
“Ini….” Ucap Raka tercengang dan tak mampu berkata-kata. Lara dan Guru Gilang hanya memandangnya. Membiarkan Raka menelaah apa yang baru saja mereka sampaikan kepadanya. Lalu kemudian Lara berkata,
“Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal, tapi inilah yang sebenarnya. Dan ini adalah sesuatu yang harus kau simpan sendiri sampai tiba saatnya Rainy untuk mengetahuinya. Apakah kau bisa melakukannya, Raka?” Tanya Lara. Raka mengangkat kepalanya untuk memandang ke arah Lara. Ia lalu mengangguk-angguk perlahan. Tapi kemudian Raka kembali mengerutkan keningnya.
“Tapi Guru Gilang dan Lara belum menjawab pertanyaan saya. Sebenarnya apa yang Lara lihat sehingga Lara dan Guru Gilang bersikeras agar pernikahan ini harus segera dilaksanakan?” Tanya Raka.
“Sebelumnya aku sudah menjelaskan padamu, Raka, dan itulah yang sebenarnya. Bahwa Lara melihat terjadinya perpisahan di antara kalian. Yang aku lakukan adalah memastikan bahwa setelah perpisahan itu, kalian akan memiliki kesempatan untuk saling menemukan kembali.” Jawab Guru Gilang.
Raka memandang Guru Gilang dengan perasaan khawatir yang tak tertanggungkan. Membuat hatinya terasa diberati oleh rasa gelisah.
“Tidak bisakah Lara menceritakan apa yang dia lihat pada saya dengan lebih detail?” Tanya Raka bersikeras.
Lara dan Guru Gilang saling berpandangan. Melihat ini Raka menjadi kesal.
“Guru, pernahkah Guru berpikir mengenai alasan mengapa penglihatan mengenai hal yang buruk bisa datang kepada Lara? Menurut saya itu adalah sebuah peringatan agar kita bisa mempersiapkan diri dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Daripada bersembunyi dalam rumah dan menunggu saat itu tiba, bukankah akan lebih baik untuk membuat perencanaan dan persiapan, agar kita bisa menghadapinya dengan lebih mudah, atau bahkan mungkin untuk merubahnya menjadi tidak terjadi?" Ucap Raka berargumentasi. Mendengar kata-katanya ini, Lara mendesah.
“Apakah kau pikir aku tidak pernah berpikir seperti itu? Aku sudah melakukannya dan sudah pula mencoba segala hal untuk merubah hal buruk yang aku lihat sehingga tidak sampai terjadi, namun aku tidak memiliki daya apapun. Sejauh apapun aku berusaha untuk mengubahnya, tetap saja hasil yang kucapai tidak memuaskan, atau malah gagal sama sekali. Aku tidak ingin memberimu sesuatu yang akan kau sesali lebih dari seharusnya.”
Mendengar ini Raka tertawa sinis.
“Tapi kau sudah mengisyaratkan bahwa itu akan terjadi, jadi apa gunanya merahasiakannya? Justru ketika itu terjadi tanpa aku dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya, padahal kau sudah meramalkannya, bukan saja aku akan menyesalinya, tapi aku akan menyalahkanmu!” Ucap Raka dengan dingin. Namun Lara menggelengkan kepalanya.
“Terkadang mengetahui masa depanmu bukan jalan keluar yang baik. Itu akan mempengaruhi pilihan yang engkau buat ke depannya.” Tolak Lara. Kata-kata Lara memberi Raka sedikit petunjuk yang ingin dikejarnya. Karena itu ia bertanya,
“Pilihan? Jadi aku harus mengambil pilihan yang akan menentukan apakah perpisahan itu akan terjadi atau tidak?”
Lara memandang lurus padanya dalam diam. Wanita itu sepertinya sedang menimbang dan memperhitungkan sesuatu dalam pikirannya. Di sampingnya, Guru Gilang hanya duduk tenang, tanpa suara. Tampaknya membiarkan Lara untuk mengambil keputusan. Lama Lara dan Raka saling bertatapan dalam diam. Tidak ada satupun yang mau mengalah dan tidak ada satupun yang bersedia mengibarkan bendera perdamaian. Namun setelah beberapa menit berlalu, Lara menarik nafas panjang. Setelah beberapa tahun mengenal Raka, Lara cukup mengetahui kepribadian pria itu dan melihat sikapnya saat ini, Lara tahu Raka tidak akan berhenti mengganggunya sampai pria di hadapannya itu memperoleh jawaban dari pertanyaannya.
“Raka,” Ucap Lara pada akhirnya. Wajahnya tanpa ekspresi, namun matanya menatap Raka tanpa berkedip. Raka membalas tatapannya dengan tenang, menunggu apa yang ingin diungkapkan oleh Lara kepadanya. “Bila kau harus memilih; antara menyelamatkan nyawa Rainy… atau menyelamatkan nyawamu sendiri, yang mana yang akan kau pilih?”
Mendengar ini, sebelah ujung bibir Raka langsung melengkung naik. Pertanyaan ini begitu mudah. Ia bahkan tak perlu berpikir untuk menjawabnya.
“Tentu saja menyelamatkan nyawa Rainy.” Sahut Raka dengan yakin. Matanya yang menatap lurus ke mata Lara tidak bergeming sedikitpun. Mendengar jawaban ini, Lara dan Guru Gilang untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, tersenyum dengan tulus.
“Ingatlah pilihanmu itu.” Suruh Lara.
“Pasti!” Raka mengangguk dengan yakin.
