
"Datuk, jadi mengapa kita perlu berlatih kultivasi di tempat ini?" tanya Rainy diantara suapannya.
"Aku baru menanyakan pertanyaan tersebut padamu dan sekarang kau mau mengakaliku untuk menjawabnya untukmu?" tanya Datuk Sanja dengan kesal.
"Datuk kan tahu bahwa saya belum pernah belajar tentang kultivasi sebelumnya. Seorang guru seharusnya tidak menanyakan pada muridnya sesuatu yang belum pernah ia ajarkan!" ucap Rainy dengan lagak paling benar, membuat Datuk Sanja mendengus geli. Dasar gadis keras kepala yang tak pernah mau kalah! Pikir Datuk Sanja.
"Bukankah kau belajar kiev Maga?" tanya Datuk Sanja.
"Emm. Benar." Rainy mengangguk.
"Apakah kau pikir kau jago?" tanya Datuk Sanja lagi.
"Sepertinya begitu." sahut Rainy tanpa rasa sungkan sedikitpun.
"Darimana kau tahu?" Tanya Datuk Sanja.
"Saya mungkin tidak bisa menang bila bertanding melawan Raka atau Arka. Tapi bila melawan anggota team lainnya, Saya biasanya selalu menang." ucap Rainy bangga.
"Dasar katak dalam tempurung." ejek Datuk Sanja. Rainy mengerutkan keningnya dan bertanya
"Eh? Apa maksud Datuk?"
Bila kau hanya bertanding melawan anggota teammu, kemenanganmu patut diragukan!" Ucap Datuk Sanja dengan tegas.
"Kok begitu?" Heran Rainy.
"Karena siapa sih yang bisa memastikan bahwa mereka benar-benar telah dikalahkan olehmu?" ucap Datuk Sanja berargumentasi.
"Ah? Mereka tidak mungkin..." Rainy sudah ingin membantah bahwa para anak buahnya tidak akan melakukan hal tersebut namun kemudian dia ingat bahwa gerombolan pria muda yang biasa melakukan sparring dengannya itu memang sangat mungkin melakukannya. Setiap kali Rainy terluka, mereka akan panik dan seringkali mengatakan bahwa itu membuat mereka bisa merasakan rasa sakitnya daripada ketika diri mereka sendiri yang terluka.
'Dasar sekelompok pembohong! Rupanya mereka memandang remeh diriku!' pikir Rainy geram. Ia mengunyah makanannya sambil berpikir bahwa ia sedang mengunyah-ngunyah anak buahnya. Datuk Sanja yang disuguhi pemandangan perubahan ekspresinya, mengerutkan keningnya dengan heran.
'Dia tidak sedang salah paham kan?' pikir Datuk Sanja, tidak menyadari bahwa itulah yang benar-benar sedang terjadi. Rainy yang keras kepala salah mengartikan perilaku melindungi yang ditunjukan oleh anak buahnya sebagai sikap merendahkan. Kalau saja Ivan, Ace, Ghana dan yang lainnya mengetahui ini, mereka pasti sudah memukul dada mereka karena gemas.
"Menara ini menawarkan program pelatihan yang sangat intensif. Disini, kau bukan saja belajar mengenai kultivasi, namun juga diberikan kesempatan untuk menajamkan kemampuanmu lewat sejumlah besar pertarungan, karena tanpa pengalaman bertarung yang maksimal, tak perduli setinggi apapun kultivasimu, kau tidak akan bisa mencapai potensi terbaikmu." ucap Datuk Sanja menjelaskan. "Disini kau akan bertemu dengan lawan bertarung yang akan memaksamu melewati semua keterbatasanmu agar bisa menyelamatkan hidupmu. Pertarungan disini bukan lagi sekedar soal siapa yang menang atau kalah, atau siapa yang lebih kuat atau lemah, tapi tentang bertahan hidup sampai lantai terakhir."
"Bertahan hidup?" mengapa terdengar begitu menyeramkan? pikir Rainy.
"Benar. Pertarungan yang terjadi disini seringkali adalah pertarungan sampai mati." ucap Datuk Sanja lagi.
"Mati dalam menara ini bukan berarti kau akan sungguh-sungguh kehilangan nyawamu. Kau akan bangkit lagi dan memperoleh 2 kali lagi kesempatan untuk mengulangi pertarungan. Namun bila kesempatan tersebut habis, kau akan dilemparkan kembali ke lantai dasar." beritahu Datuk Sanja.
"Begitu kejam?" cibir Rainy kesal. Dia membayangkan betapa menyebalkannya bila ia harus terlempar kembali ke lantai satu padahal telah mencapai lantai paling tinggi.
