My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Observasi II



“Ibu, apabila saya punya cara untuk membuang ilmu Kuyang dalam tubuh ibu, apakah ibu bersedia melakukannya?” Tanya Rainy dengan suara lambat. Kata-katanya ini sukses mengalihkan perhatian Bestari dari kotak makanannya. Ia menoleh ke arah Rainy dan memandang gadis itu dengan kening berkerut.


“Kau… kau bilang apa tadi?” Tanyanya dengan suara gemetar.


“Saya mempunyai cara untuk membuang ilmu Kuyang yang ibu warisi. Apakah ibu mau mencobanya?” dengan patuh Rainy mengulangi kata-katanya. Untuk sesaat Bestari hanya memandang Rainy dengan mulut terbuka. Ia tampak kesulitan untuk memproses kalimat yang Rainy ucapkan. Rainy balas memandangnya dengan penuh percaya diri, namun dalam diam. Ia mencoba untuk memberikan kesempatan bagi Bestari untuk meresapi kata-katanya dengan seksama. Bestari meletakkan kotak kuenya ke atas ranjang dan berjalan ke arah Batari untuk mencari pertolongan.


“Riri, dia bilang apa?” Tanya Bestari pada Batari. Batari tampak tertegun mendengar cara ibunya memanggilnya. Riri? Apakah itu nama panggilan yang diberikan orangtuanya? Tapi itu masuk akal sih, sebab nama ibunya adalah Bestari. Ibunya mungkin biasa dipanggil Tari sehingga ia sudah pasti diberi nama panggilan yang berbeda. Riri? Sungguh nama yang manis!


“Ibu, Rainy adalah seorang paranormal. Ia dan rekan-rekannya ini,” Batari menunjuk pada Raka dan anggota tim Rainy yang masih duduk di tempatnya semula. “Sudah banyak menolong orang untuk mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan mistis seperti ini. Rainy mengatakan padaku, bahwa ia memiliki kemampuan yang dapat menghancurkan ilmu Kuyang yang ada dalam tubuh ibu, sehingga ibu bisa bebas dari ilmu tersebut.” Cerita Batari dengan hati-hati. Ia ingin agar ibunya bisa menangkap setiap kata yang ia ucapkan dengan sejelas-jelasnya.


“Benarkah?” Tanya Bestari lagi dengan tidak yakin. Ia menoleh kembali pada Rainy.“ Tapi bagaimana caranya?” Tanya wanita tua itu kemudian. Rainy tidak ingin memberitahukan cara yang akan digunakannya pada Bestari karena khawatir Bestari akan ketakutan. Menurut pemikiran Rainy, bukankah Bestari tidak dapat mengingat peristiwa yang terjadi saat ia sedang berubah wujud menjadi Kuyang? Itu berarti apapun yang terjadi pada saat proses pembakaran, Bestari tidak akan mengetahuinya. Kalau begitu, lebih baik membuatnya tidak mengetahui sama sekali daripada nantinya hanya akan menyebab Bestari ketakutan.


“Saya akan mencoba mengeluarkannya dengan menggunakan energi yang saya miliki.” Sahut Rainy.


“Apakah bisa berhasil?” Tanya Bestari. Rainy mengangguk.


“Saya bisa menjamin keberhasilannya. Namum ada efek samping yang harus ibu ketahui.” Ucap Rainy lagi.


“Apa itu?” Tanya Bestari.


“Ilmu ini sudah berada terlalu lama dalam tubuh ibu sehingga pasti sudah mengakar dengan kuat. Selain itu ibu sudah tua, saya takut prosesnya akan membuat fisik ibu menjadi bertambah lemah karena kerusakan yang di akibatkan oleh pertempuran antara ilmu tersebut dengan energi yang saya kirim untuk melawannya di dalam tubuh ibu.” Beritahu Rainy.


“Apakah dapat membuatku mati?” Tanya Bestari. Karena tak berniat membohongi Bestari, Rainy mengangguk pelan dengan wajah serius.


“Tapi hal itu tidak dapat dipastikan. Ada 50% kemungkinan bahwa  ibu akan baik-baik saja. Mungkin fisik ibu akan menjadi lebih lemah, tapi itu bisa diperbaiki bersama berjalannya waktu.” Beritahu Rainy. “Tapi ada dua hal yang bisa saya pastikan.” Rainy mengulurkan jari telunjuknya ke depan wajahnya. “Yang pertama, ini akan terasa sangat menyakitkan.”


“Setelah berhasil menyingkirkan ilmu Kuyang ini dari tubuh ibu, maka Kak Riri akan terbebas dari keharusan mewarisi ilmu tersebut.” Ucap Rainy, dengan luwes merubah panggilannya terhadap Batari setelah mendengar panggilan yang diberikan Bestari untuknya. Mendengar ini, mata Bestari langsung terbuka lebar. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Rainy.


