
"Mbak Rainy, kata-kata anda ketus sekali." cela Bram.
"Aku diculik, dikurung dan sekarang sedang di interogasi disini, tapi kau berharap aku bicara dengan ramah dan baik? Apakah kau telah meninggalkan otakmu di atas rak sepatu pagi tadi? Kalau ya, sebaiknya cepat suruh anak buahmu mengambilkannya untukmu. Sungguh bodoh sekali!"
"Kurang ajar kau!" sahut Kartini dengan penuh amarah. Mengikuti kebiasaannya, ia hampir saja kembali melayangkan tangannya untuk menyerang Rainy, namun ketika matanya menangkap sosok Arka yang sedang menatapnya dengan garang, Kartini mengurungkan niatnya. Melihat istrinya yang mengkerut di hadapan seorang pria yang bahkan usianya lebih muda daripada anaknya sendiri membuat Bram mengerutkan keningnya.
"Itu salah saya. Saya tidak mengajari anak buah saya untuk berperilaku yang baik dan benar sehingga mereka menyinggung Mbak dan Mas berdua. Tolong maafkan saya." ucap Bram kemudian. Melihatnya bersikap seperti ini, Kartini meradang.
"Bram, kamu ngapain sih?" tanyanya kesal.
"Istriku, apa kau lupa kalau Rainy ini keponakan kesayangannya Rosa?" Kata 'kesayangan' yang ditambahkan Bram pada label ‘keponakan Rosa’ yang diberikannya pada Rainy membuat bibir Rainy berkedut. Haha! Sungguh
menggelikan. Ia bisa jadi apapun buat Rosa, namun tidak akan pernah jadi kesayangannya.
"Aku sudah berkali-kali bilang untuk tidak bersikap impulsif dan melakukan segala sesuatu sesukamu. Tapi mengapa kau melakukannya lagi dan lagi? Kalau sampai Rosa tahu bahwa kau memperlakukan keponakan seperti ini hanya karena kau tidak setuju kalau ia berpacaran dengan Ananda, ia akan sangat kecewa!" tegur Bram lagi.
"Tolong maafkan istri saya. Kondisi kesehatan jiwanya kurang baik sehingga ia sering tidak mampu mengendalikan perilakunya. Tapi kalau saya, adalah kebanggaan besar apabila Ananda bisa beristrikan wanita secantik dan sepintar Rainy." ucap Bram pada Rainy. Mendengar ini Kartini semakin berang.
"Bram! Apa maksud kata-katamu itu? Ananda itu anakku! Cuma aku yang berhak menentukan masa depannya!!!" bentak Kartini histeris.
"Aku mencoba menyelamatkanmu dari melakukan kesalahan yang lebih jauh lagi!" jawab Bram.
"Kesalahan itu adalah bila aku membiarkan pelacur kecil ini menguasai Ananda!" Kartini berteriak keras ke depan wajah Bram.
"Kartini, jaga bicaramu!" bentak Bram. Mendengar ini, Kartini bertambah marah.
"Berani-beraninya kau membentakku!" balas Kartini. "Kau pikir kau siapa hingga berani mengatur apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan? Kau hanya seorang laki-laki miskin tak berguna yang bergantung hidup pada keluargaku! Jadi jaga sikapmu!" tegur Kartini keras. Melihat ini, alis Rainy terangkat. Sepertinya dalam keluarga Ananda, ayahnya bukanlah kepala keluarganya. Rainy dan Arka saling berpandangan tanpa kata. Masalah keluarga ini, mengapa mereka harus terlibat di dalamnya sih?!
