My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Purnama



Rainy, Raka dan Arka berjalan melewati pintu dan keluar dari rumah Laura. Ketika sampai diluar, hal pertama yang mereka lihat adalah bulan purnama yang tampak besar dan rendah, bergantung di langit malam. Rainy mendesah.


"Aku benci purnama!"


"It's pretty." Sahut Raka.


"Justru itu sebabnya aku membencinya! Semakin besar dan indah tampilannya, semakin besar keuntungan yang diperoleh iblis darinya." Gerutu Rainy.


"Aku tidak mengerti." kata Arka dengan heran.


"Kalau tumbuhan menyerap sinar matahari untuk bisa hidup, maka iblis dan mahluk kegelapan lainnya bergantung pada cahaya rembulan. Itu sebabnya kejadian-kejadian misterius dan kisah-kisah tentang hantu lebih banyak terjadi di malam hari karena itu adalah saat mereka paling aktif untuk menyebarkan kejahatan dan keburukan di antara manusia. Supaya nantinya mereka tinggal memanen energi negatif yang dihasilkan oleh peristiwa-peristiwa buruk tersebut dengan mudah." Raka menjelaskan.


"Saat bulan purnama, apalagi yang sebesar itu," Rainy menunjuk pada rembulan. "Akan memberi efek halusinogen bagi mereka. Mahluk kegelapan jadi bertingkah bagaikan pecandu narkoba yang sedang teler. Akibatnya tingkat kejahatan menjadi 2x atau 3x lipat lebih banyak dari malam-malam lainnya."


"Seburuk itu?" Arka menatap bulan yang tiba-tiba jadi terlihat jahat di matanya.


"Emm. Bahkan bisa lebih buruk!" ucap Rainy, masih termangu menatap bulan. "But it's still pretty, though. So hateful!" Raka dan Arka mengangguk setuju. Bulan purnama malam itu memang sangat indah.


Tiba-tiba Rainy tampak dikejutkan oleh sesuatu. Ia memandang ke salah satu sudut halaman yang luas itu dan berlari sekuat tenaga menuju ke sana. Raka dan Arka yang tak mengerti apa yang sedang terjadi, tanpa pikir panjang, langsung menyusul.


Di salah satu sudut halaman, Rainy membungkuk. Di mata Arka, Rainy tampak sedang mengamati sesuatu di rerumputan. Namun Raka yang sejak kecil memiliki 'penglihatan', bisa melihat bahwa Rainy sedang membungkuk di atas sesosok tubuh mungil yang tampak terkapar tak berdaya di atas rerumputan. Rainy mengguncang bahu sosok itu untuk membangunkannya.


"Tama!" panggil Rainy. "Tama!" Namun Tama tidak bergeming. Matanya tertutup rapat dan auranya mulai memudar. Rainy memaki dalam hati. Ia kemudian duduk bersila di atas rumput, di samping Tama, dan mulai bermeditasi. Ia tak tahu bagaimana caranya menyembuhkan mahluk kegelapan. Namun setidaknya ia bisa membantu mengalirkan energi ke dalam tubuh tama, untuk mengisi kembali aura yang merembes keluar dari tubuhnya 10x lebih cepat daripada apabila Tama melakukannya sendiri. Rainy mengatur pernafasannya dan mengosongkan pikirannya dari berbagai masalah duniawi. Fokusnya diarahkan untuk mendorong energi cahaya bulan dan energi alam memasuki tubuh tama secepat yang dibutuhkan, melewati sentuhan tangannya. Untungnya upayanya ini berhasil. Sedikit demi sedikit, Aura tama menjadi lebih kuat dan sosoknya menjadi lebih nyata, bahkan lebih nyata dari sosok yang ditampilkannya saat pertama kali bertemu dengan Rainy Cs beberapa jam sebelumnya.


Setelah beberapa waktu, Rainy membuka matanya perlahan. Ia kemudian mencoba kembali membangunkan Tama.


"Tama? Tama?" Rainy menepuk-nepuk pipi Tama untuk memaksanya bangun. "Tama?" Panggilnya lagi.


"Berisik... Cewek bego, berisik amat sih." protes Tama dengan suara lemah. Mendengar Tama sudah bangun, bahkan sudah bisa mengomel, Rainy menarik nafas lega. Ia mengangkat tubuh Tama dari atas rerumputan dan membawanya untuk duduk di atas bangku taman yang panjang tak jauh dari situ. Rainy membaringkan Tama ke atas pangkuannya dan membiarkan kepala anak itu bersandar di dadanya. Raka ikut duduk di sisinya, sedangkan Arka memilih berdiri di belakang Rainy.


