
"Arka, kemana aku harus pergi?" tanya Rainy pada Arka kecil. Untuk sesaat tidak terdengar jawaban darinya. Namun ketika Rainy hendak mendesak Arka kecil kembali, suara Kekanakan Arka bergema di kepala Rainy.
"Ke kiri! Ada beberapa iblis berjalan mendekat di sebelah kanan!"
Tanpa perlu disuruh lebih jauh lagi, Rainy berbalik ke kiri dan langsung berjalan dengan cepat menyusuri koridor, berharap menemukan tempat bersembunyi sebelum iblis-iblis tersebut menyusulnya. Tiba-tiba Arka kecil berteriak nyaring.
"Tangga! Rainy, kau baru saja melewati tangga turun!"
Mendengar ini Rainy langsung berbalik dan menemukan bahwa ia memang benar-benar melewati sebuah tangga turun. Tangga tersebut berada di area yang sedikit terlindung dari cahaya mutiara api sehingga tersembunyi dalam bayangan dinding. Rainy bergegas berjalan menuruni tangga. Ia tidak memiliki waktu untuk bersikap terlalu berhati-hati karena itu ia sepenuhnya menyerahkan kewaspadaan pada Arka kecil yang nampaknya lebih sensitif daripada dirinya dalam menangkap aura iblis, sementara Rainy melesat menuruni tangga. Untungnya Rainy mengenakan sepatu bersol karet yang membuat langkahnya tidak terdengar.
Rainy bersyukur karena sepanjang perjalanan menuruni tangga yang lumayan jauh, Rainy tidak berpapasan dengan iblis satupun. Tangga tersebut membawanya ke koridor lain. Namun bila koridor di lantai atas terang benderang oleh cahaya yang berasal dari mutiara api, maka penerangan di lantai itu hanya di terangi oleh beberapa obor yang terpasang di dinding dengan nyala api yang berwarna oranye kemerahan yang membara, meninggalkan bayangan menyeramkan pada dinding. Penampilan fisik ruangannya juga sangat berbeda dengan ruangan di atas. Dindingnya dibuat dari bebatuan yang dipasang dengan rapi namun dibiarkan tetap dalam warna alaminya sehingga memberikan kesan sedikit menyeramkan.
Rainy berjalan tanpa suara dan masuk lebih jauh lagi ke dalam koridor tersebut. Seperti juga koridor di lantai atas, ruang bawah tanah ini juga terlihat sepi dan kosong tanpa penjaga sama sekali. Mungkin para iblis sangat yakin bahwa tidak ada siapapun yang berani menyusup masuk ke markas iblis. Apalagi istana itu berada di dunia iblis yang udaranya sangat beracun, setidaknya bagi manusia. Untunglah bila mereka berpikir begitu karena itu berarti akan mempermudah upaya penyusupan yang dilakukan oleh Rainy.
"Rain, aku bisa merasakan resonansi dari tubuhku! Sudah dekat sekali! Cepatlah!" Dalam kesadaran Rainy, Arka kecil melompat-lompat girang. Ini membuat langkah Rainy menjadi semakin cepat. Tidak lama kemudian mereka mencapai ujung koridor yang lagi-lagi bercabang ke kiri dan ke kanan. Tanpa perlu ditanya lagi, Arka kecil berteriak dalam kepala Rainy,
"Kanan! Pergi ke sebelah kanan!"
Rainy berbelok ke kanan, namun setelah berjalan sekitar 5 meter, Arka kecil menjerit.
"Ada Iblis di depan! Ia sedang menuju kemari. Berbalik dan pergilah ke jalan yang mengarah ke kiri!"
Dengan gesit, Rainy memutar tubuhnya dan melesat maju, berusaha meningkatkan jarak antara ia dan iblis di belakangnya. Berbeda dengan koridor di lantai atas, koridor di lantai bawah ini tidak memiliki pintu-pintu di sisi kiri dan kanannya, sehingga Rainy tidak memiliki tempat untuk bersembunyi. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah melesat ke depan dan berdoa agar semoga ia menemukan sebuah tempat yang memadai untuk bersembunyi.
Saat ini Rainy telah berada di pertigaan koridor kembali. Tanpa ragu ia berjalan lurus memasuki simpangan yang menuju ke kiri. Berbeda dengan simpangan sebelumnya yang masih berbentuk koridor, kali ini simpangan ke kiri membawanya langsung ke sebuah ruangan terbuka yang sangat besar. Ruangan tersebut mungkin sebesar lapangan basket. Salah satu dindingnya dipenuhi rak-rak berisi senjata, sedangkan dinding di sebelahnya dipenuhi oleh dummy dan baju zirah yang terpasang pada manequin, berjajar sehingga terlihat seperti orang-orangan yang sedang berbaris rapi sambil menempel ke dinding. Sepertinya tempat itu adalah sasana tarung para iblis.
