
Kedatangan mereka disambut oleh Kartini. Wanita tersebut mengenakan dress sutera lengan panjang berwarna krem yang panjangnya mencapai atas lutut dan terlihat jauh lebih muda dan lebih cantik daripada fotonya. Rambut pendeknya dipotong dalam potongan asimetris, dimana sisi sebelah kiri tampak sedikit lebih panjang dari sisi sebelah kanan. Rainy ingat potongan model begini pernah sangat populer di era tahun 2000 karena ia melihat Ratna memiliki potongan rambut serupa dalam foto di album foto lama. Uniknya, potongan rambut model begitu tampak sangat cocok untuk Kartini. Ia terlihat mirip seorang artis yang sedang syuting drama daripada seorang ibu rumah tangga yang telah memiliki anak yang sudah dewasa.
Kartini menerima Rainy dan timnya di ruang tamu dan untuk sesaat berbasa-basi dengan mereka sambil menunggu putranya muncul. Lebih tepatnya Ivan yang berbasa-basi dengannya, sementara yang lainnya hanya duduk diam tanpa suara. Beberapa saat kemudian seorang pria muda berjalan menuruni tangga dengan langkah riang dan penuh senyum. Melihat sebagian wajahnya tertutup perban, mereka langsung bisa menebak bahwa pria itu adalah klien mereka, Ananda.
Ketika Rainy mengangkat kepala dan tak sengaja bertatapan dengan Ananda, untuk sesaat Ananda tampak terpaku. Namun dengan cepat ia mengendalikan diri dan menarik pandangannya dari wajah Rainy. Ia kemudian berjalan mendekat. Senyum di bibirnya bertambah lebar, menyebabkan matanya nyaris menghilang tertelan garis senyum.
"Anda semua pasti dari Divisi VII." sapanya sambil mengulurkan tangan pada Ivan, yang dikiranya adalah pimpinan mereka, karena Ivanlah yang sejak tadi bercakap-cakap dengan ibunya. Ivan bangkit berdiri dan menyambut uluran tangannya, namun karena Rainy yang merasa tak perlu untuk berdiri dan menyambut Ananda, tetap duduk di tempatnya, yang lain mengikuti teladannya dan memilih untuk tetap duduk di kursi mereka. Melihat ini, Ananda hanya tersenyum dan mempersilakan Ivan untuk duduk, sementara ia memilih untuk duduk di sofa besar yang diduduki oleh ibunya.
"Saya berterimakasih karena anda semua mau datang kemari jauh-jauh dari kota B. Saya tidak pernah melakukan ini sebelumnya, jadi tolong bimbingannya mengenai apa yang akan kita lakukan." Ucap Ananda dengan ramah. Untuk sesaat matanya kembali jatuh ke wajah Rainy, namun dengan cerdas ia bertingkah bahwa seolah-olah ia sedang memandang setiap dari mereka satu-persatu, dan bukannya memandang Rainy secara khusus.
"Saya dengar Divisi VII dipimpin oleh seorang wanita. Kalau boleh tahu, yang mana diantara kakak berdua..." Ananda menatap Rainy dan Natasha secara bergantian, namun matanya singgah pada Rainy lebih lama. Sepertinya ia sudah menebak bahwa Rainy adalah orang yang ditanyakannya. Natasha menoleh pada Rainy, namun melihat Rainy tampak tidak berniat menjawab pertanyaan ini, Natasha memutuskan untuk angkat suara.
"Saya adalah Sekretaris ibu Direktur." Lalu menggunakan sebelah tangannya ia menunjuk ke arah Rainy dengan sopan. "Beliau ini adalah Direktur kami."
Ananda menatap Rainy dengan senyum ramah di bibirnya. Rainy balas menatapnya dengan dingin dan mengangguk sopan, yang dibalas dengan anggukan pula oleh Ananda.
"Kak Rainy... Oh, sebaiknya bagaimana saya memanggil anda? Ibu atau..." Tanya Ananda pada Rainy.
"Panggil saja saya Rainy." Sahut Rainy dengan nada datar.
"Ah, baiklah, Rainy." Ananda mengangguk. Lagi-lagi sambil memamerkan senyum ramahnya. "Rainy terlihat masih sangat muda jadi saya sangat senang apabila boleh memanggil dengan menyebut nama saja. Rainy... dan teman-teman semua silahkan panggil saya Ananda." tambahnya.
"Ananda, bisakah anda memberi tahu pada kami, siapa yang memutuskan untuk menghubungi Divisi VII?" tanya Rainy.
