My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Nasib Sang Pelakor



Ketika Rainy membuka matanya kembali, hari tampaknya telah gelap karena lampu-lampu kamar telah dinyalakan. Dari dekorasinya, Rainy menyadari bahwa ia sedang berada di kamar 304, yang juga merupakan salah satu kamar yang disiapkan untuk klien. Rainy ingin bangkit dan duduk di atas ranjang, namun sesuatu di tangan kirinya menghalangi gerakannya. Rainy menoleh dan menemukan bahwa tangan kirinya sedang dialiri cairan infus. Rainy mengerutkan keningnya dengan kesal. Ia memang pingan karena kelelahan, tapi tak perlu sampai diinfus segala!


Rainy mencoba untuk duduk, namun gerakan yang tiba-tiba membuat kepalanya menjadi pusing, mendorongnya untuk mengulurkan tangan dan memegang kepalanya sambil mengerang.


"Rain?" suara mengantuk Raka terdengar dari seberang ruangan. Tak lama kemudian wajah bangun tidur Raka muncul di hadapannya.


"Hei, sayang. Akhirnya kau bangun juga." sapa Raka sambil tersenyum penuh rasa sayang. "Apa kau mau minum?" tanya Raka.


Tiba-tiba Rainy menyadari bahwa tenggorokan dan mulutnya terasa sangat kering. Karena itu ia mengangguk.


"Tolong, bantu aku duduk." pinta Rainy. Raka mengulurkan tangan untuk menarik Rainy hingga terduduk. Raka kemudian mengulurkan sebotol air berpipet dan mendekatkan pipetnya ke bibir Rainy. Rainy membuka mulut dan mengisapnya pelan. Air dingin mengalir membasahi tenggorokannya yang kering, namun sedikit saja sepertinya tidak mampu meredakan hausnya. Karena itu Rainy menyedot lagi dengan rakus.


"Hei! Hei! Pelan-pelan dong, sayang. Sedikit-sedikit dulu!" Raka menarik lembut botolnya menjauhi mulut Rainy, membuat kening Rainy berkerut dengan kesal. Apa Raka kurang kerjaan sampai mau mengatur berapa banyak Rainy boleh minum? Melihat ekspresi kesal di wajah Rainy, Raka memberinya senyum penuh permintaan maaf.


"Maaf sayang, tapi kau baru saja bangun. Kalau kau minum terlalu cepat, nanti tubuhmu bisa shock." ucap Raka menjelaskan. Mendengar ini kening Rainy berkerut.


"Memangnya aku sudah tertidur berapa lama?" tanya Rainy kemudian.


"Satu minggu." jawab Raka dengan serius.


"Hah? Satu minggu?" ulang Rainy dengan terkejut. "Mengapa aku tidur begitu lama?"


"Tentu saja karena kau membutuhkannya. Kau kelelahan. Kau menghabiskan seluruh energi spiritualmu tanpa tersisa sedikitpun. Itulah sebabnya kau tidak bisa bangun selama 7 hari ini." jawab Raka.


Rainy tercenung. Seminggu? Wow! Itu waktu yang sangat panjang untuk digunakan hanya untuk tidur. Eh?Sebentaaaaaar...


"Apa kau memberi tahu orangtuaku?" tanya Rainy dengan panik.


"Tentu saja." sahut Raka.


"Raka!" pekik Rainy kesal.


"What? Tante Ratna biasa menelponmu setiap hari. Sekali dua kali tidak kau angkat, mungkin ia tidak akan curiga. Tapi kalau seminggu? Menghadapi ibuku saja sudah sulit. Apalagi harus ditambah dengan menghadapi ibumu." Raka bergidik ngeri. Well, betul sih. Tidak ada gunanya untuk melawan kedua ibu mereka.


"Jadi mereka tahu apa yang terjadi padaku?" Tanya Rainy lagi.


"Bukan hanya tahu. Mereka ada disini." Beritahu Raka.


"Hah?"


"Mamamu, papamu, mamaku dan papaku, mereka semua ada disini." Ulang Raka dengan takzim.


"Waaaaah. Apakah mereka tidak perlu bekerja? Sungguh santai sekali." komentar Rainy sambil mengerutkan bibirnya. Dijamin ia akan kehilangan kebebasannya selama beberapa waktu ke depan.


"Kau adalah anak satu-satunya dan calon menantu satu-satunya. Demi dirimu, orangtua kita akan rela meninggalkan semuanya." ucap Raka mengingatkan. Rainy melemparkan dirinya kembali ke atas bantal dan memasrahkan diri pada nasib. Rainy memandangi langit-langit kamar sambil berpikir. Ia bertatapan dengan kedip lampu kamera yang berada tepat di atas kepalanya.


"Apakah selama aku tidur kau membiarkan semua kamera tetap menyala?" tanya Rainy.


"Tentu saja."


"Great! Sekarang kita memiliki rekaman Tidurku sepanjang 7 hari." gerutu Rainy.


