
“Saya hanya kelelahan. Tenang saja. Setelah minum vitamin dan tidur, tubuh saya akan membaik.” Ucap Batari. Sebagai seorang Dokter, tentu saja Batari yang paling memahami kondisi tubuhnya sendiri. Mengingat hal ini, Rainy hanya mengangguk.
“Kalau begitu sebaiknya setelah ini kakak beristirahat saja. Apakah Nora sudah memberitahu dimana kamar yang disiapkan untuk kak Tari?” Tanya Rainy lagi.
“Sudah. Tadi Nora sudah memberiku kuncinya. Nanti aku akan mengantarkan Tari kesana.” Sahut Mr. Jack. Rainy mengangguk. Batari akan menempati salah satu kamar di asrama Divisi VII dan Rainy berharap ke depannya, Batari akan tetap tinggal disana untuk mempermudah wanita itu melakukan pengawasan pada klien-klien yang membutuhkan pelayanan kesehatan tanpa dibatasi oleh jam kerja. Tapi tentu saja Rainy belum menjelaskan hal ini pada Batari. Batari hanya tahu bahwa ia akan menjadi Dokter di Poliklinik Resort. Rainy memutuskan untuk mencoba mengenal Batari lebih jauh lagi sebelum ia melibatkan wanita tersebut dengan kegiatan Divisi VII.
Setelah selesai makan malam dan membersihkan meja makan, Mereka pindah ke ruang duduk untuk mengobrol. Arka menghidangkan teh bunga krisan panas di poci keramik untuk membantu menenangkan syaraf mereka yang tegang setelah berbagai kejadian hari ini. Rainy tidak memerlukannya karena Raka telah berhasil melonggarkan semua syaraf tegangnya barusan, namun karena Rainy menyukai wanginya, ia menyesap tehnya dengan penuh rasa syukur. Arka, seperti juga Raka, sangat pandai dalam melakukan hal-hal kecil namun bermakna seperti ini. Membuat keseharian Rainy, diluar urusan iblis, menjadi sangat nyaman dan menyenangkan.
“Paman, Kak Tari, bagaimana tadi di kantor Polisi? Apakah kalian berhasil membuat laporan?” Tanya Rainy.
“Iya, kami sudah memasukkan laporan ke Polsek. Polisi menyarankan agar sementara saya tidak tinggal dan bekerja disana sampai masalah ini jelas. Polisi malah menawarkan untuk mengantarkan saya mengambil pakaian yang saya butuhkan dari rumah dinas, tapi saya menolak. Karena selama ini saya selalu bolak-balik ke kota B, jadi semua barang-barang yang saya perlukan semuanya ada di dalam tas itu.” Batari menunjuk ke arah sebuah tas hitam besar yang terletak di dekat pintu. “Kalau saya membutuhkan pakaian, saya bisa pulang dan mengambil pakaian saya di kota B.”
“Syukurlah.” Ucap Rainy. “Lalu bagaimana dengan pekerjaan Kak Tari di Puskesmas?”
“Pak Polisi memberi saya surat untuk disampaikan ke dinas. Mereka berpesan, walaupun saya tidak kembali ke Desa Ampari, saya tetap tidak boleh pergi terlalu jauh agar saat mereka membutuhkan saya di tengah-tengah penyelidikan, saya ada di tempat. Itu sebabnya untuk sementara, saya terpaksa merepotkan Rainy untuk menyediakan tempat tinggal bagi saya. Saya sungguh minta maaf.” Ucap Batari dengan ekspresi yang menunjukan rasa tidak nyaman. Melihat ini, Rainy mengibaskan tangannya dan berkata,
“Kak Tari tidak perlu minta maaf. Karena tempat ini jauh dari kota, semua pekerjaan di resort ini sudah 1 paket dengan akomodasi. Jadi kamar yang disiapkan untuk kak Tari memang hak kak Tari. Semoga kak Tari betah bekerja disini.” Mendengar ini, Batari mengangguk. Ia merasa sangat beruntung karena bertemu dengan Rainy dan memperoleh tawaran untuk bekerja di resort ini. Tinggal di resort seindah ini, ini bukan bekerja, tapi liburan!
Mr. Jack yang menerima tatapan penuh rasa syukur dari Batari, mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi bertanya-tanya. Namun Batari hanya menggeleng. Batari lalu pindah memandang ke arah Rainy. Tawaran kerja dari Rainy sungguh sangat tepat waktu. Karena tawaran kerja ini, Batari jadi memiliki tempat untuk pergi ketika seluruh penduduk desa tidak menginginkannya lagi.
“Saya dengar penyebab penduduk Desa menuduh Dokter Batari sebagai pembunuh adalah karena mereka menemukan sebuah kalung yang diduga milik Dokter. Apakah Dokter mengetahui hal ini?” Tanya Raka. Batari menganggukkan kepalanya. Ia lalu mengulurkan tangan ke belakang lehernya dan melepaskan kait sebuah kalung emas yang dikenakannya. Ia lalu meletakkan kalung tersebut ke atas meja, tepat dihadapan Rainy dan Raka.
“Ini adalah satu-satunya kalung yang saya miliki dan selalu saya kenakan. Mereka menuduh saya melakukan pembunuhan tersebut karena mereka menemukan kalung ini di dekat korban. Namun kalung ini tidak pernah meninggalkan leher saya. Jadi saya punya alibi yang kuat.” Ucap Batari.
“Ketika penduduk desa sedang kalap, mereka tidak akan bersedia untuk mendengarkan pembelaan apapun. Melarikan diri dari tempat itu adalah pilihan yang tepat pada saat itu.” Komentar Raka. Ia sudah mendengar ceritanya dari Rainy, termasuk juga mendengar bagaimana Rainy telah menggunakan kontrak peminjaman sapi untuk menekan warga Desa. Saat Rainy menceritakannya, Raka dipenuhi oleh rasa bangga.
“Kau melakukannya dengan hebat!” Puji Raka saat itu dan langsung menghadiahi Rainy sebuah ciuman. Setelahnya Rainy menggerutu karena Raka menjadi kecanduan untuk menggunakan semua kejadian sebagai alasan untuk mencium dan gara-gara itu bibir Rainy jadi membengkak dan memerah, membuat siapapun yang melihatnya, pasti bisa menebak apa yang baru saja mereka lakukan. Omelannya membuat Raka justru menghadiahinya dengan satu ciuman lagi. It's madness! Mengingat kejadian itu, Rainy menggigit bibirnya dengan wajah memerah. Perubahan ekspresinya mengundang tatapan menyelidik Arka dan senyum sok tahu Raka. Raka lalu menoleh dan memberinya tatapan penuh arti, membuat wajah Rainy bertambah merah. Jangan melihat kesini, dasar Raka tidak tahu malu! Omel Rainy dalam hati. Ia menyipitkan matanya dan memberi Raka tatapan marah namun yang dipandangi malah mendengus geli.
Interaksi tanpa suara yang dilakukan keduanya menarik perhatian Mr. Jack, Batari dan Arka. Mereka memandang keduanya dengan tertarik, terutama ketika melihat wajah Rainy yang memerah. Batari tidak tahu karena ia baru saja mengenal Rainy, namun Mr. Jack dan Arka sangat tahu bahwa sikap malu-malu bukanlah perilaku yang umum untuk ditunjukan oleh seorang Rainy. Itu sebabnya mereka menjadi sangat tertarik untuk mengetahui alasan mengapa wajah gadis tersebut bersemu merah seperti itu.
Copyright @FreyaCesare