My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
10 %



Jadi seseorang akan mencoba membunuh Rainy dan Raka akan menggagalkan hal tersebut dengan menjadikan diri sendiri sebagai perisai Rainy dan kehilangan nyawa karenanya? Raka menyipitkan matanya yang seketika berubah dingin melebihi biasanya, membuat Lara yang duduk tepat di harapannya dan memperhatikan semua gerak-geriknya, mengangkat kedua alisnya.


"Apa kau melihat siapa pelakunya?" Tanya Raka kemudian tanpa ada perubahan dalam nada suaranya sama sekali, seolah berita yang baru Lara sampaikan sama sekali tidak berpengaruh pada emosinya. Andai saja tidak ada yang memperhatikan perubahan pada sorot matanya, mungkin orang yang melihat Raka saat itu akan berpikir bahwa ia adalah manusia besi yang tidak memiliki emosi.


"Saya hanya melihat sebuah tangan yang menembakkan pistol." sahut Lara sambil menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih.


"Sayang sekali." sahut Raka. Seandainya Lara bisa menunjukan siapa pelakunya, Raka tidak akan segan untuk mendatangi dan membunuhnya sebelum orang itu melakukan kejahatannya.


"Seberapa pasti penglihatanmu ini akan terjadi?" Tanya Raka lagi.


"80%." Sahut Lara. "Penglihatan mengenai masa depan bukanlah takdir yang terukir di atas sebuah batu karena masa depan selalu berubah sesuai perubahan dalam keputusan dan sikap yang diambil oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi..." Sebelum Raka sempat menarik nafas lega, Lara cepat-cepat menambahkan. "Hidup dan mati memiliki waktu yang selalu tepat sesuai jadwalnya. Tak ada yang bisa merubah hal ini. Jadi bila bapak membatalkan resepsi pernikahan besar tersebut misalnya; sehingga penembakkan dalam acara tersebut tidak akan terjadi, kalian mungkin akan mengalami kasus penembakan di tempat yang berbeda pada waktu tersebut."


Raka menganggukkan pelan. Ia pernah mendengar penjelasan yang sama dari Rainy sehingga Raka tahu apa yang bisa ia harapkan dalam situasi seperti ini.


"Apakah kau yakin bahwa saya akan kehilangan nyawa pada saat itu?" tanya Raka lagi.


Lara tercenung sesaat, tampak mencoba mengingat-ingat kejadian dalam penglihatannya dengan lebih seksama. Tak lama kemudian ia berkata dengan nada yakin,


"Tidak. Namun bila meninjau dari lokasi dimana peluru bersarang dalam tubuh Bapak, yaitu di area tempat jantung berada, kematian memiliki kans sekitar 90%."


Jawaban ini membuat ujung-ujung bibir Raka tertarik membentuk seulas senyum tipis. 90%? Jadi bukan 100%!


"Jadi.... masih ada kemungkinan bahwa saya bisa saja selamat." ucap Raka menyimpulkan dalam nada yang penuh keyakinan sehingga mendorong Lara untuk mengangguk pelan tanpa sadar.


"Ini cukup bagus." komentar Raka. Dalam bisnis, Raka adalah seorang pengusaha yang selalu berhasil mencapai keberhasilan tak perduli seberapa kecilnya kemungkinan yang ia miliki. Mungkin hidup tidak sama dengan bisnis, namun bila masih adanya peluang 10% itu, Raka bermaksud untuk memegangnya erat-erat dan mengunakannya demi menyelamatkan bukan hanya Rainy, namun juga dirinya sendiri.


"Well, tak ada yang tidak mungkin. Umur manusia hanya Allah yang tahu." Sahut Lara pada akhirnya.


"True. 10% adalah angka yang cukup baik. Kau harus menceritakan kepada saya dengan lebih jelas mengenai apa saja yang terjadi dalam penglihatanmu tersebut sehingga saya bisa mempersiapkan diri." putus Raka.


Mendengar pertanyaan ini, Lara terdiam sesaat. Matanya yang sedari tadi terus mengamati tindak-tanduk Raka, menyiratkan keragu-raguan. Ia menoleh pada ayahnya yang tampak tersenyum tenang. Wajah bijak pria tua itu menyiratkan rasa puas atas apa yang dilihatnya. Lalu Lara memandang ke arah Raka kembali dan kemudian bertanya dengan ekspresi ingin tahu yang tergambarkan jelas di wajahnya.


"Apakah kau tidak merasa takut?"


Pertanyaan ini membuat sebelah alias tebal Raka terangkat.


"Takut? Apa yang harus saya takutkan?" Raka balik bertanya.


"Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, bukankah kau juga tahu itu?" Ucap Raka. "Dibandingkan kematian saya sendiri, saya lebih mengkhawatirkan bila sesuatu akan terjadi pada Rainy."


