My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Wanita Di Rumah Putih



Rumah yang menjadi kasus kedua mereka terletak di kota T yang jaraknya sekitar 250 km dari resort dan memakan waktu 2 jam perjalanan karena Rainy meminta Ace untuk berkendara dengan mematuhi aturan kecepatan. Saat sampai di sana, adzan Ashar baru selesai bergema. Dari balik jendela mobil yang tertutup rapat, Rainy memandang ke arah rumah putih tersebut dengan wajah datar. Dari dekat rumah putih tersebut terlihat lebih megah dari fotonya. Terletak di area pemukiman kaum elit, designnya tak kalah dengan rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Sederet mobil mewah tampak mengisi carportnya.


"Waaah, mewah sekali!" celetuk Ace. "Apakah gaji seorang jenderal mampu membeli semua kemewahan ini?"


"Gaji seorang jenderal yang berjalan di jalan yang lurus tidak akan mampu. Tapi Ibu Kartini adalah putri tunggal seorang pengusaha besar yang kaya raya. Bagi ayahnya, rumah sekaliber ini bukan apa-apa.* Jawab Natasha.


"Apa kau memeriksa isi rekening bank mereka, Nat?" tanya Ace lagi.


"I did." Jawab Natasha.


"Siapa yang lebih kaya? Pemilik rumah ini," tunjuk Ace dengan dagunya. "Atau Boss?" Kata-kata Ace dihadiahi tamparan di sisi sebelah kiri kepalanya oleh Rainy yang duduk tepat di belakangnya.


"Kurang kerjaan!" omel Rainy, walaupun sebenarnya dalam hati merasa geli. Perilaku mereka membuat yang lain tersenyum geli. Ace mengusap-usap kepalanya sambil menjulurkan lidahnya dan tersenyum jahil.


"Tentu saja lebih kaya Boss." sahut Natasha sambil tersenyum cerah. Rainy meletakkan tangannya di dahi. Brats! Makinya dalam hati. Mereka tampak sama sekali tidak takut untuk bercanda tentang dirinya di hadapannya langsung. Meskipun menggerutu, namun rasa hangat mengaliri hati Rainy.


"Wow! Tetap boss yang paling keren!" puji Ace. Rainy menggelengkan kepalanya dan kembali mengamati rumah putih tersebut lewat jendela yang tertutup rapat. Rumah tersebut terdiri dari 2 lantai dengan sepasang pilar berdiri mengapit pintu utama, yang membagi rumah menjadi 2 bagian, sebelah kiri dan sebelah kanan. Kedua bagian masing-masing lantainya memiliki 4 jendela besar dan 2 balkon. Tiba-tiba ia melihat sebuah gerakan di salah satu balkon di lantai 2. Rainy melihat sesuatu yang tak kasat mata tampak membuat udara kosong bergerak dalam gelombang pendek. Sesaat kemudian di tempat yang tadinya kosong, sosok seorang wanita ramping berambut panjang tiba-tiba muncul dan berdiri di balkon yang terletak di paling kiri, memandang ke arah mobil mereka berada. Kemunculannya hanya sesaat, namun kemudian kembali menghilang.


"Apakah kalian melihat itu?" tanya Rainy pelan. Raka dan Ivan mengangguk mengiyakan.


"Ada apa?" tanya Ace, tak tahu apa yang dilihat para pimpinannya. Natasha dan Arka juga menunjukan kebingungan yang sama. Namun tak ada satupun dari Rainy, Raka dan Ivan membuka mulut untuk menjawab. Perhatian ketiganya tertuju pada balkon tempat wanita tersebut muncul dan kemudian menghilang. Apakah ia akan muncul kembali?


Tiba-tiba Rainy melihat gerakan gelombang yang sama di depan pintu utama, diikuti oleh kemunculan sosok wanita yang dilihatnya di balkon tadi, sebelum ia kembali menghilang. Beberapa saat kemudian hal serupa terjadi kembali, namun kali ini wanita tersebut muncul beberapa meter di depan tempat kemunculannya sebelumnya. Seolah-olah wanita tersebut adalah sebuah hologram yang berkedip-kedip tak stabil sehingga sosoknya muncul dan menghilang secara terus-menerus. Dan wanita itu tampak berjalan maju, semakin lama semakin mendekati mobil dimana Rainy cs berada.


Selangkah demi selangkah, wanita itu semakin dekat....


