My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Nayla Dimana



Saat membuka matanya, yang pertama kali dilihat Nayla adalah langit-langit kamar berwarna putih dan lampu yang nyalanya menyilaukan matanya. Nayla mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat, sampai matanya berhasil menyesuaikan dengan terangnya cahaya lampu. Nayla memandang ke seluruh penjuru ruangan dan menemukan bahwa dirinya sedang berada di sebuah kamar yang menyerupai kamar rumah sakit. Tubuhnya sedang terbaring di atas ranjang dengan sebelah tangannya terhubung dengan sebuah botol berisi cairan infus.


Nayla ingat bahwa ia baru terjatuh dari tangga di rumah Ananda. Ia ingat bahwa sesuatu telah memukul kepalanya dengan sangat kuat dan bahwa ia melihat Kartini berdiri di atas tangga dengan membawa sebuah tongkat baseball. Nayla ingat bagaimana mata Kartini memandangnya dengan tatapan dingin dan bibirnya menyunggingkan senyum kejam. Nayla juga ingat wajah panik Ananda yang berlari mendekati tangga.


Ananda. Ibu pemuda itu baru saja menyerang tunangannya sendiri. Hatinya pasti hancur berkeping-keping. Nayla mencoba berpikir apa yang menyebabkan Kartini menyerangnya? Nayla mengenal Kartini sebagai wanita yang sangat baik. Kartini adalah sahabat ibunya saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran. Saat lulus Sarjana Kedokteran, Ibunya melanjutkan pendidikan KOAS, sedangkan Kartini menikah dengan Ayah Ananda dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya. Mereka baru bertemu kembali 1,5 tahun yang lalu dalam sebuah Reuni.


Nayla selalu terpesona pada Kartini. Wanita tersebut bukan hanya cantik dan awet muda, ia juga selalu berpenampilan trendy dan mempesona. Kepribadiannya anggun, lincah dan sangat royal. Saat pertama kali bertemu dengan Nayla, Kartini menghadiahinya sebuah tas branded keluaran terbaru yang setidaknya bernilai 40 juta, membuat Nayla pusing karena merasa kewalahan. Sejak itu Nayla menjadi cukup dekat dengan Kartini, karena setiap kali Kartini mengajak Ibunya untuk bertemu, mereka selalu mengajak Nayla serta. Kartini bahkan berkata bahwa karena ia tidak memiliki anak perempuan, ia telah menganggap Nayla sebagai anaknya sendiri.


6 bulan setelah itu, Kartini memperkenalkan Ananda pada Nayla. Awalnya Nayla tidak terlalu tertarik pada Ananda karena Ananda selalu bersikap dingin dan menjaga jarak terhadap dirinya. Saat duduk bersebelahan, Ananda bersikap seolah-olah ia tidak melihat keberadaan Nayla dan seringkali dengan sengaja mengabaikannya. Anehnya Kartini tampak sangat suka melihat Ananda dan Nayla duduk bersama. Kartini lalu mengusulkan untuk menjodohkan Ananda dengan Nayla.


Nayla ingat, hari itu, saat ide pertunangan terucap dari bibir Kartini, adalah kali pertama Ananda memandang lurus tepat ke kedua matanya. Nayla juga ingat betapa jantungnya berdetak kencang ketika menerima tatapan tersebut. Itu adalah kali pertama Nayla mempertimbangkan Ananda sebagai seorang pria, daripada hanya sebagai putera tantenya yang sangat menyebalkan. Kedua pasang orangtua menjadi sangat terkejut sekaligus senang ketika Ananda dan Nayla menerima pertunangan tersebut tanpa banyak komentar.


Dengan status baru sebagai tunangan Ananda, pintu rumah Kartini terbuka lebar untuk Nayla. Dengan alasan ingin bisa lebih akrab dengan calon menantunya, Kartini kerap mengundang Nayla untuk berkunjung ke rumahnya. Lewat kunjungan itu perlahan-lahan hubungan antara Nayla dan Ananda mencair. Nayla menyadari bahwa Ananda bukannya tak memiliki ketertarikan pada dirinya. Namun Ananda sangat pemalu. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan wanita yang disukainya. Dan ia juga tak suka menunjukan perasaannya di hadapan orang banyak. Itulah sebabnya walaupun bersama berjalannya waktu, Ananda menjadi semakin hangat dan mesra pada Nayla, di hadapan orang lain, Ananda masih sedingin biasanya. Semuanya rasanya baik-baik saja. Selama itu hubungannya dengan Kartini juga tidak pernah mengalami perubahan. Lalu mengapa Kartini menyerangnya?


