My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Sebuah Dunia Yang Tersembunyi



Datuk Sanja menatap Rainy sesaat sebelum ia menarik nafas panjang. Ia kemudian berjalan menuju ke arah Rainy, mengambil pergelangan tangan gadis itu dan menariknya untuk berjalan keluar dari ruangan itu. Setelah pertunjukan kekuatan Datuk Sanja tadi, Rainy tidak berani bersikap kurang ajar padanya sehingga ia tidak menepiskan tangan Datuk Sanja, dan walaupun diliputi oleh rasa khawatir; berjalan mengikutinya.


"Datuk, kita mau kemana?" tanya Rainy dengan hati-hati.


"Nanti kau akan tahu. Ikut saja!" sahut Datuk Sanja, tak bersedia dibantah. Rainy mengerutkan bibirnya namun dengan patuh mengikuti langkah orangtua tersebut. Dalam perjalanan keluar ruangan, mereka berpapasan dengan Lara yang nyaris bertabrakan dengan Datuk Sanja ketika memasuki ruangan dengan setengah berlari.


"Lara, jaga sikapmu!" tegur Datuk Sanja dengan suara, yang walaupun kalimatnya bermakna teguran; namun nadanya terdengar seperti suara seorang kakek yang merasa tidak berdaya melihat perilaku cucunya yang tidak terkendali. Lara yang langkahnya terhenti karena terkejut, menundukkan kepala kepada Datuk Sanja. Ia hampir berbicara kepada Datuk Sanja ketika matanya menangkap sosok Rainy yang berjalan di belakang sang Datuk. Tanpa di duga-duga, Lara langsung memindahkan sasaran pertanyaannya kepada Rainy.


"Rainy, syukurlah! Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya cepat. Rainy mengangguk. Namun belum sempat ia mengeluarkan suara untuk menjawab Pertanyaan Lara, gadis itu sudah membombardirnya dengan pertanyaan lain.


"Bagaimana dengan Arka? Apa kau berhasil menemukannya? Apa kau membawanya pulang? Dimana dia?"


Diserang dengan hujan pertanyaan, Rainy hanya bisa menatap Lara dengan mulut terbuka. Gadis ini, bagaimana ia bisa menjawabnya bila Lara sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjawab?


"Lara!" Suara Guru Gilang mengalihkan perhatian Lara. Ia menoleh ke arah ayahnya dan dengan segera menemukan bahwa ayahnya sedang berdiri di samping ranjang dimana seorang pria sedang terbaring. Walaupun Lara tidak bisa melihat wajahnya, namun Lara bisa mengenali aura yang melingkupi tubuh itu sebagai aura Arka. Lara langsung meninggalkan Rainy begitu saja dan berlari ke arah Arka dengan kecepatan penuh. Rainy menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Lara itu, namun di dalam hati ia merasa sangat maklum. Bahkan Lara yang selalu tampak anggun dan penuh ketenangan nyaris dalam setiap kesempatan itu, selalu saja kehilangan kontrol diri apabila berhubungan dengan masalah Arka. Cinta. Rainy masih tidak yakin apakah untuk terikat secara emosi dengan seseorang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita adalah anugerah ataukah musibah. Namun ia menyadari bahwa sampai saat ini cintanya pada Raka merupakan salah satu kekuatan bagi Rainy untuk bertahan. Dan ia sangat yakin, walaupun bertepuk sebelah tangan, cinta Lara pada Arka juga merupakan sebuah kekuatan bagi gadis itj. Rainy berharap Lara tidak akan kehilangan kekuatannya tersebut sampai kapanpun. Dengan pikiran ini mengisi benaknya, Rainy kembali mengikuti langkah Datuk Sanja dan meninggalkan ruangan tersebut tanpa bersuara.


Ketika mereka keluar dari pintu klinik, Datuk Sanja menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Rainy.


"Rain, selamat datang di dunia kecil ini." ucap Datuk Sanja kepada Rainy sambil menunjuk ke arah sesuatu di hadapan mereka dengan dagunya. Mengikuti arah yang ditunjuk Datuk Sanja, Rainy menoleh dan memandang ke depan. Untuk sesaat mata Rainy terbuka lebar dan untuk kesekian kalinya hari ini, ia dibuat terpana.