"Itu adalah hukuman. Wajar kalau sedikit berat kan?!" sahut Datuk Sanja membuat cibiran Rainy bertambah jelek. Itu akan sangat menyebalkan! Pikir Rainy. Ia sangat benci bila harus mengulang dari awal setelah mencapai lantai yang tinggi.
"Dengan siapa saya akan bertarung nanti, Datuk?" tanya Rainy kemudian.
"Lawan bertarungmu ditentukan oleh kecerdasan buatan yang mengelola Menara ini jadi akupun tidak bisa menebaknya. Yang perlu kau tahu adalah bahwa walaupun seluruh latihan dan pertarungan yang dilakukan di dalam menara ini adalah ilusi belaka, dan bila kau mati dalam menara ini, kau tidak akan sungguh-sungguh kehilangan nyawamu, namun rasa sakitnya tetap nyata." lanjut Datuk Sanja. Rainy mengangguk.
"Menara ini terdiri dari berapa lantai, Datuk?" Tanya Rainy lagi.
"Seluruhnya 13 lantai. Lantai dasar adalah tempat kau belajar teori dasar kultivasi. Lantai 2 sampai 10 adalah tempat kau belajar untuk mengaktifkan cakramu, lantai 11 adalah tempat kau belajar cara menggunakan kemampuan fisik, spiritual atau elemen yang kau miliki. Lantai 12 adalah tempat kau membenahi dan meningkatkan aspek-aspek kelemahanmu. Dan lantai terakhir adalah tempat ujian terakhirmu. Di lantai terakhir ini kau akan berhadapan dengan musuh terbesarmu." ucap Datuk Sanja menjelaskan.
"Lilith?" tanya Rainy tiba-tiba.
"Belum tentu. Ada banyak orang yang menemukan bahwa musuh terbesar mereka adalah diri mereka sendiri." jawab Datuk Sanja.
"Ah." Rainy menganggukkan kepalanya.
"Kalau kau sudah selesai makan, ayo kita segera melanjutkan perjalanan." ajak Datuk Sanja. Rainy mengangguk. Ia mengumpulkan semua peralatan makannya dan untuk sesaat kebingungan karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan semua sampah tersebut. Namun tiba-tiba, sebuah kotak sampah muncul di dekat kaki Rainy dan membuat gadis itu nyaris terpekik kaget, namun segera mengendalikan diri. Rainy merasa bahwa semakin lama ia semakin terbiasa dengan berbagai hal aneh dan misterius yang terjadi di dunia kecil milik Datuk Sanja ini yang seringkali membuatnya merasa bagaikan Alice yang sedang terdampar di dunia ajaib ini.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke arah Oase yang terlihat namun tidak juga berkurang jaraknya.
"Datuk, mengapa jarak antara kita dan oase itu tidak juga berkurang?' tanya Rainy dengan kesal sambil mengusap wajahnya yang basah dengan sapu tangan basah.
"Mungkin karena menara ini merasa bahwa kau membutuhkan jalan kaki yang panjang?" Sahut Datuk Sanja asal.
"Ck, Datuk bohong lagi." decak Rainy tidak terima.
"Apakah kau tidak percaya?" tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk sambil memasag ekspresi jelek. Datuk menatap wajah Rainy dengan geli. Sebagai pelatih Rainy, Datuk Sanja tidak perlu melakukan perjalanan panjang ini yang merupakan salah satu cara menara menempa Rainy. Ia melakukannya karena ingin agar Rainy tidak merasa kesepian. Namun karena gadis ini tidak menghargai pengorbanan yang dilakukannya, Datuk Sanja memutuskan ia akan mengeraskan hati dan membiarkan Rainy melakukan semua ini sendirian.
"Kalau begitu, berhubung kau tidak percaya padaku, silahkan kau melanjutkan perjalanan ini sendirian." ucap Datuk Sanja. Tak lama kemudian tubuh Datuk Sanja menghilang dalam kelebat yang sangat cepat, sama sekali tidak memberi Rainy kesempatan untuk bereaksi. Rainy menoleh ke arah oase yang terlihat di kejauhan dan ia menemukan Datuk Sanja sedang berdiri di antara pohon-pohon palem yang teduh dan melambaikan tangan kepadanya.
"Dasar pengkhianat!" geram Rainy dengan kesal sambil menghentakkan sebelah kakinya ke atas pasir gurun. Sambil menghela nafas panjang, Rainy melanjutkan melangkah menuju Oase dengan ekspresi wajah yang semakin lama semakin jelek. Sejuta omelan pada Datuk Sanja menggema di kepalanya, membuat Arka kecil yang ada dalam benaknya tertawa bergulingan di lantai.