
Dan begitulah, saat Rainy membuka mata, penyiksaannya dimulai kembali. Ia harus menghadapi kembali penderitaan akibat melihat orang tua dan suaminya disiksa oleh Lilian dan kroni-kroninya. Meskipun Rainy tahu bahwa semua itu adalah ilusi yang dibangkitkan oleh menara kultivasi untuk membuka sumbatan pada cakra tanahnya, namun hal itu tidak mengurangi rasa sakit yang diakibatkan olehnya. Begitu sakitnya, sampai menyebabkan perubahan pada aktivitas jantung Rainy sehingga membuat Arka kecil harus membangunkannya dengan paksa dari ilusi tersebut demi menghindari masalah yang lebih jauh. Namun bangun dari ilusi sebelum ilusi tersebut selesai berarti Rainy gagal melewati ujian dan harus mengulanginya kembali. Menyadari bahwa ia memiliki alasan yang sangat kuat untuk berkultivasi, begitu Rainy berhasil mengendalikan reaksi fisiknya, setelah memerintahkan hatinya untuk menjadi kuat, Rainy menggeretakkan giginya dan kembali memasuki ilusi tersebut.
Berulang kali ia mencoba, namun berulangkali pula Rainy mengalami kegagalan. Namun berkali-kali pula dia bangkit dan mencoba kembali. Setiap kali ia harus melihat bagaimana kedua orangtua dan suaminya disiksa dalam berbagai cara oleh Lilian. Awalnya Rainy selalu menghadapinya dengan penuh rasa takut, sakit hati dan air mata. Namun setelah mengalami hal yang sama berkali-kali, pelan-pelan rasa takutnya memudar, sakitnya menghilang dan airmatanya mengering. Siapa sangka bahwa pengulangan yang terjadi berkali-kali terhadap penyiksaan tersebut membawa efek desensitisasi bagi Rainy, dan membuat hatinya pelan-pelan menjadi mati rasa. Getaran tidak teratur ritme jantungnya menjadi semakin berkurang hingga pada akhirnya menjadi tenang. Ekspresi Rainy, dari penuh dengan rasa takut dan kesedihan, semakin lama semakin tenang, hingga akhirnya berganti menjadi ekspresi dinginnya yang legendaris. Dari butuh waktu 16 jam untuk beristirahat setelah menghadapi sebuah ilusi, menjadi butuh hanya beberapa tarikan nafas saja untuknya bisa kembali ke dalam ilusi yang sama. Setelah sebulan disiksa oleh ilusi yang sama, Rainy akhirnya berhasil menghadapi ilusi tersebut tanpa mengalami lonjakan emosi sedikitpun. Yang tertinggal hanya rasa jijik yang besar pada Lilian. Rasa takutnya telah berganti menjadi tekad untuk segera menjadi lebih kuat agar bisa segera membalas semua penderitaan yang Rainy harus hadapi akibat perbuatan iblis tersebut.
Begitu Rainy berhasil melewati ilusi tersebut dengan mulus, Rainy bisa merasakan sebuah gerakan terjadi pada tulang ekornya. Rasa hangat menyebar dari sana dan mengalir cepat ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa nyaman yang membuat tubuh Rainy menjadi lebih rileks. Rainy tahu bahwa sumbatan pada cakra tanahnya telah terbuka dan kolam energi cakra tanahnya mulai berputar dengan bebas. Langkah pertamanya untuk memasuki dunia kultivasi telah dimulai.
Setelah menyelesaikan ujian di lantai pertama, Datuk Sanja membawa Rainy naik ke level berikutnya dan ujian baru pun dimulai. Seperti level 1, level 2 sampai 7 merupakan level yang ditujukan untuk membuka sumbatan pada cakra-cakra. Setiap ujiannya berupa ilusi yang harus dilewati oleh Rainy dengan berani. Sebagian bisa Rainy lalui dengan mudah, namun sebagian lagi membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan lebih dari setahun untuk bisa diselesaikan. Setiap kali sebuah sumbatan pada cakra terbuka, Rainy bisa merasakan bahwa tubuhnya terasa dipenuhi oleh energi dan kekuatannya semakin bertambah. Membuat Rainy menjadi semakin optimis dan tak sabar menunggu saat-saat ketika ia berhasil mendaki semua lantai dan menyelesaikan setiap tantangan pada tiap lantainya. Saat itu ia pasti sudah berubah menjadi sangat kuat! Begitu pikir Rainy dengan girang. Bahkan Datuk Sanja pun merasa gembira pada antusiasme yang Rainy tunjukan.
