My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Perlawanan



Pemandangan di hadapan Rainy kembali berganti dengan cepat. Hari kembali berubah menjadi malam. Rainy dan Datuk Sanja sedang berdiri dari atas tebing dan memandang sosok Lauri yang baru saja keluar dari Jukungnya menuju ke tepi sungai. Ia berjalan dengan cepat dan tanpa suara, menyusuri jalan setapak yang lenggang untuk menuju ke tebing. Dengan gesit ia bersembunyi dari beberapa orang prajurit iban yang sedang berpatroli. Ketika Lauri telah sampai di tebing, ia menyusup di antara pepohonan dan terus mengendap-endap mendekati tempat para penculik Iban tersebut membawa penduduk desa yang mereka culik untuk beristirahat, di tengah perjalanan menuju desa mereka yang lokasinya sangat jauh dari wilayah suku Bakumpai. Di belakangnya, Rainy dan Datuk Sanja mengikuti langkahnya dengan perlahan.


Suara di lokasi perkemahan tersebut cukup ramai oleh percakapan yang penuh perasaan antusias dan senda gurau kasar yang menyakitkan telinga. Para pemuja iblis itu rupanya sedang merayakan kemenangan mereka. Mereka duduk membentuk sebuah lingkaran di tengah-tengah lokasi perkemahan, sambil memakan nasi dan daging hasil buruan yang dimasak oleh para budak baru mereka dengan sangat lahap. Sementara itu, para korban yang mereka culik, duduk berkelompok di tepi-tepi area perkemahan sambil memakan ubi jalar panggang yang menjadi satu-satunya makanan yang boleh mereka makan selama beberapa malam dalam penculikan itu.


"Kau seharusnya lihat bagaimana aku melawan salah satu panglima Datuk Rumbun. Mereka sangat luar bisa kuat. Andai saja panglima Mamut tidak berakal dan tidak meracuni sumber air mereka, mana mungkin kita bisa mengalahkan mereka dengan begitu mudah!" salah satu anggota pasukan Iban tersebut membuka mulutnya yang ringan dan membongkar rahasia besar yang menyebabkan para korban mereka terguncang. Wanita-wanita suku Bakumpai itu berpandangan. Jadi itu sebabnya mengapa prajurit mereka menjadi begitu lemah dan mudah dikalahkan?! Pikir mereka dengan geram.


"Uma, aku takut!" Tangis seorang anak perempuan mungil yang terlihat begitu rapuh dalam perlindungan tangan-tangan ibunya. Ibunya mendekap putrinya erat-erat. Gadis kecil itu masih terlalu muda untuk mengalami semua kekejaman tersebut.


"Jangan takut, nak. Uma akan memastikan bahwa kau akan selalu aman dan terus berada di sampingku!" bujuk ibunya. Di samping kiri dan kanannya, 2 adik sepupunya duduk diam dengan wajah penuh amarah. Keduanya masih berusia 16 tahun. Yang duduk di sebelah kirinya baru akan menikah bulan depan namun kepala calon suaminya yang merupakan salah satu pengawal kepercayaan Datuk Rumbun baru saja dilempar-lempar dan dijadikan bahan tertawaan oleh para pembunuh itu. Sementara itu, yang duduk di sebelah kanannya baru saja menikah selama 2 bulan, namun suaminya telah kehilangan nyawanya di tangan para penculik mereka.


Tadinya keduanya menunjukan sikap yang sama takutnya dengan putrinya. Namun setelah mendengar percakapan para penjahat itu, rasa takut mereka menguap di gantikan oleh amarah yang terasa bagaikan hawa dingin menusuk di tubuh Wanita tersebut. Ia adalah seseorang yang di jaman modern disebut sebagai Empath. Kemampuannya ini membuatnya menjadi sangat sensitif pada perasaan orang-orang yang berada di sekitarnya. Karena khawatir kedua adik sepupunya itu akan bertindak ceroboh akibat tak mampu menahan perasaan mereka, wanita itu mengulurkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan, dan mencengkeram lengan kedua sepupunya kuat-kuat sebagai peringatan.


Tiba-tiba wanita itu merasa tangan seseorang menyentuh lengannya sendiri. Wanita itu menoleh ke arah lengannya yang telah disentuh dan melihat seorang wanita dengan kerudung menutupi kepala dan menyembunyikan wajahnya, mendekat ke arahnya.


"Angah..." sebuah suara yang sangat dikenalnya membuat mata wanita itu terbuka lebar. Itu bukan suara wanita, namun suara anak dari sepupunya, Datuk Rumbun. Suara Lauri. Namun sebelum sempat ia bereaksi, sepasang tangan menekan bahunya dan memaksanya untuk tidak bergerak.


