
"Mengapa kau selalu mengajak Datuk bertengkar sih?" tanya Arka setelah ia berhasil mengendalikan tawanya. "Sudah bagus-bagusnya beliau menemanimu melintasi gurun ini, kau malah membuatnya marah. Rasakan sekarang. Kau ditinggalkan sendirian!" ejek Arka masih dengan wajah penuh senyum.
Rainy menyadari bahwa dalam hal ini ia memang bersalah karena itu ia berhenti mengomel dan berjalan pelan dalam diam, masih dengan wajah cemberut. Kalau dipikir-pikir, entah mengapa ia suka sekali menentang kata-kata Datuk Sanja. Lalu apabila berada bersama Datuk, ia berubah menjadi burung kecil yang tidak berhenti bersiul; bicara tiada henti. Padahal selain bersama Raka dan kedua orangtuanya, Rainy cenderung pendiam. Dan bahkan saat bersama orangtua dan Raka tidak membuatnya ingin adu argumentasi setiap saat dan setiap waktu.
"Setiap kali bersama Datuk, kau memang seperti itu." beritahu Arka kecil. "Mungkin karena Datuk suka sekali menggodamu sehingga kau jadi suka balas mengganggu Datuk. Sepertinya walaupun ingatanmu mengenai kehidupan yang lalu belum kembali, namun hatimu bisa mengenali orang-orang yang mencintaimu." ucap Arka lagi. Rainy menganggukkan kepalanya. Mungkin dugaan Arka kecil memang benar.
"Apakah kau pernah pergi ke menara seperti ini?" tanya Rainy. Arka kecil menggelengkan kepalanya.
"Tapi walaupun aku belum pernah memasuki menara seperti ini, aku pernah mendengar tentang tempat ini dari mereka yang pernah memasukinya." beritahu Arka.
"Kalau begitu apakah kau tahu mengapa kita tidak juga mencapai oase itu?" tanya Rainy.
"Jarak yang terlihat antara kau dan oase itu adalah ilusi. Fungsinya adalah untuk memeriksa kegigihanmu. Menjadi kultivator adalah jalan yang membosankan, melelahkan dan sangat panjang. Tidak ada jalan pintas yang bisa mempercepatnya. Kau bisa melihat ujungnya, tapi untuk mencapainya, kau tidak bisa melakukan apapun selain bersabar dan terus berusaha." beritahu Arka kecil. Rainy tercenung. Kalimat Arka kecil terdengar sangat masuk akal. Kesabaran: itu bukanlah sesuatu yang Rainy miliki. Jadi apakah ia memiliki kemampuan ketahanan untuk menjadi seorang kultivator? Rainy menarik nafas panjang.
"Adik kecil, tumben bicaramu lebih pintar dari pada orang dewasa?" goda Rainy jahil membuat Arka mengerutkan wajahnya dengan kesal.
"Bila umurku di kehidupan yang lalu digabungkan dengan kehidupan yang sekarang, aku jauh lebih tua darimu!" geramnya, membuat Rainy tersenyum geli. Arka kecil yang pemarah ini lebih sesuai dengan selera Rainy.
"Beda satu bulan saja sih tidak masuk hitungan!" ejek Rainy kemudian.
Jadi Rainy melewati perjalanan yang membosankan itu dengan bercanda bersama Arka kecil dalam dirinya. membuat perjalanannya menjadi sedikit lebih menyenangkan daripada bila harus dilalui sendirian tanpa suara. Butuh waktu 4 jam sebelum Rainy akhirnya melihat Oase tersebut mulai bergerak mendekat, membuat Rainy menarik nafas lega dan mempercepat langkahnya. Tubuhnya terasa sangat lelah dan kepalanya terasa sakit oleh teriknya matahari yang membakar. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika Rainy memasuki Oase dan menemukan Datuk Sanja sedang berbaring di atas ayunan yang tergantung di antara dua buah pohon kurma yang tinggi dan teduh, dengan kedua telapak tangan diletakkan di bawah kepalanya, dan kedua kaki saling menyilang. Bahasa tubuhnya menggambarkan seseorang yang sedang bersantai tanpa beban.
"Pengkhianat!" cela Rainy dengan kesal. Ekspresinya cemberutnya malah membuat Datuk Sanja tersenyum lebar. Untuk bisa membuat otot-otot malas di wajah gadis itu bergerak hingga membentuk sebuah ekspresi, dipandang Datuk sebagai sebuah pencapaian yang menyenangkan.
Rainy mengeluarkan sebuah bean bag berwarna biru langit dari dalam tas kosmos putihnya dan melemparkan tubuhnya ke atas bean bag tersebut dengan perasaan lega. Ia sangat bersyukur karena ada yang berpikir untuk meletakkan bean bag tersebut ke dalam tas kosmosnya karena terus terang saja, Rainy merasa tidak mampu bila harus berbaring di atas tanah secara langsung. Tak lama kemudian, suara nafas yang halus dan teratur terdengar. Saat melihatnya, Datuk Sanja mendengus geli. Kemampuan Rainy untuk beradaptasi sungguh luar biasa. Kecepatannya untuk memahami cara penggunaan tas kosmos itu juga sungguh di atas rata-rata. Sebentar saja ia sudah berhasil menemukan benda-benda menyenangkan yang dijejalkan para leluhurnya ke dalam tas kosmos tersebut untuk menghiburnya. Bean bag yang digunakannya itu pasti pemberian si triplet. Itu adalah hadiah favorit yang mereka sebarkan ke semua orang di dunia kecil. Bahkan Ungu juga memperoleh sebuah bean bag berwarna ungu sebagai hadiah ulang tahunnya.