Pada lantai ke 10, bentuk latihan yang di program oleh menara kultivasi mengalami perubahan. Setelah mengaktifkan semua cakra utama dan beberapa cakra lainnya pada 9 lantai sebelumnya, di lantai 10, Rainy digembleng untuk belajar berbagai ilmu bela diri pemula yang menurut Datuk Sanja merupakan ilmu wajib untuk dikuasai oleh keturunan Hanyi. Tak tanggung-tanggung, 5 ilmu ofensif, 5 ilmu defensif dan 5 ilmu yang digunakan untuk meningkatkan ketahanan jiwanya menjadi materi yang wajib di kuasai oleh Rainy. ia menghabiskan waktu selama 90 tahun untuk bisa menguasai semua ilmu tersebut secara sempurna sehingga total seluruh waktu yang dihabiskan Rainy dalam menara kultivasi mencapai 95 tahun. Itu berarti Rainy hanya memiliki waktu 5 tahun lagi untuk menggenapi janji 100 tahun berlatih dalam menara kultivasi. Akhirnya Rainy berhasil meninggalkan lantai 10 untuk menuju lantai terakhir dimana Rainy akan menghadapi ujian akhir dari semua pelajaran yang ia peroleh sepanjang 95 tahun dalam menara kultivasi.
Setelah 95 tahun berlalu, Rainy tidak lagi terlihat layaknya gadis muda yang penuh energi hidup seperti saat ia baru menginjakkan kaki di lantai dasar. Oh, dia masih terlihat semuda seperti 95 tahun sebelumnya karena di dunia kecil milik Datuk Sanja ini, gerakan waktu tidak memberikan pengaruh pada tubuh manusia sehingga prose penuaan tidak terjadi. Namun waktu panjang yang dihabiskan dalam tempaan menara kultivasi yang ekstrim dan kejam, diikuti oleh wawasan tentang Tuhan dan alam semesta yang diperoleh setiap kali Rainy berhasil melampaui level kultivasi tertentu, membuat Rainy tumbuh dewasa. Menara Kultivasi berhasil menempa kepribadian Rainy dan membuatnya menjadi 100 kali lebih cerdas dan lebih bijak daripada sebelumnya. Selain itu, latihan yang dilaluinya telah membersihkan semua ketidak murnian dari tubuhnya, memperbaharui organ-organnya dan memperkuat tulang-belulangnya. Merubah fisik manusia Rainy yang rapuh dan rentan pada penyakit dan luka, menjadi ribuan kali lebih kuat dan lebih sempurna. Setelah berlatih selama 95 tahun, Rainy berada di fondasi awal kultivasi yang memperpanjang harapan hidupnya menjadi 200 tahun. Dan di atas semuanya, perubahan yang terlihat paling pertama saat orang lain memandangnya adalah pada kulit dan wajahnya. Kulit Rainy terlihat semakin putih, segar, sehat dan mulus, seolah-olah ia adalah seorang gadis yang baru berusia 15 tahun, begitu muda dan sempurna. Wajahnya masih sama seperti wajah Rainy sebelumnya, namun profilnya menjadi lebih detail dan lebih sempurna. Selain itu sorot matanya begitu dalam dan berbinar-binar. Ia terlihat seperti bidadari yang baru turun dari surga; cantik, bersih, suci dan tanpa dosa. Sangat sempurna! Sayangnya, wajah tanpa ekspresinya membuat ia terlihat sangat sulit untuk didekati. Dan bila matanya menyorot tajam, ia akan mampu membuat yang memandangnya gemetar karena takut.
Sebagai seorang kultivator yang telah mendidik ratusan kultivator lainnya dalam keluarganya, Datuk Sanja sudah melihat berbagai macam perubahan manusia ketika mereka melepaskan sosok manusianya dan menggantinya menjadi tubuh seorang kultivator, namun ia tidak pernah melihat ada yang seperti Rainy. Ia masih sedingin dan sekeras kepala seperti biasanya. Setidaknya ia tidak berubah menjadi congkak dan tinggi hati seperti beberapa kultivator berkepribadian buruk yang pernah ditemui Datuk Sanja sebelumnya. Karena bila Rainy berubah menjadi seperti itu karena merasa lebih kuat dan tidak terkalahkan, Datuk Sanja sudah pasti akan melemparkannya kembali ke lantai pertama dan menyuruh Rainy untuk mengulang semua ujiannya demi memperbaiki karakter kepribadiannya. Saat ini Datuk Sanja merasa sangat puas pada pertumbuhan Rainy sebagai seorang pribadi.
