My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Jangan Panggil Aku Datuk



"Jelek!" cela Nuri dengan kejam. Mendengar ini, sudut-sudut bibir Rainy langsung menurun.


"Angah, Rainy hanya gugup. Aku yakin bila ia melihat betapa tampannya suaminya nanti, senyumnya akan muncul dengan sendirinya." ucap Clarissa sambil tersenyum geli. Rainy memandang ke arah Clarissa dengan heran. Mengapa Clarissa memanggil Nuri dengan panggilan angah? Bukankah Clarisa dan Nuri berbeda jarak generasi beberapa dekade?


"Benar Datuk." ucap Ratna sambil berjalan mendekat. Saat itu Ratna sudah berganti pakaian dengan gaun berwarna ungu yang ia bawa dari rumah. Sebenarnya saat mendengar saran dari Guru Gilang agar mereka pindah ke dunia kecil milik Datuk Sanja itu, Ratna, Ardi dan Raka sudah membawa serta semua pakaian dan perabotan yang mereka pikir akan mereka butuhkan setelah bertanya pada Lara. Mereka juga tidak lupa membawa serta pakaian dan beberapa benda kesayangan Rainy, termasuk gaun pengantinnya. Namun karena menghormati para leluhur tersebut, ketika Clarissa menawarkan untuk meminjamkan kebaya pengantinnya pada Rainy, Ratna memutuskan untuk menyembunyikan keberadaan gaun pengantin tersebut. Sekarang, melihat putrinya dalam balutan Kebaya putih yang menawan, Ratna bersyukur atas keputusan yang dibuatnya karena Rainy terlihat sangat mempesona.


"Saat masih kecil, Rainy anak yang mudah tersenyum dan tertawa. Ia baru berubah sejak ayah memperkenalkannya dengan Lilith. Ia menjadi dingin, acuh dan tanpa ekspresi. Namun bila hanya bersama saya dan suami, serta Arka dan Raka, ia masih tetap seperti Rainy kecil yang mudah tersenyum dan tertawa. Saat ini ia hanya gugup saja." Ratna menyentuh dagu Rainy dan memandang anak gadisnya dengan tatapan bangga. "Kau telihat sangat menawan, sayang. Hari ini kau akan jadi pengantin tercantik di dunia." pujinya.


Kata-katanya kontan membuat Rainy tertawa tanpa suara. Mamanya sungguh berlebihan, pikir Rainy. Melihat Rainy yang tertawa dengan mudah saat bicara dengan ibunya membuat Nuri tersenyum puas.


"Itu baru benar! Coba lihat betapa cantiknya dirimu ketika sedang tertawa seperti itu!" pujinya. Nuri mengulurkan kedua tangannya dan memegang lengan atas Rainy, memaksa gadis itu untuk menatap ke arahnya.


"Rainy, aku tahu bahwa selama ini kau selalu merasa sendirian dalam menghadapi iblis-iblis itu. Tapi sudah kau tidak perlu merasa begitu lagi karena mulai sekarang ada kami! Kami semua disini adalah keluargamu. Kami semua disini akan mendampingimu untuk menghancurkan iblis-iblis itu! Karena itu kau boleh mempercayai kami dan boleh bersandar pada kami." ucap Nuri. "Selama kau berada di dunia kecil ini, tak ada satu iblispun yang bisa menyentuhmu. Dan ketika kau sudah siap, kami akan mendampingimu untuk melawan Lilith dan mengirimkannya kembali ke neraka. Jadi tenangkan hatimu dan nikmati kebahagiaanmu hari ini. Kau mengerti?"


Menerima pidato yang penuh dukungan itu, Rainy merasa hatinya menghangat. Melawan dan mengirimkan Lilith kembali ke neraka adalah impiannya. Selama ini ia selalu merasa bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melakukannya kecuali dirinya sendiri, karena tak ada orang yang bisa melakukan apa yang bisa ia lakukan. Hal itu membuat Rainy tanpa sadar merasa terbebani sehingga membuatnya kehilangan minat pada dunia. Di matanya, dunia dipenuhi oleh kebohongan yang hanya bisa dilihat oleh sebagian orang saja. Orang lain terlihat hidup dengan penuh gairah mengejar dunia namun tidak menyadari bahwa di sisinya, ada iblis yang sedang meracuni pikirannya dan membuatnya melakukan hal-hal yang tidak pada tempatnya. Manusia tersebut pikir ia hidup dengan bahagia, padahal kebahagiaannya adalah sebuah delusi yang di ciptakan oleh iblis. Sungguh membosankan! Hanya sedikit hal di dunia yang bisa membuat Rainy menunjukan ketertarikannya sehingga membuatnya tanpa sadar semakin menarik diri dari kehidupan sosial. Apabila bukan karena Neneknya dan Raka yang mempersiapkan sejumlah orang untuk Rainy pimpin dalam Divisi VII, Rainy mungkin akan sepenuhnya memisahkan diri dari dunia sosial.


