My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Lara Untuk Arka



Begitulah, malam itu, dan beberapa malam berikutnya, Raka terusir dari kamar Rainy. Bukan hanya terusir, ia juga jadi tidak bisa bermesraan dengan Rainy karena selalu saja ada orang lain di antara mereka. Guru Gilang dan Lara mengawasi keduanya bagaikan seorang ayah dan saudara yang posesif sedang mengawasi adiknya dari incaran serigala jahat. Bahkan ketika Arka akhirnya kembali dari masa tahanannya di Poliklinik, hanya Guru Gilang yang pulang kembali ke asrama. Dengan tidak tahu malu, Lara bersikeras untuk tinggal di sisi Rainy. Ini membuat mood Raka menjadi buruk. Sebagai akibatnya setiap latihan pagi ia berubah wujud menjadi instruktur kejam berlidah tajam, dan membuat semua orang, termasuk Rainy, dan terutama Lara, merasakan kekejaman lidahnya. Latihan yang biasanya hanya berlangsung selama 2 jam sehari, diperpanjang menjadi 4 jam setiap harinya. Rainy hanya bisa menerima pelampiasan kemarahannya dengan pasrah, namun tak urung ia merasa kasihan pada pegawai yang lain, yang turut menjadi korban.


Hari itu misalnya, hari ke empat sejak Lara mengusir Raka keluar dari kamar Rainy, Rainy menyaksikan Raka yang melotot pada Arka dan berkata,


“Singkirkan pacarmu dari kamar Rainy!” dengan suara setengah menggeram. Arka yang melipat kedua tangannya di depan dada, membalas tatapan Raka dengan dagu yang terangkat tinggi.


“Aku tidak punya pacar!” Tolaknya keras.


“Tentu saja kau punya! Kalau bukan pacarmu, mana ada yang bisa bertahan terus mengurusimu padahal setiap hari hanya kau suguhi dengan ekspresi masammu itu!” Bantah Raka. Arka menyipitkan mata dan menatap Raka sambil mendengus.


“Dasar kekanak-kanakan.” Ejek Arka sambil berbalik dan berjalan menjauh.


“Hei! Aku belum selesai bicara!” Panggil Raka dengan suara nyaring. Bukannya berhenti dan berbalik, Arka malah mengangkat tangannya kanannya dan mengacungkan jari tengahnya sambil terus melangkah, sebelum kemudian menghilang ke balik pintu kamarnya. Melihat ini, Raka langsung menoleh pada Rainy yang sedang duduk menikmati sarapan pagi bersama Ivan.


“Coba lihat itu! Beraninya ia balik kanan dan mengacungkan jari tengahnya kepada atasannya!” protes Raka nyaring. Rainy yang sedang mengunyah selembar daun selada, hanya memandang Raka dengan matanya yang besar itu. Ujung daun selada yang besar, masih terjepit di antara bibirnya, sementara itu seperti biasanya, wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Melihat ini, Ivan tersenyum geli.


“Sebelum menjadi anak buahmu, ia adalah sepupu Rainy. Sebagai sepupu Rainy, ia berhak bertingkah bila kau bersikap tidak masuk akal.” Komentar Ivan. “Lagipula, bisa-bisanya kau menyalahkan Arka atas apa yang dilakukan Lara.”


“Dia yang memberikan Lara ide untuk menempel pada Rainy seperti seekor kutu!” Sahut Raka nyaring. Mendengar ini, Ivan menggelengkan kepalanya, sementara Rainy, setelah mengunyah habis udang bakar dalam mulutnya, kembali mengambil selembar selada dan memakannya dengan tenang.


“Kontrol saja dia! Hanya seorang pegawai, masa CEO sepertimu tidak bisa mengatasinya sih?” Suruh Ivan. Baru selesai dia bicara, Rainy sudah mengangkat tangannya dan memukul sebelah kepala Ivan. “Aduh! Mengapa kamu memukulku?” Protesnya pada Rainy.


“Jangan berani-berani menyentuhnya!” Ucap Rainy dengan marah. “Tidak kau!” Rainy mengulurkan tangan dan menjentikkan tangannya ke dahi Ivan. “Dan tidak juga kau!” Rainy ganti menunjuk ke arah Raka sambil menatapnya dengan kening berkerut dan menyorot tajam.


“Kenapa?” Tanya Raka dan Ivan berbarengan.


“Karena aku menyukainya!” sahut Rainy dengan nada datar. “Awas kalau berani!” Ancam Rainy lagi pada Raka, membuat kening pria itu berkerut. Dia bilang dia menyukainya? Mengapa Rainy menyukainya? Apa menariknya perempuan itu?


“Bagian mana dari perempuan itu yang kau sukai?” Tanya Raka dengan wajah cemberut.


“Hmm… coba kupikir dulu…” Rainy memiringkan kepalanya sedikit dan memandang ke atas sambil berpikir. Sebelah tangannya meraih sebuah apel dan menggigitnya. Untuk sementara, hanya suara renyah apel yang digigit terdengar memenuhi ruangan. Raka menarik kursi dan duduk di depan Rainy. Ia meletakkan siku tangan kirinya keatas meja dan menopang keningnya dengan kepalan tangan kirinya, sementara matanya berpesta menikmati wajah indah Rainy dengan seulas senyum tipis terukir di bibirnya.  Kemarahannya tampak telah mereda sepenuhnya. Melihat ini, Ivan menggelengkan kepalanya. Mengapa cinta bisa membuat orang bersikap tak masuk akal sih? Sesaat Raka marah, sesaat lagi Raka tampak berbunga-bunga. Sudah begitu, waktu antara episode tampak terlalu dekat. Apakah cinta memang memiliki kemampuan untuk merubah seseorang menjadi bipolar? Pikir Ivan heran.


