My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Menghilang



Rainy tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Arka.


"Hei, sleepy head!" Sapanya dengan manis. Arka menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengulurkan sebelah tangannya yang langsung disambut oleh tangan kiri Rainy.


"What is it?" Tanya Rainy, setengah berbisik.


"Aku bermimpi." Ucap Arka dengan suara serak. "Aku bermimpi aku melihat kau mati."


Rainy mengerutkan bibirnya sesaat sebelum kembali tersenyum. tangannya yang bebas terulur dan menepuk-nepuk punggung tangan Arka.


"Aku baik-baik saja. Aku ada disini dan baik-baik saja. Kau lihat sendiri kan?" Bujuk Rainy.


"Mimpi itu terasa sangat nyata..." Ucap Arka lagi. Lewat genggaman erat tangan Arka, Rainy bisa merasakan betapa tubuh Arka gemetar ketika mengingat mimpinya. Hal ini membuat Rainy merasa sangat khawatir.


Rainy mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Datuk Sanja. Melihat itu, Datuk Sanja berjalan mendekat ke ranjang.


"Arka, apakah kau ingat siapa aku?" Tanyanya.


Arka memandang Datuk Sanja dengan seksama. Awalnya ia tampak bingung, namun tak lama kemudian ekspresinya berubah terkejut.


"Kau... Datuk?" Tanyanya, masih dengan suara serak. Datuk Sanja mengangguk.


"Tapi... Bukankah itu... hanyalah mimpi?" Tanya Arka lagi.


"Sebenarnya, apa yang kau lihat dalam mimpimu itu bukanlah sekedar mimpi biasa. Itu adalah sebagian ingatanmu dari kehidupanmu yang sebelumnya." Beritahu Datuk Sanja. Mendengar ini kening Arka berkerut dalam dan matanya memicing dengan curiga. Rainy menarik nafas panjang. Ia lalu mengulurkan tangannya yang bebas untuk meluruskan kerutan di dahi Arka.


"Beliau mengatakan yang sesungguhnya. Kau bisa mempercayai beliau." Beritahu Rainy. Arka kembali menoleh ke arah Rainy namun ia tidak berkata apapun. Seperti biasanya, Arka selalu bersedia mempercayai Rainy.


"Kupikir sebaiknya kau dan Datuk berbicara berdua saja agar kalian bisa berbicara dengan lebih leluasa. Tolong dengarkan Datuk baik-baik ya." Suruh Rainy sambil menepuk-nepuk tangan Arka yang masih menggenggam erat tangannya.


"Kau mau kemana?" Tanya Arka. Kepanikan tampak dimatanya dan genggaman tangannya yang semakin erat, menjadi terasa menyakitkan.


"Aku mau tidur dulu. Membangunkanmu sungguh memeras tenagaku. Nanti setelah istirahat, aku akan kemari lagi. Boleh ya?" Bujuk Rainy.


"Baiklah." Arka mengangguk dan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Rainy. Setelah orang tua mereka juga berpamitan pada Arka, semua orang meninggalkan Rumah Sakit untuk memberi ruang pada Datuk Sanja dan Arka untuk berbicara.


***


Raka membawa Rainy kembali ke rumah pohon tempat mereka menghabiskan honeymoon mereka. Begitu memasuki ruangan tersebut, Rainy dibuat tersenyum oleh berbagai dekor romantis yang telah disiapkan untuk menyambutnya. Mulai dari depan pintu hingga ranjang, terdapat sebuah jalan setapak bertabur kelopak bunga mawar dengan lilin-lilin kecil menjadi pembatas di kiri dan kanannya. Ranjang berukuran queen yang dahulu mereka gunakan, sekarang sudah diganti dengan ranjang berukuran king yang menurut Rainy terlalu besar untuk diletakkan di atas rumah pohon, meskipun rumah pohonnya sebesar rumah tipe 21. Ranjang tersebut juga dihiasi oleh kelopak bunga mawar di atas permukaannya. Suara permainan piano Yiruma yang diputar dalam volume yang kecil saja, terdengar mengalun ke seluruh penjuru ruangan. Tak jauh dari ranjang, sebuah meja makan mungil tampak penuh oleh beberapa pinggan makanan, Snack dan potongan buah. Rainy menoleh ke arah Raka yang berjalan di belakangnya sambil menunjuk ke arah meja dan bertanya,


"Apakah kau menyuruh aku untuk menghabiskan semua itu?"


"Kalau kau mampu." Sahut Raka sambil tersenyum. Rasa geli terlihat dimatanya yang berkerut mengikuti senyumnya.