Rainy menyadari bahwa saat itu ia sedang berdiri di sebuah villa mungil berwarna putih yang terbuat dari batu, dan dibangun diatas sebuah jembatan berwarna putih yang juga terbuat dari batu, di atas sebuah sungai kecil yang berair sangat jernih. Jembatan ini menjadi penghubung antara sisi kiri dan sisi kanan sungai. Semua tentang villa tersebut dan jembatan batu yang menopangnya membawa aroma modernisasi, walaupun dibangun dengan gaya eropa kuno. Perabotan di dalamnya merupakan perabotan yang normal dimiliki oleh sebuah klinik modern, lengkap dengan berbagai peralatan elektronik dan tentu saja, listrik. Karena Rainy tidak melihat adanya kabel listrik membentang dimanapun, ia mengambil kesimpulan bahwa mungkin listrik di tempat ini bergantung pada tenaga sinar matahari. Yang menjadi masalah adalah, villa tersebut dan jembatan batunya adalah satu-satunya bangunan yang modern dan terbuat dari batu di tempat itu.



Di sisi kiri sungai terdapat sejumlah rumah yang terlihat sengaja dibangun dengan mempertahankan penampilan asli lingkungan sekitarnya yang merupakan hutan belantara. Rumah-rumah mungil tersebut terbuat dari kayu dengan atap rumbia. Pohon-pohon besar menaungi rumah-rumah tersebut dari sinar matahari. Sulur-sulur pepohonan bergantungan, tampak bagaikan tirai yang menghiasi seluruh pemukiman. Jalan yang menghubungkan antara setiap rumah satu dengan yang lainnya hanya terbuat dari tanah merah yang dikeraskan, yang sebagian ditutupi oleh humus dan rerumputan. Di sisi terjauh dari sungai terdapat sebuah rumah pohon yang besar, bergantung dengan angkuh, di atas sebuah pohon yang lebar batangnya sepertinya cukup bila digunakan untuk tidur tanpa perlu khawatir akan terjatuh. Rumah-rumah tersebut terlihat sangat kontras dengan villa mungil di belakang Rainy, yang merupakan klinik tempat Arka sedang dirawat.



Di sisi kanan adalah sebuah area terbuka luas yang terbagi dalam tiga fungsi. Disisi terjauh adalah sebuah ladang luas dimana beberapa hewan seperti sapi, kambing dan domba tampak sedang merumput Sementara itu burung onta dan ayam hutan tampak berkeliaran. Di sisi kiri adalah area perkebunan dimana tampak tanaman sayur-sayuran dan padi-padian ditanam berselang-seling, sementara di bagian terjauh dari sungai terlihat banyak sekali pepohonan buah-buahan yang sedang sarat dipenuhi oleh buah matang yang terlihat kuning dan kemerahan dari kejauhan. Di sisi bagian tengah terdapat sebuah taman dan itu adalah taman yang paling unik yang pernah Rainy lihat. Dan yang terpenting, taman tersebut adalah taman yang paling tidak cocok dengan tampilan lingkungan sekitarnya. seolah-olah di tengah sebuah peradaban manusia jaman pertengahan, alien turun ke tempat itu dan alih-alih membuat crop circle, alien tersebut memutuskan untuk membuat sebuah taman.



Dibawah jembatan tempat mereka berdiri adalah sungai yang sangat jernih sehingga Rainy bisa melihat dasarnya. Airnya tampak berkilauan karena cahaya matahari. Ikan-ikan besar dan kecil yang beraneka warna tampak berenang-renang riang sambil menikmati sinar matahari, sementara bebek dan angsa berendam dan mengapung di atas sungai dengan santai. Rainy mengangkat kepala dan tidak berhasil menemukan matahari di langit yang berawan, namun sinarnya membuat seluruh dunia terang benderang, sehingga Rainy berpikir bahwa matahari pasti sedang bersembunyi di balik awan. Keseluruhan tempat itu memberikan aura yang unik dan asing, namun sangat menarik di mata Rainy.


"Datuk, sebenarnya kita sedang berada dimana?" tanya Rainy ketika ia berhasil pulih dari keterpanaannya.