“Dia cantik, lembut dan penuh perhatian.” Ucap Rainy kemudian, memaparkan alasan mengapa ia menyukai Lara. “Tapi yang lebih penting lagi, dia tergila-gila pada Arka!”


“Mengapa itu hal yang penting?” Tanya Raka. Kerutan di keningnya yang baru saja menghilang, sekarang kembali terukir dalam.


“Raka, coba lihat Arka. Dingin, pendiam dan tanpa ekspresi. Hanya berdiri diam saja, ia sudah mampu membuat orang lain yang melihatnya merasa waspada karena auranya yang mengintimidasi. Sudah begitu, satu-satunya hobbynya adalah bertarung.” Ucap Rainy, memaparkan sifat-sifat Arka.


“Emm. Keluarkan kata pendiam, lalu tambahkan kata berlidah tajam dan pemalas; dan semua yang kau ucapkan tadi terdengar seperti dirimu!” Cetus Ivan dengan murah hati. Senyum lebar menghiasi bibirnya. Rainy mengambil sebutir anggur dan melemparkannya kuat-kuat hingga tepat mengenai dahi Ivan. Dengan gesit Ivan menangkapnya dengan tangan kanannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


“Intinya, dengan sikap Arka yang seperti itu, entah kapan ia bisa memiliki kekasih. Tapi justru dengan ia yang seperti itu, Lara malah menyukainya. Bukankah itu berarti Lara adalah gadis yang istimewa?” Tanya Rainy, mencari penguatan.


“Kau yakin? Kok aku berpikir bahwa ia gadis yang bodoh? Disini ada pria seperti aku; tampan, cerdas, penuh senyum, selalu ramah pada semua orang dan menyenangkan untuk diajak bicara. Aku juga jago berkelahi! Mengapa malah menyukai si balok es sih? Sungguh sulit dipahami.” Cetus Ivan. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengerutkan wajahnya sambil menyuapi dirinya sendiri dengan anggur.


“Kau tipe manusia yang paling membosankan bagi wanita-wanita istimewa seperti Lara. Dia tidak tertarik pada barang obralan.” Jawab Rainy.


“Apa? Enak saja! Siapa yang kau sebut barang obralan?” Sergah Ivan.


“Yang bertanya padaku siapa yang kusebut barang obralan adalah orangnya.” Sahut Rainy dengan wajah tanpa ekspresi. “Aku sedang berbicara dengan Raka. Bisakah kau menutup mulutmu, sepupu?”


“Ck! Mengapa lidahmu selalu kejam terhadapku, Rain?” Tanya Ivan dengan wajah memelas.


“Ck! Bisa tidak kalau tidak memotong kata-kataku?” Balas Rainy sambil menyipitkan mata.  Ivan mengangkat kedua tangannya.


“Baiklah! Go on! Talk! Aku makan saja.” Sahut Ivan cepat. Ia mengambil sepotong sandwich telur dan menggigitnya dalam potongan besar guna menghalanginya untuk berbicara. Tapi telinganya masih terbaut dengan kencang di kepalanya, sehingga walaupun hanya mendengarkan, Ivan mendengarkan dengan konsentrasi penuh. Kapan lagi ia bisa bergosip dengan Rainy dan Raka? Nyaris tidak pernah.


“Arka tidak tertarik padanya.” Ucap Raka. Mendengar ini Ivan mengangguk-angguk. Tidak salah. Raka bukan hanya tidak tertarik, tapi Ivan merasa bahwa Arka tidak memiliki kemampuan untuk tertarik pada wanita.


“Kita tidak akan tahu bila kita tidak mencoba. Mungkin suatu saat Lara bisa meluruhkan hati Arka.” Ucap Rainy. Raka memandang tunangannya dengan kening berkerut.


“Kau ingin jadi mak comblang?” Tanya Ivan, lupa pada janjinya untuk diam.


“Tidak bisakah?” Ucap Rainy balik bertanya.


“Hah! Selamat berusaha!” Jawab Ivan, lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


“Terserah saja kalau kau mau jadi mak comblang. Tapi apa hubunganya kau jadi mak comblang, dengan dia yang menguasaimu setiap malam?” Tanya Raka. Semakin lama, kerutan di keningnya semakin dalam.


“Kau tidak boleh bersikap kasar padanya! Tidak boleh mengusirnya! Tidak boleh memberhentikannya!” Larang Rainy tegas.


“Aku tidak akan melakukan itu bila tidak datang ke kamarmu setiap malam!” Protes Raka.


“Kita belum menikah, Raka. Lara hanya mencoba melindungi reputasiku.” Bujuk Rainy.


“Sejak kapan kau perduli pada hal semacam itu?” Tanya Raka. “Kita tumbuh besar bersama. Kau dibesarkan di atas pangkuanku! Sepanjang kebersamaan kita, bukan sekali dua kali kita tidur di atas ranjang yang sama! Tak ada yang terjadi kan? Aku selalu tahu batasannya!” Protes Raka keras.


“Tapi aku tidak.” Sahut Rainy sambil menarik nafas panjang. Mendengar ini, Alis Ivan terangkat naik. Apa yang barusan didengarnya ini? Coba ulangi, Rain? Pikirnya dengan tertarik. “Saat bangun dan sadar, kita baik-baik saja. Tapi saat tidur, aku pasti menjadi sebuah teror untuk kesucianmu.” Ivan hampir tersedak mendengar ini. Hah? Kesucian siapa? Apa tidak terbalik, Rain?