“Apakah maksudmu, bila aku mati, Riri tidak akan berubah menjadi Kuyang?” Tanyanya dengan nada suara yang naik 1 oktaf. Rainy mengangguk.


“Benar. Apabila ilmu Kuyang ini dihancurkan saat masih berada dalam tubuh ibu, maka setelah itu bukan hanya ibu tidak akan pernah lagi berubah menjadi Kuyang, kak Riri juga tidak akan pernah berubah menjadi Kuyang.” Ucap Rainy menjelaskan.


“Kalau begitu aku mau!” Jawab Bestari dengan tegas.


“Prosesnya bisa berbahaya untuk ibu. Kesehatan ibu bisa menjadi memburuk, bahkan mungkin meninggal dunia.” Ucap Rainy, berusaha untuk membuat Bestari memahami keuntungan dan resiko pengobatan ini sejelas-jelasnya.


“Aku adalah manusia hidup yang telah lama tidak lagi merasa hidup. Aku tidak takut mati. Aku malah sudah lama ingin mati. Aku hanya takut bila aku mati, putriku akan hidup menderita menggantikan aku.” Ucap Bestari. Ia menoleh ke arah Batari dan berkata, “Apabila aku bisa menjamin bahwa kau akan dapat hidup bebas dari ilmu terkutuk ini, aku rela melakukan apapun yang perlu dilakukan untuk mewujudkannya.” Mendengar kata-katanya, mata Batari langsung berkaca-kaca. Ia meraih kedua tangan ibunya yang memegang jeruji besi dan menangis sejadi-jadinya. Tangisannya tampak membuat Bestari tercengang.


“Mengapa menangis seperti ini? Aku masih hidup dan baik-baik saja, jangan kau tangisi seolah-olah aku sudah tidak ada di dunia ini! Cepat berhenti menangis!” Protes Bestari. Ia menoleh pada Mr. Jack dan menegurnya dengan sedikit keras. “Mengapa kau diam saja? Cepat lakukan sesuatu untuk menenangkan calon istrimu!” Mr. Jack yang mendengar kata ‘calon isterimu’ terucap dengan luwes dari mulut Bestari, menjadi berbunga-bunga. Ia langsung mendekati Batari dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


“Sssh… tidak apa-apa! Ibu akan baik-baik saja! Percayalah pada Rainy.” Bujuk Mr. Jack sambil menepuk-nepuk punggung Batari pelan. Mendengar ini, Rainy mengerutkan wajahnya dengan khawatir. Bisa tidak untuk tidak terlalu mempercayaiku? Aku memberitahukan resikonya pada kalian sehingga kalian bisa mengambil keputusan sendiri, agar aku tidak terbebani oleh tanggung jawab bila nyawa bu Bestari melayang saat pembakaran selesai dilaksanakan. Tapi kalau kau berbicara seperti itu, bukankah itu berarti kau memaksakan beban itu padaku, paman? Keluh Rainy dalam hati. Rainy menoleh pada Raka dan menatap pria itu dengan wajah berkerut. Raka yang memahami makna tatapan Rainy, memberinya senyum menenangkan dan mengulurkan tangan untuk mengusap kepala gadis itu dengan penuh rasa sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Begitu kata-kata yang yang disampaikannya lewat usapan tangannya. Memahami ucapan tanpa suaranya Raka membuat Rainy merasa menjadi lebih tenang.


“Kita bisa minta tolong pada Guru Gilang untuk mendampingimu.” Saran Raka, membuat wajah Rainy kembali cerah. Rainy mengangguk kuat-kuat. Benar juga! Guru Gilang pasti bisa sangat membantu. Rainy lalu kembali memandang ke arah Bestari.


“Apabila ibu sudah setuju, kapan ibu merasa siap untuk melakukannya?” Tanya Rainy pada Bestari.


“Bagaimana kalau sekarang juga?” Tanya Bestari. Mendengar ini, Rainy tidak langsung menjawabnya. Ia menoleh pada Batari yang masih menangis tanpa suara. “Apakah tidak mungkin?” Tanya Bestari lagi begitu menyadari keraguan Rainy.


“Tentu saja bisa, Ibu.” Rainy menoleh pada Batari. “Kak Riri, bagaimana menurut kakak? Apakah kakak siap?” Sebagai anak yang terancam akan kehilangan ibu kandung yang baru ditemukannya setelah terpisah nyaris seumur hidupnya, pasti sangat sulit bagi Batari untuk mengambil keputusan.  Apabila pengobatan dilakukan, ia mungkin akan kehilangan ibunya untuk selama-lamanya. Namun bila dibiarkan, bukan saja ibunya harus hidup dalam kerangkeng seperti ini sampai akhir hidupnya, Batari juga terancam akan berubah menjadi Kuyang setelah ibunya tiada. Karena pilihan yang manapun memiliki faktor resiko yang tinggi jadi yang mana yang akan dipilihnya?