
Ketika wanita tua itu melewati pintu dan berdiri berhadap-hadapan dengan Batari, Mr. Jack, yang langsung dilanda oleh rasa panik, mencoba melepaskan diri dari tangan-tangan Raka dan Ace. Namun walaupun memiliki tubuh yang lebih tinggi dan lebih besar daripada Ace, Mr. Jack yang nyaris tidak pernah berolahraga mana mampu melawan Raka dan Ace. Dengan kejam Raka menendang bagian belakang lutut Mr. Jack sehingga pria setengah baya tersebut jatuh berlutut di atas tanah berumput. Raka dan Ace masing-masing menahan sebelah bahu dan sebelah tangannya hingga Mr. Jack tampak bagaikan terpidana mati yang sedang menunggu algojo menyiapkan pedang untuk memenggal kepalanya. Membuat Rainy menggelengkan kepala. Mengapa kedua manusia ini sangat brutal sih? Rainy melangkahkan kaki dan berdiri di hadapan Mr. Jack.
“Paman Jack, bersabarlah! Kau harus bersabar atau kita akan kehilangan kesempatan untuk menolong kak Tari!” Perintahnya. Mr. Jack mengangkat wajahnya dan menatap ke arah gadis yang telah dikenalnya sejak ia masih sangat belia itu. Berbeda dengan wajah manis yang biasanya selalu Rainy tampilkan di hadapannya, kali ini Rainy terlihat sangat dingin dan tidak berperasaan. Mr. Jack menatap gadis itu dengan sengit.
“Lepaskan, aku!” geram Mr. Jack.
“Paman Jack, wanita itu adalah ibunya. Dia tidak akan menyakiti kak Tari. Percayalah padaku!” Beritahu Rainy. “Kalau paman Jack bisa mengendalikan diri dan tidak berusaha menghancurkan upaya yang kak Tari lakukan, Raka dan Ace akan melepaskan, Paman Jack.”
Mr. Jack menarik nafas panjang. Sebenarnya Ia bukannya tidak tahu bahwa perilakunya hanya akan memberikan kesulitan pada Divisi VII. Namun ia tidak bisa berhenti merasa takut melihat Batari berdiri berhadap-hadapan dengan wanita jelmaan Kuyang tersebut. Namun pada akhirnya Mr. Jack mengangguk. Ace dan Raka langsung mengangkat Mr. Jack dari posisi berlututnya. Mereka bahkan dengan baik hati, menepuk-nepuk daerah lutut celana Mr. Jack yang kotor sambil membungkuk. Setelah itu mereka semua kembali memandang ke arah pondok dengan penuh kekhawatiran.
***
Walaupun mereka berusaha untuk tidak bersuara keras, namun sebagai orang yang selalu hidup dalam kewaspadaan, wanita tua itu bisa mendengar keributan yang mereka sebabkan. Wanita tua itu langsung menoleh ke arah datangnya suara dengan panik. Ekspresi wajahnya berubah garang dan ia langsung menyeringai dengan menyeramkan, membuat Batari tersentak kaget. Namun ketika wanita itu hendak melarikan diri, dengan refleks Batari menangkap tangannya dan memegangnya kuat-kuat.
“Ibu, jangan takut! Mereka adalah teman-temanku! Mereka berniat menolong kita berdua!” Ucap Batari nyaring, mencoba menghentikan gerakan ibunya. Wanita itu menoleh pada Batari dengan tatapan beringas, tampak sama sekali tidak mengenali Batari. Ia bagai hewan buas yang sedang merasa terancam; menyeringai pada Batari. Membuat Batari bergidik ngeri. Namun dengan keras kepala, Batari tetap memegang tangan wanita tua itu kuat-kuat. Tubuhnya bahkan sampai terjatuh di tanah dan sedikit terseret ketika mencoba melawan kekuatan wanita tua tersebut guna menghalanginya dari melarikan diri. Meskipun begitu, Batari sama sekali tidak bersedia melepaskan cengkeramannya pada tangan ibunya.
“Ibu, jangan takut! Mereka tidak akan menyakitimu! Kumohon dengarkan aku! Apakah kau akan meninggalkan aku lagi?” Batari menangis menghiba. Suaranya yang keras terdengar sampai ke tempat dimana Rainy dan yang lainnya berada. Lagi-lagi Raka dan Ace harus memaksa Mr. Jack untuk tetap di tempatnya dengan kasar.
“Mundur!” Perintah Rainy sambil melangkah mundur. Raka dan Ace menyeret Mr. Jack untuk mundur. Yang lainnya ikut mundur bersama mereka.
