
Rainy memandang rambutnya yang basah dengan kesal. Ia merasa sangat lelah, namun ia harus mengeringkan rambutnya atau keesokan paginya ia akan bangun dengan rambut yang mekar seperti Megaloman. Gosh! Siapa kelahiran 1998 yang kenal dengan Megaloman? Mungkin hanya Rainy. Terserahlah! Rainy mengabaikan hair dryer dan memilih untuk mengambil handuk. Rainy mengusap rambutnya yang basah dengan handuk sambil melangkah keluar dari kamar mandi. Ketika ia mengangkat wajahnya, ia bertatapan dengan Raka yang duduk dengan santai di atas tempat tidurnya, sambil mengunyah coklat isi kacang dari dalam toples di samping tempat tidur Rainy.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rainy, dalam hati bersyukur bahwa ia memutuskan mengenakan bra karena berpikir untuk pergi ke dapur dan mengambil snack sebelum pergi tidur.
"Waiting for you, of course." sahut Raka sambil memamerkan senyum 10 juta wattnya. Rainy mengedipkan mata. Setiap kali Raka tersenyum seperti itu saat mereka berdua saja, dirinya harus bersiap-siap untuk menghadapi 1001 godaan pria itu. Just say bye bye to sleep early. Sigh! Menguatkan hati, Rainy berjalan memasuki kamar. Ketika ia melewati Raka, Rainy melemparkan handuk di tangannya ke wajah Raka.
"Baguslah kau disini. Tolong keringkan rambutku. Aku tak punya energi untuk mengangkat Hair Dryer." ucap Rainy, sambil duduk di hadapan meja rias. Raka membawa handuk tersebut kembali ke kamar mandi dan menggantungnya di gantungan handuk. Lalu ia mengambil hair dryer dan membawanya keluar dari kamar mandi. Raka berjalan ke belakang Rainy, menyambungkan Hair dryer ke colokan listrik dan mulai mengeringkan rambut Rainy. Hawa hangat yang menerpa kepalanya dan gerakan tangan Raka yang mengusap kepalanya, semakin lama semakin membuat Rainy mengantuk. Rainy menyandarkan tubuhnya pada tubuh Raka dengan mata terpejam.
"Mengantuk?" tanya Raka. Rainy mengangguk. Karena Rambut Rainy sudah cukup kering, Raka meletakkan hair dryer ke atas meja. Raka kemudian menggendong Rainy dan membawanya ke ranjang. Rainy mengalungkan tangannya ke leher Raka dan bersandar dengan puas dalam pelukannya sambil memejamkan matanya, bersyukur bahwa ia tidak perlu lagi mendorong Raka menjauh. Mencoba mengusir Raka dari hatinya adalah tugas yang menyakitkan dan melelahkan. Rainy tak ingin mengulanginya.
Raka meletakkan Rainy ke atas ranjang, menyelimutinya sampai ke perut, lalu berbaring di atas selimut Rainy dan meletakkan kepalanya di atas bantal yang Rainy tiduri. Ketika Rainy membuka matanya, ia lagi-lagi disuguhi wajah tampan Raka yang dihiasi seulas senyum puas.
"Jika ini terus menerus terjadi, aku mungkin perlu untuk segera menikahimu karena aku hampir terbiasa melihat wajahmu tiap kali membuka mata." ucap Rainy dengan nada malas.
"Jika itu yang terjadi, aku akan menyelinap kemari setiap pagi, agar setiap kali kau membuka mata, kau akan melihat wajahku." balas Raka.
"Aku tak ingin menikah kalau belum wisuda."
"Why? Apa kau takut hamil sebelum wisuda? Kalau itu masalahnya, kita bisa mengaturnya..." Rainy mendorong wajah Raka menjauh dengan geli.
"Take your head out of the gutter, please!"
"I can't! I am at the age of wanting to soak in that gutter." seloroh Raka. Membuat Rainy tertawa geli, dan Raka ikut tertawa bersamanya.
"Raka yang malang." Rainy menepuk-nepuk pipi Raka dengan penuh rasa sayang. Raka menangkap tangan Rainy dan membawanya mendekati bibirnya. Raka menempelkan bibirnya pada bagian tengah telapak tangan Rainy. Nafasnya yang hangat membelai kulit Rainy dan membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Aku tahu semua yang lakukan pada Ananda hari ini hanyalah akting, tapi tetap saja aku tak suka melihat kau tersenyum padanya." dari bagian tengah telapak tangan Rainy, bibir Raka bergerak perlahan menuju nadi pergelangan tangan Rainy, meninggalkan kecupan setiap kali bibirnya melewati jarak 1 cm dari tempat kecupan sebelumnya, membuat Nafas Rainy tercekat di tenggorokan.