"Apa kau berniat membuatku gendut?" Protes Rainy sambil mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Mari kita tunggu saja bila saat itu tiba. Aku ingin tahu apakah kata-katamu ini akan sesuai dengan faktanya." Sahut Rainy dengan geli. Raka tersenyum. Ia lalu mengulurkan tangan untuk meraih tangan Rainy. Raka menarik tubuh Rainy mendekat dan meletakkan kedua tangannya di pinggul gadis itu. Mereka saling bertatapan dalam diam. Hanya sinar mata yang saling berbicara pada satu sama lain, sementara senyum yang terukir di bibir keduanya tampak saling memanggil.


"Kau pergi terlalu lama." Bisik Raka di telinga Rainy. Nafasnya yang hangat terasa menggelitik sekaligus melenakan. Rainy mengangguk. Indeed, 100 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk terpisah dari kekasih tercinta.


"Aku janji aku tidak akan pernah pergi lagi." Ucap Rainy.


"Jangan pernah lupakan janjimu itu." Ucap Raka sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rainy. Ketika bibir Raka menyentuh bibir Rainy, hilang sudah semua kontrol diri yang sejak tadi mengendalikan tubuh Raka. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rainy digiring ke atas Ranjang yang nyaman. Lama setelahnya barulah Rainy bisa membebaskan diri dari serigala jahat kesayangannya tersebut.


Setelahnya, Rainy berbaring dengan malas di atas lengan kiri Raka, sementara Raka mengurung tubuh Rainy dalam kedua lengannya. Ujung-ujung jarinya membuat lingkaran-lingkaran kecil di atas Kulit pinggang Rainy yang terasa sangat lembut dan menyenangkan untuk disentuh, membuat nafas Rainy terkadang menjadi tersengal pelan.


"Kau datang tergesa-gesa hari ini. Apakah kau pergi ke luar?" Tanya Rainy.


"Emm." Sahut Raka dengan nada malas.


Mendengar ini, Rainy terdiam. Sebelum Rainy memasuki Menara Kultivasi, ia sudah meminta Raka untuk tidak keluar dari dunia kecil milik Datuk Sanja ini demi menghindari ancaman dari Lilith dan Lilian. Biasanya Raka selalu mendengarkan permintaannya dan sebisa mungkin menurutinya, sehingga bila Raka melanggarnya, dapat dipastikan bahwa ada sesuatu yang mendesak telah terjadi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Rainy. Ujung jari Raka seketika berhenti bergerak. Ia menarik nafas panjang sesaat sebelum menjawab.


"Julian dan Musa menghilang."


"Hah?" Rainy spontan bangkit dan duduk di atas ranjang. Ia menatap Raka dengan terkejut. "Menghilang bagaimana?"


Raka ikut bangkit dan duduk di atas ranjang.


"Apa kau ingat, sebelum kau memasuki Menara Kultivasi, Bu Meyliana sedang menghadapi masalah?" Tanya Raka. Rainy mencoba mengingat-ingat, namun bagi Rainy, kejadian itu berlangsung 100 tahun yang lalu sehingga ingatannya terasa kabur.


"Aku ingat. Seseorang telah mengirimkan ilmu pemikat pada Tante Meyliana." Ucap Rainy kemudian.


"Benar." Raka mengangguk. "Awalnya tidak terlalu parah. Namun setelah beberapa waktu, Bu Meyliana mulai mengalami kesulitan untuk beraktivitas karena tiba-tiba ia mengalami mood swing yang sangat buruk. Guru Gilang sudah berusaha membersihkan sihir tersebut, namun setiap kali dibersihkan, setiap kali juga ilmu pemikat tersebut dikirim kembali. Dan kiriman yang berikutnya selalu lebih kuat dari yang sebelumnya." Cerita Raka.


"Julian dan Musa lalu mengajukan diri untuk membantu mencari pria yang mengirimkan ilmu pemikat tersebut. Namun setelah berpamitan dan pergi, bahkan setelah 3 hari berlalu, mereka tidak juga kembali." Lanjut Raka.


"Bagaimana dengan ponselnya?" Tanya Rainy.


"Mati. Sama sekali tidak bisa dihubungi." Jawab Raka.


"Apakah ada petunjuk kemana mereka menghilang?" Tanya Rainy lagi.


"Emm. Natasha berhasil menemukan koordinat terakhir ponsel mereka. Rencananya mereka akan berangkat ke sana besok." Beritahu Raka.


"Aku ikut!" Tukas Rainy cepat. Mendengar ini, Raka mengangguk sambil tersenyum.


"Emm. Kalau begitu aku juga ikut." Ucapnya kemudian.