
“Bersandiwara? Apa maksudmu?” Tanya Lara. Nada tidak berdosa yang terdengar berlebihan dalam suaranya membuat Raka ingin melemparkan cangkir di hadapannya ke wajah wanita tersebut. Ia bisa mentolerir apapun apabila itu datang dari Lara dan Guru Gilang, tapi bukan berarti Raka akan membiarkan Rainy dipermainkan oleh mereka disaat gadis itu sedang dalam kondisi yang begitu tertekan.
“Jangan bermain-main denganku. Aku tahu pasti bahwa bukan hal yang sulit bagimu untuk memberikan perisai pada Rainy dan Oom Ardi sekaligus. Mengapa berbohong dan mengatakan bahwa kau hanya bisa melindungi 1 orang saja?” Tanya Raka dengan ekspresi wajah yang sangat dingin. Raka sangat menghormati Guru Gilang dan Lara, namun bahkan mereka sekalipun tidak akan Raka ijinkan untuk mempermainkan Rainy.
“Apa kau khawatir?” Tanya Lara.
Raka tidak menjawab. Namun matanya menatap lurus ke arah Lara dengan dingin. Menerima tatapan Raka yang biasanya selalu mampu membuat pegawainya gemetar ketakutan, hanya membuat Lara tersenyum geli. Lama mereka hanya saling berpandangan dalam diam sebelum kemudian Lara menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi dan melipat kedua tangannya ke dada.
“Aku terpaksa melakukannya.” Ucap Lara tiba-tiba, membuat Raka terpana.
“Apa maksudmu?” Tanya Raka.
“Setiap kali anggota keluarga Bataguh yang terpilih mencapai usia 24 tahun, mereka harus menandatangani buku perjanjian dengan Iblis, kau tahu itu kan?” Tanya Lara. Raka mengangguk.
“Sebulan sebelum hari itu datang, iblis akan melakukan segala cara untuk menghancurkan perlawanan mereka. Apa yang terjadi pada Rainy adalah salah satu cara iblis untuk menghancurkan mental Rainy dan ini adalah ujian yang harus ia lalui. Ia harus membuktikan bahwa ia akan mampu untuk teguh pada pendiriannya, tak perduli apapun yang dilakukan iblis untuk menghancurkan tekadnya. Ini sesuatu yang harus Rainy hadapi sendiri. Aku tak punya hak untuk menghentikannya, bahkan walaupun aku mampu dan bersedia melakukannya.” Lanjut Lara.
“Ulang tahun Rainy masih 45 hari lagi.” Bantah Raka.
“Aku tahu. Aku juga tidak tahu mengapa ujian untuk Rainy datang lebih cepat.” Lara mengangguk.
“Melihatnya menghadapi ini semua sungguh sangat sulit bagiku.” Keluh Raka. “Di depan Papa dan Mamanya, serta di depan semua orang, ia memasang wajah tegar. Namun bila ia hanya berdua saja denganku barulah ia melepaskan semua topengnya dan menunjukan kondisinya yang sesungguhnya. Aku khawatir bila ini terus berlanjut, sebelum ulang tahunnya yang ke 24 tiba, ia akan mati karena kelelahan.”
“Apa kau pikir aku tidak merasakan hal yang sama?” Sahut Lara. “Aku juga sangat menyayangi Rainy sama sepertimu! Sangat berat bagiku melihat ia tersiksa seperti itu! Itu sebabnya aku memberikan tawaran tersebut pada Rainy. Bila Rainy merasa tidak sanggup lagi dan meminta pertolongan untuk memberikan shield tersebut pada dirinya juga, aku akan melakukannya untuk melindungi Rainy, tidak perduli apapun akibatnya. Dan itu tidak akan berlangsung hanya selama 2 minggu saja seperti yang kusampaikan tadi, tapi akan bersifat permanen. Namun hal itu akan membuat Rainy gagal dalam menjalani ujiannya. Tapi untunglah aku tidak salah menilainya! Rainy akan melindungi semua yang dicintainya dan tidak takut pada terror iblis. Aku sangat bangga padanya!”
“Tidak dapatkah kau melakukan sesuatu untuk membantunya?” Tanya Raka.
“Emm. Tentu saja bisa.” Lara mengangguk. “Itu sebabnya aku dan Papa memutuskan untuk memberikan kalung tersebut lebih cepat dari seharusnya.”
“Kalung? Ah, maksudmu batu permata lavender quartz itu?” Tanya Raka lagi.
Lara mengangguk.
“Apa gunanya batu tersebut?” sambung Raka.
“Bukankah Papa sudah menjelaskannya? Ia memiliki kemampuan untuk meningkatkan 50% energi spiritual penggunanya.” Beritahu Lara.
“Hanya itu?” Tanya Raka.
“Tentu saja tidak!” Sahut Lara sambil tersenyum penuh arti.
“Apa lagi?” Kejar Raka.
“It’s a cheat.” Ucap Lara.
“You already told me that.” Tukas Raka dengan agak kesal. Lara menggelengkan kepalanya.
“Apa itu?” Tanya Raka ingin tahu.
