
"Apa kau lupa," tanya Kartini. Wajahnya menggambarkan obsesi dan kegilaan yang membuat bulu roma meremang. "bahwa tak ada satu wanitapun yang boleh tetap hidup setelah berani merayumu!" Ananda tampak terguncang. Ia terdiam di tempatnya berdiri dengan wajah pucat pasi. Kartini yang melihat wajah pias putranya, rupanya jatuh iba. Ia mendekati Ananda dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Tak menyadari bahwa saat ujung jarinya menyentuh kepala Ananda, kedua tangan Ananda langsung terkepal begitu kuat hingga kuku jari-jemarinya hampir terbenam di dalam telapak tangannya.
"Mama tahu kau pasti merasa kasihan pada Nayla kan? Begini saja, mulai sekarang kau turuti semua kehendak mama. Mama janji selama kau bersikap patuh, mama akan memastikan Nayla dirawat dengan baik sampai ia sehat kembali. Setelah itu kita akan mengembalikannya pulang kepada orangtuanya. Setuju?" Bujuk Kartini dengan suara intim dan merayu. Ananda mengangguk pelan tanpa suara. Di belakang mereka, Nayla menyaksikan semua itu dengan tercengang.
Cara Kartini memandang Ananda, cara Kartini berbicara padanya dan cara Kartini menyentuh pria itu sama sekali bukan cara seorang ibu memperlakukan anaknya, namun lebih mirip cara seorang wanita bersikap di depan pria yang dicintainya. Lalu Ananda, mengapa dia diam saja? Mengapa pria yang biasanya terlihat sangat penuh percaya diri itu, sekarang tampak seperti anak-anak yang terbelenggu dalam rasa takut. Tak berdaya dan tidak memiliki keberanian untuk melawan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Selama itu, Nayla belum pernah sekalipun kembali ke tempat dimana tubuhnya terbaring. Ia juga tidak tahu dimana tubuhnya berada. Selain itu Nayla tak bisa pergi kemanapun. Ia hanya bisa berjalan dalam radius 10 meter dari rumah Ananda. Hari demi hari berlalu dengan Nayla terkurung dalam rumah putih itu dan harus menyaksikan perilaku yang sesungguhnya dari pria yang ia cintai dan ibunya, yang dulunya sangat disukai Nayla.
Kartini dan Ananda layaknya sepasang rubah. Mereka dengan mudah berganti-ganti karakter ketika berada bersama orang lain dan saat sedang berdua saja dengan Ananda. Mereka bukan hanya menipu Nayla dan orang-orang lain yang mengenal mereka, bahkan Ayah Ananda sendiri, Jendral Brahmana Putranto yang terkenal sangat pandai dan memiliki penglihatan yang tajam, menjadi korban dari sandiwara ibu dan anak tersebut.
Di hadapan sang Jendral, Kartini tampil layaknya wanita anggun yang penurut dan seorang ibu yang penuh pengertian. Sedangkan Ananda tampak seperti seorang pria muda yang ramah, sangat percaya diri dan penuh motivasi hidup. Namun saat ia berdua saja dengan Ananda, Kartini berubah menjadi predator yang sangat menjijikan dan Ananda menjadi korban yang tidak berdaya. Hal ini membuat Nayla meradang. Bagaimana bisa seorang pria dewasa yang bertubuh kuat serta atletis, tak mampu melawan wanita yang paling banyak hanya berbobot 60 kg? Apa dia bodoh? Atau dia sudah gila?
Lalu pada suatu hari saat orangtuanya tidak ada di rumah, Nayla menyaksikan Ananda menyelinap memasuki kamar orangtuanya dan membuka beberapa kotak yang tersimpan di dalam lemari, tampak sedang mencari-cari sesuatu. Dari sebuah kotak, Ananda mengeluarkan sebuah handphone model lama. Ananda kemudian membuka cover belakang handphone tersebut untuk mengeluarkan Micro SD di dalamnya, lalu mengembalikan Handphone tersebut ke dalam kotak. Setelah itu Ananda langsung keluar dari kamar orangtuanya dan kembali kamarnya sendiri.
