My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kecelakaan Lalu Lintas?



Dalam perjalanan menuju rumah sakit, pihak rumah sakit telah memberitahu bahwa Ardi mengalami luka robek besar di bagian perut yang membuat operasinya tidak mungkin ditunda sehingga Ratna harus memberi persetujuan atas tindakan operasi secara verbal sebelum mereka sampai di rumah sakit. Itulah sebabnya ketika mereka sampai di rumah sakit dimana Ardi dirawat, Ardi telah berada di ruang operasi. Rainy dan Rini duduk menemani Ratna di ruang tunggu, sementara Arka segera pergi untuk mengurus administrasi. Tak lama kemudian, Aditya, Raka dan Ace tiba di ruang tunggu. Rainy langsung berlari masuk ke dalam pelukan tunangannya, sementara Ace mencari Arka dan membantunya mengurus semua hal yang berhubungan dengan admistrasi dan lain-lain.  Natasha dihubungi untuk mencari kejelasan mengenai kecelakaan tersebut. Tak lama kemudian, Natasha mengirimkan sebuah rekaman CCTV dari tempat kejadian ke telepon genggam Arka.


Apa yang diberitahukan sebagai kecelakaan lalu lintas ternyata sama sekali bukan kecelakaan lalu lintas. Rekaman CCTV menunjukan bahwa 3 buah mobil berwarna hitam menghadang dan mengepung Ardi di jalan tol, persis cara yang dilakukan oleh preman-preman yang menyerang mereka di Rest Area kemarin. Beberapa orang pria berpenampilan preman, berpakaian hitam-hitam dan mengenakan masker berwarna hitam serta kacamata hitam memaksa Ardi keluar dari mobil dengan cara menodong dengan pistol dari kaca depan yang diarahkan menuju ke kursi pengemudi. Kemudian setelah Ardi keluar dari mobil, salah seorang pria tersebut menusuk perut Ardi dengan senjata tajam sejenis pisau. Setelah menarik kembali pisau yang digunakan untuk menikam Ardi tersebut, para preman itu meninggalkan Ardi yang terkapar di atas aspal dengan perut bersimbah darah begitu saja. Ardi kemudian ditolong oleh beberapa pengendara mobil lain yang menepi dan dengan panik, menelepon ambulance. Selama peristiwa tersebut berlangsung, tak sekalipun para preman itu menunjukan wajahnya ke arah CCTV, dan setelah di periksa, ternyata seluruh plat nomor mobil yang terlihat adalah palsu.


Melihat ini, hawa membunuh langsung memancar dari tubuh Arka, membuat Ace yang berdiri di sampingnya bergidik ngeri. Ia baru mendengar bahwa orangtua Rainy telah mengangkat Arka sebagai anak mereka, sehingga kemurkaan Arka adalah hal yang wajar. Seseorang mencoba membunuh ayah angkatnya. Setelah melihat seluruh anggota keluarga kandungnya terbunuh dengan begitu tragis, sekarang ia harus menyaksikan orang lain mencoba membunuh ayah angkatnya. Kalau Ace yang jadi Arka, ia pasti akan kehilangan akalnya. Namun dengan takjub, Ace melihat Arka menutup matanya dan menarik kembali hawa membunuhnya, lalu berjalan menuju ruang tunggu seperti tidak terjadi apapun. Sungguh kekuatan mental yang besar. Sungguh keteguhan yang mengagumkan. Puji Ace dalam hati. Menggelengkan kepalanya, Ace lalu berjalan mengikuti Arka.


Rainy sudah kembali ke dalam pelukan Ratna ketika Raka menemukan Arka yang berdiri di sudut ruang tunggu bersama Ace, sedang memberinya isyarat untuk mendekat. Setelah memastikan bahwa Rainy sedang tidak melihatnya, Raka berjalan tenang menuju ke tempat Arka berada. Mereka lalu berpindah ke balik dinding agar tidak terlihat dari ruang tunggu. Arka menyerahkan telepon genggamnya pada Raka dan memutarkan rekaman CCTV yang dikirimkan Natasha. Setelah menonton, Raka mengembalikan telepon genggam tersebut pada Arka sementara ia mengambil telepon genggamnya sendiri.


“Kirimkan padaku.” Perintahnya pada Arka. Raka lalu mengaktifkan layarnya dan menekan 1 set nomor telepon. Hanya 1 kali deringan, suara Natasha terdengar di telinganya.


“Boss?”


“Apakah kau menemukan pelakunya?”


“Belum.”


“Dimana Hendrik?”


“Hendrik sedang berlibur di Macau sejak 3 hari yang lalu. Saat ini ia sedang berada di sebuah kasino di pusat kota.”


“Hendrik? Apa kau yakin?”