“Suatu saat nanti, bila Rainy berada dalam bahaya, batu permata tersebut akan dapat menyelamatkan nyawanya.” Ucap Lara.
“Sebegitu hebatnya?” Tanya Raka tak yakin.
“Emm. Benar. Sebegitu hebatnya!” Lara kembali mengangguk.
“Bagaimana caranya?” Tanya Raka lagi.
“Kau tidak perlu tahu dulu sekarang karena waktu akan menjawab pertanyaan tersebut untukmu.” Tolak Lara. “Tapi kau harus memberitahu Rainy bahwa bila pada suatu saat ia berada dalam bahaya, ia harus meneteskan darahnya ke atas batu permata tersebut untuk mengaktifkannya. Hanya dengan cara begitulah batu permata tersebut akan mengenali Rainy sebagai pemiliknya sehingga dapat menyelamatkan nyawa Rainy di saat-saat genting.” Beritahu Lara.
“Baiklah.” Raka mengangguk.
Lara memandang Raka dan untuk pertama kalinya sejak ia duduk di depan meja tersebut, di hadapan Raka memberikan senyumnya yang biasanya; senyum seorang gadis belia yang lembut, feminin dan penuh aura tidak berdosa yang sulit untuk membuat orang lain tidak menyukainya.
“Raka, aku tahu kau mengkhawatirkan Rainy. Tapi Rainy adalah gadis yang kuat. Kau harus mempercayainya.” Ucap Lara. Raka menghela nafas panjang. Benar, Rainynya adalah gadis yang kuat. Raka juga percaya hal tersebut. Namun tetap saja ia tidak bisa berhenti merasa khawatir.
***
Rainy tertidur dengan nyenyak dan kali ini ia tidak dihantui oleh mimpi buruk. Rainy mengedip-ngedipkan matanya dengan sejenak lupa dimana ia sedang berada sampai sebuah suara tawa terdengar cukup nyaring di atas kepalanya. Rainy mendongak dan mendapati ayahnya sedang menatapnya sambil tersenyum. Rainy balas tersenyum dan bertanya,
“Apa Papa sudah bangun?” Pertanyaannya membuat senyum Ardi bertambah lebar.
“Apa tidak terbalik, Rain? Harusnya papa yang nanya kan!” Ejek Ardi dengan geli. “Papa sudah terbangun sejak tadi, tapi anak Papa yang satu ini sudah mirip batang kayu; tidur dengan tidak bergerak sama sekali. Papa sampai harus mengecek berulang kali apakah kamu masih bernafas atau tidak.”
“Eh? Apa Rainy tidur sebegitu lamanya?” Tanya Rainy sambil mengerutkan keningnya. Pelan-pelan ia bangkit dari ranjang dan merentangkan kedua tangannya ke atas kepala. Rainy mengeliat dengan nikmat. Ini adalah tidur terenak setelah beberapa hari ini ia terus diserang mimpi buruk yang rasanya tidak ada akhirnya. Ardi menganggukkan dagunya ke arah jendela yang saat itu sedang dipunggungi Rainy. Rainy menurunkan tangannya dan memutar tubuh untuk memandang ke arah jendela tersebut. Matanya langsung membesar ketika melihat bahwa hari sudah gelap dan menyadari bahwa lampu-lampu sudah menyala terang. Bukankah hari baru memasuki jam 12 siang ketika ia jatuh tertidur tadi? Mengapa sekarang langit sudah gelap?
“Haaaaah… Aku tidur sampai malam?” Tanya Rainy dengan terkejut.
“Emm. Kau tidur sejak siang sampai malam begini, tanpa bergerak sedikitpun. Bahkan ketika dokter datang untuk memeriksa Papamu, kau masih tidur dengan nyenyaknya. Sungguh memalukan!” Beritahu Ratna yang sedang duduk di sofa sambil mengupas sebuah apel.
“Hah? Kenapa mama tidak membangunkanku?” Tanya Rainy dengan bingung.
“Eeeeh, siapa bilang mama tidak mencoba membangunkanmu! Kami sudah mencoba memanggil namamu dan menggerakkan tubuhmu, tapi sama sekali tidak berguna!” Beritahu Ratna yang memasang ekspresi tidak setuju. “Bagaimana bisa anak gadis tidur seperti mati? Pakai ngiler pula! Bikin malu saja!” Mendengar kata-kata Ratna, mata Rainy langsung terbelalak.
“Mama bohong ah! Aku kan nggak pernah ngiler!” tolaknya dengan panik. Ardi kemudian mengulurkan sebuah cermin mungil milik Ratna pada putrinya.
“Coba aja lihat sendiri apakah kau ngiler atau nggak.” Suruh Ardi sambil tersenyum geli. Rainy menerima cermin tersebut dan langsung menatap wajahnya yang terpantul di dalam cermin. Benar saja, terdapat sebuah noda mencurigakan di salah satu sudut mulutnya.
“Argh!” Jerit Rainy dengan terkejut. Ia langsung turun dari ranjang Ardi dan berlari ke kamar mandi dengan kaki telanjang, diiringi oleh gelak tawa Ardi dan Ratna.