Raka menarik nafas panjang dan ekspresi wajahnya yang tenang, untuk sesaat tampak diwarnai emosi. Namun emosi itu hanya tampak sesaat, kemudian segera menghilang bersama pengendalian diri yang telah mendarah daging dalam tindak-tanduknya. Tanpa diduga, seulas senyum tipis terukir di sudut-sudut bibirnya. Senyum yang selalu muncul secara otomatis, setiap kali pemikiran Raka dipenuhi oleh sosok Rainy.


"Rainy mungkin akan baik-baik saja tanpa saya, mengingat bahwa ia bisa hidup dengan bahagia tanpa keberadaan saya sebelumnya." Ucap Raka dengan suara tenang dan penuh keyakinan. "Namun saya tidak mau hidup di dunia dimana Rainy tidak ada."


Mengenang kejadian hari itu membuat Raka kembali menegaskan keyakinannya dalam hati. Raka telah lama menerima kenyataan bahwa ia tidak akan bisa hidup di dunia dimana Rainy tidak ada. Raka juga tidak merasa malu untuk mengakuinya. Bagi Raka, cintanya pada Rainy adalah hal yang paling indah yang dimilikinya dan menerima cinta dari Rainy adalah sebuah kebahagiaan yang paling sempurna. Bahkan bila cinta ini mengakibatkan kematiannya, Raka tidak akan melepasnya demi apapun.


Raka mengulurkan tangan dan mengusap lembut bibir istrinya yang masih tertidur dengan lelapnya, membuat bibir yang merah muda dan terlihat sangat menggemaskan itu menjadi sedikit terbuka. Sudut-sudut bibir Raka langsung membentuk sebuah senyum lembut. Gairah kembali menguasai tubuhnya, namun otaknya dengan segera memperingatkan agar memberikan kesempatan bagi Rainy untuk beristirahat. Gadis itu sudah terlalu lelah sehingga Rainy pasti sangat membutuhkan istirahat yang nyaman. Bukan gangguan dari serigala lapar seperti dirinya. Namun oh! Betapa sulitnya! Ia bagai serigala kelaparan yang disuguhi daging merah di depan matanya, namun tidak diijinkan untuk menyentuhnya sama sekali. Sebuah siksaan yang sangat menyesakkan!


Raka menghela nafas panjang dengan pasrah. Ia kemudian menutup mata dan mengatur nafasnya untuk menenangkan tubuhnya. Setelah beberapa saat, dengan lega Raka merasakan ketegangan di tubuhnya mulai mengendur. Namun ketika tubuh Raka mulai menjadi lebih tenang, ia merasakan sebuah tangan halus tiba-tiba ditekan lembut di atas perutnya yang berotot indah. Ujung-ujung jari tangan tersebut bergerak perlahan, membelai setiap lekukan otot di atas perut Raka. Mata Raka langsung terpentang terbuka dan hal pertama yang dilihatnya adalah sepasang mata Rainy yang masih setengah terbuka karena baru terbangun dari tidur dan lekukan bibirnya yang menyembunyikan senyum geli.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rainy dalam suara berbisik yang sedikit serak dan terdengar sangat menggoda di telinga Raka. Raka tersenyum. Tangannya terulur untuk merapikan seuntai rambut yang terjatuh menutupi wajah Rainy.


"Kau. Aku sedang berpikir tentang dirimu." Sahut Raka dengan jujur. Rainy mengerutkan keningnya.


"Mengapa memikirkan aku yang sedang berada di sampingmu?" tanya Rainy dengan heran. Raka tercenung sesaat, tak tahu bagaimana menjawab pertanyaan ini. Walaupun mereka sudah menikah, tapi percakapan intim seperti ini masih baru untuk keduanya hingga terkadang membuat Raka dihinggapi rasa malu. Karena tak ingin menggunakan kata-kata, Raka mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Rainy dengan hangat dan penuh semangat. Rainy yang dikejutkan oleh tindakan Raka, hanya bisa menerima dengan pasrah saat Raka menciumnya. Ciuman itu baru berakhir ketika Rainy nyaris kehabisan nafasnya.


Raka menangkup wajah mungil Rainy dengan kedua tangannya, mengagumi ekspresi terpana yang masih menguasai wajah Rainy.


'Sangat cantik! Sungguh sangat sempurna! walaupun harus mati untuknya, aku akan tetap memilih untuk bersamanya!' Pikir Raka dalam hati.


Senyum indah Raka mengembang lebar, membuat Rainy yang masih belum pulih dari ciuman Raka, merasa semakin mabuk melihat ketampanannya.


"Aku sedang bertanya-tanya kapan kau akan bangun dan memelukku lagi seperti ini." bisik Raka manis.


Mendengar ini, wajah Rainy memerah dan ia tersenyum malu. Namun meskipun merasa malu, mata Rainy tak pernah sesaatpun berhenti memandangi wajah suaminya.


"Tampan. Kau sungguh pria tertampan yang pernah aku lihat." Puji Rainy dengan tulus.


Mendengar ini, Raka tertawa kecil. Ia kembali menunduk dan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


"Pembohong." ucap Raka sebelum bibirnya memagut bibir Rainy dengan gemas dan disambut oleh senyum manis Rainy yang mengembang di antara sentuhan bibir-bibir mereka.