Lara menoleh pada Guru Gilang dan berkata,
“Papa, Lara rasa Raka perlu mengetahuinya.” Kali ini ganti Guru Gilang yang mengangguk.
Maka mulailah Lara bercerita tentang ramalan yang mengganggunya beberapa bulan belakangan ini. Membuat Raka yang mendengarkan hanya bisa terdiam seribu bahasa.
1 jam kemudian, Lara memandang punggung Raka yang bergerak menjauh. Hatinya dipenuhi rasa tidak berdaya. Lara menoleh pada Guru Gilang dan bertanya,
“Papa, menurut Papa, apakah peristiwa yang kulihat itu benar-benar tidak dapat dihindari?”
“Kita boleh berusaha, tapi hasil akhirnya tetap Allah yang menentukan. Cukuplah kita berusaha sebaiknya untuk mempersiapkan semuanya agar bisa meminimalisasi kerusakan yang akan dihasilkan oleh peristiwa tersebut.” Jawab Guru Gilang. Lara kembali menoleh ke sudut dimana punggung Raka menghilang ke balik dinding Kafe.
“Tapi aku merasa sangat kasihan pada mereka….” Ucap Lara dengan bibir mencebik murung.
“Emm… memang kasihan. Tapi Allah tidak akan memberikan ujian yang tidak bisa ditanggulangi manusia. Papa yakin semua ini akan berakhir dengan indah.” Sahut Guru Gilang sambil mengusap kepala putrinya dengan penuh rasa sayang. Mendengar kata-kata Ayahnya, Lara mengangguk. Benar, Allah pasti akan mendengar doa Lara dan membuat semua ini berakhir dengan indah. Lara akan meletakkan seluruh harapannya pada keyakinan yang indah saja dan mengabaikan ketakutannya. Dengan begitu ia akan bisa menjalani hari-hari menunggu ini dengan mudah.
***
Sementara itu Rainy yang baru menyadari bahwa tunangannya telah meninggalkan ruangan, mengangkat telepon genggamnya dan menghubungi Raka.
“Raka, kau dimana?” Tanya Rainy begitu Raka mengangkat teleponnya.
“Aku di rumah. Aku mau mandi dulu. Gerah banget nih.” Sahut Raka.
“Eh? Kapan kau pergi? Kenapa gak bilang?” Tanya Rainy lagi.
“Aku bilang kok. Kau malah menjawab iya tadi.” Bantah Raka.
“Masa sih?” Ucap Rainy tidak yakin.
“Emm. Kau lagi sibuk melamun sih tadi, jadi mungkin saja suaraku hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.”
“Aku sedang berpikir! Bukan melamun.” Bantah Rainy.
“Iya. Iya. Kau sedang berpikir.” Sahut Raka mengalah.
“Ya sudah. Tolong pulangnya mampir ke Éclair dan bawakan aku pastry ya.” Pinta Rainy.
“Emm. Baiklah.” Jawab Raka menyetujui.
“Dah, Raka.” Ucap Rainy, ingin mengakhiri percakapan.
“Dah.” Sahut Raka secara otomatis. Namun kemudian ia kembali memanggil, “Oh, Beb?”
“Hmm?” Sahut Rainy.
“I love you.” Ucap Raka dengan sepenuh perasaannya.
Rainy langsung tertawa tanpa suara mendengar ungkapan cinta Raka yang tiba-tiba. Wajahnya yang putih menjadi bersemu merah. Ia menoleh pada kedua orangtuanya yang sedang asyik mengobrol dengan orangtua Raka dan setelah memastikan bahwa mereka tidak sedang memperhatikan dirinya, Rainy menutupi sisi mulutnya yang tidak menempel di telepon genggam sehingga suaranya teredam dalam tangannya tersebut dan menjawab,
“I love you too.”
Rainy langsung menutup teleponnya dan melemparkan benda itu masuk ke dalam tasnya sambil berusaha keras menahan senyum yang tak bisa ditahannya akibat pernyataan cinta Raka. Ia kemudian menarik nafas panjang dan mengatur ekspresinya agar menjadi kembali tanpa ekspresi seperti biasanya. Ia lalu bangkit dan berjalan mendekati ayahnya dan yang lainnya, untuk ikut mengobrol bersama mereka.
Sementara itu beberapa lantai di bawah ruangan VIP tempat Rainy berada, Raka sedang duduk di dalam mobilnya. Ia menutup telepon dari Rainy dengan gerakan perlahan. Jarinya lalu membuka gallery foto dan mulai melihat satu persatu foto-foto yang berada di dalamnya. Semuanya adalah fotonya dengan Rainy atau foto Rainy seorang diri yang diabadikan olehnya. Foto saat gadis itu sedang tersenyum, atau saat ia sedang tertawa. Foto saat Rainy sedang cemberut atau sedang menyipitkan mata dengan ekspresi kesal dan bibir mencebik. Dimata Raka semuanya terlihat indah, semuanya terlihat cantik dan menggemaskan. Bahkan foto saat Rainy sedang tertidur di dalam mobil dengan mulut terbuka, terlihat sangat imut di matanya dan membuat Raka tersenyum geli. Namun lama kelamaan, wajah tersenyumnya berubah. Raka mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan sudut-sudut bibir yang menurun dan wajahnya menjadi berkerut-kerut dalam ekspresi menangis. Tak dapat menahan diri lagi, Raka menangis sejadi-jadinya. Memenuhi seluruh penjuru mobil dengan suara isakan yang menyayat hati.