My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Lauri



"Lauri?" tebak Rainy. Datuk Sanja mengangguk.


"Bukankah dia sangat tampan?" ucap Datuk Sanja dengan kerlip jenaka di matanya. Haha! Memuji Lauri sama dengan memuji dirimu sendiri kan, Datuk? Pikir Rainy dalam hati. Namun dengan patuh Rainy menganggukkan kepalanya.


"Gadis yang bersamanya itu adalah salah satu dari 2 orang kakak perempuan kembarnya yang bernama Maharati. Kakaknya yang satunya lagi bernama Mawinei. Mereka bukan kembar identik, namun sangat akrab. Mawinei terkenal sangat cantik dan Maharati terkenal sebagai gadis yang sangat cerdas, walaupun tidak secantik kembarannya. Mereka berdua adalah putri kebanggaan Datuk Rumbun yang dikenal sebagai Pendewa paling berpengaruh di Hulu Barito pada saat itu."


"Pendewa? Apa itu Pendewa, Datuk?" tanya Rainy.


"Pendewa di jaman sekarang disamakan sebagai dukun. Atau dalam adat Dayak yang masih animisme disebut Belian." cerita Datuk Sanja.


"Bukankah semua orang Bakumpai sudah beragama Islam. Mengapa mereka masih mempercayai seorang Belian?" tanya Rainy.


"Walaupun telah beragama Islam, Dayak Bakumpai masih memegang erat kepercayaan ritual orang Dayak pada umumnya. Bisa dikatakan bahwa Bakumpai adalah suku yang memadukan antara budaya Dayak dan budaya Islam yang dibawa oleh orang melayu pada masa itu, yang berarti termasuk di dalamnya juga terdapat budaya melayu itu sendiri. Walaupun masih memegang kepercayaan ritual adat masyarakat Dayak, namun bentuk ritualnya berubah, sesuai dengan pengaruh Islam yang dianut mereka. Jampi-jampi dan mantera-mantera yang digunakan menggunakan campuran bahasa Bakumpai dan doa-doa Islam yang diambil dari potongan ayat suci Al Qur'an. Ritualnyapun diberi nama yang berbeda, yaitu Badewa."


"Menurut kisahnya, ketiga anak Datuk Rumbun memiliki kekuatan spiritual yang tidak kalah dari ayah mereka, terutama kedua putri kembarnya. Namun karena Lauri adalah seorang pria, maka sejak belia, Laurilah yang dilatih untuk menggantikan ayahnya kelak. Namun Lauri sendiri tidak memiliki minat pada ilmu kebatinan. Ia hanya ingin hidup sebagai pedagang biasa, kalau perlu melakukan perjalanan keliling dunia naik perahu sambil berdagang."


"Mimpi yang besar." komentar Rainy.


"Emm. Untuk anak suku yang terkurung di daerah terpencil dan terbelakang di masa itu, impiannya sangatlah visioner." ucap Datuk Sanja menyetujui.


Saat itu Lauri dan Maharati sedang bersenda gurau dengan ramai dalam bahasa Bakumpai yang terlalu cepat dengan logat yang sangat kental sehingga sulit untuk dipahami oleh Rainy. Walaupun ia tidak bisa memahami semuanya, Rainy berhasil menangkap esensi percakapan mereka.


Waktu itu Lauri menggoda kakaknya yang menurutnya sedang mengenakan pakaian yang terlalu berlebihan seolah-olah hendak pergi ke pesta, yang dijawab Maharati bahwa itu ia lakukan karena pagi tadi ia meramalkan bahwa hari ini suaminya akan pulang, sehingga ia harus terlihat cantik saat suaminya melihatnya. Lauri menggelengkan kepalanya dengan wajah sebal dan mengatakan bahwa setelah menikah kakak-kakaknya berubah dan hanya memikirkan suami-suami mereka saja setiap waktu. Sepenuhnya mengabaikan dirinya yang merasa ditinggalkan sendirian. Mendengar kata-katanya tersebut, Maharati tertawa geli dan memeluk serta mencium pipi adiknya dengan gemas. Maharati memberitahu Lauri bahwa di matanya, Lauri adalah adik yang paling dicintainya. Namun Lauri membantahnya dengan mengatakan bahwa ia pernah mendengar Maharati mengatakan hal yang sama pada saudari kembarnya, sehingga Lauri tidak mau mempercayainya.


Percakapan mereka membuat Rainy tersenyum. Ternyata tak perduli di zaman yang manapun dan kapanpun, hubungan persaudaraan dalam keluarga mereka memang selalu seperti itu; mesra dan penuh kehangatan! Tiba-tiba Rainy jadi teringat Arka dan merasa merindukannya. Dalam benaknya, Arka kecil mencibir dengan sebal.


"Tak perlu merindukanku! Aku sedang bosan kepadamu!" ucapnya sambil memalingkan kepala. Membuat Rainy ingin sekali mengetuk kepalanya kuat-kuat.


"Aku merindukan kakakku! Bukan kau!" balas Rainy kesal yang dibalas Arka dengan juluran lidahnya.


Perhatian Rainy kembali teralihkan ke arah scene di hadapannya ketika seorang pria tampan muncul dari ujung jalan setapak, tepat di belakang Lauri dan Maharati. Ia mengenakan pakaian kerja dari bahan tenun yang telah kotor kecoklatan oleh keringat dan debu. Rambutnya yang ikal dan tumbuh panjang melewati bahu terikat erat di belakang kepalanya dengan sebuah tali yang dibuat dari kulit kayu. Sebuah mandau tersimpan aman dalam kumpang dan tergantung di pinggangnya. Sebuah Anjat yang tampak penuh sesak dengan barang, membebani bahu dan punggungnya. Kelelahan tampak pada bahasa tubuhnya, namun wajahnya berseri penuh dengan antisipasi dan langkahnya semakin lama semakin lebar. Begitu ia melihat mereka yang sedang berjalan jauh di depannya, wajah pria tersebut langsung berseri-seri.