"Kau nyaris tak pernah tersenyum padaku," Dari nadi di pergelangan tangan Rainy, bibir Raka bergerak naik, terus menuju lengannya. "Kau malah tersenyum padanya dengan begitu manisnya." Rainy ingin protes pada kata-kata Raka. Namun tahu-tahu bibir Raka telah mencapai bibirnya. Pria itu memagut bibir Rainy dengan penuh gairah, membuat Rainy terpaksa menelan kembali semua protesnya.
Rainy mengalungkan kedua lengannya pada leher Raka dan membiarkan pria itu berbuat sesukanya. Sepenuhnya menyerahkan semua rasa percayanya pada satu-satunya pria yang telah menjadi miliknya hampir seumur hidupnya itu.
15 menit kemudian, setelah bibir Rainy memerah dan agak bengkak karena ciuman Raka, barulah Raka melepaskan Rainy dan membiarkan gadis itu tertidur dalam pelukannya. Sebelum ia terlelap, Rainy sempat berguman pelan,
"Aku akan tersenyum padamu lebih sering mulai sekarang."
Mendengar ini, Raka tersenyum bahagia.
***
Keesokan harinya, saat sedang duduk menikmati snack pagi bersama seluruh anggota timnya, Rainy menerima telepon dari Ananda.
"Sebentar lagi aku akan memasang speaker agar mama bisa mendengar suaramu. Oke?" Beritahu Ananda.
"Oke." Sahut Rainy. Ia kemudian meletakkan handphonenya ke atas meja dan menekan tombol speaker. Suara manis Ananda langsung terdengar nyaring.
"Rainy, kau sedang apa?" tanya Ananda.
"Oh, aku sedang memikirkanmu." Ucap Rainy, membuat seluruh anggota timnya tercengang. Oh, bukan pada kalimatnya yang terlalu terang-terangan atau nadanya yang genit, tapi pada wajah Rainy yang tetap tanpa ekspresi ketika mengucapkan kalimat tersebut.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita ketemuan nanti sore?" ajak Ananda dengan nada senang.
"Mau donk! Mau ketemu dimana?" Rainy mengangkat cangkir tehnya dan menghirupnya dengan tenang sambil menunggu jawaban Ananda. Sama sekali tidak terlihat adanya ekspresi antusias pada wajahnya, walaupun suaranya berlumuran dengan madu.
*Kemanapun, asal ada kamu, aku pasti suka!" sahut Rainy dengan suara yang sangat genit, sementara tangannya sibuk mengeluarkan biji-biji dari dalam buah anggur dengan penuh perhatian.
"Ah, kamu. Bikin jantungku degdegan aja dan makin tak sabar ingin bertemu kamu! Hehe." seloroh Ananda.
"Makanya jangan telat datangnya biar cepat ketemu aku!" Rainy menoleh pada Raka yang, sama seperti anggota tim yang lainnya, tercengang memandang dirinya. Rainy mengangkat sebelah tangannya dan menepuk pipi Raka sambil tersenyum tipis.
Aku usahakan untuk pulang lebih cepat nanti sore, lalu langsung berangkat. Kafenya bernama Doffy Cafe, di jalan M. Yamin. Nanti aku share lokasinya ya."
"Oke. Aku tunggu ya, sayang!" sahut Rainy. Ia menyuapkan Anggur ke dalam mulut Raka.
"Sip. Jangan lupa, Doffy Cafe, Jl. M. Yamin, Kota S, jam 5 sore."
"Emm." Sahut Rainy dengan nada yang sangat manis, namun tetap dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apakah kau akan diantar oleh supirmu?"
"Nggak. Sepupuku kebetulan ada perlu di kota S, jadi besok aku numpang dia saja."
"Baiklah, sampai jumpa nanti sore ya, Rain. Miss you!"
"I miss you too!"
Setelah mematikan sambungan telepon, Rainy mengangkat wajah dan memandang wajah tercengang Raka, Natasha, Ace dan Ivan. Mereka masih menatapnya dengan mulut terbuka. Bahkan Arka yang biasanya jarang terpengaruh oleh apapun, tampak sedang menahan senyumnya.
"What?" Tanya Rainy.
"Boss, you are so weird." ucap Ace dengan jujur.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Rainy tak mengerti.
"Ekspresimu tidak cocok dengan nada suara dan kata-katamu." jawab Ace.
"Apakah itu aneh?"
"Aneh."
"Di sebelah mana anehnya?"
"Kau terlihat seperti seorang autistik yang sedang belajar menirukan cara orang merayu lewat rekaman suara." jawab lagi. "It's scary!"
"Apa kau ingin menerima pemotongan gaji?" tanya Rainy dingin.
"Hah? Jangan boss!"
"Kalau begitu lakukan tugasmu dan berhentilah menggangguku."
"Siap!" Ace langsung berdiri dan menarik Natasha yang masih bengong, bersamanya. Jauh-jauh dari Boss! Dia sedang PMS!
Copyright @FreyaCesare