"Apakah iblis juga belajar ilmu bela diri?" tanya Rainy pada Arka kecil sambil mengerutkan keningnya. Dengan semua kemampuan membunuh mereka yang merupakan bawaan lahir, semua benda di ruangan ini sama sekali tidak berguna bagi mereka.
"Ruang koleksi?" ulang Rainy, belum menangkap maksud Arka kecil.
"Coba lihat di dinding yang di sebelah kirimu!" suruh Arka.
Rainy menoleh ke kiri dan ia menemukan bahwa dinding yang berada di sebelah kirinya ditutupi oleh sejumlah kotak-kotak persegi panjang yang berdiri berjajar dengan rapi. Tadinya Rainy mengira bahwa kotak-kotak tersebut adalah lemari. Namun ketika berjalan mendekat, Rainy menyadari bahwa kotak tersebut adalah sebuah Pod, yaitu sebuah kotak yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam film-film sebagai tempat untuk membekukan manusia. Rainy tidak mengetahui namanya, namun begitu melihat isinya, Rainy langsung bisa mengenalinya. Seluruh Pod itu berisikan mahluk-mahluk yang tidak pernah Rainy lihat sebelumnya. Tidak ada 1 mahluk yang sama. Setiap Pod berisikan mahluk yang berbeda-beda sehingga Rainy harus mengakui bahwa dugaan Arka kecil adalah benar. Ini adalah ruang koleksi.
"Mereka itu mahluk apa?" tanya Rainy pada Arka.
"Mahluk mitologi. Kalau kau suka membaca legenda dan myth, kau pasti bisa mengenali sebagian dari mereka. Coba lihat yang berada tepat di hadapanmu itu."
Rainy memandang lurus pada mahluk yang berdiri dengan mata tertutup rapat seolah sedang tidur di dalam Pod yang berada tepat di hadapannya. Tubuh bagian belakangnya menyerupai seekor singa, namun tubuh bagian depannya menyerupai seekor elang, lengkap dengan cakar-cakarnya yang berkuku tajam. Sungguh binatamg yang aneh!
"Itu adalah griffin." beritahu Arka kecil dalam kepala Rainy. "Kalau kau suka nonton film Harry Potter, kau pasti mengenali sosoknya yang dijadikan lambang dan nama asrama Griffindor."
"Kupikir mereka hanyalah karangan manusia belaka." Guman Rainy dengan takjub.
"Mereka nyata. Tapi Rain, kita harus segera menemukan Arka! Sepertinya iblis-iblis tersebut berbelok ke koridor luar dan tidak datang kemari. Ayo cepat pergi dan temukan dia!" jeritan Arka segera menyadarkan Rainy. Ia langsung berbalik kembali ke jalan yang tadi di tinggalkannya dan dengan gesit, berjalan tanpa suara. Setelah berjalan sejauh 10 meter, koridor tersebut membuka ke arah ruangan koleksi lainnya. Namun kali ini, tidak ada rak berisi tumpukan senjata maupun dummy dan manekin berbaju zirah yang berjajar di dinding. Seluruh isi ruangan tersebut adalah Pod. Banyak sekali pod yang berdiri berjajar di seluruh dinding ruangan hingga tempat itu terlihat begitu mendirikan bulu roma, terutama karena seluruh Pod berisikan manusia. Apakah Arka juga dijadikan koleksi Dan disimpan dalam Pod seperti ini juga?
"Majulah! Vibrasi rohku datang dari sudut sana!" beritahu Arka. Tanpa menunggu aba-aba, Rainy langsung berjalan menuju sudut yang ditunjuk Arka kecil. Di sepanjang jalan menuju ke sudut, Rainy harus melintasi pod-pod yang berisikan manusia-manusia tersebut. Laki-laki, perempuan, orang dewasa dan anak-anak, isi Pod itu sangat beragam. Mereka semua dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali dan dengan mata yang tertutup rapat. Wajah mereka masih merona segar yang menunjukkan bahwa mereka adalah manusia hidup.
"Manusia-manusia ini, siapa mereka?" tanya Rainy pada dirinya sendiri. Namun karena Arka kecil berada tepat di dalam dirinya, tentu saja ia bisa mendengar pertanyaan Rainy ini.
"Kau tidak mau tahu! Jangan membiarkan perhatianmu terbagi-bagi! Tugasmu adalah menyelamatkan tubuhku dan membawanya pulang dengan selamat. Waktumu tinggal 20... Tidak! 15 menit lagi!" tegur Arka kecil dengan nada dingin.
Rainy tahu bahwa Arka kecil mengatakan hal yang benar karena itu ia menguatkan hati dan berusaha keras untuk tidak melirik ke arah pod-pod tersebut. Rainy baru berhenti melangkah ketika ia sampai di pod yang berada paling ujung. Rainy menatap lurus ke dalam pod tersebut dan menemukan Arka yang, seperti juga para penghuni Pod lainnya, berdiri dalam keadaan terikat dengan pod. Wajahnya masih segar berseri dan matanya tertutup rapat. Dan seperti yang lainnya juga, tidak ada sehelai benangpun menutupi tubuhnya.