My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Buku Bersampul Kulit



“Rainy sudah bangun.” Ucap Lara, memberitahu Guru Gilang. Lara sedang berada di kamar Guru Gilang. Ia menuangkan secangkir teh untuk Guru Gilang dari teko keramik dan meletakkannya di atas meja.


“Syukurlah.” Jawab Guru Gilang. Saat itu Guru Gilang sedang menulis surat diatas sebuah kertas yang berwarna putih tulang menggunakan fountain pen. Lara memandang kertas tersebut dan tersenyum.


“Papa, Divisi VII menyediakan begitu banyak kertas berkualitas yang bisa Papa gunakan untuk menulis surat. Mengapa Papa harus membawa kertas-kertas ini dari rumah?” Tanya Lara. Ujung jarinya membelai permukaan kertas tersebut dengan penuh rasa sayang. Ini adalah kertas yang dibuat oleh adiknya, Tara, khusus untuk ayah mereka yang sangat pemilih soal kualitas suatu benda. Orang hanya tahu bahwa Guru Gilang selalu berpenampilan sederhana dan tidak memiliki banyak permintaan mengenai perabotan yang digunakannya. Namun mereka tidak tahu bahwa Guru Gilang hanya mau mengenakan pakaian dari bahan yang 100 % katun. Atau ia hanya bersedia mengenakan perlengkapan mandi yang vegan dan organik. Atau ia hanya mau makan nasi yang berasnya tumbuh di pegunungan, yang membuat Nora, sang hostmaster pusing tujuh keliling saat ia dipaksa mendengarkan mengapa padi yang tumbuh di pegunungan lebih baik daripada padi yang tumbuh di dataran rendah. Dan seperti saat ini, Guru Gilang hanya mau menggunakan kertas yang dibuat dengan tangan, seperti kertas yang sedang digunakannya sekarang; yang mulai dari menanam pohon, sampai mencetaknya menjadi sebuah kertas, semuanya dikerjakan oleh putranya, Tara.


“Aku sudah terbiasa menggunakan kertas buatan adikmu. Lebih berkualitas dan indah dipandang mata. “ Sahut Guru Gilang. Lara tersenyum.


“Tara yang malang. Sejak kecil ia memimpikan untuk jatuh cinta dan memiliki keluarganya sendiri, tapi kenyataannya selama bertahun-tahun yang ia kerjakan hanyalah membuat kertas.”


“Ini adalah kertas yang sangat bagus. Adikmu sekarang adalah seorang master dalam membuat kertas. Bila ia pindah kemari, ia bisa membuka pabrik kertas dan menjualnya dengan harga yang premium.” Bantah Guru Gilang. Ia sedang membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. Guru Gilang kemudian melipat surat tersebut dan memasukkan ke dalam amplop yang terbuat dari bahan yang sama dengan suratnya.


“Papa, di jaman ini orang tidak lagi suka menggunakan kertas. Semuanya sudah dirubah dalam bentuk digital. Kertas dipandang sebuah pemborosan dan dapat membawa dampak kerusakan pada alam akibat pemotongan pohon yang berlebihan.” Beritahu Lara. Tapi ayahnya menggelengkan kepalanya.


“Meskipun begitu, masih banyak orang yang seperti aku, membutuhkan kertas untuk menciptakan sesuatu yang indah, atau untuk sekedar menulis kaligrafi. Adikmu bisa membuka pabrik kertas yang beroperasi sama seperti Divisi VII; hanya melayani VVIP.”  Bantah Guru Gilang. Membuat Lara tersenyum geli. Well, itu sama sekali tidak salah, namun Lara tahu ayahnya hanya sedang mencari penguatan terhadap hal-hal yang disukainya. Guru Gilang menutup amplop suratnya, kemudian meletakkan surat tersebut di atas meja. Tak lama kemudian surat tersebut menghilang begitu saja tanpa jejak. Guru Gilang mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya dengan anggun.


“Papa, bulan depan adalah ulang tahun Rainy yang ke 24.” Ucap Lara mengingatkan.


“Ah, apakah sudah tiba waktunya?” Tanya Guru Gilang sambil meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja. “Apakah kau sudah mempersiapkan hadiahnya?”


“Tentu saja sudah.” Jawab Lara.


