Tentu saja berhasil! Jangan khawatir! Kalau kau ingin kue apapun, katakan saja! Akan kubuatkan.”
“Ah, paman! Kau memang yang paling hebat!”
Butuh waktu bagi Ivan untuk bisa pulih dari keterkejutannya. Ia memandang Rainy dan Mr. Jack dengan wajah tercengang yang membuatnya tampak bodoh. Siapa yang bisa percaya bahwa Rainy yang selalu memasang ekspresi dingin dan diam itu memiliki saat ketika ia terlihat seperti gadis seusianya; ceria dan penuh keriuhan. Lalu siapa juga yang bisa menyangka bahwa Mr. Jack yang galak dan pemarah itu, bisa menampilkan ekspresi seorang paman yang sedang memanjakan keponakannya tersayang; ramah dan penuh kasih sayang. Apa yang terjadi? Apakah hari ini matahari terbit dari barat? Ivan yang akhirnya pulih dari keterkejutannya, menyikut Raka dan bertanya pelan,
“Apa kau tahu mengapa Rainy begitu berbeda saat berbicara dengan Mr. Jack?”
Raka mengangguk pelan sambil menyeruput kopinya.
“Sungguh? Ceritakan padaku!” Pinta Ivan dengan wajah penuh harap. Raka memandang wajah Ivan sesaat, sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada 2 orang berbeda generasi yang sedang mengobrol dengan ramai di kursi, di hadapannya. Permintaan Ivan membawa ingatannya kembali pada saat bertahun-tahun yang lalu, ketika ia masih duduk di bangku SMP dan tinggi Rainy bahkan belum mencapai 1 meter.
Copyright @FreyaCesare