My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Meet The Ancestors II



"Ardi! akhirnya kau sampai disini juga!" Sapa sebuah suara menggelegar.


Rainy menoleh ke arah suara tersebut dan melihat seorang pemuda berjalan menuju ke arah ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Di sebelah Rainy, Ardi untuk sesaat tampak terperangah. Namun kemudian matanya juga turut berkaca-kaca dengan penuh haru dan berjalan cepat menuju ke arah pemuda tersebut.


"Angah!" panggil Ardi. Keduanya kemudian berpelukan sambil menitikkan air mata haru. Tahulah Rainy bahwa pemuda itu adalah adik bungsu Niwenya, Fahri.


Di Saat yang sama, beberapa wanita muda berjalan mendekati mereka dengan Nuri berjalan paling depan. Mereka menyapa Rainy dan yang lainnya dengan hangat, sambil saling memperkenalkan diri satu demi satu. Rupanya saat itu, kecuali Arai, sang leluhur nomor 1, yang masih berjaga di Klinik, dan Datuk Sanja serta Ungu, yang entah sedang berada dimana, seluruh penghuni dunia kecil itu sedang berkumpul di rumah Datuk. Rainy berkenalan dengan leluhur nomor 2 sampai nomor 80 tanpa putus.


Awalnya Rainy masih berusaha untuk mengingat nama dan wajah setiap orang karena bagaimanapun juga, walaupun penampilan mereka sama persis seperti penampilan mereka saat pertama datang ke dunia kecil ini, yaitu sehari sebelum berusia 24 tahun, faktanya mereka semua adalah leluhurnya yang telah hidup sejak bergenerasi-generasi di atasnya. Rainy tidak boleh mengabaikan sopan santunnya. Namun setelah perkenalan tersebut melewati 15 orang, Rainy kehilangan kemampuan untuk mengkorelasikan antara nama dan wajah sehingga ia merasa kepalanya berputar karena kelelahan. Untungnya, Nuri yang jeli melihat keadaan Rainy, menyelamatkan gadis itu dengan membawanya ke kamar untuk bersiap-siap. Ia dan Ratna di bawa ke sebuah kamar, sedangkan Raka dan Ardi di bawa ke kamar lainnya untuk turut mempersiapkan diri juga. Sementara itu, para leluhur yang lain kembali menyibukkan diri mempersiapkan acara dan dekorasi pernikahan.


Di kamar tempat Rainy dan Ratna berada, sebuah kebaya pengantin sudah terpasang pada sebuah mannequin. Kebaya tersebut berwarna putih dengan detail payet yang rumit menutupi seluruh kainnya membuat kebaya tersebut tampak dihiasi oleh ribuan berlian. Di bagian bawahnya terpasang sebuah kain tenun berwarna dasar ungu dengan tenunan benang perak yang berkilauan. Rainy memandang ke arah kebaya tersebut dengan mata membesar. Ia menoleh pada Nuri dan bertanya pelan sambil menunjuk pada kebaya tersebut.


"Datuk, Ini..."


"Itu adalah kebaya pernikahan milik Clarissa." beritahu Nuri.


Clarissa adalah leluhur nomor 52. Ayahnya adalah seorang Meneer dari Belanda yang jatuh cinta pada salah satu wanita Bekumpai keturunan Lauri yang kemudian dinikahinya sebagai gundik. Kecuali matanya yang berwarna coklat, Clarissa sama sekali tidak terlihat seperti wanita dayak. Ia memiliki penampilan noni Belanda yang sangat bule, namun dengan tutur kata yang lembut dan hati-hati, seperti wanita kraton. Saat mendengar namanya disebut, Clarissa tersenyum dan berjalan mendekat. Ia membelai kebaya tersebut dengan penuh rasa sayang.


"Kebaya ini sudah sangat tua. Tapi aku menyimpannya dengan sangat hati-hati. Kuharap kau tidak keberatan untuk mengenakannya." ucapnya.


"Apakah Datuk Clarissa sudah pernah menikah?" tanya Rainy. Clarissa mengangguk.


"Pakaian ini begitu berharga. Apakah tidak apa-apa bila saya mengenakannya?" tanya Rainy tak enak hati. Clarissa menggelengkan kepalanya. Ia mendekati Rainy dan mengangkat tangannya untuk mengusap kepala gadis itu.


