My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Si Cantik, Laura Hanna



Rainy memandang Laura dengan seksama, mencoba mencari jejak dari gadis yang ia lihat di foto Laura tadi pagi. Dalam foto itu Laura tampak ceria dan penuh energi hidup. Rambut merahnya mengembang berkilauan, wajahnya bersinar, dan matanya berbinar penuh vitalitas hidup. Bahasa tubuhnya tampak luwes dan penuh percaya diri. Namun gadis yang ada di hadapannya ini sama sekali tidak mirip dengan gadis yang auranya terekam dalam foto tersebut.


Gadis di depannya tampak sangat lemah. Tubuhnya kurus kering. Kulitnya pucat dan kusam tidak terawat. Rambutnya sekarang memiliki 2 warna, karena rambut baru berwarna hitam telah tumbuh sepanjang sekitar 10 cm. Membuat rambut yang tadinya mengembang indah di atas bahunya, sekarang tergantung lemas melewati bahu; terlihat kusam, berminyak dan tidak terawat. Lingkaran hitam di bawah matanya membuatnya tampak jauh lebih tua dari usia yang sesungguhnya. Bibirnya kering dan pecah-pecah, dengan beberapa daerah terlihat bernoda darah karena luka akibat kekeringan yang berlebihan. Rainy merasakan empati yang besar menguasai dirinya, namun wajahnya tetap saja terlihat tanpa ekspresi.


Saat ini Laura sedang memandangnya dengan tatapan curiga dan tidak percaya.


"Apa kau sungguh bisa menolongku?" tanya Laura pelan.


"Tergantung." sahut Rainy tanpa ekspresi.


"Tergantung apa?" tanya Laura lagi.


"Tergantung apakah kau bersedia bekerja sama atau tidak." Jawab Rainy datar.


Laura mengamati Rainy. Ketidakpercayaan tampak sangat jelas dari ekspresinya. Namun Rainy bisa melihat dari sorot matanya bahwa harapan masih menempati sebagian kecil ruang hatinya.


"Apa yang kau ingin aku lakukan?" Tanya Laura.


Rainy menatap Laura tanpa suara. Tatapannya yang menusuk membuat Laura merasa tidak nyaman. Laura merasa Rainy sedang mencoba menelanjanginya dengan tatapannya. Tak lama kemudian Rainy menarik nafas panjang dan melembutkan tatapannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk bisa menatap Laura dengan lebih jelas.


"Laura, kau menanyakan pertanyaan yang salah. Seharusnya bukan 'apa yang kau ingin aku lakukan', tapi 'apa yang aku inginkan'." Rainy diam dan membiarkan Laura meresapi kata-katanya sesaat, sebelum kemudian ia melanjutkan,


"Saat ini kau sedang tersesat dalam sebuah labirin yang tercipta sebagai hasil dari semua trauma yang engkau alami sepanjang hidupmu. Kami datang untuk membantumu mencari jalan keluar dari labirin tersebut. Tapi Laura, kami hanya bisa mendukung dan menemanimu dari luar. Labirin milikmu, hanya kau sendirilah yang bisa berjalan di dalamnya, sampai kau menemukan jalan yang akan membawamu keluar dari sana."


Laura menatap Rainy dengan tercengang. Bagaimana Rainy bisa memahami apa yang sedang dirinya rasakan? Tadinya Laura bahkan tak mampu menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. Namun kalimat yang Rainy ucapkan bagai membuka pintu pemahaman yang tadinya tertutup rapat dalam kepala Laura. Benar, itulah yang ia rasakan! Laura merasa sedang berada di dalam sebuah labirin yang begitu besar dan rumit, sehingga membuatnya sangat putus asa karena tidak juga menemukan jalan keluar. Mengetahui bahwa ada orang yang sungguh-sungguh bisa memahami perasaannya, membangkitkan sedikit keberanian dalam hati Laura. Membuat matanya menjadi berkaca-kaca.


"Aku... ingin hidup bebas. Bebas... dari teror rasa takut... dan ketidak berdayaan." Laura menatap lurus pada mata Rainy dan bertanya, "Bisakah kau membantuku?"


Rainy balas menatap Laura. Kelegaan menguasai hatinya melihat semangat hidup mulai bergelora di mata Laura. Rainy mengangguk.


"Emm. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantumu." Janjinya.


***


Waktu telah menunjukan pukul 21.00. Suara mobil berjalan memasuki gerbang terdengar dari lantai 3. Raka mengintip dari balik tirai jendela dan melihat sepasang pria dan wanita keluar dari sebuah mobil SUV berwarna hitam pekat.


"Itu Sinta dan Brata." Sutrisno yang berdiri di sampingnya, berkata. "Tidak akan lama lagi..." Sutrisno menoleh pada pintu kamar Laura yang terlihat jelas dari atas tangga menuju lantai 3. Benar saja, tak lama kemudian sesosok mahluk berwarna kehitaman bergerak cepat dan memasuki kamar Laura dengan cara menembus pintu yang tertutup. Namun kali ini tak terdengar suara jeritan Laura.


Raka nyaris berlari menuruni tangga, diikuti Sutrisno yang berjalan secepat yang dimungkinkan oleh kaki tuanya. Raka membuka pintu kamar dengan suara keras. Langkahnya terhenti di depan kamar Laura, di ikuti oleh Sutrisno di belakangnya. Apa yang mereka lihat di dalam kamar membuat nafas mereka tercekat di tenggorokan.