"Emm. Apa kau ingin aku mencopynya?" goda Raka.


"Emm. Aku tahu." sahut Raka.


"Raka, apa yang terjadi hari itu? Siapa yang datang sampai membuat Guru Gilang harus membawa kalian semua menghadapinya?" tanya Rainy, mengacu pada saat mereka seluruh anggota tim yang tersisa mengikuti Guru Gilang untuk menghadapi lawan yang datang saat Rainy sedang mengobati Herdianti.


"2 ekor ular yang sangat besar! Jauh lebih besar daripada yang ada dalam perut Herdianti." cerita Raka.


"Hah?" Rainy sangat terkejut. Ia tidak menduga bahwa aksinya telah mendatangkan mahluk yang lebih besar lagi. “Apa ular-ular itu datang dari sumber yang sama?”


“Menurut Guru Gilang sih begitu.” Jawab Raka.


"Lalu bagaimana cara kalian menghadapinya?" tanya Rainy penasaran.


"Guru Gilang yang melakukannya. Ia melantunkan ayat-ayat Al Qur'an dan membuat kedua mahluk itu terbakar habis dalam waktu singkat. Guru Gilang sungguh luar biasa!" Cerita Raka.


"Ayat-ayat Al Qur'an?"


"Emm."


"Bagaimana dengan Bu Herdianti? Bagaimana keadaannya?"


"Ibu Herdianti lebih beruntung darimu. setelah 16 jam, akhirnya ia terbangun dari tidur. Tubuhnya lemah, namun rasa sakitnya sudah menghilang. Dalam beberapa hari saja, wajahnya sudah tidak pucat pasi lagi." cerita Raka.


"Ia menginap sampai beberapa hari?" tanya Rainy.


"Iya. Setelah ia bangun, ia ingin bertemu langsung denganmu. Namun saat mendengar bahwa dirimu masih tertidur, Ibu Herdianti merasa sangat bersalah. Ia memutuskan untuk menginap di resort, menunggu dirimu bangun sambil memulihkan diri." Cerita Raka. "Namun setelah 5 hari berada disini, suami dan mertuanya datang menjemput. Suaminya meminta maaf pada Bu Herdianti dan memohon pada bu Herdianti untuk tidak meninggalkannya."


"Mengapa tiba-tiba berubah baik?" tanya Rainy.


"Menurut cerita mertuanya, di malam hari setelah siangnya kau mengobati bu Herdianti, suami Bu Herdianti menemukan selingkuhannya tewas di apartemen mereka dengan perut berlubang dan dan isi perutnya terburai keluar." cerita Raka lagi.


"Isi perut terburai keluar?" ucap Rainy dengan terkejut. Raka mengangguk.


"Saat itu ia baru tahu bahwa kekasihnya itulah yang telah menyebabkan bu Herdianti sakit. Mereka sudah bersama selama 2 tahun dan selama 2 tahun itu setiap kali ia melihat bu Herdianti, suaminya selalu dipenuhi rasa marah dan tidak suka. Namun perasaan tersebut langsung menghilang begitu wanita tersebut mati. Kuat dugaan bahwa suaminya sudah menjadi korban pelet dan bahwa wanita itulah yang telah menyantet bu Herdianti." ucap Raka, melanjutkan ceritanya.


"Jadi dia mati karena pukulan balik dari santetnya yang sudah kuhancurkan?" Tanya Rainy.


"Emm. Kemungkinan besar begitu." Raka mengangguk.


"Apa ibu Herdianti memaafkannya?" tanya Rainy lagi.


"Tidak. Pada hari itu mereka membawa bu Herdianti pulang. Namun keesokan harinya, bu Herdianti mengajukan tuntutan perceraian ke pengadilan agama." cerita Raka, membuat sebelah ujung bibir Rainy terangkat naik.


"Syukurlah. Biar tahu rasa tuh suami!"


"Apakah kau tidak merasa kasihan pada suaminya?" tanya Raka.


"Mengapa aku harus merasa kasihan?" Rainy balik bertanya dengan heran.


"Kan dia dipelet. Jadi tidak bisa mengendalikan perilakunya."


"Cih! Dipelet atau tidak, dia telah berkhianat. Bukan hanya itu, selingkuhannya itu juga menyebabkan istrinya hampir mati, tapi ia malah bersenang-senang dengannya. Walaupun ia sama sekali tidak tahu perbuatan jahat kekasihnya, awalnya tetap merupakan salahnya, mengapa sampai memberikan kesempatan pada wanita lain untuk mendekati dirinya padahal ia sudah menikah. Pria dan wanita yang masing-masing sudah menikah dengan orang lain seharusnya tidak bergaul dengan rapat. Selain itu menunjukan sikap yang tidak hormat pada pasangan, itu juga membuka kesempatan untuk perselingkuhan. Tidak akan ada asap bila tidak ada api! Kalau tidak ingin dihina sebagai pelakor atau pebinor, jangan coba-coba untuk mendekati perilaku itu sedikitpun!"