Datuk Sanja membiarkan Rainy untuk tidur dan melepaskan kepenatannya tanpa mengganggunya sama sekali. Saat ini, pekerjaannya baru dimulai. Biarkan saja gadis itu beristirahat sepuasnya terlebih dahulu. Masih ada hari esok yang bisa digunakan untuk menyiksanya sepuas hati. begitu pikir Datuk Sanja dalam hati. Itulah sebabnya Rainy memperoleh waktu tidur yang panjang dan saat akhirnya ia terbangun dengan sendirinya, hari sudah gelap, sementara wangi kopi tercium memenuhi udara.
Rainy menegakkan tubuhnya dan meraih cangkir kopi tersebut, lalu menghirupnya pelan. Rasa pahit dan manis kopi, disertai keharumannya yang menyenangkan seolah membawa terbang kekesalan dalam hati Rainy. Mengabaikan garpu mungil yang tersedia, Rainy meraih potongan cake berwarna coklat tua yang sebagiannya ditutupi oleh lapisan cream putih dan ditaburi potongan coklat tersebut dengan ujung-ujung jari tangan kanannya, lalu langsung menggigitnya dalam potongan yang besar. Berapa lama sudah ia tidak memperoleh pasokan pastry eclairnya? Biasanya setiap hari, Raka atau Arka, atau malah Mr. Jack sendiri, tidak pernah lupa untuk menyiapkan snack-snack manis tersebut untuknya. Sudah berapa lama waktu itu berlalu? Mengapa rasanya sudah lama sekali? Rainy menghela nafas panjang.
Kalau diingat-ingat lagi, masa-masa itu adalah periode yang membahagiakan dalam hidupnya. Kekasihnya ada di sisinya, kakaknya juga selalu siap sedia menjaganya, paman Jacknya selalu memanjakannya, dan anak buahnya selalu siap bertualang dengannya. Pada waktu itu masalah seperti tiada habisnya, namun di akhir hari mereka selalu memiliki saat-saat yang menyenangkan untuk diceritakan bersama.
"Ternyata saat itu, kau sangat bahagia ya?" komentar Arka kecil saat mendengarkan pikiran Rainy. Rainy mengangguk pelan dan seulas senyum lembut terukir dibibirnya.
"Emm. Saat itu, KITA sangat bahagia." Ralat Rainy. "Kau selalu ada di dalam diriku, sementara dirimu yang separuh lagi, selalu menemaniku. Jadi waktu itu bukanlah kebahagiaanku sendiri!"
"Aku tahu." Arka kecil mengangguk. Sekarang tubuhnya dalam keadaan koma, Mr. Jack sibuk menjaga mertuanya di rumah sakit, Raka harus bersembunyi di dunia kecil untuk menghindari Lilith dan Lilian, teman-teman mereka yang lain harus bekerja tanpa mereka dan Rainy terpaksa terkurung di menara ini selama 100 tahun lamanya. Padahal bukan Arka yang harus menjalani secara langsung, namun memikirkannya saja sudah membuat ia merasa lelah.
"Tapi kita tidak memiliki cara lain lagi. Aku harus jadi kuat agar kau bisa segera bangun dan agar kita bisa mengirim Lilith langsung ke neraka dengan tiket sekali jalan!" ucap Rainy sambil mengangkat kedua bahunya.
"Apakah kau sudah siap untuk berkultivasi selama 100 tahun, Rain? Latihannya akan sangat berat lho!" tanya Arka kecil dengan iba. Mendengar kata-katanya tersebut membuat Rainy ingin sekali mencubit kedua pipinya keras-keras.
"Mengapa baru kau tanya sekarang, bodoh? Kan aku sudah berada disini!" ejek Rainy, membuat Arka tersenyum.
"Terimakasih, Rain." bisik Arka pelan. Ia tahu bahwa Rainy melakukan semua ini terutama untuk menyelamatkan dirinya.
"Bukankah kau sudah melakukan hal yang sama agar aku bisa tetap hidup?" sahut Rainy, mengacu pada situasi di kehidupan sebelumnya, dimana Arka mengorbankan setengah rohnya untuk mempertahankan nyawa Rainy. "Jadi yang kulakukan ini sudah seharusnya." tegas Rainy. Arka kecil mengangguk. Benar. Memang sudah seharusnya.
Rainy menyuapkan potongan terakhir black forrest di tangannya ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, Rainy bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat Datuk Sanja berada, sambil membawa tumpukan cangkir kopi dan piring kue yang telah kosong ditangan kirinya. Saat sampai di dekat Datuk Sanja, sambil memperhatikan Datuk Sanja, Rainy bertanya,
"Datuk, kau sedang apa?"