My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Tipu Muslihat Rainy



“Ibu Rainy, tolong jangan memfitnah kami. Kami bukan orang-orang yang tidak beradab!” Protes Arbain panik. Arbain memang tidak berniat melakukan apa yang Rainy tuduhkan, namun ia sangat tahu bahwa warganya memang memiliki pemikiran tersebut sehingga melihat Rainy bertindak cepat untuk melaporkan mereka pada polisi, walaupun disadarinya merupakan keputusan yang cerdas karena bisa menghindari kemungkinan terjadinya pelanggaran hukum, tetap saja membuatnya takut. Arbain dan seluruh penduduk desa Ampari telah memperoleh teguran keras dari polisi akibat membiarkan warganya mencoba main hakim sendiri pada Batari waktu itu. Kalau sekarang polisi mengetahui bahwa mereka kembali melakukan hal yang sama, walaupun belum sampai terjadi, hal ini tidak akan berhenti hanya sampai memperoleh peringatan saja. Mereka dipastikan akan menginap di penjara setidaknya beberapa hari, dan beberapa di antara mereka akan menjadi tersangka dengan tuduhan melakukan provokasi, atau malah percobaan pembunuhan, tergantung bagaimana calon korban membingkai kesaksiannya.


“Saya hanya menilai berdasarkan perilaku anda di masa yang sudah berlalu. Anda tidak lupa kan, kalau anda hampir melakukan pembunuhan terhadap Dokter Batari, andaikan hari itu Dokter Batari ada di rumahnya?” Rainy mendengus cepat dengan ekspresi jijik. Betapa ironisnya ketika dunia diputar dan pelaku kejahatan dianggap sebagai pahlawan pelindung masyarakat. Kalian ingin berebut Kuyang denganku? Mari kita lihat apakah kau memiliki kapasitas tersebut.


“Ini hanya salah paham, tolong tidak perlu sampai melibatkan Polisi.” Ucap Arbain. “Kalau memang kalian  harus membawa nenek ini pergi, silahkan saja. Kami tidak akan menghalangi lagi. Tapi tolong beri saya kesempatan untuk berbicara dengan nenek.” Ujung bibir Rainy berkedut. Tujuannya telah tercapai dengan sempurna!


“Kalau anda ingin berbicara dengan nenek, anda bisa datang ke Resort. Tapi tolong diingat, Kami tidak akan membiarkan rombongan orang yang sama sekali bukan tamu resort, apalagi yang membawa senjata, masuk ke dalam resort kami.” Beritahu Raka. Arbain mengatupkan mulutnya kuat-kuat. Namun kemudian ia mengangguk. Raka lalu menoleh pada Julian dan Ace yang berada paling depan. Keduanya mengangguk dan kembali membimbing rombongan untuk berjalan keluar dari dalam hutan. Ketika mereka mencapai tempat di mana warga desa Ampari berkumpul, dengan sendirinya warga desa tersebut bergeser ke kiri dan ke kanan untuk memberikan jalan sehingga rombongan bisa melewati mereka tanpa hambatan. Melihat ini, sebelah bibir Rainy terangkat membentuk senyum sinis. Masih dengan telepon genggam yang menempel di telinga sebelah kirinya, ia menatap ke arah Arbain dan berkata,


“Pak Kapolsek, sepertinya saya yang telah salah paham. Warga Desa Ampari menjelaskan bahwa mereka tidak berniat main hakim sendiri. Mereka kebetulan hendak pergi mencari bambu dan itu sebabnya mereka membawa senjata tajam… benar… katanya sih begitu…Baik. Saya mengerti, pak!” Sambil berbicara, Rainy mulai berjalan mengikuti Batari dengan Arka dan Raka mengekor ketat di belakangnya. Saat melewati penduduk desa Ampari, Rainy menatap mata mereka satu demi satu sementara mulutnya tidak berhenti berbicara.


“Emm. Saya mengerti. Bila sedikit saja mereka menunjukan perilaku main hakim sendiri, saya berjanji akan segera melaporkannya pada anda… Benar, Pak. Berapa lama hukumannya?... 10 sampai 15 tahun penjara? Waaaah, lama ya, pak? Bisa-bisa sebelum mereka keluar penjara mereka sudah mati karena usia tua ataupun karena dianiaya oleh sesama penghuni penjara… oh iya, kalau itu saya pernah, pak. Katanya kalau banyak napi pria yang masih muda menjadi target pemerkosaan di penjara. Diperkosanya beramai-ramai lagi! Seram ya, pak… saya tidak bisa membayangkan kalau saya yang mengalaminya… iya, pak. Saya dengar begitu…” Suara Rainy terdengar semakin lama semakin jauh, bersama semakin jauhnya rombongan Cattleya Resort dari penduduk desa yang terpaku di tempat mereka.


Percakapan sepihak yang Rainy lakukan dengan orang yang dipanggilnya sebagai Kapolsek melalui telepon genggam membuat hati penduduk desa menciut dan sebagian dari mereka gemetar ketakutan. 10 sampai 15 tahun penjara bila main hakim sendiri? Diperkosa oleh napi pria secara beramai-ramai di penjara? Penduduk desa tidak pernah mengetahui hal ini sebelumnya. Sekarang setelah mendengarnya dari percakapan antara Rainy dengan Kapolsek di telepon tersebut membuat penduduk desa merasa ketakutan. Mereka hampir mencelakakan diri mereka sendiri! Untunglah ini tidak sampai terjadi! Sekarang satu-satunya hal yang ingin dilakukan penduduk desa Ampari adalah melemparkan senjata mereka jauh-jauh lalu berlari pulang untuk memeluk istri-istri dan anak-anak mereka yang hampir saja tidak dapat mereka temui selama 15 tahun. Syukurlah! Ya Tuhan, syukurlah! Begitulah mereka mengucap syukur berulang-ulang.