“Apa kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?” Tanyanya dengan cemas. Menerima kekhawatirannya membuat mata Batari kembali memanas dan air mata terancam untuk keluar.
“Emm. Lututku terluka. Rasanya sakit sekali.” Keluhnya dengan suara yang terdengar sangat menyedihkan.
“Terluka? Ah, kau ini! Mengapa kau mencoba menghalangiku sampai seperti itu!” kata wanita tua itu dengan kesal. “Coba aku lihat!” Wanita tua itu hendak berlutut dan memeriksa lutut Batari, namun bagaimana mungkin Batari membiarkan tubuhnya yang tua itu berlutut. Dengan kedua tangannya, Batari menahan gerakan wanita tua tersebut. Lalu, mengikuti perintah hatinya, Batari menarik wanita tua itu ke dalam pelukannya.
Awalnya tubuh wanita tua itu menjadi kaku karena terkejut. Ia membelalakkan matanya dan berdiri diam tanpa membalas pelukan dari Batari.
“Ibu!” tangis Batari di atas bahu ibu kandungnya. “Ibu!” panggilnya lagi. Menerima perlakuan seperti ini, tubuh wanita tua itu tak lama kemudian menjadi lebih santai. Lalu setelah menarik mengerjapkan matanya dan nafas panjang, wanita tua itu mengangkat tangannya dan balas memeluk Batari. Telapak tangan kanannya menepuk-nepuk punggung Batari perlahan, entah apakah ia mencoba untuk menenangkan Batari, ataukah karena itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang lain bila ada yang menangis di dalam pelukan mereka. Lama Batari menangis seperti itu, sama sekali tidak menyadari, bahwa selain Rainy dan rombongannya, ada seseorang yang juga sedang mengamati mereka dari balik pepohonan. Melihat pemandangan itu, pria tersebut berbalik dan perlahan berjalan menjauh dari tempat tersebut tanpa suara.
Ketika akhirnya Batari berhenti menangis, mereka berdua kemudian duduk di atas sebatang pohon besar yang terletak di depan pondok tersebut. Kedua tangan Batari berada di atas telapak tangan wanita tua itu. Telapak tangan wanita itu penuh dengan kapalan di mana-mana dan menyebabkan sensasi rasa kasar ketika bersentuhan dengan tangan Batari yang halus dan terawat. Membuat bibir Batari berkerut menahan isak yang tiba-tiba kembali memenuhi tenggorokannya. Batari menatap wanita tua itu dengan pandangan nanar. Kulitnya yang gelap karena terbakar matahari tampak kering dan penuh dengan keriput. Kantung matanya sangat tebal dan garis-garis tua di wajahnya terukir dengan sangat dalam. Ia masih ingat betapa cantik dan mudanya wanita itu 27 tahun yang lalu. Apakah 27 tahun adalah waktu yang terlalu panjang sehingga bisa membuat kecantikannya memudar seluruhnya? Batari pernah melihat video tentang seorang wanita dari negeri China yang dijuluki sebagai wanita tertua di dunia karena masih hidup padahal sudah berusia 133 tahun. Penampilan kerutan di wajah ibunya saat ini sangat mirip dengan yang dimiliki oleh wanita tersebut, padahal Batari yakin ibunya pasti belum setua itu.
“I… Ibu…apa yang terjadi padamu?” Tanya Batari. Mendengar pertanyaan ini, wanita tua itu mengangkat kedua alisnya. Melihat wajah Batari yang masih basah, walaupun air matanya telah berhenti mengalir, wanita tua tersebut menarik nafas panjang dan menepuk punggung tangan Batari dengan lembut.
“Kau bertanya mengenai apa yang terjadi padaku. Pertanyaan itu begitu luas. Aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Bagaimana bila kau memberiku pertanyaan yang pendek-pendek saja? Kasihanilah otakku yang sudah tua ini. Sudah tidak pandai merangkai kata.” Sahut wanita tua tersebut. Kata-katanya membuat Batari terdiam. Pertanyaan? Aku memiliki begitu banyak pertanyaan. Namun pertanyaan apa yang harus kutanyakan terlebih dahulu? Pikir Batari. Melihat Batari hanya terdiam, wanita tua tersebut berkata kembali,
“Kalau kau punya pertanyaan yang ingin kau tanyakan, katakanlah. Aku akan menjawabnya. Mungkin ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bicara denganmu, karena itu beritahu aku apa yang ingin kau ketahui.”