Nayla mencoba menggerakkan tangan dan kakinya dan bersyukur karena tak merasakan sedikitpun rasa sakit. Apakah dokter telah memberinya begitu banyak penghilang nyeri agar Nayla bisa terhindar dari rasa sakit? Apapun itu, Nayla merasa bersyukur karena ia agak takut pada rasa sakit.


Nayla bangun dari tidurnya dan duduk di sisi ranjang dengan hati-hati karena tidak ingin mengganggu aliran infus di tangan kirinya. Menyadari bahwa tubuhnya terasa ringan, Nayla kemudian bangkit dan berdiri di sisi ranjang. Ia menoleh untuk memeriksa selang infusnya, namun dengan terkejut menyadari bahwa selang infus tersebut tidak terpasang pada tangannya. Hah? Bukankah tadi ia melihat dengan jelas bahwa infus sedang terpasang di tangannya? Mata Nayla menelusuri selang infus yang terus memanjang menuju ranjang. Nayla menoleh dan hampir melompat karena terkejut. Di atas ranjang tempatnya tadi berada, ia melihat dirinya sendiri sedang terbaring dengan mata tertutup rapat.


Itu adalah saat ketika Nayla menyadari bahwa dirinya hanyalah sesosok roh tanpa tubuh yang nyata. Sedangkan tubuhnya sendiri masih berbaring di atas ranjang, terhubung dengan selang infus dan selang oksigen, dan sedang dalam keadaan koma. Belum sempat Nayla menemukan dimana ia sedang berada, sesuatu menarik rohnya untuk meninggalkan tubuhnya dan tiba-tiba, dalam sekejap mata saja, Nayla telah kembali ke rumah besar berwarna putih tempat Kartini mencoba membunuhnya.


Ketika Nayla membuka mata untuk kedua kalinya, ia telah berada di dalam kamar Ananda. Pria itu sedang duduk di atas sofa yang terletak di sisi ranjang sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bahunya tampak berguncang pelan dan suara isak tertahan terdengar jelas. Ananda sedang menangis, pikir Nayla dengan terkejut. Nayla tak pernah melihat Ananda menangis. Saat sakit, Ananda bisa tampak lemah dan sedikit manja, namun tak pernah sekalipun Ananda terlihat setidak berdaya ini; Menangis mengharu biru dalam kesendirian. Respon pertama yang Nayla lakukan adalah mengulurkan tangan untuk menyentuh dan memeluk Ananda. Namun ia tak bisa menyentuh Ananda. Tangannya hanya lewat dan menembus tubuh Ananda. Sekarang Nayla adalah roh. Ia tidak memiliki tubuh nyata yang bisa dilihat dan disentuh atau menyentuh. Ia hanya bisa melihat dan berada di sisi Ananda tanpa sepengetahuan pria itu. Nayla hanya bisa memandang Ananda tanpa daya.


Suara gagang pintu diputar dari luar kamar mengejutkan keduanya. Ananda mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah pintu. Matanya terlihat merah dan wajahnya basah oleh air mata, membuat Nayla yang melihatnya merasa hatinya sakit. Ananda berjalan dengan langkah-langkah panjang menuju pintu, membuka kuncinya dan membuka pintu tersebut dengan kasar, mengejutkan Kartini yang berada di baliknya.


"Ma, dimana dia? Dimana kau sembunyikan Nayla?" tanya Ananda dengan suara panik, mengejutkan Nayla yang berdiri di belakangnya. Menyembunyikan? Apakah Kartini yang membawanya ke Rumah Sakit dan tidak memberitahukan pada Ananda di Rumah Sakit mana Nayla dirawat? Kartini mendorong Ananda memasuki kamar dan mengunci pintu di belakangnya.


"Kau tidak perlu tahu." Jawab Kartini. "Mulai sekarang, pelacur kecil itu tak ada hubungannya lagi denganmu!" ucap Kartini tegas.


Pe... Pelacur kecil? Kartini memanggilnya Pelacur? Nayla tercengang. Dosa apa yang telah ia perbuat sehingga Kartini yang tadinya sangat baik padanya, menjadi semarah ini?


"Nayla bukan pelacur, ma!" bantah Ananda keras.


