
“Apakah kau akan menerima kasus ini?” Tanya Ivan. Mendengar pertanyaan ini, Rainy tercenung. Mulutnya bergerak-gerak, asyik mengunyah Egg Tartnya, namun isi kepalanya sibuk memilah dan memilih apa yang hendak dilakukannya. Pada akhirnya, Rainy melemparkan pertanyaan tersebut ke belakang kepalanya karena ia merasa memikirkannya membuat ia tidak bisa menikmati egg tartnya dengan nikmat.
“Terserah kau sajalah. Aku malas bertemu dengannya. Tolong, sepupuku tersayang, kau saja yang urus.” Ucap Rainy, melemparkan masalah itu pada Ivan.
“Eh? Mengapa aku? Tidak mau ah!” Tolak Ivan keras. Ia meletakkan Tab Natasha ke atas meja dan berniat meninggalkan ruangan itu agar tidak dipaksa oleh Rainy untuk menemui Regina. Namun sesuatu menahan bajunya dan membuatnya tidak bisa melangkah. Ivan menoleh dan melihat tangan kiri Rainy sedang mencengkeram bagian belakang kemejanya sekuat-kuatnya, membuat kemejanya yang tadinya tersetrika dengan licin dan rapi, menjadi penuh kerutan dibagian yang berada dalam genggaman tangan Rainy.
“Lepaskan!” Geram Ivan dengan kesal. Rainy menggeleng. Ia tidak bisa menyahut karena mulutnya sedang sibuk mengunyah. Sebagai gantinya ia mengeluarkan suara yang terdengar seperti kalimat, ‘nggak mau’ namun diucapkan dalam keadaan mulut tertutup. Ivan menyipitkan matanya dengan kesal.
“Lepaskan, Rain! Rosa mengirimkannya kemari karena dirimu, bukan karena aku. Jadi bersikaplah sebagai keponakan yang baik dan temuilah sendiri.” Bujuk Ivan. Tapi lagi-lagi Rainy menggeleng. Ia malah balas menyipitkan matanya pada Ivan. Lama keduanya saling berpandang-pandangan dan saling menunjukkan ketidak setujuannya, sampai akhirnya, Natasha yang sedari tadi hanya bisa memandang tingkah kedua bossnya tersebut, berdehem nyaring dan berkata,
“Kalau boss dan boss kecil sama-sama tidak mau menerima klien ini, mengapa kita tidak menyuruh Baladewa yang menerimanya? Toh ini hanya sebuah kasus kecil. Saya yakin Baladewa akan mampu menyelesaikannya dengan baik.” Saran Natasha dengan tenang. Mendengar ini, Rainy dan Ivan saling berpandangan. Benar juga! Mengapa tiba-tiba aku lupa bahwa kita bisa melakukan hal itu? Pikir keduanya. Rainy kemudian memandang ke arah Natasha dan mengangguk.
“Ok. Lakukan itu, Nat. Berikan filenya pada Lara dan biarkan ia memimpin langsung jalannya konsultasi.” Suruh Rainy.
“Apakah Boss dan Boss kecil tidak akan mampir untuk melihat dari ruang kontrol?” Tanya Natasha lagi. Mendengar ini, Rainy dan Ivan kembali berpandangan. Mereka tidak bersedia bila harus berhadapan langsung dengan Regina. Namun bila hanya melihat wanita itu dari dalam monitor, tentu saja mereka tidak keberatan. Mereka mungkin malah bisa memikirkan satu atau dua cara untuk mempermainkan Regina. Siapa suruh ia berani datang ke Divisi VII dan mencoba menggunakan Divisi VII untuk memenangkan gugatannya atas warisan Benyamin. Apa perempuan itu pikir Divisi VII adalah sebuah candaan belaka? Hmph! Awas saja!
“Kami akan ke sana, tapi hanya untuk menonton. Pergilah, Nat! Beritahu Lara untuk berhati-hati pada wanita ini karena ia adalah seorang manipulator yang lumayan sukses. Jangan sampai Baladewa tertipu oleh air matanya.” Pesan Rainy. Natasha mengangguk. Ia kemudian mengambil kembali tabnya dari meja Rainy dan berbalik meninggalkan ruangan. Sementara itu Ivan menatap Rainy dengan penuh rasa ingin tahu.
“Mengapa Rosa mengirimkan wanita itu kemari?” Tanya Ivan. Rainy mengangkat bahunya.
“Entahlah. Mungkin Gulu ingin agar aku memorotinya?” Tebak Rainy. “Tapi, bila Gulu yang mengirimnya kemari, sudah pasti Gulu Rano yang membayar tagihannya. Jadi seharusnya bukan itu.” Rainy membantah dugaannya sendiri.