Ananda lalu memasang Micro SD tersebut ke dalam card reader dan memasangnya ke port USB laptopnya. Micro SD tersebut berisi beberapa video. Ananda kemudian memutar salah satu video tersebut. Video tersebut tampaknya adalah sebuah video amatir yang diambil diam-diam dan orang yang merekamnya mungkin sedang ketakutan karena rekaman tersebut bergetar, seolah-olah orang yang membuat video tersebut sedang gemetaran. Dalam video tersebut tampak Kartini yang terlihat jauh lebih muda, sedang berbicara dengan seorang gadis remaja, atau lebih tepatnya ia sedang memarahi si gadis remaja dengan kata-kata yang sangat merendahkan. Bahkan beberapa kali Kartini menyebut gadis remaja tersebut sebagai pelacur. Di akhir video, kartini melayangkan tangan dan memukul wajah si gadis remaja. Beberapa detik kemudian, gambar di video itu bergerak cepat sebelum berhenti merekam, seolah-olah handphone yang dibuat untuk merekam telah terjatuh dari tangan pemiliknya.
Ananda memutar video selanjutnya, dan video yang selanjutnya, lalu video yang selanjutnya lagi. Semua video itu memiliki konten yang sama, yaitu Kartini sedang menganiaya seseorang. Satu hal yang disadari oleh Nayla adalah bahwa orang yang merekam video tersebut sepertinya selalu melakukannya diam-diam dan selalu dengan kondisi tangan yang gemetaran.
Totalnya terdapat 15 buah video dengan konten yang kurang lebih mirip. Setelah melihat semua Video itu dari balik punggung Ananda, Nayla berusaha untuk berbicara pada Ananda dan membujuknya untuk menyerahkan Micro SD tersebut ke polisi. Namun Ananda tak bisa mendengarnya. Ananda tidak memiliki kemampuan untuk mendengarkan suara dari yang tidak kasat mata. Hal ini lagi-lagi membuat Nayla marah, dan dalam amarahnya, peristiwa poltergeist terjadi.
Yang Nayla inginkan adalah agar Ananda pergi dari rumah itu sejauh-jauhnya dan memutuskan hubungan dengan ibunya. Nayla tahu bahwa Ananda bertahan di rumah itu untuk menemukan petunjuk mengenai keberadaannya yang disembunyikan oleh Kartini. Namun daripada harus melihat Ananda terus-menerus jadi mainan di tangan Kartini, Nayla lebih rela bila Ananda pergi menyelamatkan diri dan melupakan semua keinginannya untuk menemukan Nayla. Sayangnya, Ananda tidak dapat mendengarnya, apalagi memahaminya. Bukannya menggunakan Micro SD tersebut untuk melapor ke polisi, Ananda malah menyembunyikannya ke dalam pot bunga, setelah menyimpannya terlebih dahulu ke dalam sebuah kantong plastik. Dasar bodoh!
Dalam kemarahannya yang luar biasa, Nayla menemukan bahwa ia menyebabkan benda-benda bergerak. Awalnya hanya sedikit gerakan kecil dan hanya benda-benda berukuran kecil. Gerakan itupun terjadi begitu saja, diluar kendali Nayla, dan seringkali mengejutkan Ananda. Namun lama kelamaan saat amarahnya sudah tak terkendali, ketika Nayla berpikir ingin melemparkan piring ke wajah Ananda karena pria itu lagi-lagi membiarkan dirinya dilecehkan oleh ibunya, setumpuk piring yang berada dalam lemari benar-benar bergerak dan terlempar ke wajah Ananda. Menyebabkan luka menganga di wajah tampannya yang telah berhari-hari tampak kehilangan semangat hidup. Melihat darah menggenangi luka di wajah Ananda membuat Nayla menangis. Namun bukan air mata yang keluar dari matanya, namun tetesan darah yang mengalir bagai anak sungai menuruni tebing pipinya, membuat penampilan Nayla menjadi sangat menakutkan.
Copyright @FreyaCesare
Author Note:
It's lateee! I'm so so sorry!