"Maharati!" panggilnya dengan suara nyaring. Mendengar namanya disebut, Maharati langsung menoleh. Begitu melihat pria itu, senyum langsung mengembang di wajah Maharati.


"Sanja!" panggilnya dengan suara yang dipenuhi kegembiraan. Ia berbalik dan berlari ke arah pria tersebut, sementara si pria juga berlari ke arahnya Maharati dengan langkah yang lebih cepat dan penuh ketidak sabaran. Mereka bertemu di tengah jalan dan Maharati langsung melemparkan diri ke dalam pelukan pria itu.


"Namanya Sanja?" Rainy mengusik Datuk Sanja dengan pertanyaannya, sementara matanya masih terarah pada pasangan yang sedang berpelukan dengan hangat di jalan setapak menuju ke desa tersebut. Sementara itu, melihat tingkah keduanya Lauri hanya menarik nafas panjang dan memasang ekspresi bosan. Ia lalu berbalik dan kembali melanjutkan perjalanannya memasuki desa sendirian. Tampak sama sekali tidak tertarik pada kemesraan kedua pasang sejoli di belakangnya.


"Ah. Jadi begitu." ucap Rainy. Mereka kemudian melihat Lauri berjalan menaiki tangga sempit sebuah Betang yang merupakan rumah panggung paling besar dan paling terawat di desa tersebut. Pria itu kemudian menghilang ke balik pintu Betang. Sementara itu Maharati dan suaminya berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra, melintasi jalan setapak dan terus menuju ke utara, dimana jalan setapak tersebut membawa mereka memasuki area hutan.


"Kemana mereka pergi?" tanya Rainy.


"Ke huma di ladang yang terdapat di tengah hutan. Seringkali apabila Sanja pulang, mereka tinggal di huma tersebut selama beberapa hari." Ucap Datuk Sanja.


"Oooh." Rainy mengangguk mengerti. Tinggal di Betang yang merupakan sebuah rumah komunal, pastilah tidak nyaman bagi pasangan muda yang sedang mesra-mesranya, apalagi setelah terpisah selama berminggu-minggu. Pasti itu sebabnya mengapa Sanja dan Maharati memilih untuk pergi ke tempat dimana mereka bisa berdua saja tanpa gangguan.


Tiba-tiba hari berubah menjadi gelap karena malam tiba-tiba datang. Rainy menggerutu dalam hati karena perubahan siang dan malam yang terlalu mendadak tersebut sempat membuat jantungnya berdetak dengan sangat kencang karena terkejut. Seharusnya Datuk Sanja memperingatinya sebelum transisi tersebut terjadi. Menarik nafas panjang, Rainy berusaha menguasai diri.


Desa itu tiba-tiba terlihat sangat gelap dan sepi. Jendela dan pintu di Betang-Betang tersebut sudah ditutup semua. Bau udara yang lembab dan tanah yang basah menandakan bahwa hujan baru saja turun. Langit yang tidak berbintang mengancam menurunkan hujan tambahan dan udara yang dingin menusuk tulang membuat Rainy mengerutkan keningnya. Bukankah ilusi ini terlalu nyata? Bukan hanya melihat, ia juga bisa mencium bau dan merasakan dingin. Kalau ilusi ini memang dihasilkan oleh Batu Ungu, itu berarti Batu Ungu sungguh memiliki kemampuan yang luar biasa. Rainy tiba-tiba merasa sangat ingin tahu science di baliknya. Bisakah kemampuan sebuah batu dipahami dengan menggunakan ilmu pengetahuan? Sungguh membuat penasaran.


Karena sesaat teralihkan oleh pemikirannya, Rainy jadi tersentak kaget ketika beberapa sosok hitam berjalan cepat tanpa suara, melintas begitu dekat dengan dirinya. Ketika ia mencoba melihat dengan lebih seksama, Rainy bisa melihat beberapa sosok manusia mengendap-endap seperti hantu memasuki desa. Bukan! Bukan hanya beberapa! Namun banyak sekali sosok manusia yang saling berkelompok, dan setiap kelompoknya, tampak berjalan mendekati kemudian mengepung Betang yang berbeda. Mereka tampak seperti pasukan prajurit yang siap menyerang musuh.


"Datuk, siapa mereka?" tanya Rainy pada Datuk Sanja.


"Sekelompok orang dari Suku Dayak Iban." Sahut Datuk Sanja.


"Apa yang sedang mereka lakukan disini?" tanya Rainy lagi.


"Mengayau." Ucap Datuk Sanja yang terdengar bagai petir dalam pendengaran Rainy.


Glossary:


Anjat : Tas punggung yang terbuat dari anyaman rotan. Biasanya dibawa ketika pergi berburu.


Betang : Rumah Adat suku Dayak di Kalimantan Tengah


Huma : Rumah


Kumpang : Bilah pembungkus Mandau


Mandau : Senjata khas suku Dayak yang bentuknya mirip dengan parang


Ngayau : Ngayau merupakan tradisi Pemburuan kepala oleh Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Suku Iban dan Suku Kenyah adalah dua dari suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. (mengayau : melakukan ngayau)