My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kompensasi



"Perjanjian?" tanya Rainy, menyuarakan keheranannya. Bram mengangguk dan tersenyum ramah. Membuat wajahnya terlihat layaknya seorang paman yang baik hati. Memberikan rasa dingin yang mencekam dalam diri Rainy ketika melihatnya. Bagaimana ia masih bisa tersenyum dalam situasi seperti ini?


"Benar; perjanjian. Saya akan memastikan bahwa mulai hari ini, istri saya tidak akan bisa menyakiti siapapun lagi. Saya juga akan memberikan kompensasi yang besar atas kerugian yang mbak Rainy alami akibat masalah ini. Tapi saya minta anda mau merahasiakan semua kejadian ini." ucap Bram. Saat mendengar ini, Rainy langsung menyipitkan matanya.


"Kau mau aku tidak melaporkan Kartini dan juga dirimu ke Polisi?" Tanya Rainy.


"Benar." sahut Bram.


"Apa kau sudah gila? Menculik dan membunuh tidak sama dengan shoplifting! Dengan kejahatan yang telah dilakukannya, tak ada yang akan menyalahkanku apabila aku menembaknya sampai mati di tempat ini." jawab Rainy. "Bagaimana dengan Nayla? Dan bagaimana dengan korban-korban lainnya? Kau ingin aku membiarkan mereka menghilang begitu saja dari dunia ini?"


"Tentu saja tidak!" sanggah Bram cepat.


"Nayla masih hidup. Saya telah menemukan tempat ia dirawat dan saya akan mengembalikannya kepada keluarganya. Saya juga akan memberikan sejumlah kompensasi pada keluarga seluruh korban kejahatan Kartini. Namun mereka tidak perlu tahu mengapa mereka memperoleh kompensasi tersebut." ucap Bram, menjelaskan rencananya pada Rainy. Rainy mendengus jijik. Pria ini tak kalah busuk dari istrinya.


"Kau pikir uangmu bisa membeli nyawa mereka? Kau pikir nyawa mereka tidak ada harganya dibandingkan dengan karir dan nama baikmu?" ejek Rainy.


"Tentu saja tidak begitu! Nyawa manusia tidak ternilai harganya. Tapi mereka semua telah mati. Mengungkap semua ini tidak akan menghidupkan mereka kembali. Sebaliknya, dengan kompensasi yang akan saya berikan pada keluarga mereka, keluarganya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Bukankah begitu?" ucap Bram menyampaikan argumentasinya.


"Lalu apa untungnya buatku?" tanya Rainy dengan sinis.


"Saya akan memberikan kompensasi yang sangat besar untuk anda." kata-kata Bram ini membuat Rainy mendengus geli.


"Apa kau pikir aku kekurangan uang? Ah, tapi benar juga. Aku sangat miskin hingga yang kumiliki hanyalah uang." seloroh Rainy. Di sebelahnya Arka mengerutkan bibirnya. Entah mengapa ia ingin mengulurkan tangan dan mencubit pipi Rainy keras-keras.


"Lalu apa yang kau inginkan? Katakan saja. Apapun itu, saya akan berusaha memenuhinya asalkan kau tidak melaporkan masalah ini pada polisi." suruh Bram.


Rainy memiringkan kepalanya dan menatap lurus pada Bram. Sebelah ujung bibirnya naik membentuk senyum sinis yang membuat wajahnya yang cantik terlihat jahat.


"Aku adalah orang yang selalu membalas 1 dendam dengan 100 kali lipat. Mengikuti prinsip ini, kalau nyawa hanya dibayar nyawa, tidak akan pernah cukup untukku. Memberikan kompensasi sudah menjadi kewajibanmu. Itu adalah hutang yang dibuat istrimu tercinta untukmu, karena kau memutuskan untuk menutupi kesalahan perempuan itu. Tapi itu tidak memberimu hak untuk melindunginya dari kejahatannya sendiri!"


"Apa yang kau inginkan?" tanya Kartini sambil mengeretakkan gigi geliginya. Matanya menyorot penuh kebencian. Rainy menatapnya dengan tawa bermain di matanya, membuat Kartini semakin dibakar kebencian.


"Aku ingin kau dipukuli berkali-kali sampai hampir mati." ucap Rainy dengan melambatkan setiap kata yang di ucapkannya. "Lalu setelah itu kau boleh beristirahat untuk menyembuhkan diri. Setelah kau sembuh, maka akan kita ulangi lagi mulai dari awal; kau akan dipukuli lagi sampai hampir mati. Kita akan mengulangi hukuman ini berkali-kali sampai kau membayar semua hutangmu pada korban-korbanmu yang telah kau pukuli sampai mati." Rainy tersenyum penuh ejekan, membuat Kartini yang masih ditahan dalam cengkeraman tangan-tangan anak buahnya sendiri, memberontak keras, berusaha melepaskan diri. Ia ingin sekali menerkam Rainy dan memukuli gadis itu sampai semua giginya terlepas dari tempatnya. Sementara itu, Rainy yang melihat ini semua, tersenyum semakin lebar.