“Bisa jadi.” Rainy mengangguk.
“Kalau benar begitu, jangan lupa untuk mengirimkan tagihan yang besar sebagai service fee. Aku tidak suka berpikir bahwa Rosa hendak menggunakan kita sebagai alat dalam pertempuran keluarga Benyamin.” geram Ivan. Rainy mengangguk mengiyakan.
“Tentu saja! Sudah saatnya Baladewa memperoleh bonus karena mengerjakan tugasnya dengan baik dalam beberapa waktu ini.” sambut Rainy. Mendengar ini, bibir Ivan berkedut. Oh Rain, jadi boss royal itu bagus. Tapi terlalu royal juga berbahaya. Well, untunglah ada Raka di samping Rainy. Tanpa Raka, siapa yang mampu mengontrol gadis ini?
***
Begitu memperoleh perintah dari Rainy, Lara langsung melakukan briefing dengan timnya dan memutuskan untuk mengirim Musa dan Miranda untuk bertemu dengan Regina. Mereka kemudian membuat janji dengan Regina untuk bertemu keesokan harinya. Karena ada acara pribadi, Regina meminta agar pertemuan bisa dilakukan di malam hari. Sehingga setelah dilakukan negosiasi, pertemuan diputuskan dilakukan pada jam 8 malam, di kamar 304, asrama Divisi VII. Keesokan harinya, tepat setelah adzan maghrib bergema, sebuah mobil mengantarkan Regina memasuki area parkir di depan asrama Divisi VII. Regina disambut oleh Sekar, yang kemudian mengantarkannya langsung ke kamar 304. Setelah menawarkan kepada Regina untuk beristirahat sembari menunggu jam pertemuan tiba, Sekar meninggalkan Regina dan turun ke ruang makan untuk makan malam bersama dengan pegawai lainnya.
Waktu itu, untuk memikat hati Batari, Mr. Jack sedang memamerkan keahlian memasaknya dan menyiapkan makan malam yang sangat mewah dan enak untuk semua orang. Bahkan Rainy yang biasanya hanya makan dalam porsi yang kecil, tak dapat menahan diri untuk makan lebih banyak. Melihat ini Mr. Jack merasa sangat tersanjung karena ia tahu Bahwa Rainy hanya suka makan camilan dan tidak terlalu tertarik dengan makanan besar. Menu utama Rainy biasanya hanya berupa salad atau mie, dan cenderung menolak untuk makan nasi. Tapi malam ini Rainy akan 1 porsi penuh nasi dengan lahap. Bukti bahwa masakan Mr. Jack sangatlah enak.
Saat itu semua orang sedang berkumpul di ruang makan tanpa terkecuali. Tak ada seorangpun yang berpikir bahwa harus ada yang tinggal di ruang kontrol untuk mengawasi klien yang sedang menunggu di kamar 304. Bukankah klien kali ini bukan datang karena kasus yang serius? Boss malah menduga bahwa klien ini datang hanya untuk mencari bahan guna memperkuat drama yang sedang dimainkannya. Kalau bukan karena siapapun yang datang untuk meminta konsultasi dari Divisi VII adalah klien VVIP, mereka merasa bahwa klien kali ini sama sekali tak perlu untuk diperhatikan. Berpikir begini membuat mereka semua sepenuhnya mengabaikan Regina dan menikmati makan malam dengan santai dan penuh canda.
Untung saja pada suatu saat, tepat di tengah-tengah menikmati makan malamnya, Lula yang memang sangat teliti dan penuh rasa tanggung jawab, menghidupkan tablet pribadinya untuk memeriksa kondisi kamar 304 dari CCTV. Betapa terkejutnya mereka semua, ketika hal pertama yang mereka dengar dari CCTV adalah jeritan ketakutan yang sangat keras. Untuk sesaat, semua orang yang ada dalam ruangan tersebut terdiam. mereka yang tak mengetahui bahwa suara tersebut datang dari siaran CCTV di tab Lula, saling berpandang-pandangan dengan bingung. Namun kemudian suara jeritan kedua terdengar nyaring. dengan serentak, Pandawa yang memang lebih sensitif pada bahaya, segera bangkit dari kursi mereka dan berlari menaiki tangga menuju ke lantai 3, di ikuti oleh Lara dan Guru Gilang. Setelah mereka menghilang di balik pintu ruang makan, anggota tim Baladewa dan yang lainnya segera berlari untuk menyusul mereka.
Copyright @FreyaCesare