Kini, seseorang menjanjikan kehidupan yang bebas tanpa iblis dan pasukan yang mampu berjuang bersamanya melawan iblis. Rainy merasa hatinya penuh oleh rasa haru. Ia tidak sendirian! Ternyata ia benar-benar tidak sendirian! Perlawanan ini tidak akan sia-sia dan ia memiliki kesempatan besar untuk memenangkannya! Memikirkannya membuat mata Rainy jadi berkaca-kaca. Tanpa sadar senyumnya mengembang indah, namun air mata turut mengancam turun untuk merusak make up yang sudah susah payah Clarissa lukis di wajahnya.


"Eh, aku menyuruhmu tersenyum, tapi jangan dibarengi dengan air mata dong!" protes Nuri yang langsung mengambil tissue yang diulurkan Clarissa, untuk menghapus genangan air mata Rainy dengan hati-hati.


"Terimakasih, Datuk." ucap Rainy dengan penuh perasaan.


"Tapi ada satu hal lagi yang harus kau ingat." beritahu Nuri dengan nada tegas. Rainy yang langsung waspada begitu mendengar perubahan dalam suara Nuri, mengedipkan matanya perlahan.


"Apa itu, Datuk?" tanya Rainy pelan.


"Di dunia kecil ini, semua orang berstatus Datuk. Coba lihat wajahku. Apa aku yang secantik dan semuda ini pantas dipanggil Datuk?" tanya Nuri. Kali ini Rainy berkedip dengan cepat dengan ekspresi bingung. Dalam hati, Nuri berseru, 'menggemaskan! Mengapa gadis kecil ini begitu menggemaskan?!'


Dengan patuh akhirnya Rainy menggeleng.


"Iya kan? Masa gadis semuda dan secantik aku dipanggil Datuk! Sungguh menjatuhkan mentalku!" keluh Nuri. "Karena tak satupun dari kami disini bersedia dipanggil Datuk, kami semua membuat kesepakatan bahwa selain Datuk Sanja, tidak ada seorangpun yang akan dipanggil Datuk." Beritahu Nuri.


"Eh? Lalu bagaimana saya harus memanggil Datuk semua?" tanya Rainy dengan bingung.


"Kau harus memanggil berdasarkan urutan kelahiran seperti biasanya. Contohnya seperti aku; kau seharusnya memanggilku Datuk angah karena aku adalah anak ketiga. Nah, kau bisa memanggilku angah saja!" beritahu Nuri.


"Ah? Tapi apa tidak apa-apa saya melakukan itu? Bukankah itu berarti saya mengabaikan pangkat Datuk dan itu sepertinya sangat tidak sopan?" tanya Rainy. Di sebelahnya, Ratna mengangguk setuju. Tak perduli seberapapun mudanya mereka terlihat, mereka semua adalah leluhur yang lahir beberapa generasi di atas Ardi. Maka kecuali Fahri dan si triplet yang berada satu generasi di atas Fahri sehingga Ardi memanggil mereka dengan sebutan Niwe dan Nini, semuanya berhak dipanggil Datuk.


"Siapa bilang tidak sopan? Kan kami yang memintamu untuk melakukan itu! Kau juga, Ratna! Beritahu Ardi untuk melakukan hal yang sama. Dan kau Rainy, jangan lupa untuk mengajari Raka. Mulai sekarang panggil aku Angah Nuri dan dia," Nuri menunjuk ke arah Clarissa. "Anjang Clarissa. Kau mengerti?"


Dengan susah payah Rainy menganggukan kepalanya sementara otaknya berputar keras. Memanggil semua leluhur sebagai Datuk adalah sangat mudah. Tapi kalau Rainy harus mulai menyapa mereka semua berdasarkan urutan kelahiran, Rainy harus mengetahui dengan jelas urutan kelahiran setiap orang. Siapa yang harus dipanggil ulak, siapa yang harus dipanggil gulu, dan seterusnya. Padahal ia bahkan belum mampu mengingat nama dan wajah semua orang! Bukankah perintah Nuri membuat kesulitan Rainy meningkat? Semakin dipikir, Rainy merasa kepalanya menjadi pening. Namun sebelum ia mampu menemukan solusi terhadap masalah tersebut, Nuri dan Clarissa sudah mendorongnya keluar dari kamar menuju ke lokasi akad akan dilaksanakan.