Tingkah penduduk desa ini tak lepas dari pengamatan Arbain dan membuat ujung bibirnya bergerak turun dengan penuh rasa kecewa. Ia tumbuh besar di antara mereka dan telah menjabat sebagai Kepala Desa selama beberapa waktu atas pilihan mereka, namun mengapa sulit sekali baginya untuk membuat warga desa bersedia menuruti kata-katanya? Namun hanya dengan sedikit ancaman yang diucapkan dengan tidak langsung, warga desa langsung tunduk pada wanita pemilik Cattleya Resort itu? Apakah ia memang tidak memiliki kemampuan sebagai pemimpin? Arbain merasakan keningnya berdenyut kencang dan rasa sakit perlahan-lahan mulai memberati kepalanya. Aku sungguh Kepala Desa yang gagal! Pikir Arbain dengan sedih.


Sementara itu Rainy dan rombongannya telah keluar dari hutan dan sedang berjalan menuju ke tempat mobil-mobil mereka terparkir. Rainy masih menempelkan teleponnya di telinga dan berkata,


“Em. Kami sudah keluar dari hutan dan sepertinya warga desa tidak berniat mengejar. Tapi untuk amannya, perintahkan pada petugas keamanan untuk berjaga-jaga di sekitar resort dengan lebih seksama, Nat. Kami pulang sekarang.” Saat Rainy menutup teleponnya dan mengangkat wajahnya, ia bertatapan dengan wajah terpana orang-orang disekitarnya.


“Kenapa?” Tanyanya dengan waspada.


“Boss, apakah barusan tadi kau berbicara dengan Natasha?” Tanya Ace.


“Bukankah boss barusan menelepon Kapolsek?” Tanya Ace lagi. Rainy mendengus geli.


“Kalau aku benar-benar menelpon polisi, apa kau pikir kita bisa melenggang pergi begitu saja dari sana tanpa harus stop dulu ke kantor polisi? Bukankah itu bisa mencelakakan bu Bestari?” jawab Rainy dengan mengerutkan keningnya. Dasar Scooby Doo! Cela Rainy dalam hati.


Namun bukan hanya Ace yang terpana pada jawaban Rainy. Julian, Batari, Bestari dan Mr. Jack juga sama terpananya. Jadi sejak tadi Rainy membohongi mereka semua? Dan penduduk desa mengalah karena takut pada kebohongannya? Waaaah… sungguh berani! Mereka memandang ke arah Rainy, tak tahu harus menangis atau tertawa. Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau warga desa Ampari tidak termakan oleh kebohongannya!


Julian dan yang lainnya tidak takut walau harus berhadapan dengan 30 orang pria bersenjata. Mereka adalah petarung terlatih sementara warga desa hanyalah orang-orang biasa yang lebih banyak menghabiskan energinya dengan bertani dan berkebun. Walaupun memiliki fisik yang kuat, warga desa tidak memiliki keahlian yang memadai untuk melawan mereka. Jadi warga desa Ampari sama sekali bukan sebuah ancaman bagi mereka. Namun status Bestari yang sensitif membuat mereka tidak bisa seenaknya menantang bahaya dan adu tinju dengan warga desa. Bisa-bisa identitas Bestari terbongkar yang berarti Batari akan kehilangan ibunya ketika baru bertemu selama beberapa jam saja. Sungguh sebuah langkah yang beresiko tinggi! Untunglah tipu muslihat Rainy berhasil.


Melihat reaksi rekan-rekannya, Raka, Ivan dan Arka yang sudah sangat hafal pada tingkah polah Rainy hanya tersenyum. Mereka kemudian menggiring yang lainnya untuk memasuki mobil yang telah menunggu. Rainy sudah menaiki mobil sedangkan Batari sedang membantu Bestari menaiki mobil yang berada di belakang mobil Rainy, ketika Bestari berbalik dan bertanya.


“Apa kalian bermaksud membawa aku pulang?” Tanyanya. Mendengar ini, Batari mengangguk. Tentu saja! Apa ibu pikir kami akan meninggalkan ibu disini sendirian? Pikir Batari.


“Kalau begitu pastikan kalian memiliki tempat tertutup untuk mengurungku begitu senja tiba.” Ucap Bestari mengingatkan. Batari dan Mr. Jack saling berpandang-pandangan, sementara Ivan yang berdiri di belakang mereka, mengambil telepon genggam dari kantong celananya dan menghubungi telepon genggam Raka. Saat itu Raka sudah duduk di samping Rainy di kursi belakang, sementara itu Ace dan Arka duduk di kursi depan. Dari tempat mereka berada, mereka bisa melihat Bestari, Mr. Jack, Batari dan Ivan yang saat itu sedang menoleh ke arah mobil mereka. Setelah menerima telepon dari Ivan, Raka menghubungi Natasha.


Nat, belilah kerangkeng kuat yang ukurannya cukup besar untuk diisi manusia. Kita membutuhkannya sekarang juga.” Ucap Raka pada Natasha yang berada di seberang sambungan telepon. Mendengar ini, alis Rainy terangkat tinggi.


“Kerangkeng?” Tanyanya, tak sedikitpun bisa menebak mengapa tiba-tiba Raka membutuhkannya.


“Emm. Ibu Bestari minta untuk dikurung segera sebelum senja tiba.” Beritahu Raka sambil memasukkan  kembali telepon genggamnya ke dalam kantong celana. Mendengar jawaban Raka, Rainy mengangguk.