My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Berubah Perangai



Tepat ketika Rainy berlari menuju kamar mandi sambil berteriak, Arka memasuki sambil membawa makan malam untuk mereka semua. Ia mengangkat kedua alisnya ketika melihat kedua orangtua angkatnya sedang tertawa dengan ekspresi berseri-seri, membuatnya tanpa sadar turut tersenyum.


“Apa yang lucu, ma?” Tanyanya sambil meletakkan tas berisi makanan dan termos yang dibawanya ke atas meja dan duduk di sofa besar tepat di sebelah sofa tunggal yang diduduki Ratna.


“Itu Adikmu…” Belum sempat Ratna menyelesaikan kata-katanya, suara keras Rainy memotong kalimatnya dengan keras.


“Jangan beritahu!” Ucap Rainy dengan wajah berkerut penuh ancaman yang terlihat menggemaskan sambil keluar dari kamar mandi.


“Dia kan tadi tertidur…” Siapa sangka malah Ardi yang menyambung kata-kata Ratna.


“Papa!” Protes Rainy keras dan segera berlari ke sisi papanya untuk menutup mulut Ardi.


“Dia terbangun dengan air liur di pipi!” Lanjut Ratna tanpa ampun sambil berderai tertawa.


“Ah! Mama!” Protes Rainy keras sambil berjongkok lalu menyembunyikan wajahnya ke atas pangkuannya. Derai tawa kembali bergema dari mulut Ratna dan Ardi, sementara Arka tersenyum geli. Tangannya terulur dan mulai mengeluarkan box makanan satu persatu dari dalam kantong plastik dan menatanya di atas meja. Ia lalu mengambil termos dan membawanya kepada Ardi yang sedang duduk bersandar di ranjangnya, dengan sengaja menyenggol tubuh Rainy pelan dengan lututnya sehingga membuat gadis itu mengangkat wajahnya. Rainy merengut kesal ke arah Arka yang sedang menata termos bubur di atas meja makan pasien.


“Apa?” Raungnya pada Arka dengan kesal.


“Can you move a little bit, Baby?” Tanya Arka dengan suara dingin dan ekspresi datar. Mata Rainy langsung melebar. Ia bangkit sambil bergidik geli.


“Jangan meniru Raka dengan ekspresimu itu!” Protes Rainy. “Hiii! Mengapa ketika kau yang mengatakannya membuatku merasa tubuhku bagai dirayapi ulat bulu sih?” Tanya Rainy sambil mengerutkan wajahnya dengan kesal. Tangannya sibuk mengusap-usap bulu-bulu di tangannya yang meremang karena geli. Namun Arka sepenuhnya mengabaikan Rainy. Saat Rainy bangkit dan bergeser dari tempatnya, Arka menggunakan kesempatan tersebut untuk menarik meja mendekat ke arah Ardi, agar Ardi dapat menikmati makan malamnya dengan lebih mudah. Ratna dan Ardi lagi-lagi tertawa melihat reaksi Rainy. Mereka merasa senang melihat interaksi keduanya yang benar-benar layaknya sepasang saudara kandung. Kedua anak ini memiliki kebiasaan yang mirip dan kecenderungan perilaku yang sama, padahal berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Awalnya Arka jauh lebih dingin dari Rainy, namun tampaknya pelan-pelan ia mulai bisa bersikap lebih santai dan hangat bila bersama mereka. Dan malam ini untuk pertama kalinya Arka menunjukan bahwa ia mulai bisa bercanda. Membuat Ratna dan Ardi merasa bahwa Arka telah benar-benar menerima mereka sebagai orangtuanya.


Rainy berjalan menuju ke sofa dan langsung duduk di depan box makanan yang telah ditata Arka. Arka membeli Caesar salad dengan beef black pepper tortilla untuk Rainy dan dirinya sendiri serta gurami asam manis untuk Ratna yang lebih suka makanan Indonesia.


“Hmm? Dimana pastryku?” Tanya Rainy. Arka yang sedang menuangkan bubur untuk Ardi ke atas mangkok, berkata dingin tanpa ekspresi.


“Pastry terus nanti gendut.”


Mulut Rainy langsung terbuka lebar.


“Mama dengar itu?” Tanya Rainy pada Ratna dengan ekspresi tidak percaya. “Rupanya Arka sudah dewasa sekarang! Dia sudah bisa mengejek Rainy gendut!” Mendengar ini Ratna dan Ardi lagi-lagi tertawa geli.


"Aku sebulan lebih tua darimu. Tentu saja aku lebih dewasa darimu, adik kecil." Ucap Arka tenang sambil menyodorkan sebuah sendok pada Ardi. Ardi menerima sendok buburnya dari tangan Arka dan menyuruh Arka untuk makan bersama Rainy dan Ratna di sofa. Arka mengangguk dengan patuh dan berjalan menuju sofa. Ia lalu duduk di samping Rainy dan mulai makan dengan anggun, sepenuhnya mengabaikan tatapan Rainy yang penuh tuduhan.