"Pakaian harus dipakai, bukan disimpan dalam lemari. Karena itu aku malah sangat bersyukur bila kau bersedia mengenakannya. Lagipula kau adalah cucuku. Karena putriku tak bisa mengenakan kebaya ini, maka aku akan sangat puas bila kau sebagai cucuku, mau mengenakannya untuk menggantikan putriku. Kau mau kan?" tanya Clarissa. Rainy mengangguk pelan.


"Terimakasih, Datuk." ucap Rainy sungguh-sungguh.


Setelah itu Nuri mendorong Rainy untuk melakukan lulur dan ratus yang membuat Rainy merasa sangat terkejut karena tidak menduganya. Pernikahan tersebut dilaksanakan secara mendadak. Rainy tidak menduga bahwa para leluhur wanita tersebut masih sempat memikirkan ide untuk melulur dan meratus dirinya, walaupun mereka terpaksa harus melewati berbagai ritual yang umumnya dilakukan para wanita Bakumpai sebelum menikah. Tapi itulah yang terjadi. Ia terpaksa berpasrah diri ketika para leluhurnya itu menyuruhnya membuka pakaiannya dan mulai melulurnya tanpa merasa sungkan. Mereka sesekali menggoda dan menertawakan Rainy yang wajahnya memerah karena malu. Butuh waktu 4 jam sebelum akhirnya Rainy berdiri di depan cermin dan memandang refleksinya yang mengenakan kebaya putih dan kain tenun sebagai busana pengantin, dengan sanggul kecil menghiasi kepalanya dan make up tipis meronakan wajahnya.


Sesungguhnya tidak pernah terpikir dalam kepala Rainy bahwa suatu hari ia akan menikah dengan mengenakan kebaya putih. Gaun pernikahan yang sudah disiapkan oleh Ratna dan Rini semuanya adalah gaun bergaya modern yang mewah. Membuat Rainy akan terlihat glamour laksana seorang ratu dalam pernikahannya. Namun walau kebaya putih tersebut ditutupi oleh payet yang membuatnya berkilauan layaknya bertahtakan oleh permata, aura keanggunan timur yang dibawanya membuat penampilan Rainy terlihat layaknya putri kraton yang manis dan feminin, berbeda dengan tampilan wanita modern yang mewah dan penuh percaya diri yang biasa diperlihatkannya.


Rainy tidak pernah melihat dirinya sendiri berpenampilan seperti ini sebelumnya. Pakaian dan hiasan itu memang hebat, pikir Rainy. Hanya dengan mengganti pakaian dan hiasan yang biasa dikenakannya dengan set busana yang sangat berbeda, Rainy langsung terlihat bagai wanita yang berbeda pula. Apakah Raka masih akan mengenalinya? Pikir Rainy. Matanya berbinar penuh dengan antisipasi.


"Hmmm... Cantik! Luar biasa cantik! Tunanganmu pasti akan terpukau." ucap Nuri yang berjalan ke sisi Rainy dan turut memandangi refleksi Rainy di dalam cermin. "Tapi gadis kecil, kecantikanmu akan lebih sempurna lagi bila kau mau tersenyum. Karena itu ayo; tersenyumlah!" suruh Nuri. Rainy mengedipkan matanya sesaat. Ia kemudian menggerakan sudut-sudut bibirnya hingga membentuk senyum yang aneh, membuat nuri menyipitkan matanya, sementara Clarissa yang sedang merapikan make up Ratna, tertawa sambil menutupi mulutnya.


"Apa kau bercanda?" tanya Nuri dengan kesal. "Bagaimana bisa itu kau sebut senyuman? Kalau saat bertemu dengan tunanganmu kau memberinya senyum itu, kujamin ia akan melarikan diri sejauh-jauhnya!" cela Nuri.


Rainy menarik nafas panjang. Sesungguhnya tentu saja ia tahu caranya tersenyum. Tapi entah mengapa tiba-tiba ia merasa sangat gugup sehingga otot-otot wajahnya enggan bekerja sama. Sambil menarik nafas panjang, Rainy mencoba lagi. Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan tersenyum lebar. Namun dengan kejam Nuri mencela,


"Jelek!"