"Tama, kamu kenapa? Bukankah tadi masih baik-baik saja?" Tanya Rainy. Hatinya sedih melihat Tama hanya berbaring diam tidak bergerak dengan mata tertutup rapat. Tubuh Tama pasti terasa sangat tidak nyaman.


"Aku sedang berjemur. Bukankah kau tadi menyuruhku berjemur." jawab Tama. Mendengar suara Tama yang semakin stabil membuat Rainy menarik nafas lega. Bahaya yang terburuk sudah berlalu. Sekarang yang dibutuhkan Tama hanyalah berjemur di bawah sinar bulan sesering mungkin untuk memulihkan kondisi tubuhnya.


"Oh? Lalu apa yang kau lakukan sebelum berjemur?" Kejar Rainy.


"Melakukan tugasku." jawab Tama. Melakukan tugasnya? Memangnya apa sih tugas peri rumah? Bukannya menjaga rumah? Eh?


"Tama, apa kau berkelahi dengan iblis hitam itu?" tanya Rainy dengan terkejut. Walaupun Iblis tersebut hanya berasal dari kasta yang rendah dan bukan tandingan Rainy, tapi peri rumah yang lemah seperti Tama tak mungkin mampu melawan iblis tersebut.


"Ketika ada yang mencoba menyerang penghuni rumah ini aku gak mungkin diam aja kan?!" gerutu Tama. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa manusia sekuat Rainy bisa begitu bego? Masa begitu saja tidak mengerti!


"Ketika lawan lebih kuat darimu, jangan melawan secara langsung! Itu namanya bunuh diri!" tegur Rainy kesal.


"Kau kenapa cerewet sekali sih?" gerutu Tama.


"Kau layak dicereweti! Kalau saja aku tidak menemukanmu tadi, kau sudah menghilang dari dunia ini!" omel Rainy.


"Menghilangpun, ya menghilang saja. Tercipta, lalu tiada... Bukankah itu hal yang biasa..." ucap Tama dengan nada meremehkan.


"Apa kau tidak takut?" tanya Rainy.


"Aku lebih takut mendengarkan kecerewetanmu!" Jawab Tama dengan nada kesal, membuat bibir Rainy berkedut mendengarnya. Mahluk ini!!! Rainy mengulurkan kedua tangannya dan mencubit kedua pipi Tama dengan kuat.


"Dasar tak tahu terimakasih!" omel Rainy.


"Cewek bego, lepaskan cakarmu dari wajahku! Bisa gak sih kalau bersikap lebih hormat padaku? Aku ini jauh lebih tua darimu!" protes Tama. Ia mencoba menarik kedua tangan Rainy, namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk melawan.


"Aku bukan anak kecil!" protes Tama keras.


"Siapa suruh kau mengambil wujud anak kecil. Anak kecil ya anak kecil aja!" Rainy tertawa.


"Dasar cewek bego!" maki Tama.


"Beraninya memanggilku cewek bego! Kalau tidak melakukan perhitungan denganmu, namaku bukan Rainy!" Ancam Rainy kesal. Tangannya menarik-narik pipi Tama dan memperlakukannya layaknya squishy. Disebelahnya, Raka menggelengkan kepalanya. Gadis ini lagi-lagi memperlakukan mahluk kegelapan dengan sangat santai seolah sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan mahluk tak kasat mata yang ditakuti banyak orang.


"Cewek bego, beraninya mengambil kesempatan saat aku tidak bisa bergerak! Lepaskan!" perintah Tama. Tapi tentu saja Rainy tidak melepaskannya.


"Siapa suruh kau tidak bisa bergerak!" ejek Rainy. "Kalau kau berani melakukan hal berbahaya seperti ini lagi, tunggu saja hukuman dariku! Sekarang diamlah! Aku perlu melampiaskan stressku. Pipimu enak sekali buat dicubit."


"Ce..." Tama sudah hampir memaki Rainy dengan sebutan cewek bego, namun suaranya terhenti ketika mendengar suara benda-benda pecah dari dalam rumah, menarik perhatian mereka semua untuk menoleh ke arah rumah yang tertutup rapat tersebut.


"Sudah dimulai..." ucap Rainy pelan.


"Apakah kita perlu untuk masuk?" tanya Raka.