Ananda menoleh pada Kartini, mengangkat sebelah tangannya dan meletakkannya ke atas pangkuan Kartini sambil berkata,
"Mama yang menyarankan, tapi saya tidak keberatan."
Kartini balas tersenyum pada putranya dan berkata,
"Itu benar. Saya menceritakan pada Rosa apa yang kami alami disini dan Rosa kemudian memberitahu bahwa ia memiliki keponakan yang merupakan seorang indigo dan berpengalaman dalam mengurusi masalah seperti ini secara rahasia. Rosa lalu memberikan kartu nama Divisi VII pada saya." Cerita Kartini.
"Why? Apakah anda berharap untuk bertemu sekelompok paranormal yang membawa dupa, sirih, tembakau dan keris, serta mengenakan sarung dan peci?" tanya Rainy dingin.
"Tidak juga sih. Saya hanya terkejut saja, bahwa di jaman sekarang ini, para dukun ternyata juga berubah untuk mengikuti jaman." sahut Kartini.
"Emm. Kalau tidak berubah mengikuti jaman, kami tidak akan bisa terlihat keren di masa ini." seloroh Rainy asal. Ia tidak perduli apabila orang lain meremehkan pekerjaannya ini. Yang terpenting baginya adalah bahwa mereka membayar penuh jasanya dan tidak mengganggu hidupnya.
"Ma, terlepas apa bidang usahanya, Divisi VII adalah sebuah perusahaan yang dikelola secara profesional, sama seperti perusahaan jasa design interior misalnya, atau biro psikologi. Mereka juga berurusan dengan klien, bahkan klien mereka adalah para VVIP. Jadi wajar apabila mereka memiliki penampilan yang tidak berbeda dengan para eksekutif muda." ucap Ananda pada Kartini, berusaha untuk menghentikan kata-kata ibunya yang terdengar agak tidak enak di telinga.
"Lagipula indigo itu berbeda dengan dukun. Dukun adalah pekerjaan yang dipelajari hingga bisa dikuasai dan sebagian digunakan untuk menyakiti orang lain. Sedangkan indigo dilahirkan dengan kemampuan spiritual dan supernatural. Mereka tidak menyakiti orang lain. Mereka malah membantu banyak orang dengan kemampuannya. Betul kan kata-kata saya, Rainy?" tanya kemudian pada Rainy.
"Benar. Tapi tak usah repot-repot menjelaskan hal itu hanya untuk membela kami, karena tidak semua orang bisa memahami. Kalau anda merasa bahwa kami diperlakukan dengan kurang adil, kelak berikan saja pada kami bonus yang banyak untuk menutupi kekecewaan kami." ucap Rainy. Mendengar kalimatnya, Ananda tertawa.
"Jangan khawatir. Apabila Divisi VII bisa membantu saya menyelesaikan masalah ini, saya akan memastikan bahwa sejumlah bonus akan dikirimkan ke rekening anda sebagai ucapan terimakasih." jawab Ananda. Mendengar jawabannya ini, Rainy hanya mengangguk.
Rainy lalu menyuruh Natasha untuk melakukan wawancara dasar kepada Kartini dan Ananda yang kelak akan digunakan sebagai bahan profiling, sementara ia bangkit dari sofa dan berjalan berkeliling ruang tamu yang luas tersebut untuk melihat-lihat, diikuti oleh Arka yang berjalan mengekori di belakangnya.
Ruang tamu tersebut sangat besar. Beberapa foto lama tertempel di dinding dan terpajang di atas bufet. Rainy menyusuri foto demi foto untuk melihat sebagian sejarah keluarga tersebut yang terabadikan lewat foto. Dari foto-foto tersebut Rainy bisa menangkap sedikit karakter kepribadian masing-masing penghuni rumah tersebut. Langkahnya kemudian terhenti di depan sebuah foto berukuran post card yang diberi pigura berwarna keemasan yang mewah. Di dalam foto tersebut terlihat Ananda sedang berdiri berpelukan dengan seorang wanita sambil tersenyum lebar, dengan latar belakang pantai. Wanita di foto itu adalah wanita yang tadi dilihatnya di balkon lantai II.
Copyright @FreyaCesare
Author Note:
Kata 'profiling' digunakan dalam berbagai bidang, namun kata 'profiling' dalam novel ini khusus diambil dari bidang psikologi.
Profiling adalah praktek penilaian yang dirancang untuk membantu dalam identifikasi dan prediksi perilaku seseorang.
Pengambilan data yang digunakan untuk keperluan profiling dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain dengan melakukan observasi, wawancara, test psikologi, self-report dan lain sebagainya.