Sosok mahluk itu terlihat persis seperti yang diceritakan oleh Sutrisno, bertubuh mirip seorang pria, namun berkulit hitam legam bagaikan arang dan memiliki 2 buah tanduk di kepalanya. Uniknya, wajahnya tidak buruk rupa sebagaimana yang di duga Rainy. Mengabaikan warna kulitnya yang lebih gelap dari malam, wajahnya malah bisa dikategorikan sebagai tampan. Sayangnya ketampanan tersebut tercoreng oleh ekspresi bengis dan liar yang tergambar di wajahnya, membuat Rainy menyipitkan mata karena jijik. Mahluk tersebut hanya mengenakan sebuah celana pendek berwarna hitam yang compang camping dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Rainy. Cukup menggelikan ketika melihat bagaimana tubuh yang tinggi dan lumayan berotot itu tampak tak berdaya di hadapan seorang gadis yang ukurannya jauh lebih kecil.


Raka berjalan memasuki kamar, diikuti oleh Sutrisno yang segera mendatangi Laura untuk memeriksa keadaannya. Raka berjalan ke sisi Rainy dan mengamati mahluk yang lehernya masih terkunci dalam cengkeraman tangan Rainy tersebut.


"Sepertinya cuma Iblis dengan level terendah." Nilai Raka.


"Emm." Rainy mengangguk sambil mengamati mahluk di hadapannya. "Dia bahkan tak tahu caranya berbicara."


Mendengar kata-kata Rainy, ekspresi wajah Raka langsung berubah. Ia memandang ke arah Rainy, tak tahu apakah harus tertawa atau menangis.


"Soal itu... Mungkin kalau kau longgarkan sedikit cengkeraman tanganmu, ia akan bisa berbicara." beritahu Raka. Kata-kata Raka menyadarkan Rainy bahwa bukannya si Iblis tak bisa berbicara, tapi cengkeraman tangannyalah yang membuat iblis tersebut tak mampu mengeluarkan suara. Rainy menyipitkan matanya dengan kesal. Ia tak bisa memutuskan apakah ia rela melepaskan cengkeraman di leher iblis tersebut ataukah tidak.


"Rasanya menyenangkan mencekiknya. Aku sungguh tidak rela untuk melonggarkannya." Ucap Rainy setelah berpikir lama. 2 garis hitam muncul di dahi Raka. Perlu banget ya untuk berbicara sebrutal itu di hadapan klien? You are a girl! At least act like one! Raka memarahi Rainy dalam hatinya. Namun tentu saja hanya dalam hati. Pegawai yang baik tidak akan mempertanyakan keputusan atasannya.


Perhatian mereka teralihkan oleh langkah-langkah kaki yang berlari mendekat. Tak lama kemudian sepasang pria dan wanita muncul di depan pintu kamar Laura. Di belakangnya, Rainy mendengar Laura mendengus panik. Rainy mengamati kedua pendatang baru tersebut. Keduanya tampak berusia awal tigapuluhan dan mengenakan setelah kerja yang terlihat mahal dan trendy. Yang wanita bertubuh tinggi dan ramping, dengan wajah cantik yang memiliki kesan lembut dan menyenangkan. Sementara yang pria... Wajahnya bagai pinang di belah dua dengan si iblis yang masih mengelepar-gelepar di bawah kekejaman tangan-tangan Rainy. Rainy menyipitkan matanya. Apabila tadi dirinya menyebarkan aura yang dingin dan tidak berperasaan, sekarang api kemarahan tampak mulai berkobar semakin kencang di seluruh tubuhnya.


"Apa yang sedang terjadi disini? Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan pada Laura?" Tanya si wanita, hendak berjalan masuk.


"Diam di tempatmu!" hardik Rainy, mengejutkan wanita tersebut dan membuatnya langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Rainy dengan tercengang. Ia tidak bisa melihat iblis yang berada di hadapan Rainy. Ia hanya melihat 2 orang pria dan seorang wanita muda yang tidak dikenalnya, sedang berdiri di tengah kamar putrinya, dalam pose yang aneh. Dan ia hanya bisa melihat ekspresi Rainy yang bengis, sedang menatap dengan kejam ke arahnya. Tampak begitu muda, namun mengapa terlihat begitu mengancam? Apakah orang-orang ini datang untuk menyakiti putrinya?


"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" kali ini si pria yang berbicara. Walaupun suara terdengar kuat dan mengancam, namun pria tersebut tidak mencoba memasuki kamar seperti si wanita.


"Apa yang aku inginkan?" Perlahan-lahan senyum Rainy terkembang. Sebuah senyum yang membuat bulu roma orang yang melihatnya berdiri karena begitu bengisnya.


"Sungguh kau mau tahu?" tanya Rainy dingin.


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Hallo, pembaca. Bagaimana liburan akhir pekan kalian? Apakah menyenangkan?


Saya cuma mau mengumumkan bahwa walau saya tidak bisa memberikan crazy up tiap hari karena saya harus berbagi waktu untuk mengerjakan novel saya yang lain; Flower of Dragon, saya akan berusaha untuk memberikan ekstra chapter setiap hari sabtu. Semoga kabar ini cukup menyenangkan ya. Dan tolong menyemangati saya dengan memberikan like serta meninggalkan komentar kalian yang berharga.


Terimakasih.


Freya.