"Tidak perlu." Rainy menggeleng. "Kita sudah melakukan bagian kita. Sekarang yang tersisa adalah masalah pribadi mereka. Biarkan mereka menyelesaikannya sendiri." Memandang jendela kamar Laura di lantai 2 yang terang benderang, Rainy hanya bisa menarik nafas panjang. Rainy kemudian menoleh pada Tama. "Apakah kau mau ikut aku pulang?"


"Aku janji pada Hasmi untuk menjaga rumah ini." Tama menggeleng pelan.


"Sementara saja. Setidaknya sampai kesehatanmu pulih." bujuk Rainy.


"Apakah iblis itu masih tinggal disana?" Tanya Tama.


"Lilith? Tentu saja." Rainy mengangguk. Mendengarnya, Tama mencibir.


"Tidak mau. Aku tidak mau berada di dekat iblis tua bangka itu." tolaknya. Panggilan yang diberikannya pada Lilith membuat Rainy tersenyum.


"Dia bisa ikut denganku." ucap Raka.


"Kau mau?" Tanya Rainy. Tama melirik pada Raka sesaat.


"Sementara saja." jawabnya akhirnya.


"Emm. Setelah kau pulih, kau bisa kembali kemari." sahut Rainy. Ia bangkit sambil menggendong Tama, membawanya berjalan menuju mobil yang masih terparkir di tempat parkir. Melihat arah yang dituju Rainy, Tama segera berkata,


"Jauhkan aku dari pria itu!" langkah Rainy sampai terhenti karena terkejut. Ia memandang ke arah mobil dan melihat Ace melangkah keluar dari dalam mobil untuk menyambut mereka.


"Kenapa?" tanya Rainy.


"Auranya menyakitkan. Berdekatan dengannya akan membuatku bertambah sakit!" sahut Tama. Rainy jadi teringat salah satu keterangan dalam CV Ace yang menyatakan bahwa Ace memiliki kemampuan untuk mengusir yang tidak kasat mata. Jadi kemampuan itu berasal dari aura Ace yang bisa melukai mahluk tak kasat mata. Lucky Ace, pikir Rainy.


"Tunggu disini." Suruh Raka pada Rainy. Ia kemudian berjalan menuju ke tempat Ace berada. Raka dan Ace tampak berbicara sesaat, sebelum kemudian Ace mengangguk dan berjalan menjauh dari mobil. 10 meter kemudian, Ace berhenti dan tampak sibuk dengan telepon genggamnya sementara Raka melambaikan tangan, menyuruh Rainy mendekat. Rainy berjalan kembali menuju mobil dengan Tama masih dalam pelukannya dan Arka berjalan di sampingnya. Rainy memanjat masuk ke dalam kursi penumpang di baris kedua, sedangkan Raka duduk di kursi pengemudi dan Arka duduk di sampingnya.


"Bagaimana dengan Ace?" tanya Rainy, memandang Ace yang sedang berdiri di tempatnya dengan memasang wajah sedih, mirip anak anjing yang ditelantarkan oleh tuannya.


"Aku menyuruhnya pulang dengan taksi online." ucap Raka.


"Oh." sahut Rainy. Kalau begitu tak usah memperdulikannya. Ace akan baik-baik saja. Pikir Rainy sambil membuka jendela dan melambaikan tangannya pada Ace. Ace yang melihat boss barunya melambaikan tangan tanpa ekspresi, secara otomatis balas melambaikan tangannya. Boss, mengapa engkau menelantarkan diriku? Keluhnya dalam hati dengan wajah sedih. Untungnya Ace tak perlu menunggu lama. 7 menit kemudian, sebuah city car berwarna merah menyala menepi di depan Ace. Ketika jendela penumpang depan terbuka, sebuah wajah wanita yang ditutupi dengan masker berwarna hitam muncul dari baliknya.


"Bapak Ace?" tanya si wanita sambil menurunkan Maskernya. Sebuah wajah jelita yang dihiasi senyum muncul dari balik masker tersebut. Senyum langsung mengembang di wajah Ace yang tampan dan kesedihan dalam hatinya langsung menghilang. Ia mengangguk kuat-kuat. Ace segera membuka pintu penumpang depan dan duduk dengan bahagia disana. Ini namanya kesialan membawa bahagia. Pikir Ace. Ditinggalkan sendirian oleh bossnya yang jelita untuk dijemput oleh wanita cantik adalah sebuah berkah! Ace memasang senyum terbaiknya dan mulai mengajak sang driver mengobrol dengan riang.


Copyright @FreyaCesare