"Ssst, jangan bergerak! Berpura-puralah bahwa angah tidak mendengarku!" ucap suara itu dengan tegas. Namun walaupun ibunya dengan patuh tidak bergerak, anaknya yang girang karena mendengar suara sepupunya, tak bisa menahan diri untuk memanggil pelan.


"Kak Lauri..." tangan ibunya langsung bergerak untuk menutup mulut putrinya. Lauri menjulurkan kepalanya dari bahu wanita yang dipanggilnya Angah tersebut dan menatap gadis kecil itu sambil tersenyum. Ia lalu menempelkan ujung jarinya di bibirnya sebagai isyarat untuk gadis kecil itu. Gadis kecil itu mengangguk pelan. Barulah setelah itu ibunya melepaskan tangannya dari mulut si anak.


"Angah, peluklah Nara hingga kepalanya ada di bahumu dan lengannya memeluk lehermu." suruh Lauri.


Wanita itu mengangkat putrinya dengan perlahan dan dengan luwes menggendongnya dengan cara memeluk, seolah-olah ia sedang berusaha menidurkan putrinya. Tubuhnya mulai bergerak pelan ke kiri dan ke kanan. Sebelah tangannya menepuk-nepuk punggung putrinya. Apabila para penjahat itu melihatnya, mereka hanya akan berpikir bahwa ia sedang berusaha untuk menidurkan anaknya. Di sebelah kiri dan kanannya, kedua adik sepupunya beringsut mundur, berusaha menutupi keberadaan Lauri dengan tubuh mereka.


Lauri tersenyum pada Nara dan bertanya pelan.


"Apa kau takut?"


"Kau tidak boleh takut! Kau harus berani! Sebentar lagi, kakak akan membawamu pulang." bujuk Lauri.


"Apakah kakak janji?" bisik Nara dengan suara kanak-kanaknya yang menggemaskan. Lauri mengangguk dan tersenyum.


"Emm. Kakak janji!" ucapnya. Lauri kemudian mendekat ke arah Nara dan menempelkan bibirnya ke dahi gadis kecil itu. Membuat Nara tersenyum manis. Sambil tersenyum pada Nara, Lauri berbisik pelan,


"Angah, aku punya sekantong jamur. Masukkan ke dalam makanan mereka saat mereka lengah. Pastikan mereka semua memakannya. Begitu kau sudah berhasil, aku akan membawa kalian pulang." ucap Lauri.


Ia kemudian meletakkan sebuah tas kantong mungil yang terbuat dari kain kepada Nara. Tak lama kemudian ia mundur dan menghilang begitu saja dalam kegelapan malam tanpa ketahuan oleh para prajurit iban sama sekali. Wanita itu menarik nafas panjang. Lauri telah mengambil resiko besar untuk menyelinap ke perkemahan musuh ini demi menolong mereka. Karena itu ia tidak boleh gagal dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Wanita itu dengan luwes kembali menurunkan putrinya sambil menggerutu pelan.


"Mengapa kau tidak tidur juga? Bahu Uma sangat pegal karena berat tubuhmu." omelnya pelan.


Dalam pelukannya, Nara menguap dan setelah memasukan kantung pemberian Lauri ke dalam tangan ibunya, ia tersenyum dan menutup matanya. Tak lama kemudian Nara jatuh tertidur dengan nyenyak. Mata Ibunya membesar sesaat melihat putrinya yang tiba-tiba tampak begitu santai, padahal tadinya ia sangat ketakutan. Itu pasti karena kata-kata yang Lauri ucapkan padanya. Wanita tersebut hanya bisa menggelengkan kepala dan menarik nafas panjang melihat keantikan tingkah putrinya. Setelah berhasil menenangkan jantungnya yang sejak ia mendengar suara Lauri tadi, berdetak dengan sangat kencang, wanita itu pelan-pelan membuka kantong yang diberikan putrinya untuk melihat isinya. Kantong itu dipenuhi oleh jamur-jamur berbentuk indah dalam warna-warni yang sangat cantik. Wanita itu sangat tahu bahwa jamur di tangannya hanya punya satu keistimewaan yaitu; sangat sangat dan sangat beracun!


Tak jauh dari tempat mereka duduk, Datuk Sanja dan Rainy yang menonton peristiwa tersebut dengan penuh minat, tak urung merasa kagum pada keteguhan hati wanita-wanita dari masa silam ini.


"Kau lihat gadis kecil yang bernama Nara itu?" ucap Datuk Sanja.


"Emm." Rainy mengangguk. " Kenapa dengan Nara?" tanya Rainy.


"Itu adalah nenek buyutmu." sahut Datuk Sanja.


Glossary:


Angah adalah sebutan dari keponakan untuk wanita atau pria yang lahir sebagai anak ketiga. keponakan dalam hal ini termasuk juga anak-anak sepupunya.