"Lalu setelah itu, aku ingin kau dipukul keras-keras di bagian kepala dan dilemparkan sampai jatuh bergulingan di tangga. Ah, sebaiknya jangan lakukan keduanya berbarengan karena takutnya kau tidak memiliki keberuntungan yang dimiliki Nayla dan bukannya koma, tapi malah langsung mati. Kalau langsung mati, untukmu akan terlalu membosankan!" Rainy mengerutkan wajahnya dan mengangguk untuk memberikan efek yang lebih meyakinkan pada saran yang diberikannya.


"Lalu yang terakhir, kita bisa mengundang 10... Ah tidak cukup! 20 orang pria! Benar. Itu jumlah yang bagus. Kita undang 20 orang pria untuk memperkosamu beramai-ramai." Rainy menatap Kartini lurus tepat di matanya. Rasa jijik terpancar jelas dari ekspresi wajahnya.


"Setelah kau mengalami semua itu, kau baru kau boleh mati!" ucap Rainy dingin. Ia kemudian menoleh pada Bram dan berkata. "Permintaanku ini, apakah kau sanggup memenuhinya?" tanya Rainy dengan dingin. Bram menatap wanita muda di depannya ini, untuk sesaat tak mampu berkata-kata. Permintaannya ini, bagaimana mungkin untuk dipenuhi. Terlalu merepotkan!


"Mengapa kau ingin membalaskan dendam korban-korban itu?" Tanya Bram ingin tahu. Rainy tidak tampak seperti seorang pembela kebenaran yang berjuang demi kebaikan orang lain.


"Hmm... Sulit di percaya." komentar Bram. "Saya bukan orang yang suka bermain dengan permainan rendahan macam itu." ucap Bram. Rainy hanya mengangkat bahunya.


"Apa tidak ada metode pembayaran yang lain." tanya Bram. Rainy mengedipkan mata. Untuk sesaat pandangannya tampak tidak fokus, namun tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Bram.


"Ada." Jawab Rainy.


"Apa?"


"Uang yang kau janjikan untuk keluarga seluruh korban, kau harus mengirimkannya kepada mereka sekarang juga." ucap Rainy. Bram tercengang. "Bukan ideku. Mereka yang memintanya untuk disampaikan padamu." Lagi-lagi Rainy mengangkat bahunya.


"Itu mudah."


"Berapa banyak yang akan kau berikan untuk setiap korban?"


"Berapa yang mereka inginkan?"


"Kalau terserah mereka, kau akan bangkrut."


"Itu uangnya." Bram menunjuk ke arah istrinya. "Jadi aku tidak perduli."


"Bram, kau brengsek!" maki Kartini.


"Mereka adalah korbanmu. Maka dari itu kaulah yang harus membayarnya!" sahut Bram. Salah seorang anak buah Kartini merogoh Handphone dari kantung jeans yang dikenakan oleh Kartini dan setelah mengaktifkannya dengan sidik jari Kartini, menyerahkannya pada Bram. Bram Membuka aplikasi mobile banking lalu menoleh pada Rainy.


"Kemana aku harus mengirimkannya?" tanyanya.


"Kirimkan saja padaku. Aku yang akan mengurusnya." sahut Rainy.


Bram memandang ke arah Rainy sesaat, setelah itu, selama beberapa saat ia mengutak-atik handphone di tangannya. Tak lama kemudian suara denting notifikasi di handphone Rainy berbunyi. Rainy membuka Handphonenya dan membaca notifikasi yang tertera pada layarnya. Melihat nilainya, alis Rainy terangkat naik.


"Apakah cukup?" tanya Bram.


"Kalau itu tentang menghilangkan nyawa seseorang, hanya ketika pelakunya membayarnya dengan nyawanya sendiri, barulah itu akan cukup." sahut Rainy. Ucapannya ini mengundang makian dari Kartini.


"Dasar pelacur serakah! Awas saja, aku akan memastikan bahwa kau..." kalimat kartini terhenti seketika ketika sebutir peluru menerjang keningnya. Kartini langsung terkulai. Tubuhnya yang masih disangga oleh anak buahnya, didudukan kembali ke kursi.


Di sebelahnya, Bram telah berdiri sambil menggenggam sebuah pistol berperedam di tangan kanannya.


Copyright @FreyaCesare