Selangkah demi selangkah....


Tiba-tiba, wanita tersebut telah berdiri di depan jendela mobil, tepat di sisi Rainy sedang duduk. Wanita itu berwajah cantik, namun wajahnya pucat pasi, seolah tidak ada darah yang mengalir di bawah kulit wajahnya. Namun matanya yang menyorot penuh kemarahan meneteskan Air mata darah. Darah tersebut menetes pelan, satu demi satu, mengalir menuruni tebing pipinya dan menodai wajahnya dengan warna merah yang terlihat sangat mencolok di atas kulit wajahnya yang pucat. Membuat wajah yang cantik itu tampak menyeramkan. Rainy menurunkan kaca jendela mobil dan bertatapan langsung dengan si wanita.


Mereka berdua saling bertatapan dalam diam, sebelum akhirnya Rainy menarik nafas panjang dan berkata,


"Tunjukan padaku." suruhnya. Si wanita menunduk dan menatap tangan yang terulur tersebut. Kemudian perlahan-lahan ia meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Rainy. Rainy tersentak sesaat ketika gelombang ingatan menghantamnya begitu kencang disertai emosi yang meluap layaknya tsunami. Membuat dada Rainy terasa sakit dan migrain mulai berdenyut di kepalanya.


Rainy memejamkan mata dan berusaha mengatur pernafasannya. Dengan hati-hati ia menyusuri gelombang ingatan demi ingatan tersebut untuk menemukan sesuatu yang mungkin berhubungan dengan alasan kemunculan si wanita di tempat itu. Butuh waktu 15 menit bagi Rainy melakukannya. Di mata yang lain, ia hanya tampak duduk diam seolah sedang bermeditasi. Namun Raka yang memahami nyaris semua kemampuan Rainy tahu bahwa gadis itu sedang membaca ingatan mahluk tak kasat tersebut, mirip seperti cara Raka membaca ingatan yang tersimpan dalam suatu benda. Bedanya bila Raka hanya bisa membaca ingatan yang tertinggal pada benda mati, maka Rainy bisa membaca ingatan mahluk yang tak kasat mata. Kemampuan ini tentu saja memberikan banyak kemudahan bagi bisnis mereka.


Ke 5 orang di sisinya duduk menunggu di kursi masing-masing tanpa suara. Mereka takut sedikit saja suara yang mereka timbulkan akan mengganggu konsentrasi Rainy. Ketika kemudian mata gadis itu terbuka kembali, sorot dingin berkilat di matanya yang indah.


"Raka." panggilnya dengan suara dingin yang mendirikan bulu roma. Oooh, si boss sedang marah! Pikir Ace dan Natasha ngeri. Sebulan bekerja di bawah Rainy membuat mereka mulai mampu mengenali perubahan emosi Rainy melalui gelombang energi yang terpancar dari tubuhnya. Dan emosi yang dipancarkan oleh aura tubuhnya kali ini adalah 10x lipat lebih dingin dari biasanya yang menandakan bahwa gadis itu sedang menahan kemurkaan yang mulai bergejolak dalam dirinya.


"Ya?" Raka yang duduk tepat di samping Rainy, menyahut Raka tenang.


"Hari ini, kita hanya datang untuk investigasi. Pastikan bahwa mereka membayar penuh sebelum pekerjaan dilakukan." ucap Rainy.


"Emm. Aku tahu." sahut Raka.


"Oh, make it double. No! make it triple! Aku tidak mau bekerja bila dibayar kurang dari itu." ucap Rainy lagi.


"Baik." Raka mengiyakan.


Rainy kemudian menoleh pada wanita yang masih berdiri di sisi luar jendelanya tersebut.


"Kau pergilah dahulu dan tunggu aku. Setelah ini kau harus menunjukan jalannya padaku." ucap Rainy pelan. Si wanita mengangguk. Sosoknya kembali berkedip-kedip dalam gelombang pendek, sebelum kemudian menghilang.


Rainy membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


"Let's go." ajaknya pada anggota timnya. Mengikuti teladannya, ke empat pintu lainnya terbuka dan semua orang melangkah keluar, meninggalkan Ace yang bertugas berjaga dalam mobil mereka. Rainy melangkah perlahan, membiarkan Raka memimpin mereka melangkah menuju pintu gerbang pagar rumah yang tertutup rapat.


Copyright @FreyaCesare