"Dan kau! Penipu yang menjijikan, menjauhlah dari putraku! Wanita sepertimu cuma akan merusak hidup anakku!" tuding Kartini dengan kasar. Rainy mencibir. Ketika Bram tadi meminta maaf padanya, Rainy sempat khawatir bahwa usaha Bram ini akan menggagalkan rencana mereka untuk menyiksa emosi Kartini sampai ia mengakui perbuatannya. Namun sepertinya Rainy tak perlu merasa khawatir sama sekali. Kartini, suamimu sudah berusaha keras untuk menyelamatkanmu. Mengapa kau menjerumuskan dirimu sendiri? Dengan riang, Rainy berkata,
"Oh? Kau yakin? Tapi Ananda bilang aku adalah wanita terbaik yang pernah dicintainya."
"Cinta? Kalian baru bertemu beberapa hari yang lalu. Kok sudah bicara tentang cinta?! Dasar perempuan murahan!" cela Kartini kasar.
"Memangnya kenapa? Apa kau tidak pernah dengar kalimat 'falling in love at the first sight'? Kami saling jatuh cinta sejak pertama kali kami saling memandang."
"Aku tidak setuju!" bentak Kartini.
"Memangnya kenapa?"
"Tentu saja karena aku tidak menyukaimu!"
"Tenang saja. Aku juga tidak menyukaimu. Tapi benarkah itu alasannya? Atau kau memiliki alasan lainnya?" tanya Rainy penuh selidik.
"Apapun alasanku, yang terpenting adalah bahwa aku tidak suka putraku berhubungan denganmu! Kau gadis rendahan yang menggoda pria dimana-mana, kalau kau masih sayang pada hidupmu, tinggalkan putraku! Atau.."
"Atau apa? Apakah kau ingin membunuhku juga?" potong Rainy pelan. Mendengar ini, bukan hanya Kartini, bahkan Bram pun turut tersentak kaget.
"Ju... Juga?" ucap Kartini. Firasat buruk mulai menyentuh hatinya. Kalimat yang diucapkan Rainy jelas menunjukan bahwa gadis itu mengetahui sesuatu.
"Bukankah itu yang kau coba lakukan saat kau memukul Nayla hingga jatuh dari tangga?" tanya Rainy. Kartini dan Bram tampak tercengang.
"Jangan sembarangan bicara! Apakah kau sedang menuduhku mencoba membunuh Nayla?"
"Nayla menghilang karena diculik! Tidak ada hubungannya denganku!" pekik Kartini dengan panik.
"Baiklah apabila kau tidak mau mengaku. Bagaimana dengan Putri Adelia? Apakah kau yakin kau tak memiliki keterkaitan dengan menghilangnya gadis itu?" tanya Rainy lagi.
"Jangan mengada-ada! Siapa itu putri Adelia? Kau sedang mencoba menuduh aku melakukan kejahatan yang tidak pernah aku lakukan ya?"
"Tak pernah kau lakukan? Hah! Sungguh menggelikan. Apa kau tahu, Ananda memiliki sebuah MicroSD yang berisikan video-video saat kau menganiaya wanita-wanita malang itu." bongkar Rainy. Mendengar kata-kata Rainy, Kartini tertegun.
"Apa maksudmu?" tanya Kartini kemudian.
"Ananda bercerita padaku bagaimana kau telah menculik dan menganiaya banyak wanita yang menyukai Ananda. Ia bahkan memiliki beberapa video yang dapat ia gunakan untuk menjadi barang bukti." Ujar Rainy berbohong. Well, bukan Ananda, tapi Nayla yang menunjukan video-video itu padanya. Tapi kan tidak mungkin kalau ia mengatakan kebenaran itu pada mereka. Antara pria yang hidup dan roh yang sudah sedang koma, tentu saja orang akan lebih mempercayai yang hidup.
"Bukti? Kubilang jangan mengada-ada! Aku..." Kartini mencoba membantah, namun kata-kata Rainy berikutnya praktis membungkam mulutnya.