Sekarang, berdiri tepat di depan pintu masuk lantai terakhir, Rainy memandang ke depan dengan mulut terbuka. Di hadapannya, berbaris sederet demi sederet, sejumlah orang dalam berbagai kostum pejuang. Apa ini? Cosplay? Pikir Rainy sambil mengamati kostum yang dikenakan orang-orang dihadapannya tersebut. Ia bisa menandai identitas sejumlah kostum tersebut. Inuyasha, Aang dari Avatar, Monkey D. Luffy, Goku, Edward Erlich, Himura Kenshin (Hei, ia sangat tampan!), Howl dari Howl of Moving Castle... Terlalu banyak untuk diidentifikasi satu demi satu. Mungkin terdapat sekitar 300 orang yang memenuhi stadion di hadapannya. Ya, lantai 11 adalah sebuah stadion berkapasitas 10.000 dengan sebuah panggung luas terletak di tengah-tengah dan kursi-kursi penonton berjajar mengelilingi dalam deretan yang rapi. Melihat ini, Rainy mencondongkan tubuhnya ke arah Datuk Sanja dan bertanya,
"Datuk, apa yang akan kita lakukan disini?"
"Bertarung." sahut Datuk Sanja.
"Bertarung? " ulang Rainy. Ia lalu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah cosplayer di hadapan mereka. "Melawan mereka?"
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Datuk Sanja.
"Mereka terlihat seperti cosplayer." sahut Rainy dengan jujur.
"Mereka bukan cosplayer." bantah Datuk Sanja. "Mereka adalah NPC yang diciptakan oleh menara Kultivasi dengan menggunakan karakter anime sebagai dasarnya. Jangan meremehkan mereka karena para NPC ini bukan hanya terlihat menyerupai tokoh anime yang kau kenal dengan baik, tapi juga memiliki kekuatan yang sama persis seperti tokoh-tokoh tersebut. NPC sengaja menciptakan mereka untuk dijadikan lawan tandingmu."
"Ah? Saya harus melawan mereka semua?" tanya Rainy dengan tercengang.
Mendengar ini, Rainy tersenyum geli.
"Tentu saja tidak!" bantah Rainy cepat. "Tapi mereka terlihat tidak masuk akal."
"Apa kau pikir keberadaan kultivator di dunia ini masuk akal di mata dunia luar?" bantah Datuk Sanja lagi. Untuk sesaat Rainy terdiam. Namun kemudian ia mengangguk setuju.
"Lalu sekarang saya harus apa?" tanya Rainy.
"Bertarung."
"Satu lawan satu?"
"Apakah kau ingin melawan 2 atau 5 orang sekaligus?" tanya Datuk Sanja. Rainy langsung menggelengkan kepalanya.
"Satu lawan satu is good! Jangan ditambahi!" ucap Rainy cepat. Ia merasa cukup percaya diri dengan kemampuan bertarungnya, namun ia tahu bahwa sebagai kultivator pemula, kemampuannya tidak ada apa-apanya. Melawan 2 atau 5 sekaligus? Melawan satu orang saja Rainy belum yakin bisa menang, apalagi bila harus melawan lebih dari itu.
Melihat penolakannya, Datuk Sanja mengangguk.
"Pergilah ke arena dan undang lawanmu satu demi satu." suruh Datuk Sanja.
Rainy mengangguk dan dengan patuh melompat dalam sebuah lompatan yang sangat tinggi, dan mendarat di atas panggung. Setelah sampai di atas panggung, ia melemparkan pandangannya ke arah NPC yang berdiri tanpa suara di depannya. Mata mereka semua tertuju ke arahnya namun tidak ada cahaya kehidupan terlihat di mata-mata tersebut. Sure enough, mereka adalah NPC yang tidak hidup dan tidak memiliki pemikiran sendiri. Pertama kali Rainy berhadapan dengan NPC adalah saat ia berada di lantai sepuluh, dimana NPC menjadi lawan tandingnya sehari-hari. Namun NPC di lantai tersebut hanyalah mengambil sosok pria berpakaian hitam-hitam layaknya ninja. Namun kali ini, ia harus berhadapan dengan NPC yang penampilan dan karakternya sebagian besar sangat dikenal oleh Rainy yang merupakan penonton setia anime. Setiap dari mereka memiliki keunikan yang sebagian sangat tidak masuk akal. Jujur saja, Rainy sangat tertarik untuk mencoba.
Lalu, siapa yang harus ia hadapi untuk pertama kali? Rainy kembali memandang berkeliling, dari satu wajah ke wajah yang lain. Beberapa saat kemudian matanya berhenti pada sosok pria tampan berambut merah oranye yang mengenakan kimono dan memiliki luka berbentuk X di wajahnya.
"Himura Kenshin, you are the lucky number one. Kemarilah." panggil Rainy, yang tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum, membuat bibir Datuk Sanja berkedut.
'Untung saja suamimu yang pencemburu itu tidak melihat caramu memanggil NPC favoritmu, nak. Entah apa yang akan ia lakukan bila saat ini ia ada disini.' pikir Datuk Sanja dengan geli.