"Dia pelacur! Beraninya dia menggodamu dan membuatmu bermesraan dengannya! Kalau itu bukan pelacur, lalu apa namanya?" balas Kartini murka.


"Nayla adalah tunanganku, ma! Tunangan yang mama pilihkan untukku! Kami akan menikah. Lalu apa salahnya kalau aku memeluk dan menciumnya?" Raung Ananda tak kalah keras.


"Kau bertunangan dengannya bukan untuk bermesraan dengannya! Dia menjadi tunanganmu hanya untuk menyenangkan hati Papamu." tegas Kartini dengan wajah berang. Kartini lalu berjalan mondar-mandir di hadapan Ananda. Kedua tangannya mengepal kuat dan bergerak-gerak dengan gelisah.


"Wanita jelek itu, mana pantas ia menjadi istrimu! Seharusnya ia bersyukur bahwa aku sudah menjadikannya calon istrimu dan tetap duduk diam dengan patuh seperti biasanya. Tapi beraninya ia merayumu!" Kartini menceracau seperti orang gila. "Aku tahu! Selama ini dia pasti berpura-pura! Dia berpura-pura tidak menyukaimu supaya aku mengijinkannya untuk menikah denganmu! Tapi untung aku melihat aksinya sebelum terlambat! Dasar pelacur!"


"Apa kau menyukainya?" tanya Kartini. "Tidak kan? Dulu kau bilang padaku bahwa kau tidak menyukainya." menyadari kesalahannya, Ananda menurunkan volume suaranya dan menjawab dengan lebih hati-hati.


"Awalnya aku memang tidak punya perasaan apa-apa padanya. Tapi kemudian kau menyuruh kami bertunangan. Kupikir aku seharusnya mencoba untuk mengenal tunanganku. Ternyata dia gadis yang menyenangkan. Lalu karena kau setuju untuk menjadikan dia calon istriku, kupikir tidak apa-apa bila aku menyukainya." kata-katanya membuat ekspresi Kartini berubah dari marah menjadi terluka. Membuat Ananda mengerutkan keningnya dan menjadi semakin waspada.


"Apa kau mencintainya?" Tanya Kartini lagi.


Ananda diam, tidak menjawab.


"Kau tidak mencintainya kan? Aku mendengar kau bilang padanya bahwa kau mencintainya, tapi kau pasti bohong kan?" tanya Kartini lagi.


"Iya, ma. Aku berbohong." Sahut Ananda pelan. Jawaban Ananda tampaknya membuat Kartini girang karena ekspresi terluka di wajahnya langsung menghilang, berganti dengan senyum liar yang menakutkan.


"Aku tahu! Aku tahu kalau kau berbohong! Itu karena kau hanya mencintaiku! Karena hanya aku yang layak kau cintai!" ucap Kartini dengan gembira.


"Aku tidak mencintai Nayla, ma. Karena itu tolong lepaskan dia ya? Aku tidak akan mendekatinya lagi dan kita bisa memutuskan pertunangan ini. Tapi tolong lepaskan Nayla ya?" pinta Ananda dengan hati-hati.


"Tidak. Nayla harus dihukum karena sudah berani merayumu!" Tolak Kartini keras.


"Kau kan sudah menghukumnya, ma! Kau sudah memukulnya dan membuatnya jatuh dari tangga. Bukankah itu sudah cukup?" bujuk Ananda.


"Tidak cukup!" pekik Kartini tiba-tiba.


"Apa kau lupa," tanya Kartini. Wajahnya menggambarkan obsesi dan kegilaan yang membuat bulu roma meremang. "bahwa tak ada satu wanitapun yang boleh tetap hidup setelah berani merayumu!"


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Guys, I missed my second UP tadi malam. Tolong maafkanlah Author yang masih berkerja dengan sangat lambat ini ya. Sebagai gantinya saya akan mencoba untuk up chapter ekstra dalam minggu ini, tapi tidak tahu kapan waktunya karena saya akan sangat sibuk dalam beberapa hari ini.


Untuk mengobati kekecewaan kalian, up hari ini akan diterbitkan lebih cepat dari biasanya. Semoga menghibur.


P.S. Apa kalian sudah dengar bahwa Covid Varian baru mungkin telah mengembalikan status endemi Covid-19 menjadi pandemi? Karena itu kembali kencangkan Masker dan rajin-rajinlah cuci tangan ya.


Please stay save and stay healthy, always.


Freya