"Aku malah sudah menontonnya. Kau tahu, maksudku video-video itu..." bukan hanya Kartini, kali ini Bram juga sama terkejutnya. "Putri Adelia, 16 tahun, teman sekolah Ananda." Rainy melirik sesaat ke arah sosok yang
tersembunyi dalam bayangan sambil mengungkapkan nama salah satu korban Kartini. "Saat menghilang, ia mengenakan seragam SMA." Kalimat Rainy praktis membungkam mulut Kartini. Bagaimana Rainy bisa tahu? Apakah benar bahwa Ananda telah merekam video yang menunjukan kejahatan yang Kartini lakukan? Tapi kenapa
Ananda mengkhianatinya?
"Aida Arsita, teman kuliah Ananda. Menghilang selama 6 bulan dan kembali dalam keadaan trauma berat. Aku sungguh penasaran, apa sih yang telah kau lakukan padanya?" tanya Rainy.
"Kau mengada-ada! Aku tidak ada hubungannya dengan semua itu!" elak Kartini. Rainy mendengus jijik. Ia lalu menyebutkan nama-nama korban Kartini satu demi satu. Bukan hanya mereka yang ia lihat melalui ingatan Nayla, namun juga mereka yang saat ini sosoknya menunjukan diri pada Rainy. Tiap sosok yang tersembunyi di balik bayangan dalam ruangan tersebut, setiap dari mereka memiliki kisah tragis yang berakhir di tangan Kartini. Dan setiap dari mereka membawa ingatan dan dendam di masa lalu yang tertahan di tempat ini akibat begitu traumatisnya kematian mereka. Semua yang dikatakan Rainy membuat Kartini dan suaminya, serta kroni-kroni mereka tercengang. Bagaimana perempuan ini bisa mengetahui itusemua?
"Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak?" tanya Kartini, membuat Rainy mendengus dengan ekspresi mengejek.
"Sudah kubilang, Ananda membuat beberapa video saat kau menganiaya mereka dan ia menunjukannya padaku." jawab Rainy.
"Tidak mungkin! Ananda tidak mungkin mengkhianatiku! Ia tidak akan membuat video seperti itu!" tolak Kartini. Sebelah alis Rainy terangkat begitu mendengar kata-kata ini. Ah, rupanya Kartini tidak tahu bahwa seseorang telah
mendokumentasikan kejahatannya. Namun bukankah video-video itu diperoleh Ananda dari sebuah handphone yang disimpan di kamar orangtuanya. Rainy langsung menoleh pada sang Jenderal. Apakah ia yang menyimpan handphone tersebut?
"Aku tahu tentang video-video itu. Saat masih kecil dulu, Ananda memang telah membuat beberapa video tentang hal tersebut menggunakan handphone lamanya. Tapi aku menyita handphone tersebut darinya." Ucap Bram, membuat Kartini berbalik dan menatapnya dengan marah.
"Hal sebesar ini mengapa kau tidak memberitahuku?" Maki Kartini.
"Aku pikir tak perlu membuatmu pusing karena kenakalan Ananda." sahut Bram tenang.
"Apabila itu tentang Ananda, hanya aku yang berhak menentukan mana yang perlu kuketahui dan mana yang tidak!" bentak Kartini. Interaksi antara Kartini dan Bram membuat Rainy kembali menaikkan alisnya. Namun sang Jenderal tidak tampak terpengaruh oleh sikap kasar istrinya. Ia menoleh pada Rainy dan memandang gadis itu dengan rasa ingin tahu yang terpancar kuat di matanya.
"Aku sudah menonton video tersebut sehingga aku tahu pasti bahwa dalam daftar korban yang kamu sebutkan, beberapa di antaranya tidak ada di dalam video. Lalu dari mana kau mengetahui tentang mereka?" tanya Bram.
"Anda tidak lupa apa profesi saya kan?" ucap Rainy.
"Paranormal." sahut Bram. ''Apakah maksudmu kau mengetahui tentang hal-hal yang kau ungkapkan tadi dengan menggunakan kemampuanmu yang tidak normal?"
"Apakah aku benar?" tanya Rainy tanpa ekspresi.
Copyright @FreyaCesare