Suara notifikasi memberitahu Raka bahwa Natasha mengirimkan gambar kepadanya. Itu adalah foto Hendrik sedang berdiri di depan mesin slot dengan wajah tertawa lebar. Tampaknya ia baru saja meraih kemenangan dari mesin slot tersebut. Foto tersebut di ambil dari CCTV kasino. Rupanya Natasha mengerahkan kemampuan Hackingnya untuk memasuki sistem CCTV di kasino tersebut.


“CCTV ini terlihat asli. Saya tidak menemukan tanda-tanda tampering.” Beritahu Natasha. Raka bisa mendengar nada tak yakin dalam suara Natasha.


“Tapi?” Tanya Raka, memberikan dorongan pada Natasha untuk melanjutkan laporan.


“Ini terlalu mudah.” Cetus Natasha.


“Terlalu mudah?” Ulang Raka.


“Ini terasa seperti ada seseorang yang mengarahkan saya untuk menemukan semua ini.” Jawab Natasha dengan serius.


“Gali lagi.” Perintah Raka sebelum menutup teleponnya. Saat mengangkat wajah, ia menemukan tatapan Arka yang membara dengan amarah yang tertahan. Tubuh pria itu bagaikan pegas yang tertarik kencang, tegang dan kaku. Raka menarik nafas panjang.


“Apakah itu dia?” Tanya Arka. Raka memahami pertanyaannya. Saat ini hanya satu orang yang menjadi tertuduh dalam kasus ini, yaitu Hendrik yang kemarin dituding oleh preman yang diinterogasi Raka, sebagai otak pelaku penyerangan terhadap mereka dalam perjalanan pulang kemarin.


“Tidak ada bukti. Tanpa bukti kita tidak bisa melakukan apapun.” Ucap Raka mengingatkan.


“Aku tidak perlu bukti.” Geram Arka dengan gigi-gigi terkatup rapat.


“Tenangkan dirimu! Saat ini, sebagai satu-satunya pria dalam keluargamu, kau tidak boleh bertingkah irasional. Ibu dan adikmu membutuhkanmu!” Tegur Raka dengan dingin. “Lagipula, Hendrik sedang berada di Macau. Sementara ini kau tidak bisa menyentuhnya.” Mendengar ini, Arka berubah bagaikan balon udara yang mengempis dengan tiba-tiba. Tubuhnya yang tegang menjadi lebih longgar. Bahunya yang bidang merosot turun dan wajahnya yang tadinya bersinar oleh kemurkaan, meredup. Ia lalu berjalan pelan hendak menuju ruang tunggu.


“Kau tidak bisa,” Ucap Raka, menghentikan langkah Arka. Arka menoleh dan melihat tatapan mata Raka yang dingin dan senyumnya yang terlihat kejam. “Tapi aku bisa.”


***


“Boss?”


“Nat.”


“Bagaimana cara menghubungi Charles?”


Natasha terdiam sesaat.


“Saya bisa melakukan apa yang bisa Charles lakukan.” Ucap Natasha kemudian dengan nada getir.


“Aku tahu. Tapi saat ini aku perlu kau melakukan hal lainnya. Aku perlu kuantitas dan bukan hanya kualitas. Jadi jangan cemburu.”


“Baiklah.”


“Alamat?”


“Sudah saya kirim.”


Setelah Raka menutup sambungan teleponnya, ia lalu memeriksa chat dari Natasha. Natasha mengirimkan padanya sebuah nomor telepon, yang dibawahnya dilengkapi dengan tutorial menghubungi Charles yang hanya berupa sederet angka. ‘5, 2, 7, 3. Lapse 1 menit each.’ Raka mengambil sebuah telepon genggam mungil monochrome dari dalam kantung celananya. Setelah memasukkan nomor telepon yang diberikan oleh Natasha ke dalam memory telepon, Raka mulai membuat panggilan. Raka membiarkan nada dering berbunyi 5 kali, lalu langsung mematikannya. Setelah menunggu selama 1 menit, ia kembali menghubungi nomor yang sama dan kali ini hanya membiarkan nada panggilnya berdering 2 kali, sebelum Raka menutupnya kembali. I menit kemudian ia kembali menelepon ke nomor yang sama dan membiarkan nada panggilnya berdering sebanyak 7 kali sebelum kembali menutupnya. I menit kemudian, Raka mengulangi kembali menelepon ke nomor yang sama dan membiarkan nada deringnya berbunyi sebanyak 3 kali. Ujung jari Raka sudah hendak mematikan sambungan telepon tersebut dan berniat mengulang kembali dari awal, ketika seseorang akhirnya mengangkat teleponnya.


“Hallo.” Terdengar sebuah suara serak seorang pria menjawab dari ujung sambungan telepon tersebut.