"Ya ampun, broooo! Sebulan mah apalah ya?! Terlalu dekat jaraknya! Sama sekali nggak layak dipanggil kakak!" bantah Rainy dengan gemas. Ini adalah kali pertamanya ia berdebat begini dengan Arka yang biasanya selalu serius dan jarang bersuara.


"Haaah? Sebenarnya kau siapa? Dimana kau sembunyikan kakakku?" tanya Rainy dengan takjub.


Arka mengambil sepotong Tortila dan memyuapkannya ke mulut Rainy yang masih terbuka lebar.


"Makanlah dan berhenti ribut sebelum suster datang kemari untuk menegurmu." suruh Arka. Rainy mengunyah tortillanya dengan patuh tapi kedua tangannya terulur untuk memegang kedua pipi Arka.


"Arka, apa kau sakit?" tanyanya dengan serius. Arka mengangkat kedua alisnya dan memandang Rainy dengan ekspresi bosan. Mulutnya mengunyah dengan pelan. Melihat ini, dari sekedar memegang, jari-jemari tangan Rainy berganti posisi menjadi menjepit. Dengan gemas, Rainy mencubit pipi Arka keras-keras.


"Kakak, jangan seenaknya tiba-tiba berubah perangai! Kau akan membuatku takut!" ucap Rainy sambil menggertakkan gigi-geliginya.


"Mengapa aku yang berubah perangai tapi kau yang takut?" tanya Arka dengan suara yang sedikit tak jelas karena pipinya sedang dicubit dan ditarik-tarik oleh Rainy.


"Kata orang, kalau seseorang tiba-tiba berubah perangai, itu karena kematiannya sudah dekat." sahut Rainy.


"Eh Rain, jangan ngomong sembarangan ah!" tegur Ratna. Ia mengulurkan tangan dan menarik tangan Rainy untuk membebaskan pipi malang Arka dari kekejaman jari-jemari putrinya itu. "Sudah! Biarkan Arka makan dengan tenang!"


Rainy mengerutkan bibir dan menyipitkan matanya ke arah Arka, namun dengan patuh membebaskan pipi kakak angkatnya itu dari cengkeraman jari-jemarinya. Ratna mengusap pipi Arka yang memerah sambil mengomel pada putrinya.


"Ya ampun! Sampai merah begini! Rainy, awas ya kalau mama lihat kamu menganiaya Arka lagi! Mama yang akan balas mencubitmu sebagai hukumannya!"


"Waaaah!" Rainy membuka mulut dan menatap ibunya dengan ekspresi tak percaya. "Pa, coba lihat Mama! Sejak ada Arka, ia tidak sayang lagi pada Rainy!" Adunya pada Ardi dengan ekspresi terluka, membuat Ardi tersenyum geli.


"Tidak apa-apa. Kalau mama tidak sayang lagi padamu, kau masih punya papa." bujuk Ardi. Mendengar ini, senyum Rainy langsung mengembang dengan manis. Ia kemudian menempelkan ujung jari telunjuk dan jempolnya membentuk isyarat hati, lalu mengacungkan ke arah Ardi.


"Papa memang Papaku yang paling keren di dunia!" pujinya.


Melihat senyum Rainy yang langsung mengakibatkan wajahnya berseri-seri membuat Arka menarik nafas panjang. Akhirnya setelah berhari-hari, Rainy bisa tersenyum juga, membuat Arka mengucapkan syukur dalam hatinya.


Mereka menikmati makan siang dengan ceria. Ardi dan Ratna bertanya mengenai kasus-kasus yang telah mereka kerjakan dan Rainy menjawabnya dengan sangat antusias. Tingkahnya cukup membuat Arka terpana karena walaupun ia tahu bahwa Rainy selalu bersikap sangat dingin di luar rumah, namun cukup ramai dan hangat bila di dalam rumah, itu adalah kali pertama Arka melihat Rainy berkicau layaknya seekor burung. Apa yang sedang Rainy lakukan sebenarnya? Arka bertanya dalam diamnya. Namun seperti biasanya, Arka hanya menyimpan pertanyaannya dalam hati saja. Ia memilih untuk menunggu saat Rainy menunjukkan sendiri padanya karena biasanya bila sudah tidak tahan lagi, Rainy akan mencarinya untuk bercerita. yang begitu lebih baik daripada memaksa gadis itu untuk berbicara.


Pada suatu saat, ditengah-tengah obrolan mereka, Ardi bertanya dengan suara khawatir,


"Rain, apakah kau tidak pernah mengalami mimpi buruk lagi?"