“Mana? Sini, tunjukan padaku!” suruh Guru Gilang. Lara mengangkat tangan kanannya yang ramping dengan telapak yang mengarah ke atas. Tiba-tiba sebuah buku yang ditumpuk dengan sebuah kotak kayu berukir di atasnya, muncul begitu saja di atas telapak tangan Lara. Lara kemudian meletakkan kedua benda tersebut ke atas meja di hadapan ayahnya.


Guru Gilang mengangkat kotak kayu berukir tersebut dan menggesernya ke samping. Ia kemudian memandangi bukunya dengan seksama. Itu adalah sebuah buku yang diikat dalam sampul keras yang terbuat dari bahan kulit sapi berwarna coklat tua.


“Lara menemukan pengrajin kulit yang terkenal di kota J, jadi Lara memesannya secara online. Paketnya baru sampai kemarin. Bagaimana? Apakah Papa suka?” Tanya Lara pada ayahnya. Guru Gilang mengangguk.


“Sampulnya di potong dengan laser, namun pengerjaannya masih menggunakan tangan. Logam di empat sudutnya dibuat dari emas asli dan begitu pula dengan lambang keluarga yang tertanam di bagian atas sampul depan itu.” Tunjuk Lara.  Guru Gilang mengusap sampul buku itu dengan ekspresi puas.


“Pekerjaan yang bagus. Kau sangat pintar memilih.” Puji Guru Gilang, yang disambut Lara dengan senyum lembut yang menonjolkan keanggunannya.  Guru Gilang mengusap tulisan yang dicetak dengan tinta emas tepat di bawah lambang keluarga. Hatinya merasa sangat puas. Guru Gilang kemudian membuka buku tersebut secara acak untuk memeriksa kualitas kertas dan cetakannya. Ketika sampai ke lembaran-lembaran belakang, ia menemukan foto-foto berwarna yang di print dengan sempurna.


“Kertas dan printnya sangat bagus. Walaupun kualitas kertasnya tidak sebagus kertas buatan adikmu, namun ia mampu menghasilkan foto yang sempurna.”


Guru Gilang terus membuka beberapa halaman, sampai kemudian jarinya terhenti pada halaman yang berada tepat di tengah-tengah. Di halaman tersebut yang ada bukan sebuah foto seperti pada halaman-halaman belakang, namun sebuah lukisan. Lukisan tersebut adalah lukisan sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri, seorang wanita muda dan seorang remaja yang tampaknya merupakan anak-anak dari suami istri tersebut. Jari Guru Gilang mengusap wajah si wanita yang lebih tua  dalam lukisan tersebut dan berkata,


“Bila Rainy melihat lukisan ini, bisakah dia mengenalinya?” Tanya Guru Gilang. Lara memandang ke arah lukisan yang sedang dipandang oleh ayahnya dengan ekspresi sendu tersebut.


“Entahlah, Pa. Lara juga ingin tahu.” Sahut Lara pelan.


“Yah, kita lihat saja nanti.” Ucap Guru Gilang kemudian.


Guru Gilang menutup buku tersebut dan memindahkannya ke sebelah kiri. Ia lalu mengambil kotak kayu yang tadi telah disisihkannya. Itu adalah sebuah kotak yang terbuat dari kayu jati berukir berbentuk segi empat dengan ukuran 8x8 cm dan tebal 8 cm, yang ditujukan sebagai kotak penyimpanan perhiasan. Kotak tersebut berwarna coklat tua yang dipernis hingga mengkilat dan tampak sangat terawat. Bagian bawah dan tutup kotak disatukan oleh sebuah engsel perunggu. Guru Gilang menekan sebuah mekanisme pada sisi depan kotak dan kotak tersebut langsung terpentang terbuka. Di dalamnya, diatas sebuah bantal berlapis kain beludru berwarna merah, terdapat sebuah Liontin yang terbuat dari batu permata besar berwarna ungu transparan, berbentuk oval, yang diikat oleh emas. Liontin tersebut terhubung dengan sebuah rantai emas yang pendek dan tipis, namun cukup kuat. Guru Gilang mengulurkan tangannya untuk memegang rantai emas tersebut.


“Rantai ini terlihat lemah.” Nilai Guru Gilang.


“Bukan hanya itu. Liontin itu terlihat kuno dan tidak menarik.” Nilai Lara. Kata-katanya membuat Guru Gilang mengangkat tangannya dan mencubit pipi putri.


“Anak kurang ajar! Menurutmu selera Papamu ini kuno?”


Copyright @FreyaCesare